Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 37 - Kembali dari Alam Jin


__ADS_3

Bab 37 DPT


Seseorang memasuki ruang tempat Ana dan Risa berbaring. Dia menuju selang infus dan hendak menyuntikkan sesuatu. Untungnya Bayu datang untuk membersihkan ruangan. Seseorang yang mengenakan jaket berhoodie itu langsung bersembunyi.


"Aduh! Aku sampai lupa mau ganti pengharum ruangan!" seru Bayu seraya menepuk dahinya sendiri.


Bayu lantas keluar ruangan untuk mengambil refill pengharum ruangan. Pintu ruangan dibiarkan terbuka. Jaya tiba-tiba muncul di samping ranjang Ana. Rupanya mereka kembali dari alam gaib.


Jaya terperanjat ketika melihat si sosok misterius tersebut hendak mencelakai Ana dan Risa. Jaya lantas mencengkeram tangan sosok tersebut. Si misterius yang ternyata menggunakan masker itu lantas terperanjat ketika merasa ada yang memegang tangannya tetapi tak berwujud. Suntikan di tangannya lantas terjatuh.


Dari kejauhan tampak Widi akan menghampiri ruangan tersebut. Bayu berseru memanggil Widi untuk meminta wanita itu membawakan kain pel yang baru. Sontak saja si misterius itu langsung keluar ruangan tanpa sepengetahuan siapa pun. Jaya hendak mengejarnya tetapi Ana terbangun memanggilnya. Kedua mata Ana mengerjap ketika Jaya mendekat.


"Na, kamu udah sadar?" Jaya mengusap pipi Ana dengan lembut.


Bayu masuk ke dalam ruangan dan menemukan Risa juga siuman.


"Mbak Risa! Mbak Ana! Alhamdulillah…." Bayu langsung memeriksa kondisi keduanya.


Ia pun segera menghampiri Widi dan memberitahukan pada Ratu Melati kalau Ana dan Risa sudah siuman.


Ana dan Risa membuka lebar kedua matanya dan berusaha menetralkan cahaya yang masuk ke iris mereka.


"Untung saja orang tadi belum mencelakai kamu, Na!" tukas Jaya.


"Orang tadi?" Ana mengernyit.


"Ada seseorang yang masuk ke sini dan hendak menyuntikkan sesuatu ke selang infus kamu. Tuh, suntikannya jatuh!" tunjuk Jaya.


Kini, sosok pocong Jaya sudah bisa menyentuh benda-benda milik manusia sepulangnya dari kerajaan Raja Harun. Ia menyerahkannya pada Ana. Suara beberapa langkah hendak mendekati ruangan tersebut. Ana segera menyembunyikan suntikan tadi ke bawah bantalnya.


"Ana! Kamu sudah sadar, Nak." Ratu Melati datang mendekat dan memeluk Ana.

__ADS_1


Ia juga memastikan kalau kondisi Ana sudah baik-baik saja. Begitu pun dengan kondisi Risa.


Mbah Karso dan Raja Sumardjo juga datang untuk memastikan kondisi Ana. Tampak seorang pria berkulit gelap dengan perawakan tinggi dan kekar masuk menghampiri Raja Sumardjo. Pria itu adalah Panji yang datang dengan membisikkan sesuatu ke telinga sang raja, entah apa yang dia bicarakan.


Sontak saja kedua mata Raja Sumardjo membulat. Dia lalu menoleh ke Datuk Karso.


“Bagaimana bisa ada kematian lagi di wilayahku? Dan kini abdi dalam milik Ratu Dewi yang mati," ucap Raja Hadrian.


"Dewi ditemukan tewas terpenggal di tepi danau," ucapnya.


"Maksud Paduka Raja, Ibu Dewi istrinya Patih Gundul? Dia mati?" tanya Mbah Karso.


Raja Sumardjo menoleh pada Panji yang menganggukkan kepalanya. Setelah Laras ditemukan gantung diri di pohon besar yang ada di tepi danau belakang kerajaan, kini Dewi juga ditemukan tewas dengan kondisi kepala terpenggal.


Panji bahkan meyakini kalau Ibu Dewi ketakutan dan menyembunyikan sesuatu. Namun, ia takut untuk memberitahukannya. Ratu Melati juga angkat bicara. Pertemuan terakhirnya yang ia yakini kalau Dewi sempat datang dari arah sungai dan menangis. Seperti orang yang putus asa atau depresi.


"Apa mereka tewas karena penunggu danau, Yang Mulia?" bisik Ratu Melati.


Danau tersebut memang dianggap keramat oleh warga desa. Kerap memakan korban yang hendak menghabisi nyawa mereka sendiri. Mungkinkah Laras dan Dewi benar-benar menghabisi nyawa mereka sendiri? Atau malah penghuni danau yang angker itu merasuk ke tubuh mereka lalu mengakhiri nyawa mereka sendiri?


"Dia menyembunyikan sesuatu dari kalian. Aku yakin itu. Masalahnya yang saya cemaskan apa yang dia sembunyikan itu. Dan apa yang terjadi di sungai kala itu. Dia pernah bilang kalau akan muncul masalah besar di desa,” ucap Mbah Karso dengan raut wajah yang tak kalah cemas.


Ana lantas bergegas bangkit dan meminta Jaya untuk menemaninya menuju ke tempat kejadian perkara. Risa diminta menunggu di kerajaan bersama Bayu. Membantu Widi untuk membereskan semua peralatan.


Perlahan Ana bangkit, semua tubuhnya terasa remuk, pegal, dan linu. Ia tak menyangka setelah Laras, orang yang dia curigai di balik kematian Laras juga tewas dengan kondisi mengenaskan.


"Ini sudah jelas pasti Ibu Dewi dihabisi. Dia bukan dalang sebenarnya. Apakah penjahatnya Patih Gundul atau malah ibu tiri kamu, Jay? Tapi kenapa, apa yang Laras dan Dewi ketahui sampai nyawa mereka dihabisi?" tanya Ana pada Jaya seraya meraih teko kecil berisi air putih. Lalu, dia tuangkan ke dalam gelas dan meneguknya.


"Jadi, kau masih juga menuduh Ibu Ratu yang menjadi dalang kejahatan pembunuhan Laras dan Ibu Dewi?" Jaya balik bertanya.


"Bisa juga yang membuatmu terkena santet seperti ini," sahut Ana.

__ADS_1


Wanita itu berganti pakaian karena merasa tubuhnya bau dan lengket. Nanti Sepulang dari melihat tempat kejadian perkara, Ana baru akan mandi. Ana meraih buku kecil dan mulai mencatat.


Pertama, Ana mencatat nama "Ratu Melati" di buku kecil bersampul beludru hitam itu. Ana mencurigai ibu tiri dari Jaya. Ratu Melati bahkan pernah kerap digunjingkan menikahi sang raja karena harta. Dia pernah mendengar itu dari Laras. Apalagi perbedaan usia yang mencolok.


Bayu juga pernah membawa kabar dan bergunjing dengan Risa. Bayu mengatakan kalau Ratu Melati juga dikabarkan berselingkuh dengan Patih Gundul.


Ana lalu mencatat nama "Patih Gundul" Pria itu merupakan tersangka kedua. Pria itu merupakan adik dari sang raja yang juga bersifat mesum. Dia pernah menggoda Risa, bahkan pernah mengamati Ana dengan tatapan penuh nafsu.


Ana juga mendapatkan gosip bahkan sembilan puluh persen merupakan fakta kalau Patih Gundul memiliki banyak istri simpanan. Namun, hanya satu istri yaitu Ibu Dewi dan dua anak sah yang tinggal di kerajaan. Lalu, hadir Laras yang dibawa sang patih untuk dirawat oleh Ibu Dewi.


Ana meletakkan buku kecil itu dalam sebuah tas kecil. Lalu, meminta Panji untuk membawanya ke tempat kejadian perkara di mana Ibu Dewi ditemukan tewas.


***


Aroma busuk menguar di udara ketika Ana sampai di sana. Ibu Dewi baru tewas hari ini kenapa sudah berbau busuk, itu yang Ana diskusikan dengan Jaya. Sontak saja Ana menjepit hidung mancungnya dengan ibu jari dan telunjuk.


Bau busuk ini benar-benar membuat perutnya mual. Kedua mata Ana langsung terbelalak kala melihat jasad Ibu Dewi. Namun, ia tetap mendekat. Ana dan Jaya langsung tersentak kala melihat jasad wanita yang terbujur kaku itu sedang dinaikkan ke atas tandu.


"Apa yang terjadi sebenarnya di sini, kenapa istrimu bisa meninggal seperti ini?" tanya sang raja pada Patih Gundul.


"Entahlah, Yang Mulia. Semalam aku yakin sekali kalau aku meninggalkannya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," tutur Patih Gundul seraya mengusap kepalanya gusar berkali-kali dan berlinang air mata.


"Lihat wajah Ibu Dewi! Sepertinya dia terkena serangan jantung karena terkejut akan sesuatu." Ana menunjuk ke jasad wanita itu.


Mbah Karso pun mengakui apa yang diutarakan Ana kemungkinan ada benarnya. Wajah Ibu Dewi memang seperti orang yang terkejut dan ketakutan. Mulutnya menganga dengan mata melotot.


"Apa jangan-jangan istriku dibunuh oleh hantu penunggu danau ini?" Tubuh Patih Gundul mulai limbung sampai dia bersandar ke dinding.


Wajah pria itu seketika jadi putih, pucat, dan ketakutan. Jika itu hanya aktingnya, maka pria itu layak mendapatkan piala oscar akan tindakan pura-pura nya itu, begitu batin Ana saat menelisik tingkah Patih Gundul.


Mbah Karso juga tak menjawab apa yang sang patih tanyakan. Namun, wajah pria paruh baya itu tampak menyiratkan ketakutan yang sama. Mbah Karso juga sesekali mengamati danau.

__ADS_1


...*****...


...Bersambung dulu ya....


__ADS_2