
Bab 131 DPT
Satu hari sebelum menemukan Ana, Jaya berada di dalam kediaman Eyang Setyo. Pria tua itu hanya menatap Jays dengan iba. Ia terus menerus menghela napas panjang sembari sesekali menggeleng. Tak ada yang keluar dari dalam mulutnya, membuat Jaya dan Burhan semakin khawatir dengan kondisi Ana nantinya.
Tak beberapa lama kemudian, Eyang Setyo akhirnya bergerak. la berdiri melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan kembali membawa selembar kain kafan yang diikat dengan tali.
Pria paruh baya itu lagi-lagi menghela napas panjang sebelum membuka tali temali pada kain kafan tersebut. Di dalamnya terdapat segumpal rambut yang membuat Jaya langsung tahu, siapa pemilik dari rambut tersebut.
"Itu rambutnya Anjaya, kan?" tanya Jaya.
Eyang Setuo mengangguk. Ia meletakkan benda itu ke atas meja. Sembari berdeham keras ia berujar kepada Jaya, "Ada lima pulau dan lima penguasa kerajaan nusantara."
"Aku tahu Eyang.Pulau Meraki yang kini seharusnya diwariskan ke pada Rama, lalu Pulau Merak yang kini seharusnya diwariskan pada Banyu. Lalu, Pulau Boa yang masih diperintah Ratu Asih, dan terakhir Pulau Gagak, yang diperintah oleh Raja Jagak," kata Jaya.
"Betul, tapi aku menangkap sesuatu yang aneh. Kekuatan milik Raja Gagak, bersanding dengan kekuatan … Karso," ucapnya.
"Apa? Mbah Karso? Bukankah dia sudah meninggal?" tanya Jaya.
Eyang Setyo berdiri mendekat ke tempat Jaya. Rambut putra mu yang dibakar di atas kemenyan ini menunjukkan aura aura yang berada di sekitarnya."
"Tapi, mereka masih hidup, kan, Eyang?" tanya Jaya.
"Masih, Paduka Raja. Cuma ya itu tadi, ada aura milik Karso yang saya rasakan," ucapnya.
Tanpa memberitahu apa yang akan dia lakukan, tiba-tiba Eyang Setyo menghantam kepala Jaya sembari menekan batang hidungnya. Darah mengalir dari sana, membuat Burhan dan Risa terkejut dibuatnya. Kali ini, Jaya melihatnya dengan sorot mata geram. Namun, ia tak bisa berkutik dan hanya diam seraya duduk bersila.
"Apa yang Eyang lakukan sama Jaya?!" pekik Risa.
"Meminta bantuan Rahwana."
Darah kemudian mengalir keluar dari dalam hidung Jaya. Namun, warnanya tak semerah darah pada umumnya, melainkan hitam pekat dengan aroma yang amis. Eyang Setyo lantas mengambil cairan itu untuk membasahi rambut milik Anjaya.
__ADS_1
Setelahnya, Eyang Setyo mengambil batok kelapa yang sebelumnya sudah tersedia di atas meja. la memuntahkan isi sendok yang memiliki cairan dari hidung Jaya, lalu membuang darah berwarna kehitaman itu tepat di cekung batok kelapa.
Eyang Setyo lantas membersihkan hidung Jaya dengan selembar sapu tangan. Tak lama kemudian, pria paruh baya itu memasukkan rambut milik Anjaya ke dalam batok kelapa sehingga semuanya bercampur menjadi satu.
Dia meminta Burhan untuk mengambilkan air. Burhan lantas memberikan segelas air putih padanya. Eyang Setyo tampak berkomat-kamit. Tak lama, ia meminta Burhan untuk meminumkannya kepada Jaya. Beberapa menit waktu berselang, Jaya tersadar.
Jaya memandang kedua sosok yang ia kenal dengan tatapan bingung. Hidungnya terasa perih dan nyeri lalu bertanya pada Eyang Setyo, "apa yang terjadi ke padaku?"
Eyang Setyo lalu berdeham, menatap mereka semua dengan tembakau yang baru selesai dia linting. Sembari menyalakan bara api di ujung rokok, Eyang Setyo berkata kepada Jaya.
"Kalian pergi ke Hutan di Pulau Gagak. Kalian akan menemukan Gokana. Dia makhluk besar seperti gorila yang akan membantu menemukan Ana dan putramu," ujarnya.
Jaya hanya diam mendengarkan dengan saksama.
"Gokana? Apa dia bisa membahayakan keluargaku nantinya?" tanya Jaya.
"Gokana makhluk buas seperti Rahwana. Namun, dia masih bebas dan belum ada yang memiliki karena ia memilih tuannya sendiri. Tak ada kekuatan yang mampu mengendalikannya kecuali Gokana yang memilih sendiri untuk mengabdi pada seseorang itu," tukas Eyang Setyo menjelaskan.
"Jadi?"
"Jadi maksudnya gimana, sih? Si Gokana bakal bantu kita apa nggak? Kok, jadi harap-harap cemas gini, sih!" Risa bersungut-sungut sampai membuat Eyang Setyo melirik tajam ke arahnya seperti terhina dengan ucapan Risa.
"Maaf, maaf kan saya, Eyang." Risa menunduk.
Di sampingnya, sosok Burhan sudah berkeringat mengalir deras dari keningnya.
"Cepat sekarang kita pergi ke Pulau Gagak. Gunakan kapal milik Putri Ice agar lebih cepat, atau bahkan kita akan mendapat bantuan dari Duyungi ketika mengarungi lautan dalam nanti," ujar Eyang Setyo.
Akhirnya Jaya menganggukkan kepalanya. Eyang Setyo emandang wajah Jaya lekat-lekat.
"Boleh aku melihat apa yang kamu lihat barusan, Paduka Raja?" tanya Eyang Setyo.
__ADS_1
Tak punya alasan untuk menolak, Jaya mengangguk. Burhan dan Risa masih terdiam. Mereka menyaksikan Eyang Setyo menyentuh tangan Jaya seakan meminta persetujuan darinya. Suasana tiba-tiba berubah menjadi hening. Burhan mendadak merinding saat mengamati mereka. Sementara Risa terlihat bingung sampai memiringkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Eyang Setyo melompat mundur, seperti dimentalkan oleh Jaya. Dari bibirnya keluar darah. Pria paruh baya itu bahkan merangkak menjauh sembari berusaha memuntahkan sesuatu. Burhan sontak mendekati Eyang Setyo, berusaha menolong pria tua itu. Eyang Setyo seperti tersedak. Dia memukul-mukul dadanya sendiri, lalu keluarlah segumpal darah.
"Ada apa, Eyang?" tanya Jaya.
"Kau melihat kan, Paduka Raja? Rahwana tak bisa dikendalikan dan menantang Gokana. Kamu harus menghentikan Rahwana dan meyakinkan dia agar tak menyerang Gokana atau kita tak bisa juga meyakinkan Gokana untuk berpihak pada kita," kata Eyang Setyo.
Risa benar-benar tidak mengerti. "Ini maksudnya apa, sih? Bingung banget mau nyari si Ana sama Anjay," keluh Risa.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Risa. Namun, Eyang Setyo buka suara. Ia meminta Jaya untuk memberi perintah kepada Burhan agar pria itu kembali ke istana dan bersiap.
"Pergilah temui panglima. Katakan, kita akan segera berangkat. Suruh semuanya siap-siap, para prajurit yang ita punya," ucap Jaya.
Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, Burhan tetap berangkat melasanakan perintah dari Eyang Setyo dan Jaya.
Jaya mengamati wajah Eyang Setyo. Belum pernah ia melihat pria tua itu segelisah ini. Seakan sesuatu yang teramat buruk akan terjadi menimpa Ana dan Anjaya.
"Kau ikut denganku!" perintahnya pada Jaya.
Mereka masuk ke salah satu kamar. Di dalam kamar misterius itu, Jaya mengamati. Ia menemukan banyak sekali benda-benda kuno yang sering ia lihat di rumah-rumah dukun sewaktu masih kecil dulu. Mulai dari keris, sesajen, sampai dengan pasak-pasak kayu.
Aroma wangi dari kembang tujuh rupa tercium bersamaan. Tak hanya itu saja, aroma rempah dari cabai yang diikat dengan benang bersama bawang putih yang tergantung di dinding juga tercium.
"Balurkan pada pedang perak milikmu!" titahnya.
Eyang Setyo lalu mengambil sebilah keris yang digantung di atas tembok kayu. Kemudian, ia menyampirkannya di pinggul. Sebelum berjalan pergi meninggalkan ruangan itu, mengajak Jaya.
Jaya tetap tidak mengerti, tetapi ia tetap melakukan perintah Eyang Setyo. Jaya lantas mengikuti pria paruh baya itu ke kapal milik Putri Ice. Setelah itu, Jaya menemukan Ana dan Anjaya. Dan siapa sangka setelah Jaya berusaha mengendalikan Rahwana, rupanya sosok Gokana memilih untuk menjadikan Anjaya sebagai tuannya dan memberikan kekuatannya pada Anjaya dan juga Ana.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...