Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 85 - Bertemu Jin Bongkok


__ADS_3

Bab 85 DPT


Ana dan yang lainnya pamit pada keluarga Pak Roni. Tadinya, Juna menawarkan diri untuk mengantarkan Ana ke Desa Bukit Emas, tetapi Jaya melarang Ana menyetujuinya. Akhirnya, Risa memberi saran untuk naik bus saja dari terminal. Namun, akses menuju ke terminal bisa ditempuh menggunakan andong. Akhirnya Pak Roni menghubungi salah satu rekannya untuk mengantarkan.


Tak jauh dari tempat Ana dan yang lainnya berdiri, munculah sebuah andong yang dikemudikan seorang pria paruh baya berjenggot putih. Andong tersebut rupanya sedang mengangkut dua ekor kambing.


"Mbah Jam, kenapa bawa kambing? Kan, semalam saya telpon buat anter tamu saya ke terminal," protes Pak Roni.


"Ini pesenan Pak Kades, aku nggak bisa nolak. Lagian tiga orang itu masih muat, kok naik di andong saya," tukasnya


"Gimana nih, Na?" tanya Risa.


"Ya udahlah daripada nanti lama lagi nunggu," sahut Ana.


"Bener, tuh! Daripada keburu Juna nawarin anter," sahut Jaya dengan ketusnya.


"Hadeeeeeh, jadi pocong cemburuan banget!" sungut Bayu yang langsung dipukul kepala belakangnya oleh Jaya.


"Baiklah, kalau begitu ayo semuanya naik!" seru Mbah Jam.


Ana dan yang lainnya lalu menaiki andong tersebut. Meskipun ia berbaur dengan para kambing, tetapi tak apa asal mereka cepat sampai ke terminal. Sementara itu, Jaya duduk di samping Mbah Jam.


"Kok, saya ngerasa merinding ya," lirih Mbah Jam.


Bayu hanya bisa menahan tawa saat Jaya malah menggoda Mbah Jam.


"Rumah Pak Kades masih jauh nggak, Mbah? Saya nggak tahan nih sama baunya," ucap Risa.


"Dikit lagi, Nduk. Tahan dulu, ya." Mbah Jam semakin melajukan andongnya lebih cepat.


"Kok, lama-lama baunya kayak kamu, Bay," ucap Ana menggoda Bayu.


"Si Ana kalau ngomong suka bener," celetuk Risa.


"Huh, kalian ini masa aku disamain ama kambing," sahut Bayu seraya mengerucutkan bibirnya.


Pria itu juga sibuk menjauhkan wajah kambing yang mengendus badannya sedari tadi.


"Tuh, buktinya kambingnya naksir sama kamu," ledek Risa.


"Mbak Risaaaaaa!" Bayu makin geram.


Semakin geram tingkah Bayu, semakin pula Ana dan Risa tertawa. Jaya juga makin meledek pria itu.


"Maaf kalau Mbah boleh tau, kalian mau ke mana?" tanya Kakek tua itu.


"Mau ke Dusun Abang, Mbah. Tepatnya ke kaki Bukit Emas," sahut Ana.

__ADS_1


"Loh, Nduk kamu lagi hamil gitu mau ngapain nambang ke sana?" tanyanya.


"Saya mau liburan, Mbah. Mereka yang mau nambang," sahut Ana berbohong.


Lebih baik memberi alasan palsu daripada jujur karena akan memperpanjang pembicaraan nantinya.


"Kalau saya mau ke rumah nenek saya, Mbah. Saya kangen sama nenek hehehe," sahut Bayu ikut berbohong mengerjai Mbah Jam.


"Oh, siapa nama neneknya? Ya, mungkin saja saya kenal?" tanya Mbah Jam seraya fokus mengendalikan laju kuda di hadapannya.


"Ummm, nama nenek saya … Nenek Asih," sahut Bayu asal sebut.


Ana dan Risa sampai mengernyitkan dahi.


"Nenek Asih? Ummm... apa di wajahnya ada tahi lalat di sebelah dagunya, lalu ada lesung pipit juga?" tanyanya.


"Kayaknya iya, Mbah. Kok tahu?" sahut Bayu.


"Dia itu kembang desa sewaktu masih muda dulu. Dia juga mantan saya loh. Biar gini-gini saya juga cakep waktu muda, mantan saya banyak," sahut Mbah Jam.


Sontak saja Ana, Risa, dan Bayu menahan tawa. Hanya Jaya yang bisa tertawa terbahak-bahak di samping Mbah Jam. Mereka tak menyangka kalau kebohongan Bayu malah bersambut.


"Nanti salam ya sama nenek kamu, salam kangen dari Ayang Jam," ucap kakek itu.


"Iya, Mbah, nanti salamin. Kalau perlu pakai kiss bye," sahut Bayu yang menahan tawa seraya memukul pahanya sendiri berkali-kali.


"Ya ampun, perut aku sakit tau ketawa mulu," ucap Ana.


"Tangan aku bau, nih!" sungut Risa yang lantas mencari keran air untuk cuci tangan.


"Kurang ajar banget nih kambing! Cepet banget larinya!" keluh Bayu.


"Mbah, nanti tolong andongnya dibersihkan dulu, ya. Banyak kotoran bulet-bulet kecil hitam gitu," ucap Risa yang masih kesal.


"Iya, Nduk," sahut Mbah Jam.


Ana juga turun dari andong mengikuti Risa. Ia melangkah menuju sumur kecil di samping rumah Pak Kades untuk mencuci tangan. Sayup-sayup terdengar pembicaraan dua orang pria yang sedang membicarakan penemuan mayat pemuda di dekat rumah gubug yang terbakar. Dua orang laki-laki itu lalu datang dari arah luar dengan tergesa-gesa. Mereka berlari menemui Pak Kades.


"Pak Kades, pemuda yang hilang mayatnya pada ketemu di hutan. Bahkan ada tulang-tulang juga pas di sekitarnya digali," ucap pria dengan pakaian batik motif parang itu.


"Pembunuhan ketangkep?" tanya Pak Kades.


"Katanya sih makhluk gaib, Pak."


"Lho, kok bisa? Hari gini masih percaya makhluk gaib?" tanyanya lalu tertawa.


"Kita juga gak tau, Pak. Dengar-dengar sih begitu," ucap si pria tersebut.

__ADS_1


Tatapan Pak Kades kini beralih pada Ana. Pria itu berdalih tak percaya dengan makhluk gaib, tetapi ia memiliki sosok jin pesugihan dan kerap menumbalkan ibu hamil demi kekayaan dan jabatan.


"Mbak, mau ke mana?" tanya Pak Kades.


"Mau ke Dusun Abang, Pak," sahut Ana.


"Wah, itu jauh loh, Mbak. Apa tak menginap saja dulu di sini sekalian berwisata di sekitar sini?" tanyanya menawarkan.


Jaya melihat sosok jin bongkok dengan rambut panjang putih dan sampai menyeret ke lantai. Kuku kakinya panjang dan tajam. Kuping sosok jin itu juga lancip dan caplang.


"Hmmm, sepertinya dia makanan yang lezat untukku," ucap jin bongkok itu.


"Wah, sialan tuh jin. Bisa-bisanya dia mau jadiin istriku makanan. Ini pasti si Pak Kades mau numbalin Ana," ucap Jaya.


Akhirnya, Jaya segera memberitahukan Ana. Dia meminta Ana agar bergegas pergi sebelum jadi tumbal. Risa dan Bayu juga terperanjat dengan sosok jin bongkok yang muncul di belakang tubuh pak kades.


"Bagaimana, Mbak Ana? Apa terima tawaran saya? Tenang saja nanti saya minta istri saya siapkan kamar yang nyaman dan makanan yang lezat untuk menjamu Mbak Ana," kata Pak Kades merayu.


"Makasih, Pak. Saya mau buru-buru aja," jawab Ana.


"Mbah Jam, ayo buruan nanti telat naik bisnya," pinta Bayu berseru.


"Bentar lagi, Mas. Ini lagi dibersihkan dulu," sahut Mbah Jam.


"Buruan, Bay! Bantuin Mbah Jam biar cepat jalan dari sini!" titah Risa.


Belum kelar Mbah Jam membersihkan sisa kotoran kambing, Bayu sudah bergegas menariknya dan meminta dia duduk di kursi kemudi andong. Ana dan Risa serta Bayu terpaksa naik dan menginjak beberapa kotoran kambing yang tersisa. Kemudian Mbah Jam pamit pada Pak Kades menaiki andongnya dan bergegas pergi mengantar Ana.


"Mereka tahu kehadiranku, Bos," ucap si jin bongkok.


"Sial, padahal dia sasaran yang bagus," sahut Pak Kades.


"Mereka bahkan punya pocong penjaga," tukasnya.


"Pocong? Hahaha, lucu sekali penjaga mereka." Pak Kades menatap kepergian andong milik Mbah Jam.


"Untung berhasil selamat kita," ucap Ana.


"Selamat dari apa, Nduk?" tanya Mbah Jam.


"Selamat dari rumah itu, Mbah. Saya saranin jangan sering-sering ke sana. Pak Kades bukan orang baik," sahut Risa dengan nada kesal.


Mbah Jam mencoba mencerna penuturan Risa meskipun tetap tak mengerti.


...******...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2