Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 44 - Rasa Penasaran Ana


__ADS_3

Bab 44 DPT


“Pak Kades bilang kalau dia curiga jika anak lelaki mereka itu terlahir karena Bu Broto melakukan ritual pinjam nyawa,” jawab Mbah Sarni.


“Pinjam nyawa?” tanya Ana masih tak mengerti.


Lalu kemudian, Mbah Sarni kembali bercerita kalau ada kejadian yang sangat aneh di dusun sebelah. Beberapa warga mendengar kabar jika di sebuah rumah yang ada anak kecilnya tiba-tiba terkena penyakit parah. Tubuh anak itu hanya bisa berbaring. Anak itu tak dapat bergerak, tak dapat bersuara, dan seperti orang mati. Tetapi masih ada napasnya. Sampai pada akhirnya, orang tua anak itu mengambil langkah lain. Dia meminta seorang dukun sakti untuk membuat anaknya sehat kembali dengan mencuri roh anak lain yang masih berada dalam kandungan.


Orang tua anak itu beranggapan bahwa roh anaknya sudah pergi dan bereinkarnasi ke janin lain. Oleh karena itu, dia meminta seorang dukun sakti untuk mengambil roh reinkarnasi milik anaknya yang dia yakini itu.


Namun, untuk membuat hal tersebut terjadi, maka perlu menggunakan mantra yang sangat kuat dan korban nyawa yang tidak hanya satu. Bukan sembarang dukun biasa bisa melakukan itu. Dia harus memilik kekuatan besar memindahkan roh dari janin. Dengan kekuatan penyihir tersebut, maka roh anak yang sedang di kandung di perut wanita lain itu berpindah ke roh anaknya sendiri dengan begitu penyakit anaknya akan sembuh. Akan tetapi, anak yang sedang dikandung oleh ibu hamil itu akan meninggal.


“Apa kalian tahu kalau ada kemungkinan si Bu Broto itu menemui dukun sakti tersebut,” ucap Mbah Sarni.


“Saya mengerti, Mbah. Bu Broto melakukan ritual pinjam nyawa karena dia menginginkan anak lelaki dan ingin menghilangkan kutukan tersebut sehingga dia mengambil nyawa anak lain dari desa sebelah. Bukan begitu?” tanya Ana.


“Kau benar, Nduk.”


Mbah Sarni lalu melanjutkan kembali ceritanya kalau tak lama setelah itu, ia mendengar ada kejadian yang sama yang menghebohkan dan terjadi di desa sebelah. Lalu, Bu Broto mendadak hamil dan melahirkan bayi laki-laki. Padahal


istri Pak Broto yang sudah tak muda lagi tau tau dikabarkan hamil dan melahirkan anak laki-laki. Sungguh hal yang mustahil sebenarnya.


“Pak Kades sampai tanya ke Pak Broto tetapi dia tak mau mengaku. Dia bilang tidak tahu menahu soal ritual itu. Mungkin karena dia juga gelap mata karena akhirnya mendapat anak laki-laki," tutur Mbah Sarni.


“Jadi, mereka melakukan ritual pinjam nyawa melalui bantuan dukun saktu dari desa sebelah itu?” tanya Ana.


“Ada kemungkinan begitu, Nduk.”


Mbah Sarni kembali menceritakan kalau ada kemungkinan nyawa yang dipinjam adalah nyawa anak warga desa yang lain. Wanita tua itu pernah mendengar kalau ada anak warga desa seberang yang sudah berumur lima tahun tetapi masih belum bisa berbicara ditemukan tewas dengan cara mengerikan. Anak itu terlilit sulur pohon besar dan tercekik. Sesuatu yang kebetulan dengan kehadiran anak laki-laki dari Pak Broto.


Selepas mendengar cerita Mbah Sarni akhirnya Ana dan Risa pamit juga. Suatu kelegaan untuk Bayu yang langsung bersiap menyalakan mesin mobil. Ana dan Risa langsung naik bersama Jaya, sementara Raja Harun harus kembali ke alam gaibnya. Akan tetapi, jika Risa butuh bantuan, cukup dengan menggenggam bandul mutiara di kalungnya dan memikirkan Raja Harun, maka dia akan datang. Kalung pemberian Raja Harun itu sangat cantik dan sempat membuat Ana iri. Jaya berjanji ketika suatu saat mereka akan pergi ke kota, maka dia akan membelikan kalung yang sangat cantik untuk Ana.

__ADS_1


...***...


Saat melintasi rumah kepala desa yang lama, Ana meminta Bayu menghentikan laju mobilnya. Dia melihat Pak Broto yang


tergopoh-gopoh menemui si Kepala Desa.


“Pak Kades, bisakah Anda membantu saya untuk meramal di mana kira-kira anak saya berada?” tanyanya dengan panik.


“Aku akan membantumu, Pak Broto. Tapi, bisakah kau menunggu sampai malam tiba? Nanti malam aku pasti datang ke rumahmu,” ucap Pak Kades.


Pak Broto akhirnya mengerti dan melangkah pulang meninggalkan Pak Kades. Ana masih mengamatinya meskipun masih tersirat ada pikiran yang masih membuatnya tak mengerti.


Ana meminta Bayu untuk melanjutkan perjalanan kembali. Siang itu, Bayu menghentikan laju kendaraannya di sebuah kedai makan. Ana dan Risa masih duduk menatap langit dari tempat duduk di depan kedai.


Terdengar pembicaraan dari dua orang warga tentang peristiwa yang menimpa Pak Broto dan istrinya. Beberapa waktu kemudian, Bayu membawa nasi rames untuk Ana dan Risa. Cuaca tampak sangat panas terik. Hal itu rupanya cukup menguras keringat Ana.


Ana lantas memberanikan diri untuk bertanya pada dua orang pria itu kala mencari anak dari Pak Broto tersebut. Mereka juga bertanya-tanya di mana kiranya kini anak dari Pak Broto itu, apakah mereka tengah tersesat sampai ke hutan lalu mati dilahap hewan buas, atau memang gosip yang beredar itu benar kalau anak tersebut dibawa ke alam gaib.


"Iya, nanti aku ke sana," sahut Ana.


Dua orang pria tadi tampak bingung mengamati Ana. Pasalnya, tak ada yang mengajak Ana berbicara kala itu. Ana akhirnya pamit undur diri dan menyudahi pembicaraan tersebut. Meskipun sepertinya rasa penasaran kala ingin mengetahui anak itu sangat menggebu di diri Ana. Dia kembali untuk melanjutkan makannya. Setelah selesai, Bayu kembali melajukan kendaraannya ke Kerajaan Merak.


...***...


Di dalam mobil, Ana tertidur di kursi kedua sangat terlelap. Beberapa menit kemudian di tengah lelapnya, Ana bermimpi. Dia mendapati mimpinya terkoneksi dengan keluarga Pak Broto. Rupanya anak kecil itu ingin membawa Ana agar bisa membantunya. Di dalam mimpinya, Ana melihat sepasang suami istri itu tengah menunggunya di depan pohon besar tadi. Suasana malam sunyi mencekam sangat terasa.


Dari raut wajah Pak Broto dan istrinya tampak ketidaksabaran untuk segera menemukan anak mereka. Suara burung hantu terdengar menambah suasana malam yang membuat bulu kudukku meremang.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Ana.


Mereka semua diam tak menjawab panggilan Ana. Istri Pak Broto lalu mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul menyerupai kompas jarum.

__ADS_1


“Inu magnet pemanggil arwah, Nak,” lirih Ibu Broto akhirnya menjawab.


“Ada apa dengan magnet itu? Apa hubungannya denganku?’’ tanya Ana lagi.


Bu Broto lantas memberitahukan kalau di adat setempat, terutama di dusun tersebut jika ada warga yang kehilangan anggota keluarganya, maka warga tersebut diharuskan menggantung magnet pemanggil arwah di lehernya.


Dengan cara itu mereka berharap kalau anggota keluarga yang hilang itu akan kembali dengan sarat membawakan pengganti. Ana tampak mengernyit namun dia masih berpura-pura mengangguk-angguk tanda telah mengerti.


Ana hanya teringat perkataan ibunya dulu tentang pentingnya menghormati adat istiadat yang berbeda di tiap daerah. Jadi, Ana menghormati ritual magnet pemanggil arwah tersebut.


“Siapkan barang-barang ritual pencarian anak kita, Bu," ujar Pak Broto.


"Baik, Pak. Toh, orang yang Diki mau sudah hadir di sini," ucap Bu Broto melirik ke arah Ana yang masih mengamati pohon besar dengan takjub.


Aba lantas melihat suami istri itu lalu bergegas menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan.


“Apa yang akan kalian lakukan selepas ini?” tanya Ana seraya mendekat.


“Aku akan mencari di mana arah anakku kira-kira berada. Kau pernah melihatnya, kan?" tanya Bu Broto.


Ana menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal itu. Hanya saja, bagaimana Bu Broto tahu kalau Ana pernah melihat anak kecil itu mengintip. Ana masih tak mengerti dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, dia hanya mengikuti alur di mimpinya tersebut.


Pak Broto dan istrinya membawa barang-barang yang dibutuhkan. Ada ayam hitam, lilin, dupa, dan beberapa tulang yang entah itu tulang hewan apa. Ana masih mencoba mengamati dan mencernanya.


Setelah semuanya siap, Pak Broto lantas menuliskan nama dan tanggal lahir dari anak nya di sebuah kayu yang diukir seperti nisan pemakaman. Pak Broto tampak merapalkan beberapa mantera. Benda magnet yang menyerupai kompas jarum tadi diarahkan oleh Bu Broto untuk membuka batang di pohon besar.


"Apa? Pohon itu membelah? Kok, bisa?" gumam Ana.


Tak ada jawaban dari suami istri itu. Namun akhirnya, Ana mengerti kalau benda tersebut digunakan sebagai penunjuk arah.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2