Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 124 - Di Wilayah yang Aneh


__ADS_3

Bab 124 DPT


Jaya mengamati daerah seberang dan mendapati lereng yang landai atau jurang. Di sebelah kanan tampak sebuah telaga mata air yang menyejukkan. Di sebelah kiri dan belakang terdapat hutan pinus yang tidak terlalu lebat. Namun, memyimpan beberapa hewan buas di dalamnya. Benar-benar daerah yang membuat takjub. Pedang Perak itu ada di daerah tropis dalam gurun salju tersebut.


"Ada yang datang," ucap Burhan.


"Siapa?" tanya Jaya.


"Lebih baik kita sembunyi! Aku takut mereka malah menganggap kita musuh!" seru Putri Ice.


"Kalau begitu kita harus bergegas dan segera pergi! Kita harus buat jarak sejauh-jauhnya!" titah Jaya.


"Lalu cari sumber air! Itu penting!" Putri Ice balas memberi perintah juga.


Mereka segera bergegas untuk menemukan tempat persembunyian yang aman.


"Cari persembunyian dekat bahan makanan, tumbuhan obat-obatan, dan juga sesuatu yang bisa kita jadikan senjata dadakan. Kita harus bertahan hidup di sini karena mungkin saja mereka ternyata memburu kita," ujar Putri Ice.


"Bagaimana jika aku lihat siapa yang datang? Mereka kan bisa saja tidak bisa melihatku, bagaimana?" tanya Risa.


"Jika mereka membawa makhluk gaib yang bisa memusnahkanmu, terserah kau saja sih!" Putri Ice tampak meledek Risa.


"Kau mau aku mencekikmu?" Risa balas menantang.


"Heh, sudah sudah! Hentikan pertengkaran kalian!" pinta Ana.


"Apa kalian tidak sadar kalau sepertinya dia membawa kita pada permainan kematian, begitu kan?" tuduh Risa mulai tersulut emosi dan hampir saja menyerang Putri Ice.


Namun, Ana sudah menahan sahabatnya itu. Putri Ice hanya menatap Risa dengan datar lalu pandangannya teralihkan pada sesuatu di atas permukaan tanah yang tengah diamati oleh Burhan.


"Apa yang kau temukan, Pak Burhan?" tanya Putri Ice.


"Ada yang menarik perhatianku. Di sana, di atas gundukan selimut yang terlipat, ada anak panah berujung perak dan busur lengkap dengan tali busur nya. Milik siapa itu?" tanya Burhan.


"Ada yang mendahului kita dan mati, aku rasa begitu," ucap Putri Ice.


"Sebaiknya itu untukku, aku bisa menggunakannya sebagai senjata untukku," sahut Burhan.

__ADS_1


"Sebaiknya kita bergegas. Ayo, kita bisa kan berlari lebih cepat daripada tadi," ucap Putri Ice memberi perintah.


"Baiklah, ayo kita bergegas!" seru Jaya


Segala ketakutan yang dia rasakan kini memadat menjadi ketakutan terhadap orang lain yang mungkin saja bisa menjadi pemburu dan memburu mereka. Orang lain itu bisa bagaikan predator yang bisa membunuh mereka dalam waktu beberapa detik. Adrenalin Ana mengalir deras dalam darahnya. Namun, Jaya menggenggam tangannya untuk menenangkan.


Burhan langsung menggayutkan busur panah yang baru dia dapatkan itu ke sebelah bahu kiri lalu berlari dengan kecepatan penuh ke dalam hutan menyusul Jaya dan yang lainnya.


Dia bisa mendengar pisau mendesing ke arahnya dan secara refleks Burhan mengangkat ransel untuk melindungi kepalanya. Mata pisau itu menancap ke tas ransel tersebut. Kini kedua bahu Burhan memanggul ransel, dan dia berlari menuju pepohonan.


"Sial! Ke mana Ice membawa Raja Jaya berlari?" gumamnya.


Beberapa sosok berjubah hitam juga tampak baku hantam dengan binatang buas yang mereka temui. Burhan naik ke atas pohon untuk mengamati. Rupanya Risa sedari tadi juga berada di atas pepohonan untuk mengamati juga karena penasaran.


Burha lantas melepaskan ransel yang tertancap pisau. Ia memisahkan pisau bagus dengan mata pisau panjang dan tajam. Pisau yang dengan bagian bergerigi di dekat gagangnya, yang membuat pisau ini berguna untuk menggergaji dan menyelipkan pisau itu ke balik sarung dan senjata daerahnya.


"Apa yang kau lihat?" tanyanta pada Risa.


"Orang-orang berjubah hitam itu sedang menyerang singa. Sepertinya mereka menang," ucap Risa.


Burhan hanya diam dan belum berani untuk memeriksa kawanan tersebut. Lalu, Burhan memutuskan untuk terus bergerak, dan hanya berhenti untuk memastikan apakah ada yang mengejarnya. Pria itu mulai mengeluh, sampai akhirnya ia meminta Risa membantunya.


"Kita ke sana dulu! Aku yakin kita


akan membutuhkan air," ujar Burhan.


Hutan mulai berubah bentuk lagi, dan pohon-pohon pinus mulai berpadu dengan berbagai macam pohon. Tampak ada pohon-pohon yang tidak dikenali. Akan tetapi, ada yang sama sekali asing buat Burhan.


Pria itu melihat di kejauhan sebuah air terjun. Namun, ada yang aneh pada air terjun tersebut. Air yang mengalir dari air terjun dengan ketinggian tiga puluh meter itu berwarna merah. Seperti warna darah segar yang mengalir ke kawah bawahnya.


"Pak Burhan, lihat itu!" Risa berseru pada Burhan yang masih berada di atas pohon.


"Bukankah itu darah?" gumam Burhan tak mengerti.


"Darah? Bagaimana mungkin bisa, Dari mana air darah itu berasal?" tanya Risa.


"Entahlah!" sahut Burhan.

__ADS_1


"Heh, cepatlah kalian semuanya kembali!" seru Putri Ice yang mengejutkan Burhan dan Risa.


Putri Ice lantas membawa kawanannya masuk ke dalam pohon besar yang entah apa namanya. Seperti gabungan pohon beringin dan pohon oak. Di batang besar itu muncul celah seperti pintu gua. Mereka masuk ke sana dan bersembunyi.


"Cepat, tutup pohon ini!" seru Putri Ice meminta Jaya.


"Aku menemukan air terjun berdarah," ucap Pak Burhan.


Mendadak perasaan Ana dibanjiri takut. Ia takut kalau Rama mungkin saja sudah tewas. Dia kehabisan darah, mayatnya diambil, dan sekarang sedang dalam proses dipindahkan ke air terjun darah tadi. Apalagi saat perjalanan mereka masuk ke batang pohon besar, Ana yakin benar kalau dia sempat melihat mayat yang tubuhnya dikoyak. Seolah ada yang diberi makan di kawah air terjun berdarah itu.


"Kau lihat hal mengerikan tadi?" tanya Jaya.


Ana mengangguk, dia juga berpikir keras mengingat apakah dia sempat nantinya jika pertarungan dimulai? Tapi bayangan terakhir yang bisa dia ingat adalah ada yang berlari mendekat ke.arahnya dan mengira dia makanan.


"Apa kita bisa keluar dari sini?" tanya Ana.


"Pikirkan saja kalau kita bisa menang dalam pertarungan ini," ucap Putri Ice.


Dia duduk berselonjor kaki di samping tas ransel miliknya. Wanita itu sangat kelelahan.


"Pertarungan dengan siapa sih sebenarnya? Mereka manusia atau makhluk gaib?" tanya Jaya pada Burhan.


"Kita berdoa saja lalu bertarung," ucap Burhan.


"Apa kita akan menang? Bagaimana jika kita kalah bertarung? Nah, bukankah itu jadinya kita tak dapat selamat," tutur Putri Ice.


"Entahlah, sihir penghuni kawah darah yang harusnya kalian lihat tadi, itu sangat kuat," tukas Burhan.


"Siapa memangnya penghuni kawah darah itu memangnya?" tanya Jaya.


"Sesuatu yang sama besarnya dengan iblis yang kau punya," sahutnya.


"Kalau begitu, Jaya bisa menggunakan kekuatan Iblis Rahwana, kan?" Ana mulai bicara kala medekat.


"Apa Raja Jaya sudah sanggup menggunakannya?" Burhan menyelidiki tetapi masih menatap Jaya.


Pancaran aura berbeda terlihat dari Jaya.

__ADS_1


...***...


To be continued, see you next chapter!


__ADS_2