Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 127 - Kehancuran Raja Haram


__ADS_3

Bab 127 DPT


Ana mendapatkan pedang peraknya, tetapi seseorang menghadangnya.


"Serahkan pedang perak itu!" Raja Haram muncul dan menghadang Ana.


Raja jin yang keji itu tertawa menyeringai. Dia lalu menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengeluarkan sihir yang mematikan dan menyerang ke arah Ana dengan sihir itu. Raja Haram berhasil melukai Ana. Wanita itu tampak kesakitan dan mulai limbung.


"Paduka, sebaiknya Anda turun menyusul Ratu Ana!" titah Burhan berseru dengan mempertahankan diri dari serangan Datuk Misan.


Jaya mengangguk. Ia lalu melompat turun dan keluar dari pertarungan tersebut. Jaya menyusuri lorong mencari Ana. Wanita itu tengah meringkuk seraya melindungi pedang perak di tangannya.


"Anaaaaaa!" pekik Jaya.


"Wah, wah, wah, siapa ini yang sampai di sini. Rupanya penguasa Kerajaan Garuda yang sampai ke sini," sapa Raja Haram.


Jaya memegangi Ana yang mulai terlihat lemah. Di atas sana semuanya sibuk bertarung dan tak ada yang bisa membantunya. Risa juga bertugas melindungi Rama. Jaya harus mengerahkan seluruh kekuatannya demi melindungi sang istri tercinta. Ana tiba-tiba mengerang kesakitan, wanita bertubuh mungil itu memuntahkan darah dari mulutnya.


"Ana bertahanlah, sayangku!" jerit Jaya.


Ana menangis keras kesakitan. Jaya sampai tak kuasa saat melihat keadaan istrinya yang terluka parah.


"Sayang, bawa semuanya pergi dari sini! Dia akan membuka ikatan Gidog!" lirih Ana.


"Tidak akan aku pergi tanpamu. Aku tidak akan meninggalkanmu disini, aku akan menyembuhkanmu," ucap Jaya pada sang istri.


Jaya bersiap untuk menggunakan kekuatan Rahwana demi menyembuhkan Ana, tetapi tangannya justru digenggam erat oleh sang istri.


"Jangan melakukan hal bodoh, Sayang. Kekuatanmu tercipta untuk melawan jin jahat itu. Aku tak mau jika kau nanti kehabisan tenaga, itu bisa membahayakanmu," larang Ana.


"Tapi, jika aku tidak melakukan sesuatu untukmu, aku takut kalau kau tidak akan tertolong, Ana." Isak tangis Jaya mulai tercipta.


Pria itu tak akan mau kehilangan seseorang yang paling ia cintai dan tengah berada di pangkuannya. Dia sangat tak ingin itu terjadi.


"Walaupun kau menggunakan kekuatanmu, aku juga tidak akan bisa bertahan lama, Sayang," lirih Ana.


"Tidak! Jangan berpikir konyol seperti itu! Aku yakin kamu pasti selamat, Na. Aku akan melakukan apa pun agar kau tetap hidup!" seru Jaya yang malah dibalas gelengan kecil oleh Ana.


"Aku sudah bahagia, Sayang. Menjadi permaisuri dari Raja Garuda sepertimu, aku sangat bahagia. Tolong jaga Anjaya untukku " pinta Ana.


"Kau yang harus menjaga Anjaya dan aku. Aku tak mau yang lain!" pekik Jaya, "Aku akan membawamu keluar dari wilayah ini."

__ADS_1


Jaya langsung berusaha memapah Ana dengan susah payah. Raja Haram mendekat dan mengejar Jaya. Ia ingin merebut pedang perak tersebut.


Burhan melihat Jaya kesusahan. Ia sangat terlihat ingin membantunya, tetapi kesulitan karena tubuhnya juga merasa lemas.


Putri Ice masih bertarung dengan Datuk Misan dibantu oleh Banyu yang sudah ia bebaskan. Banyu sangat sadar kalau ia ingin memilih untuk menjadi orang baik. Maka dia berada di pihak Jaya melawan Datuk Misan.


"Kau harus selalu bahagia, Sayangku. Jangan membuat pengorbanan ku sia-sia, ya. Jaga dirimu baik-baik dan juga putra kita," ucap Ana seraya mengusap pelan pipi suaminya.


Kedua matanya menutup dengan senyum di bibirnya membuat air mata Jaya semakin deras. Dia menangis sambil memeluk tubuh sang istri tercinta. Risa menghampiri Ana dan mengambil alih tubuh itu.


"Lawan Jin Haram jadah itu sekarang, Jaya!" seru Risa.


Sementara itu, Datuk Misan berhasil membebaskan sang Gidog. Padahal pria itu terkena hunusan pedang milik Banyu. Namun, dengan kekuatan sihir yang dia punya, ia membangkitkan kekuatan sang Gidog.


Sang pitbull berkepala tiga, bangkit dari tidurnya. Nahasnya, pria yang membangkitkan makhluk menyeramkan itu malah langsung dilahap oleh naga tersebut. Datuk Misan mengira dia akan menguasai sang naga, tetapi makhluk tersebut tetaplah makhluk liar yang tak bisa diperintah. Datuk Misan tewas seketika membuat semua yang melihat kejadian itu terperangah tak percaya.


"Bagaimana ini, Jaya?" tanya Burhan mulai panik meminta semuanya untuk mundur.


Di hadapan mereka ada Gidog dan Raja Haram.


"Kita hadapi makhluk ini! Aku akan alihkan perhatiannya," ucap Jaya.


Dia bersama Burhan berusaha menahan pitbull kepala tiga itu.


Burhan dan lainnya menganggukkan kepalanya. Dia bergegas memapah tubuh Banyu yang terluka. Rama dan Putri Ice mengikuti. Sementara Risa yang berada di tubuh Ana, bersiap membantu Jaya.


Namun, Putri Ice kembali.


"Mau apa kau kembali lagi?" tanya Jaya tak menyangka.


"Aku tak bisa berdiam diri saja menunggu kalian. Aku akan membantu mu melawan jin haram itu!" seru Putri Ice.


"Tak ada salahnya menerima bantuannya, Jay!" Risa menyerahkan Pedang Perak ke tangan Jaya.


"Jangan sampai tubuh istriku terluka!" tukas Jaya memperingatkan penuh ancaman.


Pedang Perak itu, kini berada di tangannya dan berkilauan.


"Ketahuilah kau jin haram yang busuk, adikku sudah mengorbankan nyawa. Maka aku tak akan membiarkan kalian menguasai perairan nusantara ini," ucap Putri Ice.


Perlahan dunia tropis itu bergejolak seolah mengalami gempa bumi kala Raja Haram mengerahkan kekuatannya untuk menyerang. Gidog juga tampak lapar dan ingin melahap Putri Ice dan Ana yang berusaha menghindar.

__ADS_1


Raja Haram juga memiliki pedang yang langsung menari bertabrakan dengan Pedang Perak milik Jaya. Bahkan kekuatan Iblis Rahwana telah Jaya kerahkan semuanya demi mempertahankan diri melawan Raja Haram.


Sementara itu, Putri Ice dan Risa mati-matian melawan Gidog si anjing kepala tiga yang terus menyemburkan napas bau berwarna hijau tetapi mengandung racun ke arah keduanya. Sayangnya, Putri Ice terkena semburan asap hijau itu yang menyebabkan tangan kirinya mengalami luka bakar.


Lalu, saat Gidog itu hendak mendekat dan menyemburkan napas baunya yang berbau racun itu kembali, kekuatan Ana yang bergabung dengan Risa muncul. Dia meraih akar yang akhirnya dia lilitkan ke empat kaki Gidog. Makhluk menyeramkan itu rebah juga. Kepalanya yang bagian tengah terantuk batu besar dan berteriak kesakitan.


"Ice sekarang penggal dia!" pekik Risa dan Ana terdengar bersamaan.


Putri Ice berhasil menebas kepala Gidog yang sebelah kiri.


"Ana, tusuk bagian jantung Gidog itu!" seru Putri Ice seraya mengalihkan perhatian kepala sebelah kanan sang Gidog.


Ana meraih anak panah milik Burhan. Ia menyeret tubuhnya ke bawah sang naga dengan posisi telentang. Dia lantas mengarahkan anak panah di tangannya untuk menusuk jantung sang Gidog. Tindakannya tepat, karena dia berhasil menusuk jantung makhluk itu.


Namun, tak terasa kuku tajam makhluk itu juga menusuk dada Putri Ice.


"Tidak! Putri Ice!" pekik Risa.


Dia berusaha menolong perempuan itu.


"Pergi! Kalian pergilah! Tempat ini akan hancur setelah Gidog mati. Aku akan mengubur Raja Haram di sini bersamaku," ucap Putri Ice.


"Tidak, kamu nggak boleh melakukan itu," ucap Risa.


"Pergilah, Risa! Bawa Ana dan Jaya pergi jauh dari sini!" pekik Putri Ice.


Dengan kekuatan yang dia punya, Putri Ice berusaha mendorong sang Gidog jatuh menjauh. Makhluk kepala tiga itu akhirnya tewas. Putri Ice berteriak kala terlepas dari kuku tajam sang Gidog. Ia lantas menuju ke arah Jaya.


"Jangan khawatirkan aku. Aku akan kembali suatu saat nanti. Aku akan terlahir kembali menjadi manusia biasa. Jadi, kutitipkan kekuatan permata dalam tubuhku ini untukmu," ucap Putri Ice memberikannya pada Jaya.


Dia meletakkan mustika miliknya ke dalam Pedang Perak milik Jaya.


"Apa, apa yang kau lakukan, Putri Ice?" Jaya tak percaya seraya menahan sakit yang menghinggapi dirinya kala sempat terkena tenaga dalam Raja Haram.


"Pergi, waktu kalian tak banyak! Tempat ini akan hancur dan aku akan membawanya hancur bersama diriku!" seru Putri Ice.


"Terima kasih, hanya itu yang bisa aku ucapkan ke padamu. Terima kasih, Ice!" ucap Jaya lalu pergi bersama Risa yang masih ada di dalam tubuh Ana.


...******...


...Bersambung dulu, ya…...

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2