
Bab 45 DPT
Ana masih mengamati bagian pohon yang terbelah tepat di tengah itu. Bagai pintu gerbang yang terbuka dan menyambut tamunya untuk masuk. Tidak, lebih tepatnya bagai mulut buaya yang terbuka dan siap dimasuki oleh mangsanya. Tak ada jawaban dari suami istri itu. Namun akhirnya, Ana mengerti kalau benda tersebut digunakan sebagai penunjuk arah. Ana lantas mengikuti suami istri tersebut untuk masuk lebih dalam ke dalam pohon besar itu.
Jarum kompas itu mulai bergerak berputar-putar tiada henti. Sampai akhirnya arah jarum kompas itu berhenti dan menunjukkan suatu arah. Jika jarum itu berhenti, itu tandanya keberadaan anak mereka akan ditemukan.
Ternyata, jarum kompas menunjukkan arah barat daya. Bu Broto tampak terperanjat dengan arah tersebut. Dia bahkan meminta Pak Broto untuk mengulang rapalan mantra demi memastikan arah yang sebenarnya lagi.
Pak Broto mengangguk dan mengulanginya lagi meskipun dalam hatinya pasti yakin kalau jarum kompas itu akan menunjuk arah yang sama seperti tadi. Namun, Bu Broto bersikeras agar suaminya mau mengulang. Nyatanya, diulang pun jarum tetap menunjukkan arah barat daya.
"Tapi, Pak, bukankah barat daya merupakan area pemakaman keramat?" tanya wanita itu.
Pak Broto mengernyit. Akan tetapi, ia juga tahu pasti kalau arah barat daya itu tempat pemakaman keramat warga dusun,walaupun yang sebenarnya ingin dia pungkiri kebenarannya, tetapi tak mungkin bisa.
"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Ana tiba-tiba.
"Tentu saja tidak boleh, Neng. Kau tetap ikut dengan kami," ucap Bu Broto.
Entah kenapa, Ana tak bisa menolak. Langkahnya seperti terhipnotis mengikuti langkah pasangan suami istri tersebut.
Pak Broto dan Bu Broto masih saja berdebat sebenarnya meskipun berupa gumaman kecil. Namun, Ana yakin kalau pembicaraan pasangan suami istri itu yang mengatakan kalau tak ada warga yang mau pergi ke sana.
Para warga dusun hanya akan menginjak tempat itu jika ada warga yang meninggal dunia dan diantar ke pemakaman. Atau bisa juga mereka ke sana berziarah menyembah leluhur. Jika bukan karena hal tersebut, tidak ada yang mau pergi ke sana karena mereka yakin di sana sangat angker.
Pak Broto lalu memberi perintah pada istri untuk memegang sebuah benda keramat yang menyerupai bola kecil berwarna kehijauan. Pria itu juga meminta Ana untuk membuat sebuah obor yang dinyalakan apinya lalu dia meminta Ana untuk memegang obor tersebut. Suasana sekitar mulai gelap pekat sehingga cahaya yang bisa membantu mereka untuk berjalan maju berasal dari obor itu.
__ADS_1
Ana menurut, dia lalu mengikuti langkah suami istri tersebut untuk berjalan ke arah barat daya. Pak Broto meminta sang istri untuk memanggil nama putra mereka. Pria itu berharap jika sambil berjalan dan sambil memanggil nama anak mereka, maka arwah putranya akan muncul dan kembali pulang.
Di saat yang sama, Pak Broto juga meminta api obor yang digenggam Ana tidak boleh padam. Padahal angin berembus cukup kencang dan membuat Ana menggigil. Janin di dalam perut Ana terasa berdenyut. Ia mengusap perutnya berkali-kali agar bisa tenang.
Ana merasa sepasang kaki rampingnya mulai terasa letih ketika ia sudah berjalan selama setengah jam. Akhirnya, Ana sampai di area barat daya, tempat pemakaman warga dusun berada. Pak Broto lantas meminta Ana dan istrinya mengelilingi area tersebut seraya mencari keberadaan sosok anak kecil yang mereka tunggu.
Ana sempat berpikir kalau hal tersebut merupakan sebuah kegilaan. Bagaimana bisa Ana berada di pemakaman semalam ini? Dan bagaimana bisa ia kembali nantinya? Pikiran Ana masih kalut dan ingin segera kembali tetapi raganya tak mau menurut.
Ana malah terus mengikuti arahan Pak Broto yang mengelilingi pemakaman sambil merapalkan beberapa mantra yang tak Ana mengerti. Keletihan juga terlihat di wajah suami istri tersebut sebenarnya. Namun, mereka tak jua ingin berhenti.
Ketiganya sudah berjalan dari awal pemakaman hingga akhir pemakaman dan tidak kunjung menemukan di mana jasad maupun arwah anak mereka tersebut. Bu Broto akhirnya buka suara. Dia merasa curiga dan menuduh kalau suaminya salah terka atau salah merapal mantera. Lalu, pria itu membentak sang istri. Suara Pak Broto ang terbawa emosi sempat meledak di pemakaman yang sunyi itu.
"Aku sudah cukup sabar mengikutimu, Pak. Tapi, mana anak kita?" tanya Bu Broto.
“Tenang dan bersabarlah. Aku juga sedang berusaha menemukannya!" Pak Broto lantas melirik waktu di arloji tangan kirinya.Tak lama kemudian dia berdehem.
Ana mengamati sekitar dan tidak melihat ada apa pun yang mendekat. Malah yang Ana rasakan udara sekitar sangat panas dan Ana merasa gerah. Wanita itu ampai bertanya dalam hati, siapa yang sebenarnya datang dan sedang Pak Broto tunggu. Apakah yang akan datang itu putranya?
Entah kedatangannya dalam bentuk arwah atau sudah berwujud manusia atau malah arwah yang lain. Ana benar-benar tak mengerti. Tiba-tiba, sebuah ranting pohon bergerak dengan sendirinya. Padahal tak ada angin kencang yang berembus di sekitar mereka kala itu. Apalagi udara sekitar malah panas Ana rasakan.
Hawa dingin itu merasuk terasa sampai ke sumsum tulang. Ana bergidik penuh kengerian sampai bulu kuduknya meremang. Kedua kaki milik Ana bahkan gemetar kala melihat ranting pohon itu bergerak dan mengarah ke suatu tempat.
“Dia datang,” ucap Pak Broto.
"Diki yang datang, Pak? Anak kita?" tanya Bu Broto.
__ADS_1
Sampai akhirnya, wanita itu mengeluarkan senter yang sudah dia siapkan dari sakunya. Pak Broto hanya diam tak menjawab lalu meminta Ana dan istrinya agar bergegas mengikutinya.
Ana menghela napas dalam, lalu meyakinkan diri untuk menggerakkan kaki mengikuti sepasang suami istri yang sepertinya mulai tak waras itu.
“Ayo, ikuti aku!” seru Pak Broto.
Ana melangkahkan kaki lebih cepat. mengikuti suami istri yang mulai semakin cepat juga langkahnya. Mungkinkah arwah anak itu yang mereka ikuti? Dengan langkah sangat cepat bahkan mulai berlari, Pak Broto berlari sesuai arahan ranting pohon tersebut.
Pada akhirnya mereka sampai di sebuah pemakaman yang lebih tua. Suasana sekitar sangat sunyi. Hanya suara jangkrik dan burung hantu yang terdengar bersahutan. Ana benar-benar merasa sedikit ketakutan. Berusaha bertahan dari rerumputan yang ukurannya lebih tinggi dari rumput pada umumnya.
Rasa gatal itu tak tertahankan kala tersentuh dengan buku-buku halus dari rerumputan. Ana juga merasakan kalau di bawah kakinya penuh dengan pecahan batu, rasanya menusuk telapak kaki dan membuat Ana terkadang berjinjit.
Akhirnya Ana merasa lega karena lepas dari tempat yang dijuluki sebagai hutan rumput. Ana mulai berhati-hati saat menjejak. Entah akan ke mana lagi Pak Broto membawa mereka pergi. Lalu, Ama melihat beberapa akar pohon besar yang menonjol bermunculan.
Ada juga berbagai tanaman merambat yang mengganggu langkah Ana. Jika dia tidak berhati-hati, dapat dipastikan dia akan terjatuh karena terantuk akar maupun terlilit sulur yang merambat itu.
“Pak, sepertinya kita tersesat,” kata Bu Broto seraya mengatur napas yang mulai terdengar tersengal – sengal karena letih yang mendera.
Sosok besar berjubah hitam yang ujungnya tampak compang-camping mendadak keluar dari balik gumpalan asap hitam. Wajah wanita berhidung panjang dengan lidah terjulur dan kedua mata melotot itu tertawa cekikikan. Tubuhnya tinggi sekitar dua meter tetapi sangat kurus. Kedua tangannya tampak seperti ranting pohon. Sosok itu melayang di hadapan ketiganya. Pak Broto lantas meminta sang istri untuk berlutut dan menyembah sosok wanita menyeramkan yang baru muncul itu.
"Nyawa ditukar nyawa, maka saya bawakan nyawa yang Nyai inginkan untuk ditukar dengan anak saya," ucap Pak Broto.
Wanita menyeramkan itu lantas tertawa menggelegar disertai embusan angin yang kencang.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....