Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 112 - Nenek Darah


__ADS_3

Bab 112 DPT


"Menurutmu ia penyihir, Sa?" bisik Risa pada Ana.


Ana hanya melayangkan senyum, "Kalau memang penyihir, pasti bukan yang sakti gitu. Tuh, liat aja penampilannya sangat biasa! Hanya satu cara untuk memastikan." Ana meminta Madun menghentikan laju kudanya.


Madun mengibaskan tali kekang, lalu si kuda bergerak agak mendekat.


"Permisi, Bu," seru Ana kepada si wanita. "Apa Anda penyihir atau bukan?"


"Gila si Ana!" pekik Risa.


Wanita pendek itu terus bermain, jari-jarinya bergerak sepanjang kunci nada.


"Apa wanita yang di belakangmu itu yang penasaran apa aku penyihir atau bukan? Sayangnya jawabanku akan membuatnya kecewa," katanya, tanpa mendongak.


"Ana, dia bisa lihat aku, ya?" bisik Risa.


"Kayaknya gitu. Tapi, Anda juga bukan hantu, kan?" Ana kembali berseru saat Madun turun dari kereta kuda dan mengamati wanita pendek itu karena ia sangat ingin memperjelas hal ini.


Wanita itu meletakkan ukulelenya itu, kemudian menatap Ana, alisnya terangkat.


"Tidak semua orang tua buruk rupa itu bisa kau anggap penyihir. Apalagi kau menyebutku hantu. Aku bukan seperti perempuan itu!" Wanita itu menunjuk Risa.


"Bukankah harusnya dialah yang akan membuat takut anak-anak yang melihatnya nanti, hahaha." Wanita itu menegaskan disertai tertawa menghina Risa.


"Maafkan aku, Nek. Sepertinya karena kelebihan, bicaraku jadi asal saja," ucap Ana menunduk.


"Apa kau mau masuk hutan angker di Gunung Sembah?" tanyanya.


Ana mengangguk.


"Kebetulan, aku juru kunci di sini," akunya.


"Kalau kau juri kunci di sini, kenapa kau malah seperti pengamen jalanan yang menyeramkan layaknya nenek sihir? Maaf sebelumnya ya, Nek," kata Ana hati-hati.


Wanita tua bernama Darah mengangkat bahu, berdecap, "Alasanku ada di sini ya karena belum tentu tiap pagi ada orang asing melewati lembah. Eh, ternyata ada kalian orang asing yang masih naik kereta kuda dan berani masuk ke hutan angker," ia berdecak.


"Aku mencari suamiku. Dia dibawa oleh Mbak Karso ke sebuah gua untuk menyegel Iblis Rahwana," ucap Ana.


Wanita tua itu bersiul. "Iblis Rahwana, katamu? Sepertinya hal ini sangat menarik," katanya seraya mengangguk pada Ana.


"Maaf sudah menuduhmu nenek sihir bahkan hantu. Apa kau bisa menunjukkan pada kami arah ke gua tersebut?" pinta Ana.


Wanita tua itu hanya terdiam.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu tak ada gunanya aku menunggu jawabanmu. Sebaiknya kami bergegas," kata Ana lalu meminta Madun untuk naik kembali ke atas kereta kuda.


Wanita tua itu melangkah mendekat, menghalangi Ana. "Kalian hendak ke gua angker di Gunung Sembah, benar kan?"


Ana mengangguk.


"Ada hubungan apa kau dengan Mbah Karso?" tanyanya.


"Apa kau mengenalnya? Dia menculik suamiku. Jadi, kalau Anda bertanya apa hubunganku dengan Mbah Karso, itu artinya hubungan kami sebatas musuh," sahut Ana.


Ia balik menatap wanita tua itu lalu bertanya lagi, "apa kau mengenalnya?"


"Ummm, sebenarnya tidak juga, sih. Sekali saja aku pernah bertemu Mbah Karso, waktu aku seumurmu. Hampir tiga puluh tahun lalu. Tepat sebelum ia memilih untuk ikut serta dalam padepokan sesat, sungguh malang sebenarnya nasib si Karso," ucapnya.


Ana lantas memperkenalkan diri begitu juga dengan Mbah Darah. Wanita tua itu lalu membawa rombongan Ana menuju ke rumahnya.


Ana akhirnya mengangguk setuju sambil memandang hutan yang terlihat tak jauh dari tempatnya berpijak.


"Orang-orang sini merasa berbuat baik dengan tak memberi tahu jalan pada mu, Nak," ujarnya.


"Memangnya kenapa bisa begitu?" tanya Ana lagi.


"Tidak ada yang ingin menjerumuskan wanita lugu ke hutan angker, walau kamu orang asing sekali pun."


"Apa karena Mbah Karso?" tanya Ana lagi.


Nenek Darah menaiki kereta kuda tersebut. Lalu, dia membawanya menepi dan menunjuk jalan setapak ke kiri.


"Nanti gua itu ada di dalam hutan angker sana. Tidak sampai lima kilometer, sama dengan jarak terbang para burung itu. Ikuti saja burung-burung sepanjang sungai. Nanti kalau bertemu persimpangan, ambil jalan yang rimbun menuju hutan angker. Setelah sampai di jembatan tua, nah, kalian tepat di atasnya," ujarnya.


"Sepertinya sangat melelahkan. Tapi, Nenek sedang tak berbohong, kan?"


Ana belum yakin akan kejujuran Nenek Darah, tetapi mengikuti petunjuk itu lebih baik daripada kebingungan nantinya. Ana semakin bertanya-tanya apa yang menanti mereka di gua yang ada di dalam hutan angker. Makhluk menyeramkan apa yang bersemayam di sana sehingga banyak yang tak kembali dari sana.


Tak lama kemudian, mereka sampai di sebuah rumah gubug yang terbuat dari kayu.


"Memangnya hutan angker itu kenapa?" tanya Ana lagi.


"Yah, semua orang di Desa Bawah tadi pasti ingin menghindarinya. Anak-anak diperingatkan oleh orang tuanya, yang dulu juga diperingatkan oleh orang tua masing-masing sebelumnya, dan begitu terus terjadi sejauh ingatan orang, agar tak masuk hutan angker itu," ucapnya.


"Jadi?" Ana mengernyit.


"Jarang orang yang tahu persis ada apa di dalam sana. Tapi banyak yang mengaku kenal temannya teman yang cukup bodoh untuk berkeliaran di seberang sungai ke hutan itu lalu menghilang tak pernah kembali."


"Kenapa bisa begitu?" tanya Ana lagi.

__ADS_1


"Konon hutan angker itu mengubah orang mengungkap sisi buruk mereka. Bahkan menjadikan yang tadinya baik jadi jahat."


"Sungguh sesuatu hal yang menyeramkan." Ana menyergap sorot mata wanita tua itu.


"Istirahat lah di sini dulu. Aku akan memberikan penghuni hutan itu makanan sebelum kalian masuk," ujarnya.


"Apa itu, Nek?" tanya Ana menunjuk buntalan besar yang dibawa Nenek Darah.


"Kepala kera … kau mau melihatnya?" tanyanya.


Risa langsung memuntahkan isi perutnya. Sebelum ia melihat sosok kepala kera, mendengarnya saja sudah membuatnya mual.


"Dia temanmu, ya?" tanyanya.


Ana mengangguk.


"Huh, teman yang unik. Kau bisa membasuh tubuh kalau kau mau di dalam. Nanti aku segera kembali. Apa kau mau dengar cerita kelam tentang Karso?" tanyanya.


"Tentu, tentu saja. Siapa tahu nanti aku bisa mengalahkannya," sahut Ana.


Nenek Darah mengibaskan tangan, "Tidak semudah itu, Sayang." Lalu dia pergi.


Ana meminta Madun untuk beristirahat dan memakan bekalnya. Sementara Ana masuk ke dalam rumah untuk melihat-lihat.


"Nenek tadi beneran tinggal sendirian, ya?" tanya Risa.


"Sepertinya begitu. Mungkin para warga mengasingkannya," sahut Ana.


"Kamu mau mandi, Na? Gimana caranya cuma ada sumur di sana ?" tanya Risa.


"Nggak usah mandi. Cuci muka aja bilas bilas dikit," ucap Ana.


Tiba-tiba, sekelebat bayangan muncul. Sesosok wanita berdaster seperti Risa muncul mengintip dari balik pohon.


"Kembaran kamu muncul, Sa," bisik Ana pura-pura tak melihat.


"Ana, ih! Jangan bilang aku kayak kuntilanak, dong!" sungut Risa.


"Tapi emang nyatanya gitu, Sa. Hehehe."


Ana lantas memanggil sosok kuntilanak itu agar mendekat.


"Ana! Kenapa dipanggil?!" Risa bersembunyi di balik dinding sumur.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2