Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 116 - Kekuatan Iblis Rahwana


__ADS_3

Bab 116 DPT


"Apa itu, Na?" bisik Risa.


"Ini kalung permata, Sa. Kenapa bisa ada kalung permata secantik ini?" Ana menatap tak percaya.


"Karena dia memilih mu," kata seorang pria yang Ana kenal.


Sosok Panji muncul mengejutkan Ana. Di belakangnya ada Mbah Karso.


"Wah, wah, wah. Sampai juga Kanjeng Ratu yang baru ini ke sini. Sayangnya suamimu sudah tewas. Ya kan Panji?" Mbah Karso terlihat dan terdengar meledek Ana.


"TIDAK! KAU PASTI BOHONG!" pekik Ana.


"Kalau kau tak percaya, tanya saja sama Kang Mas Panji! Kau sudah tahu cara menggunakannya bukan? Aku pergi duluan untuk mencari keturunan Mangkulangit yang terakhir dan pastinya Melati," ucap Mbah Karso.


Ana berteriak dan ingin menyerang Mbah Karso. Tetapi Panji menahannya.


"Kau dan kalung permata ini akan menjadi milikku!" Panji meniup kening Ana.


Wanita di tangannya itu lantas memejamkan mata karena terkena sihir dari Panji. Risa berteriak dan hendak melawan Mbah Karso, tetapi pria tua itu menepisnya.


"Kau mau arwahmu hilang dan terombang -ambing di antara alam gaib dan manusia selamanya tanpa bisa bertemu dengan temanmu ini lagi, hah?" ancamnya.


"Dasar pria tua terkutuk! Lepaskan Ana!" pintanya.


Panji tak bisa melihat dengan siapa Mbah Karso berbicara. Lantas pria tua itu membasuk kedua mata Panji dengan telapak tangannya. Terbukalah mata batin pria jahat itu.


"Oh, jadi perempuan tengik ini datang lagi rupanya!" cibir Panji.


"Kalian bedebah! Kurang ajar! Lihat saja, Tuhan akan membalas lebih keji pada kalian nanti!" seru Risa kala Panji membawa Ana pergi.


Mbah Karso membuat Risa tak bisa mengikutinya seolah ada pagar gaib yang tak bisa dilalui Risa.


***


Di dalam gua, Jaya mengira dirinya sekarat dan akhirnya tewas. Tiba-tiba, sebuah cahaya berpendar di hadapannya.


"Bangunlah anakku! Temukan kekuatanmu untuk bangkit!" Suara pria yang berat dan Jaya kenal itu mengalun di telinganya.


'Tidak mungkin, apakah dia ayahku?'


Jaya memusatkan kekuatannya untuk membuka mata. Dan benar saja, tampak sosok pria tampan, gagah, dan berwibawa, yang pastinya Jaya rindukan.


"Ayahanda!" seru Jaya.


Raja Sumardjo muncul di harapan Jaya menggunakan pakaian seorang raja yang lengkap ala Kerajaan Garuda. Arwah sang raja muncul untuk memberi Jaya petunjuk.

__ADS_1


"Apa aku berada di alam mimpi? Atau alam gaib?" tanya Jaya tak percaya. Apalagi rasa sakit tadi sudah tak ia rasakan lagi.


Raja Sumardjo lantas mengulurkan tangan untuk membawa Jaya bangkit. Sang ayah memintanya untuk mengikutinya.


Beberapa langkah Jaya mengikuti sang raja pendahulunya, pria tampan itu lantas terperanjat dengan pemandangan dalam gua yang berbeda. Tampak Jaya memasuki sebuah hutan yang tiba-tiba ia dapati saat ayahnya semakin membawanya masuk lebih dalam.


Beberapa burung dengan warna cantik beterbangan kian kemari. Bahkan ada beberapa yang mendekat dan mengikuti Jaya. Mereka saling bersiul dan hinggap di beberapa bunga yang merekah warna - warni menghiasi perjalanannya.


"Bagaimana, tempat ini bagus bukan?" tanya sang ayah saat tiba di hadapan sebuah danau yang airnya jernih tenang dan menyegarkan, sebuah gazebo sudah terbangun dengan cantiknya di sana.


"Ini cantik sekali, Ayah. Apa aku berada di surga? Apa aku sudah mati? Entah aku harus senang atau sedih. Tapi, tempat apa ini, Ayahanda?" tanya Jaya bertubi-tubi.


"Tenanglah, Nak. Kau belum mati. Kau berada di alam mimpimu sendiri atas dasar keinginanku. Aku menggunakan kekuatan ku terakhirku yang tersisa. Gusti Agung hanya membolehkan aku menggunakannya saat ini," jelasnya meskipun Jaya masih tak mengerti.


Jaya masih berdiri menatap pemandangan sekitar. Seandainya saja Ana ada di sini, istrinya pasti sangat senang menemukan tempat seindah ini.


"Jaya, duduklah di sampingku!" perintah sang ayah seraya menepuk sisi sampingnya.


Jaya menurut. Raja Sumardjo lantas menceritakan bagaimana kematian bisa merenggutnya padahal dia punya banyak susuk yang dipasang di dalam tubuhnya dan menjaganya.


"Sebenarnya, Ayah memiliki banyak susuk. Akan tetapi, di hari kematian Ayah waktu itu, Mbah Karso secara diam-diam melepaskan semua susuk dari dalam tubuhnya di malam sebelumnya. Widi membuatku tak sadarkan diri. Nah, saat tak sadarkan diri itulah ia melepasnya. Dan akhirnya Ayah dengan mudah mati karena diberi racun oleh Widi."


"Ayah, aku akan membalas dendam untukmu. Aku tak akan biarkan Karso dan Panji sialan itu bebas berkeliaran begitu saja," janji Jaya pada ayahnya.


"Sejujurnya Mangkulangit tak pernah diajarkan untuk membalas dendam. Namun, harga diri seorang Mangkulangit harus dijunjung tinggi dan jangan mau diinjak!" tegasnya.


Jaya mengangguk menanggapi.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan, Ayah? Bagaimana aku bisa menghabisi para penjahat itu?" tanya Jaya.


"Mari, ikut Ayah!" perintah Sang raja seraya menuntun Jaya pada pemandian yang dapat mengobati lukanya dan memunculkan kekuatan terbesarnya.


"Waktu itu, kekuatan ini pernah kau miliki. Sayangnya kau tidak bisa menjaganya dengan baik sehingga Karso mudah menghapuskan dari dalam tubuhmu tanpa sepengetahuanmu, Nak," kata Raja Sumardjo menjelaskan.


Tiba-tiba, Jaya terkejut akan sesuatu. Seperti ada sesuatu yang melintas di dalam danau.


"Apa itu ular besar atau ikan raksasa, Ayah?" tanya Jaya mencoba mencari tahu.


"Itulah Rahwana, Nak." Raja Sumardjo tertawa.


"Ta-tapi, bukankah aku sudah menyegelnya?" Jaya memundurkan tubuhnya beberapa langkah.


"Jaya, jangan bergerak!" suara Raja Sumardjo sampai mengejutkan Jaya dan membuatnya hampir terjatuh.


Akan tetapi, sang raja dengan sigap memegang tubuh putranya sampai Jaya ketakutan memeluk ayahnya.


"Ma-maafkan aku, Ayah," lirih Jaya.

__ADS_1


"Tak apa, Jaya. Apa kau masih takut dengan air?" tanya sang ayah menggoda Jaya yang sedari kecil takut berenang karena pernah tenggelam.


"Bukan begitu, Ayah! Ummm, rasanya aku tak bisa jumika harus berenang dengan makhluk besar di dalamnya," ucap Jaya yang masih memeluk ayahnya.


"Bukankah kau sudah menyegelnya? Harusnya kau sudah terbiasa dengan keberadaan Rahwana. Rasakan kekuatannya, Nak!" titah sang ayah.


Raja Sumardjo lalu menggenggam tangan Jaya.


"Kau mau apa, Ayah?!" Jaya mulai panik.


"Siap siap, ya!" Raja Sumardjo menggoda Jaya dan membawanya melompat masuk ke dalam danau itu secara tiba - tiba.


Jaya mendadak panik tatkala sepasang bola mata merah menyala dengan tubuh manusia raksasa yang bertanduk itu menghampiri dirinya dan melayangkan senyum yang menyeringai.


'Tunggu dulu apa dia tersenyum? Apa makhluk ini tersenyum padaku? Bagaimana bisa ada makhluk seperti ini di danau?'


Batin Jaya berkecamuk tak karuan.


Jaya masih berusaha mencoba berenang ke permukaan tetapi setelah pemuda itu berhasil muncul, Iblis Rahwana menariknya kembali dan mengajaknya berenang bersama.


Jaya mencoba memberontak. Namun, ia malah melihat sang ayah menertawakannya. Iblis Rahwana bahkan memeluk Jaya dengan erat. Kekuatan yang besar sangat terasa.


Pembuktian diri kalau Jaya layak sebagai keturunan sejati Mangkulangit yang dapat mengendalikan Iblis Rahwana dimulai. Sang iblis lalu mengangkat sang raja muda itu naik ke permukaan.


"Wuhuuuu! Bukankah itu seru, Nak?" Raja Sumardjo bertepuk tangan seraya tertawa dengan puas.


"Ayah, tapi ini–"


"Selamat, Nak! Kini kau dapat mengendalikan Rahwana. Dia akan berjuang di garis depan untuk membantumu," ucap sang ayah.


Jaya dan ayahnya saling terdiam, keheningan tercipta saat mereka memandangi pemandangan danau yang menghangatkan dan memuaskan mata yang melihatnya. Udara yang begitu segar dan angin yang berhembus semilir mencolek wajah, datang silih berganti.


"Ayah, apakah aku boleh memelukmu?" pinta Jaya karena ia yakin kalau tidak akan bisa bertemu dengan ayahnya lagi.


Raja Sumardjo lantas merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kedatangan sang putra tercinta ke dalam pelukannya. Semakin lama dia memeluk tubuh Jaya dengan erat seolah tak ingin merubah keadaan apa pun saat itu.


Tak terasa Jaya malah terisak. Seandainya saja ia dapat menyelamatkan ayahnya dan membawanya kembali ke dunia lagi. Namun, semua itu tak mungkin. Jaya tak boleh egois sampai ia ingin rasanya menghentikan waktu kala


berada di pelukan sang ayah.


"Sekarang, kembalilah pada keluargamu, Nak! Bahagialah kemudian bersama Ana dan cucu Ayah," ucap Raja Sumardjo pada putranya yang malah terisak seperti bocah laki-lakinya dua puluh tahun yang lalu.


Jaya mengangguk. Raja Sumardjo lalu mengantarkan Jaya kembali setelah menuntun putranya mendapatkan kekuatan yang dapat mengendalikan Iblis Rahwana. Apalagi, darah Jaya dan Anjaya, putranya telah menyatu. Raja Sumardjo yakin kalau ia meninggalkan Kerajaan Garuda di tangan yang tepat.


Cahaya terang yang berkilauan kembali tercipta saat Jaya dikembalikan lagi ke dunianya.


...******...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2