Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 115 - Kilauan di Batu Besar


__ADS_3

Bab 115 DPT


Dua jam sebelumnya.


Jaya harus menyegel Iblis Rahwana. Jaya pergi bersama Panji ke gua dalam gunung tempat Iblis Rahwana seharusnya disegel. Rencananya berhasil.


"Selamat, Paduka Raja. Kini kau berhasil menyegel Iblis Rahwana," ucap Mbah Karso.


"Iya, Mbah. Kini aku harus kembali ke keluargaku. Ke kerajaanku untuk menjaga rakyatku!" seru Raja.


"Kau pikir semudah itu?" Mbah Karso tertawa.


"Sadarlah, Mbah. Jangan biarkan dirimu dikuasai Iblis yang jahat!" seru Jaya.


"Hmmm, begitu ya." Mbah Karso melirik ke arah Panji.


"Mas Panji, kita bisa hentikan pria tua ini! Kita bisa pertahankan Garuda dari dia!" seru Raja.


"Tentu saja, Paduka Raja. Pasti kita akan kembali ke Garuda karena aku akan menikahi Ratu Ana," ucap Panji.


Jaya menatap tajam pria itu tak percaya. Namun, belum sempat ia akan melawan, Panji telah menusukkan belati miliknya ke pinggang Jaya.


Sementara itu, Jaya berhasil menyegel iblis tersebut. Dia pikir masalah telah selesai, tetapi Panji malah menusuknya. Jaya akhirnya mengetahui kalau Panji merupakan musuh dalam selimut.


Dialah orang yang mengirim santet pada Jaya karena ingin balas dendam dan menguasai harta kerajaan. Panji tak mencintai Ratu Melati dengan tulus karena dia merupakan kekasih dari Widi. Akan tetapi saat Panji mendengarnya Widi tewas, timbul keinginan Panji untuk menikahi Ana.


Padahal Mbah Karso juga ingin menikahi Ana. Tetapi, Panji meminta pria tua itu untuk menikahi Ratu Melati. Awalnya, Panji tak tahu perihal Iblis Rahwana kalau bukan dari Mbah Karso. Pria paruh baya itu juga merupakan dalang dari kejahatan di Kerajaan Garuda.


Mbah Karso mengincar kekuatan dari Iblis Rahwana yang akan membuatnya abadi. Namun, kekuatan itu akan muncul jika mendapatkan darah dari keturunan Murni Pangeran Jaya. Dialah yang membuat skenario bersama Panji agar Jaya dan Ana berhubungan badan. Weton Ana setelah ditelusuri cocok dengan Jaya dan memiliki kekuatan yang sempurna jika disatukan. Pada akhirnya, Panji menemukan Ana dan berusaha membuat Ana dan Jaya bertemu. Panji juga yang mereka video mesum Ana dan Jaya dan dia juga yang menyebarkannya ke sosial media.


"Apa yang kau lakukan, kenapa kau tega membuatku seperti ini, Mas Panji," ucap Jaya kesakitan.

__ADS_1


"Aku muak terus-terusan menjadi pesuruh keluargamu!" Panji berteriak dengan kesalnya.


"Kelak para leluhur Garuda akan menghukum kalian!" pekik Jaya menahan rasa sakitnya.


"Leluhur yang mana? Keturunan Mangkulangit akan aku habisi. Itu berarti aku akan menghabisi putramu," bisik Panji.


Pria itu sudah menyeret Jaya masuk ke dalam gua lebih jauh. Panji bersenandung sesekali ia membuat dirinya menangis seolah membayangkan Ana akan sangat ketakutan dan hanya bisa menangis melihat kepergian suaminya itu.


"Oh iya, ada hal yang harus aku beritahu padamu. Si Bayu dan Risa temannya Ana itu sudah tak ada lagi di dunia ini. Huhuhu, Ana pasti sangat sedih. Tapi, hal itu bagus kan. Tak ada lagi para kutu busuk yang akan mengganggu aku dan Ana," ucap Panji.


"Keparat kau!" lirih Jaya.


"Kupastikan kau tak akan bisa kembali ke Garuda lagi, wahai paduka Raja," bisik Panji lalu tertawa menyeringai seraya menarik kaki Jaya yang sudah terikat itu.


Ia lantas membanting tubuh Jaya ke dasar gua, "dulu ayahmu sering bertapa di sini. Kau bisa mengadu padanya di sini. Itu juga kalau ayahmu yang datang hahahaha." Panji semakin menghina Jaya.


"Sampaikan salamku untuk Raja Sumardjo, Nak Jaya," ucap Mbah Karso menyindir Jaya seraya melambaikan tangannya. Tawa penuh kepuasan terpancar di wajah renta pria yang penuh dengan niat jahat itu.


"Kenapa kau tega lakukan itu padaku, Panji. Padahal aku selalu meyakinkanmu di depan ayahku kalau kau orang yang baik. Bahkan aku juga tak peduli kala ibu Melati menyukaimu. Kenapa kau tega padaku, Aaarggghhh!" pekik Jaya seraya menahan rasa sakitnya.


Kesedihannya makin memuncak kala ia mengingat kebersamaan penuh cinta bersama Ana. Dia sangat mendambakan kehidupan bahagia selanjutnya ketika menduduki singgasana Kerajaan Garuda bersama Ana di sampingnya dan juga putranya Anjaya.


"Maafkan aku, Ana," lirih Jaya sebelum akhirnya ia menutup kedua matanya.


...***...


Kereta kuda yang membawa Ana sampai di gua Gunung Sembah. Langit tampak gelap seperti malam hari, padahal hari itu masih sore. Madun, si pengendara kereta kuda itu menepuk bahu Ana untuk membangunkannya.


Tubuh Ana meregang dengan paksa didera keletihan. Risa tampak menutup dirinya di balik selimut tebal. Ketakutan melanda Risa sampai Ana menertawainya kala membuka penutup tubuh si Risa. Padahal Risa sudah menjadi hantu, tetapi sahabatnya itu masih saja takut dengan sesama hantu.


"Madun, kau sebaiknya di sini saja. Bersembunyi di sini jangan sampai ketahuan. Kau main kubik ini dan monopoli ini aja, ya. Biar aku yang ke dalam," ucap Ana.

__ADS_1


"Ana, hati-hati, ya! Ana harus hati-hati," ucapnya.


"Tentu, Madun. Terima kasih, ya. Kamu juga harus hati-hati," pinta Ana.


Madun lalu pergi membawa kereta kudanya Bersembunyi di tengah rimbunnya pepohonan hutan tersebut. Untungnya Nenek Darah telah memberi sesajen pada penghuni hutan, sehingga tak ada yang akan mengusik perjalanan Ana.


Perempuan tangguh itu mencoba berdiri dengan tegak ditemani Risa. Ana mencoba mencerna sekitarnya. Ia menelisik ke semua arah. Terlihat pemandangan yang tampaknya pernah ia dapati tetapi entah di mana ia pernah melihat pemandangan dalam gua tersebut. Sampai Ana teringat dengan mimpinya. Ana menatap langit sejenak yang tampak mendung dan gelap tetapi tak kunjung hutan.


"Jadi, inilah yang dinamakan Gua Gunung Sembah tempat suamiku diculik," lirih Ana.


"Na, apa kamu yakin?" tanya Risa mencoba menahan.


"Aku yakin. Demi Jaya." Ana mencoba melangkah untuk menemukan jalan masuk ke sebuah lubang besar di dinding gunung yang ada di hadapannya.


"Sepertinya aku pernah berada di sini, tapi aku lupa di mana ya, Ris?" gumam Ana.


"Ah, ngaco kali kamu!" sungut Risa.


Keduanya sampai di sebuah batu besar yang mengingatkannya akan mimpinya kala itu. Batu besar itu tempat yang ia gunakan untuk bersembunyi dari sang iblis. Tempat yang pernah hadir dalam mimpinya.


"Aku ingat, aku pernah melihat batu ini di dalam mimpiku," lirih Ana.


Ia kemudian memutuskan untuk melangkah naik ke atas batu yang terletak di antara jalan masuk gua lebih tinggi lagi. Tiba-tiba, ia melihat pantulan yang berkilau di atas puncak batunya.


"Apa itu, Na?" tanya Risa pada Ana.


Warna yang menyilaukan indera penglihatan tetapi sangat cantik itu membuat Ana dan Risa sangat penasaran. Ana lantas menguatkan diri untuk terus mendaki demi melihat benda yang berkilau itu dari dekat.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2