Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 83 - Tumbal Perjaka


__ADS_3

Bab 83 DPT


Bayu terpojok saat Ningsih makin mendekat. Bahkan di tangan wanita itu kini tergenggam sebuah kapal yang akan dia gunakan untuk memotong Bayu.


"Ya Tuhan, jika ajalku sudah dekat aku harap jangan mati seperti ini di tangan iblis seperti dia. Aku mohon selamatkan aku, Ya Tuhaaaan," lirih Bayu seraya memejamkan mata.


Tiba-tiba, terdengar suara Risa dan Ana memanggil namanya dari luar rumah.


"Risaaaaa, aku di sini!" teriak Bayu sekuat tenaganya.


Ana dan Risa akhirnya menemukan rumah ningsih. Keduanya langsung masuk ke dalam rumah itu dan terkejut dengan apa yang baru saja ia lihat. Jaya mengikuti keduanya dan menghentikan lompatannya.


"Bayu? Ya ampun aku nggak nyangka. Apa yang kamu lakukan?" pekik Ana.


"Bayu! Gila kamu ngapain kayak begitu sama mbaknya?" tanya Risa dengan raut wajah jijik memandang Bayu.


"Bayu, aku nggak nyangka kamu bisa begitu sama mbaknya," ucap Jaya menambahkan.


"Eh, kalian jangan salah paham dulu! Ini tak seperti yang kalian sangka," sanggah Bayu lalu menghampiri Risa dan bersembunyi di belakang wanita itu.


"Apa-apaan sih, Bayu? Kamu ngapain kayak gini?" tanya Risa mulai risih.


"Kamu lihat tuh wajahnya!" tunjuk Bayu.


Ningsih yang tanpa busana itu lalu berbalik badan. Ia tersenyum seraya melambai ke arah Ana dan lainnya.


"Halo! Apa kabar?" sapa Ningsih.


"Astaga, itu kan tubuh aku! Jadi kamu lihat tubuh aku nggak pakai baju kayak gitu, dong? Dasar mesum pantas aja betah!" sungut Risa yang langsung menarik telinganya Bayu.


"Sumpah Risa, aku nggak kayak gitu!" ucap Bayu.


Jaya langsung menepuk pipi Bayu.


"Dasar mesum!" ucap Jaya.


"Heh! Pang Jay jangan ngaco begini! Kayaknya aku kena pelet dia makanya aku percaya dan mengikuti dia sampai sini," ucap Bayu seraya mengusap pipinya.


"Terus kamu ngapain aja sama dia?" tanya Ana.


"Saya cuma diajak makan, Mbak Ana. Terus saya baca doa dan sadar dengan apa yang ada di meja itu. Semuanya menjijikkan!" sahut Bayu.


"Tapi tadinya kan kamu emang mau ketemu Ningsih bukan karena aku, kan? Lagian jelas-jelas tubuh itu bukan tubuh aku," ucap Risa.


"Ya jelaslah bukan, Mbak Risaaaa! Coba lihat dong ukuran dadanya aja beda sama kamu. Dia mah agak gede kalau kamu mah–"


"Apa?! Kamu mau bilang punya aku kecil, gitu? Heh, sembarangan aja kalau ngomong!" Risa mendorong tubuh Bayu dengan kesalnya.

__ADS_1


"Aduh, jangan gitu dong, Mbak!" Bayu mengaduh.


"Habisnya kamu duluan yang mulai, pakai banding-bandingkan aku sama tuh iblis!" seru Risa.


"Jadi dia iblis apa jin, ya?" tanya Bayu.


"Masa dia manusia! Ya nggak mungkin lah. Apalagi kalau bukan Jin, buktinya dia bisa berubah bentuk dan meniru," sahut Risa menoleh pada Ana dan mencari pembelaan.


"Sudah selesai perdebatan kalian?" tanya Ningsih.


Ana dan Jaya yang sedari tadi mundur ke sudut untuk menyimak perdebatan Risa dan Bayu lalu mendekat.


"Belum sih, Mbak. Tapi ya udah deh udahan aja. Lagian emangnya Mbak mau apa?" tanya Risa.


"Aku mau dia!"


Ningsing menunjuk ke arah Bayu. Pria itu kembali bersembunyi di balik tubuh Risa.


"Kamu yang selama ini membunuh para perjaka ya, Mbak?" tanya Ana dengan suara pelan dan hati-hati.


"Maksud kamu, Na?" tanya Risa dan Bayu yang tak mengerti dengan pertanyaan Ana barusan.


Keduanya saling bertatapan. Risa semakin menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Risa.


"Tadi aku ketemu hantunya Anto. Dia nangis-nangis mau pulang ke rumahnya tapi gak bisa, terus dia tersesat di hutan sana. Dia cerita sama aku tentang Mbak Ningsih. Awalnya dia juga digoda kayak kamu, Bay. Terus ditawarin makan eh lama-lama si Anto yang dimakan," ucap Ana menjelaskan.


"Ya kata Anto dia mati gara-gara aura kehidupannya dihisap sama dia," ucap Ana seraya menunjuk ke arah Ningsih.


"Hmmmm, kau mampu juga rupanya berkomunikasi dengan para makhluk gaib," ucap Ningsih dan ingin mendekati Ana.


Namun, Jaya langsung menghadangnya.


"Sayang sekali aku tak tertarik dengan pocong meskipun wajahmu lumayan juga," ucap Ningsih.


"Heh, dasar jin penghisap keperjakaan laki-laki! Kami akan memusnahkanmu!" seru Ana.


"Caranya gimana, Na?" bisik Jaya.


"Udah pokoknya menggertak dulu baru nanti mikir lagi caranya gimana," sahut Ana dengan nada berbisik juga.


"Hahahaha kamu benar sekali. Aku bukan hanya menghisap perjaka laki-laki tetapi juga memakannya sampai tinggal tulang. Dan sekarang aku ingin menghisap aura perjaka miliknya," ucap Ningsih seraya menunjuk ke arah Bayu.


"Siapa yang dia maksud, Sa?" tanya Bayu menoleh ke kanan dan kirinya serta ke arah belakangnya.


"Haish... ya kamu lah, siapa lagi? Masa aku? Jelas-jelas dia nunjuk kamu!" seru Risa.


"Hah, serius? Aku nggak mau dia makan aku. Lagian aku udah nggak perjaka, Mbak!" seru Bayu.

__ADS_1


Semua mata menatap ke arah Bayu saat mendengar hal itu. Risa bahkan memperhatikan ke arah bawah pinggang Bayu, lalu bertanya, "Memangnya kamu udah nggak perjaka?"


"Aku kadang kan mimpi basah ngebayangin Mbak Risa, terus kalau kebangun pagi-pagi ya aku terusin di kamar mandi sendirian. Ya katanya kan kalau sering begituan sendiri udah nggak perjaka," sahut Bayu dengan polosnya.


"Ya ampun! Kok, aku jijik ya bayanginnya," kata Risa seraya bergidik.


"Menurut Pang Jay gimana?" tanya Bayu.


"Iya kali kamu udah nggak perjaka, hehehe," sahut Jaya.


"Tapi saya maunya beneran digituin sama Mbak Risa," sahut Bayu cengengesan.


"Idih! Lama-lama nyebelin nih laki!" sungut Risa.


"Hoaaammm saya tuh sampai ngantuk dan capek loh nungguin kalian berdebat," ucap Ningsih menimpali.


"Ya udah jangan ditungguin Mbak, pergi aja sana!" seru Bayu.


Ningsih lantas tertawa seperti kuntilanak.


"Mbak, kalau mau incar dia, nih saya kasih! Saya rela kalau Mbak mau hisap dia sampai kempes, sampai peyot banget juga saya rela," sahut Risa yang mulai kesal dengan Bayu.


"Kok, Mbak Risa gitu, sih? Kenapa saya ditumbalin?" Bayu makin ketakutan.


Risa malah menahan tawa.


"Yah, gimana nih Mbak Risa? Masa aku harus mati buat dia? Aku nggak mau kayak Anto yang mati dalam keadaan perjaka. Aku juga mau ngerasain malam pertama sama Mbak Ana terus punya anak, punya keturunan yang soleh dan soleha," ucap Bayu dengan nada ketakutan.


"Kamu punya anak? maksudnya kamu hamil gitu?" Risa melirik ke arah Bayu.


"Bukan aku yang hamil, istri aku yang hamil nanti. Kalau Mbak Risa mau jadi istri aku, nanti aku cuma nyumbang benih doang, maksudnya itu." Bayu meringis.


"Huh, masih bisa jawab lagi! Mana nyahut mulu dari tadi!" Bayu melirik tajam lagi ke arah Bayu.


"Kan, tadi Mbak Risa tanya, jadi aku jawablah," sahut Bayu menatap ke arah Risa kembali.


Ana dan Jaya tak bisa lagi menahan tawa mereka. Bayu dan Risa memang semakin terlihat lucu ketika sedang berdebat.


"Heh, sudah, sudah, jangan kelamaan!" seru Ningsih.


Iblis wanita itu lalu mengubah wujudnya lebih menyeramkan lagi.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2