
Bab 73 DPT
"Rumah ini mau dibakar!" seru Jaya.
"Hah? Mau dibakar? Sama siapa?" tanya Ana.
Risa juga mendekat untuk menyimak penuturan Jaya.
Jaya lantas menceritakan penemuannya tentang dua orang preman yang berniat ingin membakar rumah Lela.
"Wah, aku yakin para preman itu pasti orang suruhan Indra," ucap Lela yang tiba-tiba muncul di belakang Jaya dan telah menyimak sedari tadi.
"Kita harus kasih tau si Juna buat jaga-jaga rumah ini. Soalnya ini udah merupakan bentuk intimidasi terhadap keluarganya Lela. Ini merupakan ancaman, loh." Ana mulai gusar.
"Bisa nggak cari polisi yang lain selain si Juned itu?!" sungut Jaya."
"Kamu kenapa, Yang? Kok, kayaknya kesel gitu sama Juna?" tanya Ana.
"Aku nggak suka sama dia. Aku yakin dia suka sama kamu," sahut Jaya.
"Hah? Dia suka sama aku? Lah, aku kan istri orang," sahut Ana.
"Ralat, Na! Maaf maaf nih, ya. Kamu tuh istrinya pocong hahaha. Bisa jadi si Juna nyangka kamu itu janda karena suaminya nggak kelihatan," sahut Risa meledek Jaya.
"Heh, kalau ngomong tuh ya–"
"Udah deh, sekarang kita susun rencana aja buat menghalangi para preman itu. Tapi, aku tetep bakalan kasih tau si Juna tentang malam ini." Ana memotong ucapan Jaya.
Saat Ana hendak keluar dari kamar para wanita itu dia sampai menabrak Bayu yang menjerit karenanya.
"Kamu kenapa teriak teriak begitu?" tanya Ana.
"Tau nih. Malam-malam berisik aja!" seru Risa.
Bu Sri dan Leli juga tampak keluar dari kamarnya karena kegaduhan yang Bayu buat.
"Aku tuh dikejar pocong yang mukanya merah tadi, genit banget dia!" seru Bayu.
"Itu pasti si Ani. Tadi dia sama Bu Kunti yang di seberang rumah bantuin aku buat nakutin preman botak yang di depan sana tadi," sahut Jaya menimpali.
"Ada apa, Nak Bayu?" tanya Bu Sri.
__ADS_1
"Tadi saya dikejar pocong, Bu. Dia lompat-lompatan pas gangguin saya, ih genit banget," jawab Bayu.
Leli malah tertawa mendengar penuturan Bayu.
Ana mendekat pada Bu Sri, ia menceritakan ancaman yang dibuat Indra untuk membakar rumah mereka dan mengusir mereka agar pergi dari kampung tersebut dan tak membuat tuntutan berlanjut pada Indra.
"Nanti semua lampu digelapin. Terus kalau ada tanda-tanda premannya dateng, Leli sama Risa udah siap-siap standar ngerekam, ya?" titah Ana.
Leli dan Risa mengangguk. Bayu dan Bu Sri juga bersiap dengan gagang sapu dalam pel. Mereka akan langsung memukul jika para preman masuk ke rumah.
***
Pukul setengah dua dini hari, semuanya malah tertidur pulas di ruang tamu. Ana bersandar pada Jaya dan memeluknya dari samping saat tidur di atas sofa. Bu Sri bersandar pada pintu kamar. Bayu masih memegangi gagang pel dan tergeletak di depan pintu ruang tamu. Sementara Risa dan Leli juga pulas dekat sofa.
Pocong Ani dan Bu Kunti datang ke dalam rumah. Ani menepuk Lela agar terjadi. Berhubung kali pertama melihat Bu Kunti dan Lela ketakutan, ia hendak berteriak tetapi Bu Kunti sudah membekapnya. Ani juga sudah membangunkan Jaya.
"Mereka datang, ada tiga orang. Ayo, bersiap menakuti mereka!" ajak Bu Kunti.
Jaya juga membangunkan Ana dan yang lainnya agar bersiap dengan tugas masing-masing sesuai arahan Ana tadi.
Jaya lantas mengikuti para hantu untuk menakuti para preman.
Si preman berambut gondrong sudah membasahi sisi belakang rumah dengan bensin. Sementara preman kurus bersiap mengambil satu jerigen berisi bensin lagi dan bersiap membasahi halaman depan.
"Cari ini, Mas?" Jaya muncul seraya menendang jerigen bensin samping motor.
"Po-po-po-pocoooooooong!" Preman kurus itu sampai berlari dengan terkencing-kencing.
Jaya mengejarnya.
"Anang, kamu mau ke mana?" seru preman yang memiliki tato di wajah dengan berbisik.
"Main kejar-kejaran dia sams pocong. Mas, mau saya kejar juga?" Ani muncul menggoda preman satunya.
"Sialan! Dari kapan kamu di situ? Aku nggak takut sama setan!" serunya.
"Sama saya juga nggak takut, Mas?" Lela muncul dengan wajah pucat serta lidah terjulur. Kedua tangannya bersiap mencekik preman itu.
Sontak saja karena diserang dua hantu, preman itu lantas mundur beberapa langkah sampai menabrak motornya. Lepas dan Ani lantas memukuli preman tersebut. Sementara itu, Bu Kunti telah menyiram si gondrong dengan bensin.
Bayu dan Ana keluar dari rumah dan bersiap membakar preman tersebut jika tidak mengaku. Risa dan Leli sudah siap merekam pengakuan preman tersebut.
__ADS_1
"Siapa yang nyuruh kalian buat bakar rumah ini?!" seru Ana.
Preman jangkung itu hanya meringkuk ketakutan dan diam saja. Ana mendekat setelah meraih korek gas dari tangan Bayu.
"Mas, pernah ngerasain dibakar?" tanya Ana.
Preman gondrong itu menggeleng.
"Jangan, Mbak! Istri saya juga lagi hamil kayak, Mbak. Jangan bakar saya!" pinta preman itu akhirnya.
"Kalau tahu istrinya lagi hamil cari kerja yang bener biar penghasilan nya berkah! Masa mau kasih anak makan pakai uang haram?! Sekarang ngaku siapa yang nyuruh kamu buat bakar rumahnya Bu Sri, hah?" Ana menantang dengan korek gas.
Jaya juga sudah berdiri mendampingi Ana untuk menakuti preman tersebut.
"Pak Danu, Mbak," ucapnya.
"Pak Danu itu siapa" tanya Ana.
"Itu Papinya si Indra," sahut Lela.
"Oh, bapaknya si Indra. Hmmmm, mereka mau buat keluarga kamu bungkam kayaknya. Risa, Leli, udah direkam buat bukti, kan?" tanya Ana.
Risa dan Leli menjawab dengan anggukan. Lalu, Ana membiarkan preman tersebut untuk kabur. Dengan catatan, jika polisi membutuhkannya maka dia harus datang bersaksi, kalau tidak para hantu tak segan segan menghantam mereka lagi, begitu ancam Ana.
Lela berterima kasih pada Ani dan Bu Kunti. Ia tak menyangka kalau hantu di sekitar rumahnya malah baik mau membantunya.
Ana juga mengulurkan tangannya pada Bu Kunti untuk berkenalan dan meminta maaf. Ana malah tak menyangka kalau Bu Kunti ingin mengusap perut Ana. Sebenarnya dia ingin sekali melahirkan dan merawat anaknya. Namun, takdir berkata lain. Bu Kunti malah membenci setiap wanita hamil yang ia temui karena tidak bisa menjadi mereka. Jadi, dia memilih untuk mengganggu para ibu hamil.
...***...
Keesokan pagi, Juna datang untuk meminta bukti rekaman pengakuan si preman dari Ana. Dengan adanya bukti tersebut harusnya hukuman Indra semakin berat, bahkan bisa menjerat ayahnya karena tindakan ancaman yang bisa mengakibatkan kematian jika rumah tersebut terbakar.
"Kok, jalan?" tanya Ana pada Juna yang muncul sendirian.
"Ban mobil aku kempis di jalan sana dekat pohon jambu. Si Moko lagi coba dandanin. Ya, paling kalau nggak bisa telepon dealer," ucap Juna tertawa.
Jaya masih coba mengawasi dengan mata memicing tajam.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...see you next chapter!...