
Bab 53 DPT
Ana dan yang lainnya kembali ke Kerajaan Garuda bersama rombongannya. Namun, sesuatu yang tak mereka harapkan terjadi. Sebuah acara pemakaman diadakan.
"Si-siapa yang meninggal, Mbok?" tanya Ana pada salah satu warga yang melintas.
"Tuan Putri dari mana saja? Raja Sumardjo meninggal dunia tadi malam," ucapnya lalu bergegas membawa kembang tujuh rupa di bakulnya ke belakang istana.
"Apa? Ayahku meninggal?" Jaya memekik tak percaya.
Ana dan Jaya bergegas menuju ke dalam istana. Jasad Raja Sumarjo terbaring tak bernyawa dalam bentuk pocong. Ratu Melati menyambut kedatangan Ana. Memeluknya sambil menangis.
"Ba-bagaimana, Yang Mulia bisa meninggal?" tanya Ana melepas pelukan Ratu Melati dan menatapnya tajam.
"Saya juga bingung seolah kematiannya sangat misterius. Dokter bilang ini serangan jantung. Tapi …."
"Yang Mulia Ratu, upacara penghormatan akan segera dilaksanakan," ucap Panji datang mendekat.
"Ana, berhati-hati lah karena sepeninggal Yang Mulia Raja, ada bahaya yang akan mengancam para warga terlebih keturunannya," ucap Ratu Melati lalu pergi mengikuti Panji.
Risa mendekat, "bisa banget tuh ular ngomongnya."
"Kita tetap harus waspada, Sa," bisik Ana.
Jaya masih menangisi ayahnya seraya memeluknya. Ana berusaha menenangkannya.
Ana juga meminta Widi untuk menyiapkan pakaian bagi Rama. Risa membawa Rama ke kamarnya. Karena sejak saat itu, Ana bersama Jaya akan menjadikan Rama sebagai anak angkat mereka.
Upacara pemakaman tersebut bertujuan untuk menunjukkan penghormatan dari sanak keluarga dan rakyatnya kepada raja mereka yang telah meninggal dunia. Upacara tersebut diselenggarakan di halaman rumah orang yang meninggal, sebelum dimakamkan, dan dipimpin oleh anggota keluarga yang paling tua. Kali ini, Mbah Karso yang memimpin upacara penghormatan itu.
Ana sudah berganti pakaian lalu mengiringi Ratu Melati dalam upacara pemakaman tersebut. Peti mati sang raja dibawa keluar menuju ke halaman rumah dan dijunjung tinggi ke atas setelah upacara doa kematian selesai.
Rombongan keluarga Raja Sumardjo berbaris, berjalan berurutan melewati peti mati yang berada di atas mereka selama tiga kali dan searah jarum jam. Urutan barisan selalu diawali dari anak laki-laki tertua dan keluarga inti berada di urutan pertama. Jaya berada di paling depan meskipun tak ada yang bisa melihatnya kecuali Ana, Risa, dan Bayu. Ana beserta Ratu Melati dan keluarga yang lain mengikuti di belakang.
Upacara tradisional ini menyimbolkan penghormatan sanak keluarga yang masih hidup kepada orang tua dan leluhur mereka. Terutama pada Raja Sumardjo. Jaya bertekad akan menemukan siapa penyebab kematian ayahnya.
***
__ADS_1
Seminggu setelah kematian sang raja yang secara misterius. Dugaan makin kuat dan membuat Ana dan Jaya menyelidiki sang ratu lebih dalam. Namun, setelah kematian sang raja, pengumuman dikumandangkan. Semua warga di wilayah istana dilarang keluar malam terutama selepas magrib menjelang.
Mbah Karso menceritakan kalau ada iblis yang perawakannya tinggi besar yang menakutkan bernama Iblis Rahwana akan menebar teror. Rupanya, iblis tersebut terlepas setelah sang raja meninggal karena hanya raja yang dapat menyegelnya.
Iblis tersebut akan membantai warga di Pulau Garuda dan juga anggota kerajaan satu persatu setiap malam Jumat. Seperti kutukan dari leluhur tentang keturunan penguasa Kerajaan Garuda yang harus dibantai oleh Iblis Rahwana.
Satu persatu anaknya Patih Gundul termasuk sang patih itu sendiri tewas dengan cara yang mengenaskan. Ana baru saja memergoki Ratu Melati tengah berbincang berdua bersama Patih Gundul di taman. Namun, siapa sangka saat Ana sudah tak bisa menahan emosi dan mendatangi Ratu Melati di kamar sang ratu, Widi masuk ke dalam ruangan memberi kabar kematian sang patih.
"Apa? Bagaimana bisa Patih Gundul keluar malam padahal sudah aku peringatkan?!" Ratu Melati tampak tak percaya.
Widi hanya bisa diam menahan kegusaran sang ratu.
"Kenapa Ana? Kau masih menuduhku sebagai dalang pembunuhan suamiku dan Patih Gundul?" Ratu Melati tampak marah dan berkacak pinggang.
Ia lantas pergi begitu saja ditemani Widi menuju kediaman Patih Gundul. Acara pemakaman akan kembali dilangsungkan.
Panji menghampiri Ana atas perintah Mbah Karso. Iblis Rahwana kini mengincar Jaya. Biar bagaimanapun Jaya masih hidup. Oleh karena itu, tubuh Jaya akan disembunyikan atas sepengetahuan oleh Ana dan Mbah Karso.
...***...
Ana segera mengajak Risa bersembunyi agar tak dikenali. Ia juga meminta Bayu segera pulang dan menjaga Rama di tempat persembunyian tubuh Jaya. Ana mencoba untuk mendekat tanpa ketahuan agar bisa mencuri dengar.
"Maaf kalau aku tidak bisa hadir pada pemakaman suami mu. Ini saja waktu untuk hadir ke pemakaman Gundul sangat sempit," ucap Mbah Misan.
“Bagaimana ini, Mbah, suamiku telah tewas tanpa disentuh. Begitu juga dengan anak-anak dan Gundul sendiri. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ratu Melati.
"Aku akan mencoba mengurus Rahwana. Sayangnya Retno sedang sibuk mengurus warga Merak. Oh iya, aku kehilangan pewaris tahta Kerajaan Merak. Jika kau melihat putra dari Merakin, harap hubungi aku dengan segera!" titah Mbah Misan.
"Baik, Mbah. Apa kau mau bertemu dengan Mbah Karso?" tanya Ratu Melati.
"Tidak usah, Melati. Kau tahu kan kalau kami belum bisa berbaikan," ucap pria paruh baya itu lalu terkekeh.
Setelah itu Mbah Misan masuk ke dalam sedan hitamnya untuk kembali pulang.
"Apa ada warga yang jadi korban lagi, Panji?" tanya Ratu Melati.
"Belum ada, Ndoro Ratu." Panji menjawab dengan menunduk.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu saya mau istirahat dulu. Kamu bantu saya urus semuanya, ya," ucap Ratu Melati.
"Baik, Ndoro Ratu."
Mbah Karso muncul di pemakaman setelah memastikan kalau Mbah Misan telah pergi.
“Mbah Karso, apa kau sudah menemukan solusi menghabisi Rahwana? Jangan terlalu lama kecuali memang kau mau menunggu jatuhnya korban tewas lagi," titah sang ratu.
“Tentu saja saya tak mau itu terjadi, Ndoro Ratu. Hanya saja Iblis Rahwana
itu tak bisa hanya ditandingi oleh kekuatan manusia. Apalagi dia menyerap kekuatan para arwah terkutuk itu,” ucap Mbah Karso.
“Lalu, apa ada solusi yang bisa membuat iblis itu pergi?"
“Kau tahu keris yang kuberikan padamu?" tanyanya.
“Iya, masih ada di kamar saya, Mbah," sahut Ratu Melati.
“Keris itu memiliki efek mengusir roh jahat dan menghantarkan kekuatan di tangan yang cocok dan terpilih oleh keris tersebut, terutama dia keturunan murni Raja Garuda. Harusnya jika kau menemukan orang itu, maka dia akan bisa melawan Iblis Rahwana. Kita hanya bisa mengandalkan kebangkitan Pangeran Jaya."
"Lalu, kenapa Jaya masih saja menjadi pocongan? Belum selesai juga santet itu kau tangani?" serunya dengan ketus.
“Saya akan usahakan kalau Pangeran bisa bebas dari kutukan tersebut," sahut Mbah Karso.
Pada saat Ana menguping, dia jadi berpikir untuk menyelidiki santet yang dialami Jaya. Namun, mendengar penuturan Ratu Melati yang tampak khawatir tentang keadaan Jaya dan para warga di depan Mbah Karso dan Panji, membuat Ana jadi berpikir kalau sang ratu benar-benar tulus mengatakannya.
Raut wajah keraguan tampak terpancar jelas di wajah Ana. Dia tak yakin kalau sang ratu benar-benar tulus. Mungkin saja dia sedang berbohong dan mencari alibi agar tidak disalahkan atau dijadikan tersangka utama.
Akan tetapi, Ana kembali teringat tentang keris yang dimiliki Ratu Melati. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa yang dia dengar mungkin saja sebuah petunjuk pertolongan. Mbah Karso bilang ada keturunan Raja Garuda yang bisa mengendalikan kekuatan dalam keris pusaka itu dan menghabisi Iblis Rahwana.
"Jaya harus bangkit. Dia harus bisa terbebas dari santet dan mengerahkan kekuatan keris tersebut untuk menghabisi rahwana si iblis sialan itu. Ah, aku ingat. Risa punya Harus, kan? Dia bisa minta tolong pada Raja Harun untuk menghabisi Rahwana," gumam Ana lalu bergegas mengatakannya pada Risa.
...*****...
Bersambung dulu ya...
See you next chapter
__ADS_1