
Bab 68 DPT
Di area belakang hotel dekat gudang kosong bekas pabrik terbengkalai, ternyata seorang petugas kebersihan menemukan mayat perempuan yang tergeletak tak bernyawa di gudang kosong di belakang hotel tersebut.
Di tempat kejadian perkara, beberapa polisi sudah sampai untuk memeriksa keadaan mayat tersebut. Jasad wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun itu diduga tewas akibat dicekik lehernya dengan jeratan tali tambang. Korban diduga mengalami tindak kekerasan sebelum meninggal karena ada bekal lebam di sekujur tubuhnya.
Korban merupakan mahasiswi di kampus yang cukup jauh dari hotel, jurusan manajemen akuntansi. Ana memandangi sosok hantu perempuan yang mengenakan kaus putih berlengan pendek dan celana jeans yang robek di bagian lutut itu. Sosok itu tengah menangis.
"Jadi, dia mau minta tolong buat menangkap pelakunya, gitu?" bisik Risa pada Ana.
"Apa dia mau minta tolong sama kita, Na?" tanya Jaya yang tiba-tiba muncul bersama Bayu.
"Iya, kata Mbak Tantri juga gitu. Si Bayu kenapa celananya basah?" tanya Ana sembari melirik Bayu.
Risa juga menoleh pada Bayu dan mencium bau pesing dari pria itu.
"Kok, bau pesing, sih?" tanya Risa mendekat pada Bayu lalu menuding nya lagi, "kamu ngompol, ya?"
"Ssstttt! Jangan keras-keras! Aku digangguin sama genderuwo cewek di kamar hotel terus aku kejebak di tangga darurat," sahut Bayu.
"Jadi, karena kamu ketakutan terus ngompol? Hahahaha!" Risa dengan puasnya menertawakan Bayu.
"Halah! Kayak kamu nggak pernah ngompol aja!" Gantian Ana yang menertawakan Risa.
"Heh, nggak usah bahas soal itu, bisa kan?" Risa tampak cemberut.
Kuntilanak Tantri datang mengejutkan Ana dan Risa.
"Jadi, gimana dengan mbak ini?" tanya hantu Tantri mendekat pada Ana seraya membawa hantu perempuan yang baru saja meninggal itu.
"Kamu kenapa bisa meninggal? Dicekik gitu? Siapa yang bunuh kamu setega ini?" tanya Ana pada sosok hantu yang sedang terdiam melihat tubuhnya yang tak bernyawa.
"Sa-saya, saya dijebak huhuhu!" ungkapnya.
"Dijebak siapa?" tanya Ana lagi.
Belum juga hantu itu menjawab, seorang perwira polisi bernama Juna mendekat ke arah Ana.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Saya rasa, saya pernah melihat Anda sebelumnya?" Polisi Juna itu mendekati Ana.
"Ummmm, saya paling takut berurusan dengan polisi. Jadi saya rasa kita belum pernah bertemu." Ana tersenyum.
Juna sempat mengamati perut buncit Ana.
"Halo, nama saya Juna. Maaf, saya perhatikan sedari tadi, apakah Anda berbicara dengan mayat itu?" tanya Juna.
__ADS_1
"Lah ini saya lagi nanya sama hantunya yang meninggal itu," sahut Ana keceplosan.
Ia segera menutup mulutnya seketika.
"Maksudnya?" Polisi itu mengernyit dahi.
"Ummm, bukan apa-apa, Pak. Nama saya Ana, saya hanya pengunjung hotel di sini yang kepo sama tempat kejadian. Saya permisi dulu." Ana lantas menarik Risa untuk menjauh.
Polisi bernama Juna tadi masih mengamati Ana secara saksama. Dia yakin pernah melihat Ana sebelumnya tetapi dia lupa di mana. Lalu Juna mulai penasaran lagi dan bertanya pada Bayu.
"Apa salah satu wanita itu istri Anda?" tanya Juna.
"Oh, bukan Pak. Yang pakai baju biru namanya Mbak Ana, dia majikan saya. Kalau yang pakai baju pink itu namanya Risa, asistennya Mbak Ana," ucap Bayu menjelaskan.
"Ohhh… sebaiknya ibu hamil jangan keluar malam-malam nanti bayinya sawan kalau ketemu hantu. Kata nenek saya sih begitu," ucap Juna.
"Ah, Mbak Ana sudah terbiasa berurusan dengan hantu, Pak. Ini aja lagi ngobrol sama hantunya perempuan itu. Katanya dia dijebak," ucap Bayu yang ikut keceplosan juga lalu menutup mulutnya.
Bayu bergegas menuju ke arah Ana dan Risa. Mereka bergegas menuju ke kamar hotel. Jaya masih mengamati Juna dengan saksama.
"Kayaknya dia suka nih sama Ana." Jaya mendadak cemburu pada Juna.
Tantri mencolek lengan Jaya.
"Waduh, aku kok ditinggal!" Jaya bergegas melompat cepat karena merasa tertinggal.
***
Di dalam kamar hotel Ana, hantu wanita berambut pendek tadi meringkuk dan menangis di sudut kamar.
"Kenapa harus nangis? Kamu harusnya terima nasib dan jadikan pelajaran atas kematian kamu ini," ucap Ana.
"Huaaaaaaaaaa, aku benci orang itu!" ucap wanita bernama Lela Sari itu.
"Jadi, orang yang menjebak kamu ini yang bunuh kamu juga?" tanya Ana lagi.
"Iya, anak pemilik hotel ini, pria yang semenjak setahun lalu sudah menjadi kekasih saya diam-diam ini. Dia juga yang udah bunuh saya, huaaaaa!" Lela melanjutkan tangisannya sampai mengeluarkan air mata darah.
"Welcome to the club, Sis!" Tantri memeluk Lela.
"Lha, jangan-jangan si Lela juga meninggal dalam kondisi hamil?" tanya Risa.
Lela mengiyakan lalu menangis lagi bersama Tantri.
"Pantesan welcome to the club! Taunya bakalan bareng-bareng jadi kuntilanak," tukas Ana.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Bayu datang setelah berganti pakaian sambil misuh-misuh.
"Pindah cari hotel lain aja, yuk!" sungut Bayu seraya berkemas.
"Emangnya kamu kenapa?" tanya Ana.
"Masa tuh genderuwo godain aku terus. Mana di kamar mandi ngeliatin aja. Nggak sopan itu!" sungut Bayu.
"Oh, Tante Uwo yang tadi. Dia cantik tau, cuma badannya aja yang rada besar," ucap Ana.
"Cantik ndasmu!" sungut Bayu.
Jaya yang mendengar hal itu langsung memukul kepala Bayu.
"Eh … maaf Kanjeng Ratu. Bukan maksud hamba menghina Kanjeng Ratu." Bayu sampai berlutut di depan Ana.
Membuat Ana dan Risa tertawa.
"Dia emang cakep tau, Bay. Nikahin aja! Kayak geng kita kan aneh aneh tuh. Ana nikah sama pocong, aku sama raja jin, kamu sama genderuwo cantik, hehehe." Risa menggoda Bayu.
"Hah? Pernikahan aneh macam apa ini? Nggak mau! Mending aku nikahin kamu aja biar pun bekas istrinya jin!" sahut Bayu.
"Sialan!" Risa memukul Bayu dengan bantal.
Ana yang duduk di atas ranjang lantas memeluk Jaya yang berdiri di sampingnya. Tantri dan Lela mengamati pasangan aneh tersebut.
"Iya ya, masa nikah sama pocong?" gumam Lela.
"Tapi kalau pocongnya kayak gini sih aku mau, cakep begitu," bisik Tantri.
"Heh, kenapa pada ngeliatin suami saya kayak gitu? Coba Mbak Lela cerita lagi kenapa bisa meninggal terus gimana caranya nangkep si pelaku biar Mbak Lela tenang?" tanya Ana.
Lela lantas menceritakan pengalamannya saat dijebak oleh anak pemilik hotel. Dia selama setahun belakangan sudah menjadi wanita simpanan anak pemilik hotel bernama Indra Kartanegara. Namun, Lela mulai lelah dan ingin juga dinikahi. Ia membiarkan dirinya hamil agar nantinya Indra mau bertanggung jawab. Sayangnya, Indra tidak mau bertanggung jawab. Dia malah menjebak Lela dengan bertemu di gudang belakang hotel lalu dihabisi nyawanya.
"Aku mau minta tolong, bisakah kalian ke rumah saya lalu kasih tau ibu ku tentang buku harian merah jambu gambar little pony. Ada juga rekaman video sama dan Indra di hape aku dalam laci yang terkunci. Nanti aku kasih tau kombinasi kuncinya?" tanya Lela.
"Hmmmm, gimana ya? Kita tuh sebenernya sibuk mau buru-buru ke Desa Abang," jawab Ana.
"Tolonglah … saya mohon …, " Lela memelas.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1