
Bab 62 DPT
Satu jam sebelumnya.
"Mbak Widi, sisa pita buat dekorasi di mana, ya?" tanya Risa.
"Ada di kamar saya, Mbak. Mau buat apa?" tanyanya.
"Mau hias tampah ini. Ya udah nanti saja kalau gitu," sahut Risa.
Namun, saat Risa melintas di depan kamar Widi, ia melihat Rama tengah menangis.
"Rama, kamu kenapa?" tanya Risa.
"Si Gajah mati, Tante," akut Rama.
"Mati kenapa?" Risa mendekat.
"Gajah minum susu kambing ketawa punya Mama Ana dan Papa Jaya yang ada di meja sana tadi," sahutnya.
"Hah? Kok bisa?" Risa mengernyit.
Bayu juga mendekat dan tak mengerti saat memeriksa kucing belang tiga yang gemuk tersebut.
"Ini fix keracunan, Mbak," ucap Bayu.
"Keracunan? Siapa yang bikin susunya?" tanya Risa.
"Setahu aku yang selalu bikin itu Mbak Widi," sahut Bayu.
Risa mendadak saja menuju ke kamar Widi. Mungkin memang sudah digariskan Tuhan untuk diketahui, Risa tak sengaja mengetahui kejahatan yang dibuat oleh Widi dengan menemukan racun di dalam kamarnya. Ada catatan tentang pemberian dosis dan rencana busuk Widi. Ia akan meracuni Ana dan Jaya perlahan-lahan lalu mati.
Rupanya Widi juga yang membunuh Raja Sumardjo dengan meracuninya dan membuatnya sakit perlahan. Widi tak menyangka Risa ada di kamarnya kala itu.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Widi.
"Dasar pembunuh! Jadi kamu selama ini yang memberi racun pada Raja Sumardjo dan kini mau meracuni Ana dan Jaya, begitu kan?" tuduh Ana.
"Jaga ucapan kamu, Mbak Risa!" seru Widi.
"Ini buktinya! Kamu membuat tulisan tentang semua rencana kamu di sini, kan?" Ana menunjukkan buku catatan milik Widi.
Perempuan itu melotot dan ingin merebut buku catatan itu, tetapi Risa menahannya. Widi lantas mendorong Risa sampai perkelahian antara dua wanita itu tak dapat terelakkan lagi.
__ADS_1
Ana berhasil menarik Widi dan menceritakan semuanya seraya berseru. Ratu Melati lantas menampar pipi Widi saat abdi dalamnya itu tak mau mengelak tuduhan Risa.
"Beri dia hukuman mati! Bawa dia dari sini, Nji!" Ratu Melati berseru pada Panji untuk menghukum nanti Widi malam itu juga.
Panji mengangguk, lalu membawa Widi untuk menjalani hukuman mati. Akhirnya acara pelantikan Jaya sengaja raja baru terlaksana tanpa hambatan apa pun. Namun, tepat pukul dua belas malam, Jaya kembali tak sadarkan diri.
Arwah Jaya kembali keluar. Santet Ambil Sukmo kembali menimpa Jaya. Bahkan kekuatannya lebih dahsyat. Mbah Karso lantas mengkafani kembali tubuh Jaya menjadi pocong. Lalu, tubuh itu disimpan kembali di sebuah kamar.
"Na, aku punya catatan nya Mbak Widi," bisik Risa pada Ana saat merawat Jaya di ruangannya.
"Apa itu, Sa?" tanya Ana.
Saat di kamar Widi, Risa menemukan catatan penangkal santet untuk menolong Jaya. Jika Jaya meminum darah murni dari keturunan Mangkulangit, maka dia akan sembuh dan kembali lagi ke tubuh manusianya.
"Kamu yakin, Sa?" tanya Risa.
"Aku yakin baca itu. Widi punya buku santetnya," ucap Risa.
"Itu artinya, Jaya butuh darah anak yang aku kandung karena ini anaknya Jaya, keturunan murni dari keluarga Mangkulangit," ucap Ana.
Risa menganggukkan kepala.
"Jadi, kita harus bersabar lagi dan tunggu sampai bayi itu lahir," ucap Ratu Melati yang tiba-tiba masuk dan mendengarkan percakapan Ana dan Risa.
"Ya, kita jaga lagi tubuh Jaya dengan baik selama dua bulan ke depan sampai kaku melahirkan, Na," ucap Ratu Melati seraya mendekat dan mengusap perut Ana.
Ana mengangguk setuju.
"Maaf, Yang Mulia Ratu, apa Mbak Widi sudah diberi hukuman mati?" tanya Risa.
"Kau masih menuduh Widi yang membuat Jaya begini?" tanya Ratu Melati.
Risa mengangguk mengiyakan.
"Panji memberi hukuman gantung padanya dan disaksikan beberapa pengawal. Lalu, Widi sudah dikuburkan," sahutnya.
"Terus, kenapa Jaya bisa begini lagi, ya? Siapa yang tega mengirimkan santet ini lagi?" tanya Ana menimpali.
"Widi bukan dalang utama yang mengirimkan santet itu pada Jaya. Aku yakin dia hanya orang suruhan," ucap sang ratu.
"Jadi, Widi bukan dalang sebenarnya? Lalu, siapakah orang ini? Siapa yang harus kira curigai?" gumam Ana.
"Aku juga akan tetap waspada dan terus membantumu menjaga Jaya," ucap Ratu Melati lalu memeluk Ana.
__ADS_1
...***...
Keesokan harinya, Ratu Melati memberikan Ana mengenai catatan harian milik Raja Sumardjo yang ia temukan.
"Kenapa banyak catatan mengenai Bukit Emas, ya?" gumam Ana.
"Mungkinkah kita bisa menemukan jawaban di sana? Kakanda juga menulis mengenai Iblis Rahwana yang bisa dia segel setelah dari bukit itu," ucap sang ratu.
"Apa aku harus pergi ke Bukit Emas, Ibu Ratu?" tanya Ana.
"Di usia kandungan kamu yang rentan begini? Kau mau ke Dusun Abang? Lalu siapa yang akan kau cari di sana?" tanya Ratu Melati.
"Kalau memang ini jalan terbaik kenapa tidak," sahut Ana.
"Lalu, siapa yang akan kau cari, Ana?" tukas Ratu Melati.
Ana membolak balik catatan milik Raja Sumardjo yang mulai usang dan berdebu itu.
"Ini, lihat ada tulisan Eyang Setyo," ucap Ana.
"Eyang Setyo? Sepertinya aku pernah mendengar kakanda menyebut nama itu. Ummm, tetapi sepertinya sejak Mbah Karso pulang ke sini dari perantauan, seperti nya kakanda sudah lama tidak menyebut nama Eyang Setyo."
"Nah, karena aku penasaran sepertinya aku memang harus mencari keberadaan Eyang Setyo ini. Siapa tau dia bisa membantu menyembuhkan Jaya dan menyegel Rahwana selamanya daripada kita selalu harap-harap cemas takut iblis sialan itu kembali," ucap Ana.
"Baiklah kalau begitu Ibu akan menemani kamu ke Desa Abang," ucap Ratu Melati.
"Jangan, Bu. Aku sama Risa dan Bayu saja. Aku mau Ibu Ratu menjaga Jaya dan Rama. Pastikan mereka selalu dalam pengawasan Ibu. Aku yakin Ibu akan menjaga mereka dengan baik," ucap Ana.
"Kamu yakin, Na?" tanya Ratu Melati lagi menegaskan.
"Aku yakin, Bu. Aku tak ingin hanya berdiam diri menunggu bayi ini lahir dan membiarkan Jaya menderita seperti itu," ucap Ana.
Ana membersihkan tubuh Jaya. Keadaan yang dialami Jaya kali ini memang berbeda dari sebelumnya. Tubuh Jaya mulai muncul luka dan kemungkinan hal itu adalah tanda-tanda kalau tubuh Jaya mulai membusuk. Ana takut sebelum Jaya bisa kembali ke dalam tubuhnya, tubuh pria itu malah rusak nantinya. Lagipula Ana tidak bisa menemukan keberadaan arwah Jaya seperti dulu saat menjadi pocong.
Ana lantas meminta Risa untuk menyiapkan bekal dan tas berisi pakaian. Mereka akan melakukan perjalanan ke Desa Abang, tepatnya di kaki Bukit Emas. Bayu tampak khawatir, pasalnya dua wanita yang bersamanya itu tengah mengandung.
Namun, Ana dan Risa tampak santai. Mereka bahkan lebih kuat dan merasa lebih sehat dibandingkan ibu hamil pada umumnya. Bayu sekali lagi hanya bisa menggelengkan kepala. Ia melirik ke perut buncit Ana yang berusia tujuh bulan dan perut Risa yang masih kempis berusia dua bulan. Hanya Ana, Jaya, dan Bayu yang tahu mengenai kondisi kehamilan Risa yang tengah mengandung anaknya jin.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1