
Bab 27 DPT
"Mas Bayu, kok ada portal ke arah klinik? Bukannya tadi nggak ada?" tanya Laras.
"Iya juga, ya. Kamu tunggu sini, ya! Mas, mau naikin portalnya dulu," ucap Bayu.
Pria itu lantas turun dari mobil dan menaikkan portal. Akan tetapi, tiba-tiba saja ada seorang pria paruh baya yang menepuk bahu Bayu.
"Bangun bangun makan toge asin!! Ya ampun Kakek Damri ngapain ngagetin saya?" pekik Bayu yang refleks bergaya bak mengeluarkan jurus pencak silatnya.
Pria paruh baya tersebut juga terkejut sampai menjatuhkan kayu bakar yang dia panggul sebelumnya. Beberapa di antaranya menjatuhi kaki Bayu sampai dia kesakitan.
"Maaf, Mas Bayu, saya nggak sengaja."
"Nggak apa-apa, Kek. Duh, sakit juga sih." Bayu mengusap jemari kakinya yang terasa cenut-cenut itu.
"Mas Bayu, ngapain di sini?" tanya pria berusia lima puluh enam tahun itu seraya mengumpulkan kembali kayu bakar.
Bayu membantunya mengumpulkan dan mengikat kayu-kayu bakar tersebut.
"Saya mau ke klinik, Kek. Klinik yang katanya angker itu," tukas Bayu.
"Mau ngapain Mas Bayu ke sana? Klinik itu udah terbakar waktu mau dibangun jadi rumah sakit sama warga. Terus Mas Bayu mau uji nyali di sana?" tanyanya.
"Siapa juga yang berani, Kek. Begini, Kek Damri, tapi jangan bilang sama siapa-siapa, ya?"
Bayu lantas menceritakan mengenai kedatangannya ke klinik. Awalnya dia hendak menolong Ana tetapi setelah mencari apotek, dia malah mendapat kabar kalau klinik tersebut telah terbakar sepuluh tahun yang lalu itu.
"Waduh, saya pernah denger cerita begini tepatnya satu tahun lalu, Mas," ucapnya.
"Maksudnya, Kek?" Bayu mengernyit.
"Ada yang nyasar berobat ke sana terus hilang dan sebulan kemudian ditemukan sudah mati di hutan sana," ucapnya.
Laras yang penasaran lantas turun dari mobil. Dia ingin ikut mendengarkan cerita dari Kakek Darma dengan saksama.
"Saya pernah dengar kalau klinik ini tadinya mau dijadikan rumah sakit. Sempat beroperasi selama setahun dan nantinya akan ada penambahan atau peleberan wilayah dari Raja Sumardjo. Tapi sayangnya, nggak ada yang mau berobat di klinik yang satu ini. Mereka juga merasa enggan untuk opname meskipun anehnya rata-rata pasien yang berobat di saja pasti disuruh rawat inap," ucapnya menjelaskan.
"Kok, bisa gitu ya? Saya baru dengar soal ini loh, Kek," tukas Bayu.
"Karena Mas Bayu orang baru kan di sini. Mas baru dua tahun ada di wilayah Garuda," ucap Kakek Darma.
__ADS_1
"Iya juga, sih." Bayu mengangguk.
"Kenapa nggak ada yang mau dirawat di sana, Kek?" tanya Laras.
"Karena di tempat itu banyak menyimpan sejumlah cerita mengerikan yang dipercaya oleh masyarakat sini. Pasien di sana sering tidak selamat dengan keterangan dokter yang tidak jelas. Lalu, tempat itu berubah menjadi angker. Dan tidak sedikit dari pasien yang merasakan adanya gangguan makhluk gaib selama menjalani perawatan di klinik tersebut," ucap Kakek Darma.
"Wah, jangan-jangan para pasien itu lagi digangguin para hantu yang udah pada meninggal di sana," celetuk Laras.
"Bisa jadi, Ras." Bayu mengangguk.
"Memang rata-rata mereka mulai dari melihat hal-hal yang membuat bulu kuduk berdiri hingga keluarga pasien yang melihat makhluk-makhluk yang tak kasat mata saat menemani sanak keluarga yang sedang dilakukan perawatan," tuturnya.
"Oohhhh…." Bayu dan Laras mengangguk dan merespon bersamaan.
"Bukan hanya itu saja, Mas Bayu. Saya dengar bahkan ada cerita juga sempat adanya keluarga pasien yang sedang jalan di lorong halaman belakang tiba-tiba jatuh setelah ditarik oleh makhluk gaib yang menghuni di sana. Dan itu tetangga saya sendiri," ucap Kakek Darma.
"Jadi, apa kakek tau awalnya klinik itu didirikan? Terus bagaimana ini saya mau akses ke sana lagi malah diportal begini padahal tadi nggak ada?" tanya Bayu pada Kakek Darma.
"Awal mula beroperasinya klinik tersebut hanya diperuntukan bagi orang-orang yang hanya melakukan pemeriksaan bagi kesehatannya atau sakit biasa. Akan tetapi, sejak ada Dokter Tommy dan para suster yang mumpuni menangani persalinan, klinik tersebut mulai dijadikan klinik untuk persalinan dan umum juga. Lama-lama banyak pasien yang nggak selamat dan dengar-dengar dijadikan tumbal atau dijual organ tubuh dan bayi-bayinya makanya dibakar warga," ucapnya.
Kakek Darma lantas membantu membukakan pintu portal.
"Ayo, sambil ke sana saya lanjut ceritanya!" ajak Kakek Darma.
...***...
Di klinik tempat Ana dirawat.
"Na, sakit tanganku jangan ditarik gitu!" keluh Jaya.
"Udah jadi pocong aja masih ngerasain sakit, nggak jelas!" sungut Ana.
"Kalau kamu yang pegang tuh beda, semuanya terasa di aku," sahut Jaya.
Ana lantas meminta Jaya mendekat pada hantu perempuan tersebut. Perlahan hantu itu masuk menembus kaca jendela sampai membuat Jaya dan Ana terhenyak dan berteriak saking terkejutnya.
"Heh, jangan takut! Kalian itu kan hantu sama kayak saya, kan?" tanya hantu perempuan itu.
"Bu-bukan! Saya manusia!" sahut Ana.
"Saya juga belum mati. Saya kena santet jadi pocong, nih!" Jaya juga menegaskan.
__ADS_1
"Hmmm, menarik. Manusia dan hantu bisa berteman rupanya," tuturnya.
"Kita nggak temenan. Dia istri saya," sahut Jaya.
"Wah! Ini benar-benar lebih menarik. Manusia dan hantu menikah hihihi." Hantu perempuan itu tampak menyimak rambutnya yang kusut dan berantakan.
"Sebentar, Mbak Hantu. Ribet banget kayaknya lihat kamu begitu." Ana lantas memberanikan diri untuk mengikat rambut hantu wanita itu ke belakang.
"Aaahhh, kamu manis sekali. Ini pertama kalinya ada manusia yang perhatian sama saya," ucapnya.
"Sebenarnya klinik ini masih beroperasi atau tidak?" tanya Ana.
"Tentu saja … tidak! Semua yang datang ke sini pasti mati dan ditumbalkan," ucapnya.
"Tumbal? Siapa yang menimbulkan siapa? Saya atau teman saya?" tanya Ana.
"Yang lagi hamil siapa? Teman kamu yang di kolong kasur itu apa kamu?" tanyanya.
"Saya yang lagi hamil, Mbak."
"Wah, benar-benar menarik. Ada pocong yang menghamili manusia hihihi," tawanya mulai kegirangan.
"Bukan gitu, waktu kami berbuat saya masih manusia. Ceritanya gini, nih hmmpppp–"
Ana langsung membekap mulut Jaya karena takut terlalu polos keceplosan menceritakan semua pengalaman panas mereka.
"Kalian romantis sekali, persis saya sama suami saya dulu. Duh, saya jadi sedih hiks hiks…." Isak tangisnya mulai terdengar seraya mengeluarkan darah yang menetes sebagai air matanya.
Tetesan itu tepat jatuh di samping ranjang Risa yang sedang bersembunyi karena hantu wanita itu memutuskan duduk di atas ranjang.
"Nama Mbak siapa?" tanya Ana.
"Nama saya Jumirah. Kamu mau dengar kenapa saya bisa mati di sini?" tanyanya.
Sontak saja Ana dan Jaya mengangguk.
"Ana, ini darah siapa?" tanya Risa yang mengintip dari kolong kasur.
"Darah mbak hantunya, namanya Jumirah. Kamu mau kenalan?" tanya Ana.
"Nggak, nggak usah! Makasih banyak!" Risa kembali bersembunyi di kolong ranjang ketimbang muncul dan alih-alih dapat melihat hantunya Jumirah.
__ADS_1
...******...
...Bersambung dulu, ya....