
Bab 52 DPT
Tak lama kemudian, dia meminta abdi dalam untuk memanggil Ana dan Jaya. Tadinya Ratu Seroja pikir kalau sosok pria Bayu adalah Jaya, tetapi dia tak menemukan siapa pun di samping Ana.
"Kakang bilang ada Pangeran Jaya di sini? Tapi mana, bukankah pria tadi pangerannya?" tanya Seroja.
"Bukan ratuku. Pangeran Jaya juga terkena santet sepertiku tetapi santet yang berbeda. Maaf, aku memberanikan diri menggunakan sisa kekuatanku. Setelah ini mungkin aku akan mati," ucapnya seraya terbatuk.
"Kakang nggak boleh bicara seperti itu. Kakang pasti sembuh!" ucap sang ratu.
"Bersekutulah dengan Pangeran Jaya dan istrinya. Sesungguhnya bukan Garuda yang membuatku seperti ini. Kau harus berhati-hati dengan Misan dan Retno. Wasiatku akan jatuh pada kalian dan juga Pangeran Rama jika dia sudah besar nanti. Tapi, untuk saat ini aku meminta Pangeran Jaya untuk mengambil alih Merak sampai Rama dewasa. Kalian pergilah ke Garuda dan minta perlindungan Raja Sumardjo di sana. Wanita itu pasti akan membantu kalian menjelaskan pada sahabatku, Raja Sumarjo," ucap sang raja yang dapat melihat Jaya di sini Ana dengan ilmu kanuragan terakhirnya.
"Jadi, aku harus bagaimana Kakang? Tidak bisakah kita pergi bersama?" tanya Seroja.
"Sudah kubilang ini kekuatan terakhirku yang aku paksakan karena aku ingin menemui Pangeran Jaya dan istrinya," ucapnya.
Lalu Raja Meraki meminta Ana dan Jaya mendekat.
"Bawa istriku pergi ke Garuda sekarang! Tolonglah mereka. Aku percaya pada kekuatan kalian," ucapnya.
Jaya dan Ana mengangguk. Lalu tak lama kemudian, Raja Merakin meregang nyawa. Tangis Ratu Seroja dan putranya pecah. Namun, Ana mengingatkannya untuk pergi saat itu juga setelah melakukan pemakaman rahasia tanpa memberitahu Mbah Misan. Untungnya Ratu Seroja memiliki abdi dalam yang setia yang rela mempertaruhkan nyawanya, namanya Mbok Sinar.
Sinar meminta salah satu pengawal untuk menyiapkan mobil bagi Ratu Seroja dan Rama. Dia berbohong kalau sang ratu dan anaknya akan pergi menemui kerabat di Dusun Hijau. Dia juga akan menyembunyikan kematian sang raja agar Mbah Misan tetap menyangka sang raja masih hidup.
Di perjalanan menuju ke Kerajaan Garuda, Rama memeluknya ibunya seraya menangis. Tiba-tiba terdengar teriakan penduduk di salah satu desa yang mereka lintasi. Api berkobar di mana-mana membuat kepanikan seluruh penghuni desa itu.
Mobil yang Bayu kendarai telah melaju lebih dulu, tetapi sang ratu meminta sopirnya untuk berhenti. Mereka hampir saja menabrak salah satu warga desa yang berlari meminta tolong.
Ternyata kelompok perampok datang dengan kejamnya membantai para penduduk desa. Dan hari itu kedamaian di wilayah perbatasan itu sirna.
Para perampok yang memakai topeng dan jubah kulit harimau itu sangat berbahaya. Sampai mereka mendekat ke arah mobil sang ratu yang tertahan di area pembantaian itu.
"Ratu Seroja, pergilah bawa pangeran masuk hutan!" titah sang pengawal dengan wajah panik.
"Ada apa ini, Gus? Tidak bisakah kita pergi saja dari sini!" pekik Ratu Seroja.
__ADS_1
"Ada perampok yang mendekat dan mobil kita tertahan, Yang Mulia Ratu. Lekas pergi selamatkan pangeran dan Anda sendiri! Masuklah ke hutan! Biar kami coba menghadang mereka!" perintahnya.
Ia dan rekan sopirnya mengangguk dan siap mempertahankan nyawa demi melindungi sang ratu dan Pangeran Rama.
"Paman Bagus, ayo ikut Rama!" Tangan mungil itu menarik ujung kemeja lurik yang pengawalnya kenakan. Dia juga merupakan adiknya Roso yang baru saja meninggal karena melindungi Rama.
"Maaf, Pangeran, saya harus menjaga kalian agar tetap hidup. Maafkan saya, maaf tidak bisa menemani Pangeran bermain pedang lagi," lirihnya penuh kesedihan.
Ratu Seroja mengangguk, dia paham kalau sang pengawal setia itu akan mengorbankan diri demi keselamatan mereka.
"Ayo, Rama! Lekas kita pergi dari sini!" ajak sang ratu.
"Tapi, Ibu Ratu, Paman Bagus dan Paman Heri bagaimana?"
Ratu Seroja tak mengindahkan pertanyaan Rama. Ia harus segera membawa Rama bersembunyi di dalam hutan. Rama melihat nanar wajah para paman pengawal kesayangannya untuk terakhir kali.
Kedua pria itu langsung berbalik arah dan menyerang para perampok. Teriakan dan perlawanan yang sengit jelas menggema di indera pendengaran Rama.
"Bukankah itu Ratu Seroja!" seruan seorang pria terdengar seraya menunjuk sang ratu yang sedang membawa anaknya berlari.
Namun, wanita itu tak peduli. Ia harus pergi lebih jauh lagi. Rama sekilas melihat kepala Paman Bagus menggelinding ke tanah akibat tebasan parang si perampok yang meneriaki nama ibunya tadi. Bulir bening itu akhirnya tak bisa terbendung.
"Jangan lihat kecelakaan, Rama! Ayo, lari lebih cepat!" Seruni memberi semangat pada putranya meskipun hatinya juga teriris mendapati para pengawal setianya telah tewas dibantai satu persatu.
Mungkin Mbok Sinar juga sudah tewas. Benar kata suaminya, mungkin saat ini Kerajaan Merak akan hancur. Namun, jika Rama dewasa nanti, dia berharap Rama akan membuat Merak bangkit kembali.
"Tangkap Ratu Seroja dan anaknya!"
Seorang wanita berjubah hitam muncul dan memberi titah pada si pemimpin perampok kala itu. Dialah Retno, dia telah mengetahui kepergian Ana dan curiga akan keberadaan sang raja dan keluarganya. Setelah menghubungi Mbah Misan dan mengancam Mbok Sinar, mereka pun tahu kalau sang raja telah meninggal dunia. Mbok Sinar pun tewas di tangan Mbah Misan. Sama seperti Pak Kades dan beberapa warga yang setia terhadap Raja Merakin yang tewas di tangannya.
Paman Heri baru saja melayang ke udara dan jatuh menghantam bebatuan yang menewaskannya seketika karena benturan hebat di kepalanya akibat menghadang para perampok agar tak mengejar sang ratu dan putranya.
Ratu Seroja akhirnya terkepung. Dia mencoba melawan para perampok setelah menyembunyikan Rama di balik semak-semak. Dengan kekuatan bela diri yang ia miliki, sang ratu berhasil melukai dan membunuh dua perampok dengan tebasan keris miliknya.
Namun, karena dia hanya seorang diri dengan tenaga yang mulai habis, akhirnya sang ratu kalah. Pemimpin perampok yang tak terlihat wajahnya itu menarik tangan Seroja dan menjatuhkan tubuhnya sampai tersungkur. Kepala sang ratu terbentur bebatuan.
__ADS_1
"IBUUU!" pekik Rama.
Rama keluar dari tempat persembunyiannya. Ratu Seroja langsung menangis ketika Rama memeluknya. Kening anak lelaki itu dia kecup, kecupan yang terakhir kali karena perutnya langsung terasa sakit seketika.
"Tidak! Jangan bunuh ibuku!" pekik Rama.
Suara sirine polisi terdengar dan sempat membubarkan para perampok.
"Polisi? Nyi Retno bilang dia sudah membeli para polisi? Kenapa mereka nisa datang ke sini?" tanya salah satu perampok pada rekannya.
"Pergi! Kita lapor ke Nyi Retno!" seru salah satunya.
Rupanya, Ana yang merasa khawatir karena mobil sang ratu tak kunjung muncul lantas menyusul balik sang ratu. Ana bahkan semakin khawatir karena kepulan asap yang terlihat membakar salah satu desa.
Ana turun dari mobil dan menghampiri sang ratu. Risa dan Bayu juga menyusul. Sementara itu, Jaya meminta Ratmi untuk menakut-nakuti para perampok anak buah Nyi Retno yang mau menyusul kembali mengambil Ratu Seroja dan Rama.
"Aku akan menyusul suamiku. Bisakah aku menitipkan Rama pada kalian?" tanya sang ratu dengan kondisi sangat lemah.
"Kami akan bawa Ratu ke rumah sakit di Garuda. Kami akan menyelamatkan Anda," ucap Ana seraya mengusap air matanya.
"Tidak, Putri Cantik! Aku sunggu tidak kuat lagi. Tolong selamatkan putraku. Jadikan dia pemimpin Kerajaan Merak yang terbaik saat dia dewasa nanti. Tolong jaga dia," ucap sang ratu lalu mengembuskan napas terakhirnya.
"Na, ayo buruan keburu para perampok itu mendapatkan kita! Mereka belum tahu siapa kita sebenarnya, bukan? Mereka pasti akan mencari kita ke kota bukan ke Garuda, ayo Na buruan kita pergi!" ajak Risa.
"Tapi, Ratu Seroja bagaimana?"
"Tak ada lagi yang bisa kita lakukan. Bayu, gendong Rama!" titah Risa.
Ia lalu menarik Ana agar segera masuk ke dalam mobil. Jaya dan Ratmi menyusul masuk. Mobil tersebut dikendarai Risa lebih cepat dan genit berbeda saat Bayu yang melajukannya. Rama masih meronta berharap diturunkan karena tak mau meninggalkan ibunya. Namun, Bayu memeluknya dengan erat.
Tak ada lagi yang bisa Ana percaya selain mereka. Lalu, saat berada di Garuda nanti dia harus bilang apa soal Rama? Dia juga tak bisa mempercayai siapa pun di Garuda.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...