Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 76 - Berkeliling Desa Gabut


__ADS_3

Bab 76 DPT


"Tante, aku ikut ya!" Mia berseru seraya menyusul Ana.


Ana mengulurkan tangan dan menggandeng anak tersebut. Mia sangat ceriwis dan supel. Dia tak malu berbincang dengan orang-orang dewasa yang baru ia temui itu. Mia bahkan menjelaskan seluk beluk desa yang ia tahu dengan gaya bahasanya yang terdengar mengemaskan.


Ana dan yang lainnya sampai di sebuah taman wahana yang terbengkalai. Pastinya sensasi mistis sangat terasa ketika Juna membuka pintu gerbang yang besinya berkarat tersebut.


Wahana itu dibangun di atas lahan seluas tiga puluh hektare. Taman wahana tersebut sebenarnya akan dilengkapi dengan sejumlah wahana yang sangat menarik. Di antaranya ada wahana flying fox, paralayang, paramotor, out bond dan camping ground.


Untuk menarik para wisatawan, pihak pengelola juga telah membangun sejumlah tempat yang cocok untuk berswafoto maupun berselfie ria. Sayangnya investor dari taman wahana tersebut meninggal dan akhirnya taman wahana tersebut tak selesai. Pemerintah setempat juga enggan menggelontorkan dana karena maraknya tindak korupsi yang dilakukan pejabat setempat.


Langkah Mia terhenti pada lahan yang terdapat pohon cokelat yang terbengkalai.


"Ada apa, Mia?" tanya Ana.


"Kata mama aku, di sana itu seram banget, Tante," tuturnya seraya menunjuk.


"Ya udah jangan ke sana! Ke tempat lain aja, yuk!"


Juna berjumpa dengan salah satu warga pencari kayu bakar yang melintas. Pria itu tampak berbincang untuk mencari keterangan warga yang tahu mengenai kejadian kehilangan Anto, kakaknya Mia.


Bayu dan Risa malah terpisah, mereka tampak menelusuri jalan setapak yang ditumbuhi alang-alang di sebelah kanan-kiri jalanan. Tak lama kemudian, mereka sampai di kebun cokelat yang cukup panjang.


"Ini sayang banget cokelatnya, loh. Padahal kalau dipanen bisa bikin kaya," ucap Bayu.


"Mungkin belum waktunya panen. Pasti pohon kayak gini mah ada yang punya, Bay," sahut Risa.


Risa menerobos masuk dan akhirnya sampai di sebuah rawa. Rawa yang didatangi Bayu dan Risa tersebut, benar benar luas dan indah. Di seberang rawa itu terdapat pemakaman warga dan ada dua di antaranya yang diberi pagar. Gaya batu nisannya juga cukup tua, tetapi tidak terlalu terlihat karena banyak rerumputan yang mulai tumbuh.


"Asik banget nih kalau mancing di sini. Udara nya sejuk, ikannya juga banyak kayaknya," ucap Bayu.


"Iya, mancingnya pas magrib atau menjelang malam pas uji nyali," sahut Risa.


"Lah, kenapa jadi uji nyali?" tanya Bayu.


"Mancing sambil lihat kuburan di sana, tuh!" Risa menunjuk seberangnya.


Bayu langsung bergidik ketika baru sadar ada pemakaman di sana. Kemudian, terdengar samar - samar suara adzan ashar yang berkumandang. Risa baru menyadari kalau mereka terlalu jauh dan Ana tak sedang bersamanya.


"Bay, Ana mana? Jaya juga mana?" Risa mulai panik.


"Waduh, kenapa pada misah, sih? Nanti kalau tersesat, gimana ya?" sungut Bayu.


"Dodol! Kita yang misah! Kita yang nyasar tau! Ayo balik ikutin jalan setapak itu!" ajak Risa setelah menoyor Bayu.


"Biasa dong, Mbak!" seru Bayu.

__ADS_1


Awalnya, Risa merasa biasa saja saat kembali ke tempat Ana, tetapi lambat laun dia merasa ada yang aneh. Wanita itu merasa seperti ada yang memperhatikannya.


"Bay, ada yang ngikutin kita, ya?" bisik Risa.


Bayu menoleh ke belakang.


"Kayaknya nggak ada deh, Mbak," sahut Bayu.


Dikarenakan hari masih cukup terang, Risa dan Bayu sedikit pun tidak merasa takut dan tidak memedulikan hal aneh tersebut. Namun, mereka tetap berjanji lebih cepat. Saat akan meninggalkan rawa, keanehan itu tetap berlanjut. Risa benar-benar merasa ada yang mengikutinya.


"Buruan, Bay!" seru Risa.


"Mbak Risa, itu ada Raja Jaya! Kayaknya dia nyariin kita," ucap Bayu.


Sosok pocong yang sedang berdiri membelakangi Risa dan Bayu, dihampiri oleh keduanya. Bayu lantas menepuk bahu pocong tersebut.


"Pang Jay! Eh, Paduka Raja, pasti nyariin kita, kan? Ayo, balik ke rumah Pak Roni!" ajak Bayu tanpa menaruh curiga.


Sosok pocong yang berwajah hitam dan masih ada kapas penyumpal di lubang hidungnya itu berbalik badan.


"Hahaha, Pang Jay, kenapa mukanya hitam begitu?" ledek Bayu seraya menertawai dengan puasnya.


"Bay, ini kayaknya bukan Jaya, deh." Risa melangkah mundur perlahan.


"Masa, sih?" Bayu mencoba menelisik dengan cermat Sosok pocong di hadapannya.


Sosok pocong itu lantas meringis menunjukkan gusinya yang penuh darah. Ia tersenyum menyeringai pada Bayu.


Risa segera menyusulnya, "Bay, tunggu aku!"


Setelah lari terbirit-birit, Bayu akhirnya menabrak Jaya secara tak sengaja.


"Ampun! Ampun! Ampun jangan ganggu saya!" pekik Bayu seraya menunduk dan berlutut.


"Bayu, kamu kenapa?" tanya Jaya.


Bayu kenal dengan suara tersebut. Pria itu lantas membuka matanya perlahan lalu mengarahkan kepalanya ke atas. Jaya tersenyum seraya mengibaskan tangannya pada Bayu.


"Pang Jaaaaaaaaay! Eh, paduka raja ku!" Bayu lantas memeluk kaki Jaya.


"Ini apa-apaan, sih?" tanya Jaya berusaha untuk melepaskan diri.


"Tadi aku ketemu pocong mirip Pang Jay. Tapi, pas nengok mukanya hitam semua, huaaaaaa!" Bayu mengadu.


"Hah? Pocong? Terus si Risa mana?" tanya Ana.


Belum juga Bayu menjawab, tampak Risa juga berlari turun dari jalan setapak dan tak bisa mengontrol laju sepasang kaki itu.

__ADS_1


"Awas! Aku nggak bisa ngereeeeem!"


Brug!


Jaya kembali tertabrak. Kali ini sampai tertindih oleh tubuh Risa.


"Aduuuh! Kalian ini pada kenapa, sih?" keluh Jaya.


"Ma-maaf, ya. Tadi aku takut banget dikejar pocong," ucap Risa.


"Jaya ada di sini, kok," sahut Ana.


"Hush! Pocong tuh bukan aku doang tau!" Jaya mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe, maaf ya Sayang. Cuma bercanda, kok. Kalau ini mah pocong paling tampan sedunia!" seru Ana.


Mia sampai menggaruk-garuk kepalanya karena tak mengerti.


"Tante Ana, lagi ngomong sama siapa, sih?" tanya Mia.


"Ummmm, makhluk gaib paling tampan. Udah yuk kita pulang! Tante Ana sangaaaaat lapar," sahut Ana.


"Anaaaa! Ayo, pulang!" Juna tersenyum saat memanggil Ana. Ia bahkan mengulurkan tangannya seolah mengajak Ana dan berharap Ana akan menggenggam tangannya.


"Hidih, najis! Pede banget tuh cowok mau ngerebut Ana dari aku!" sungut Jaya.


"Tenang tenang! Aku cuma milik kamu, kok." Ana melingkarkan lengannya memeluk pinggang Jaya.


"Pak Juna, ini si Bayu aja yang digandeng takut ilang lagi nanti ketemu pocong hitam tadi, hehehe." Risa menarik tangan Bayu lalu menyerahkan tangan pria itu ke tangan Juna.


"Hehehe, maaf saya normal, Mbak Risa." Juna tertawa risih.


Sementara Bayu mencibir Risa dengan bibirnya yang maju beberapa centi ke arah Risa. Mereka lantas kembali pulang ke rumah Pak Roni. Jaya terus berusaha mendorong tubuh Juna agar menjauhi Ana.


"Dari tadi ini apa almarhum suami kamu yang dorong saya?" tanya Juna anda Ana.


"Heh, aku belum almarhum, aku masih hidup!" seru Jaya menjitak Juna.


"Duh, iseng banget sih!" Juna mulai kesal.


"Duh, maaf ya. Suamiku belum almarhum, kok. Cuma emang arwahnya lepas dari tubuhnya yang dipocongi makanya dia kayak pocong," ucap Ana.


"Hah, pocong?" Juna mengernyit.


"Ayo, sambil jalan nanti aku ceritain kenapa suami aku jadi pocong," ucap Ana.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya…...


...See you next chapter!...


__ADS_2