
Bab 107 DPT
Dua hari berlalu sejak Ana terbaring di rumah sakit. Jaya menemani Ana yang masih terbaring lemah. Luka di perutnya sudah membaik. Gadis itu perlahan membuka mata dan tersadar. Ia melihat sang raja sedang terbaring merebahkan kepala di samping tubuhnya seraya mendekap tangannya.
Ana lantas mengusap kepala pria tersebut. Ia sangat bersyukur bisa merasakan kasih sayang dari seorang pria yang tulus seperti Jaya. Hanya saja ia langsung merasa sedih ketika ia sadar apakah setelah ini semuanya akan kembali baik bagi dirinya ataupun Jaya? Lalu, bagaimana dengan musuh mereka? Mampukah dia dan suaminya menghadapi para musuh itu dan juga Iblis Rahwana?
"Kamu sudah bangun rupanya," ucap Jaya mengejutkan Ana yang tengah melamun itu.
"Kamu mending pulang aja jagain Anjana," pinta Ana.
"Sayang, putra kita banyak yang jagain. Sedangkan kamu? Kamu itu tanggung jawab aku. Makanya aku harus menjaga kamu dengan baik," ucap Jaya.
"Hmmmm…."
"Jangan terlalu keras berpikir! Emangnya kamu mikirin apa?" tanya Jaya.
"Masa depan kita. Aku terlalu takut tinggal di Garuda. Kita pindah aja, jauh ke kampung halaman Risa. Kita tinggalkan kerajaan kamu, gimana?" Ana mencoba menawarkan.
"Sayang, aku bukan laki-laki pengecut yang meninggalkan bencana di Kerajaan Garuda begitu saja. Aku keturunan sejati Mangkulangit yang tak pantang menyerah," sahut Jaya.
Ana terdiam, rasanya membujuk Jaya untuk pindah tak akan pernah mungkin terjadi.
"Hiks hiks, aku tak mau ada nyawa yang akan melayang lagi demi mempertahankan Kerajaan Garuda. Aku terlalu takut, Jaya. Aku merasa akan ada kesedihan yang akan terjadi pada keluarga kita," ucap Ana seraya terisak.
Ana bahkan tak dapat lagi menahan bendungan air matanya. Jaya menangkup wajah sang istri cantiknya itu lalu mengusap air mata di pipi wanitanya.
"Doakan saja yang terbaik. Aku tak mau menjadikan kematian ayahku sia-sia. Tolong bantu aku untuk membuat Kerajaan Garuda ini lebih baik lagi. Bantu aku untuk membuat rakyat Garuda sejahtera tanpa ada lagi keresahan yang diciptakan Iblis Rahwana," ucap Jaya lalu memberi kecupan di dahi sang istri.
"Baiklah, aku akan selalu mendampingimu. Aku akan selalu berada di sisimu," ucap Ana lalu memeluk Jaya dengan erat.
Ketukan di pintu kamar perawatan Ana terdengar.
"Rakyat Garuda membutuhkan Anda, Raja Jaya. Mereka sudah menunggu." Seorang laki-laki yang Ana dab Jaya kenal menyentak keduanya.
"Panji?" Jaya bangkit berdiri.
"Ternyata benar, Anda dan Ratu Ana berada di sini," ucapnya seraya menyeringai.
Rupanya Panji memiliki mata-mata yang menjadi suster di rumah sakit tersebut. Suster itu menyadari saat Ana dan Jaya datang. Ia lalu mengabari Panji perihal keberadaan Ana dan Jaya.
"Mau apa kau ke sini? Pergi dari sini!" seru Jaya.
Ana mencoba duduk dengan menahan perih di perutnya.
__ADS_1
"Sebaiknya Anda pulang kembali, Paduka Raja. Kita harus menyegel Iblis Rahwana, karena hanya darah murni Mangkulangit yang bisa membuatnya tersegel," ucap Panji.
"Haruskah aku percaya pada pengkhianat sepertimu dan Mbah Karso?!" Jaya membentak.
"Banyak nyawa rakyatmu yang terbuang sia-sia. Kalau memang aku pengkhianat, mana mungkin aku mencari Paduka dan memohon hanya untuk menyegel Rahwana. Aku pasti akan jadi orang yang sangat senang dengan kehancuran Garuda, wahai Paduka Raja!" balas Panji.
"Ta-tapi, kau mengkhianati Ratu Melati. Kau bekerja sama dengan Widi untuk mencelakai Raja Sumardjo!" Ana berkata lantang.
"Aku memang mengkhianati cinta Ratu Melati, tetapi aku bersumpah tak pernah mengkhianati Raja Sumardjo dan Kerajaan Garuda!" Panji meyakinkan Ana dan Jaya.
Ponsel Panji berdentang, sebuah pesan video dikirim ke padanya.
"Kalian harus lihat ini!" pinta Panji memperlihatkan layar ponselnya.
...***...
Malam sebelumnya di rumah Bu Yayah. Bayi Anjaya kembali menangis dengan kencang. Ratu Melati menimangnya untuk menenangkan. Tiba-tiba, Bu Yayah datang mengejutkannya. Membangunkan Risa dan Rama.
"Ada yang datang," ucapnya.
Embusan angin terasa lebih kencang lalu dedaunan kering beterbangan sampai membuka pintu rumah Bu Yayah. Dedaunan kering itu masuk ke dalam rumah mereka. Tak lama kemudian, Bayu dan Agus melihat sosok tinggi besar berdiri di depan sebuah pohon mangga di seberang rumah. Lalu, Bayu mengarahkan lampu cahaya senter di tangannya ke arah makhluk tersebut.
"Apa kalian bisa melihatnya?" tanya Pak Idris pada Bayu dan Agus.
"Bagaimana ini, Pak?" Bu Yayah terlihat gusar dan gelisah.
"Kita tak memiliki kekuatan untuk menghadapi iblis ini, Bu," lirihnya.
"Jadi?"
Pak Idris tersenyum saat menatap istrinya, "mari selamatkan Pangeran Anjaya!"
Bu Yayah mengangguk. Wanita itu lalu meminta Ratu Melati yang tengah menggendong Anjaya masuk ke dalam kamar. Rama juga ikut serta bersama Risa.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Risa yang masih belum mau terkunci di kamar dari luar.
"Bersembunyilah dan lindungi Pangeran Anjaya dengan segenap kekuatanmu!" titahnya.
"Tapi, Bu–" Risa masih menahan pintu itu untuk ditutup.
"Maafkan kami Ratu Melati, Mbak Risa. Kami akan mengerahkan segala kekuatan yang kami punya," ucapnya.
Risa hanya bisa melihat senyum penuh ketulusan di wajah Bu Yayah sebelum wanita itu menutup pintu kamar dan menguncinya. Sementara Ratu Melati tak dapat membendung tetes air matanya. Ia tahu kalau Bu Yayah dan Pak Idris akan berkorban untuknya.
__ADS_1
Muncul makhluk yang lain yang memiliki satu kaki keledai dan kaki lainnya terbuat dari perunggu, sedangkan rambutnya berwarna menyala seperti ada api yang berkobar.
Makhluk itu juga biasanya menyamar sebagai perempuan cantik maupun pria tampan untuk memikat lelaki. Agus salah satunya yang terpikat. Jika sudah ada lelaki yang masuk perangkapnya, maka dia akan menghisap darah lelaki itu sampai mati. Tubuh Agus dilemparnya jatuh di hadapan Bayu.
"Bagaimana ini?!" Bayu mulai panik.
"Mas Bayu, silakan lari sebagai pengecut atau tetap bertahan di sini demi harga diri sejati membela Kerajaan Garuda," kata Pak Idris.
Kini Bayu mengerti. Ia lantas berlari menuju ke kamar tempat Risa disembunyikan. Bayu mengetuk dari arah luar.
"Apa yang terjadi di sana, Bay?" tanya Risa.
"Mbak Risa, maafkan aku, ya. Aku udah janji mau nikahin Mbak Risa, tapi kayaknya hal itu nggak akan terwujud," ucap Bayu.
"Bayu, apa maksud kamu?!" Risa berteriak seraya menggedor pintu kamar itu.
"Sekali lagi aku minta maaf, Mbak. Tapi, aku akan memenuhi janjiku untuk menjaga Mbak Risa sekuat tenagaku," ucap Bayu seraya menangis.
"Bayu! Kamu ngomong apa, sih? Buka pintunya!" teriak Risa.
"Nggak bisa, Mbak. Lebih aman kamu dan Rama di sana. Jaga anaknya Pang Jay sama Mbak Ana. Jangan sampai iblis itu merebutnya. Aku pamit ya, Mbak," ucap Bayu.
"BAYU! BAYU JANGAN GILA KAMU! BAYU BUKA PINTUNYA!"
Tak ada jawaban lagi dari Bayu. Risa luruh ke lantai seraya menangis. Rama mendekapnya. Ratu Melati juga menyusul. Mereka hanya bisa berdoa semoga Bayu baik-baik saja meskipun rasanya sia-sia.
Bayu mengusap air matanya kala melangkah menuju ke halaman depan rumah. Ia menatap Pak Idris dan Bu Yayah.
"Ayo, Bu, Pak, saya siap membela Kerajaan Garuda," kata Bayu penuh semangat.
Bu Yayah dan Pak Idris mengangguk.
"Makhluk yang di depan itu, dia bisa diusir dengan kata-kata hinaan dan makian. Jika sudah dimaki, maka makhluk ini akan langsung kabur sambil mengeluarkan suara melengking," tutur Bu Yayah.
Bayu mengerti. Dia bersama sepasang suami istri itu berusaha saling menguatkan satu sama lain di tengah rasa takut yang terus menyeruak itu.
Para makhluk yang menyerupai kaki keledai tadi mengangkat kedua tangannya ke atas. Terdengar lingkungan menyambut kedatangan Iblis Rahwana, lengking kematian.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1