
Bab 88 DPT
"Aduh, repot ini kenapa ketemu mulu sih sama si Juned," sungut Jaya.
"Aku pikir kamu udah sampai. Eh, taunya malah masih di bis," ucap Juna.
"Kayakny makin parah ya macetnya?" tanya Ana.
"Iya, soalnya nunggu mobil derek sama ambulans juga yang lumayan rada jauh ke wilayah ini. Mending kamu nyingkir, deh! Banyak korban yang masih belum bisa dievakuasi. Terus kalau ada yang mati penasaran nanti kamu didatangi, loh." Juna melarang Ana untuk maju.
"Telat, Jun. Nih, salah satunya udah mohon-mohon minta tolong ke aku," sahut Ana.
"Minta tolong apa dia?" tanya Juna.
Kerumunan para warga yang menonton pun menyingkir dari sisi jalan. Kali ini Ana dapat melihat para warga yang menatap ngeri ke arah truk yang masih menghimpit mobil pick up. Ada dua motor yang masih terguling di badan bawah truk tronton itu.
Mesin mobil truk itu masih berderu dengan lampu menyala, sepertinya sang sopir sudah lari meninggalkan lokasi kejadian.
"Ayolah, mending kita buruan pergi dari sini biar cepet sampai!" ajak Jaya.
"Gimana mau pergi, tuh liat masih macet gitu kan? Kata Juna nunggu mobil evakuasi sama ambulans dulu buat nolong korban, baru bisa lancar lagi," sahut Ana.
"Tolong saya! Ambilkan kantong merah di dalam bagasi motor. Itu mas kawin saya yang mau saya kembalikan sama pacar saya karena saya nggak bisa nikah sama dia. Saya mau dia bahagia dan nikah sama orang lain," ucap hantu itu.
"Kok, gitu? Kamu kan nggak tau kalau kamu mau meninggal?" tanya Ana.
"Saya emang nggak siap nikah sama dia, Mbak. Saya mau balikin aja mas kawinnya. Ternyata emang bener firasat saya yang harus balikin mas kawin itu. Di sana ada emas dua puluh gram. Tolong balikin ke Mas Toto," ucapnya.
"Kamu pasti ngomong sama hantu, ya?" tanya Juna pada Ana.
"Iya, dia minta tolong buat kembalikan emas dia ada dua puluh gram di dalam bagasi motornya yang keseret tronton itu," ucap Ana.
Terdengar seruan dari beberapa orang yang tengah mengevakuasi jasad seorang wanita yang tertindih ban besar truk tronton tersebut.
"Itu badan aku yang ada di sana!" tunjuk hantu perempuan itu.
"Kok, aku ngilu ya liatnya," lirih Jaya.
"Kita ke sana aja yuk! Nanti aku cek bagasi motornya terus ikut kamu buat penuhi permintaan hantu itu," ucap Juna.
"Halah, modus! Bilang aja mau deket-deket sama istriku!" sungut Jaya.
__ADS_1
Jaya dengan sengaja ingin mengerjai Juna. Namun, Ana segera mencegahnya. Ana melingkarkan lengannya di tangan Jaya dan berkata, "I love you!"
Seketika rasa cemburu dan emosi Jaya mereda.
Risa dan Bayu langsung turun dari bus mengikuti Ana.
"Lho, kok pada turun gini, kapan kita mau berangkatnya?" tanya salah satu penumpang.
"Udah lah, Pak. Berangkatnya masih lama, lagian bis kita ada di tengah gitu!" sahut Risa.
"Iya, Pak. Jadinya mau maju nggak bisa mundur apa lagi," sahut Bayu.
Semua penumpang yang mulai jenuh, akhirnya turun. Mereka sebagian ada yang mencari warung kopi, ada juga yang memberanikan diri melihat tempat kejadian perkara.
"Haduh, liat tuh mayatnya mau di keluarin," tunjuk Risa ke arah truk penuh kengerian itu.
Polisi harus memajukan atau memundurkan truk yang melindas korban kecelakaan yang berjenis kelamin perempuan itu. Saat truk dimundurkan secara perlahan, kemudian terdengar suara yang membuat ngilu si pendengar.
Krek krek krek.
Suara bagian tulang yang remuk membuat semua yang menonton evakuasi itu terasa linu tubuh dan bagian giginya benar-benar menyeramkan.
Ana juga memilih menutupi wajahnya karena tak tega. Risa juga secara spontan bersembunyi di balik punggung Bayu. Hal itu malah membuat Bayu senang dan meraih tangan Risa. Bayu melingkarkannya di pinggang sambil tersenyum.
"Dasar! Bisa banget manfaatin keadaan," sungut Risa.
"Tapi, Mbak Risa juga seneng, kan?" Bayu malah menggoda.
Mayat perempuan itu akhirnya bisa dikeluarkan dari truk dengan kondisi terbelah dua. Terlihat darah mengalir dari dalam tubuhnya sampai ada yang menyentuh sepatu kerja para polisi dan tenaga medis.
Hantu perempuan itu sudah berada di samping Ana dan berbisik kepadanya. Dia mengucapkan alamat yang harus Ana tuju. Desa Seranggan, satu desa sebelum Desa Abang.
"Juna, boleh pinjem buku sama pulpennya?" tanya Ana yang menghampiri Juna.
"Buat apa, Na?" tanya Juna.
"Buat nulis alamat yang nanti aku tuju buat balikin emas itu," ucap Ana.
"Oh, ini pulpen sama kertas yang kamu minta," ucap Juna seraya menyodorkan pulpen dan buku note kecil dari sakunya.
"Desa Seranggan rumah Bu Ijah dekat sungai. Berikan pada Mas Toto." Begitu Ana menuliskannya.
__ADS_1
"Nggak ada nomor rumah, nomor rt apa rw, gitu?" tanya Ana.
"Lingkup wilayah desa itu kecil jadi hampir rata-rata penduduknya pada kenal satu sama lain. Nggak perlu pakai nomor rumah," sahut Juna.
"Sok tau!" celetuk Jaya mencibir.
Hantu perempuan itu lantas berterima kasih pada Ana. Lalu ia pamit. Juna menyerahkan KTP korban dan emas milik korban kecelakaan tersebut.
"Kita nanti kasih ini ke Mas Toto," ucap Ana pada Juna.
"Ngapain, Na?" tanya Risa.
"Ada amanat dari hantu perempuan yang kita lihat tadi. Nanti kita ke Desa Seranggan," ucap Ana.
"Nggak kelar-kelar kayaknya kita susah banget mau ke Bukit Emas," sungut Risa.
"Cuma sebentar, Sa." Ana tersenyum.
"Oh... begitu. Baiklah demi Ana apa pun akan aku lakukan," sahut Risa.
"Oh… so sweet!" Ana memeluk Risa seraya mencium pipinya.
"Ih, jijik banget sih!" keluh Risa.
"Mbak Ana, Mbak Risa, itu ada dua hantu yang ngeliatin kita," ucap Bayu.
Kedua hantu itu saling berpegangan tangan lalu melambai sambil tersenyum ke arah Ana dan Risa yang dapat melihat mereka.
"Kabur, Na! Ayo, mendingan kita kabur aja daripada urusan di sini nggak selesai selesai!" seru Jaya yang mengajak Ana pergi.
"Ana, tunggu! Naik mobil aku aja, yuk! Ad di depan sana daripada balik ke bis masih kejebak macet!" panggil Juna.
"Naik bis aja, Na!" pinta Jaya.
"Sayang, Juna benar kok. Kalau naik mobil dia lebih cepat," ucap Ana.
"Aku setuju sama Ana. Aku sama Bayu mau ikut naik mobil si Juna aja!" sahut Risa yang bergegas meminta Bayu mengambil tas mereka dari dalam bus.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...