
Bab 56 DPT
Saat tiba di jembatan tersebut. Mbah Karso meminta Wahyu agar mendekat. Namun, pria itu malah tampak ketakutan. Sehingga, Mbah Karso memutuskan untuk mengikutinya.
Panji yang sudah memantau lokasi terlebih dahulu, datang dengan wajah pucat. Salah satu warga ditemukan sudah tak bernyawa di dekat jembatan. Wahyu semakin ketakutan. Pasalnya melawan Iblis Rahwana rasanya seperti menghantarkan nyawa sendiri.
Panji lantas menghubungi pihak berwajib. Sementara itu, Mbah Karso sampai semuanya untuk kembali masuk ke dalam mobil sampai pihak berwajib datang.
Tak lama kemudian, jenazah warga tersebut sudah dibawa oleh pihak kepolisian untuk dilakukan otopsi lebih lanjut. Kepalanya pecah terbentur batu kerikil besar kala jatuh ke sungai dari atas jembatan. Namun, tubuhnya sudah membusuk karena sebuah racun yang dimasukkan ke tubuhnya. Lalu, racun itu menyebar ke seluruh tubuh milik warga tersebut dan menewaskannya. Begitulah cara Iblis Rahwana menghisap manusia yang ia pilih untuk dimakan.
"Apa Mas Wahyu sudah sanggup menyegel Rahwana, Mbah? Rasanya ini masih terlalu dini," ucap Panji.
"Tak ada salahnya kita patut mencobanya, Nji. Makin cepat makin baik, bukan?" Mbah Karso tersenyum.
Mbah Karso dan Panji akhirnya membawa Wahyu ke dekat jembatan. Sementara Bayu menunggu di mobil ditemani Jaya.
Bayu yang sedang bersama Jaya lantas secara tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa, Bay?" tanya Jaya.
"Itu Pang Jay, lihat di sana! Tuh, nggak ada permisi-permisinya tuh hantu, main nangkring aja di atas kap mobil," ucap Bayu kala melihat dua pasang pocong dan kuntilanak terlihat bermesraan di atas kap mobil lalu beralih ke atas mobil.
Tanpa malu-malu para hantu itu malah melakukan adegan yang berlebihan.
"Pada ngapain mereka di atas, sih?" tanya Bayu.
"Jangan lihat, deh! Adegan tak senonoh persetanan soalnya. Nanti merusak mata," sahut Jaya.
"Hadeh… apa lagi itu adegan persetanan?" tanya Bayu sampai menepuk dahinya sendiri.
"Udah biarin aja!" sahut Jaya.
Hantu perempuan dan pocong yang telah selesai dengan adegan persetanannya itu lalu berdiri di hadapan mobil Bayu untuk mengganggu pria itu. Namun, keduanya tersentak kala melihat Jaya ada di dalam mobil bersama Bayu.
"Itu manusia ngobrol sama pocong, ya?" bisik si kuntilanak.
"Kayaknya, iya." Pocong itu mengangguk.
"Yah, jadinya nggak bisa digangguin dong. Soalnya dia udah biasa main sama setan," sahutnya.
Jaya turun dari mobil dan bertanya pada dua hantu tersebut.
__ADS_1
"Apa kalian lihat bapak tadi dibunuh sama Iblis Rahwana?" tanya Jaya.
"Oh, pria yang kumisnya kayak ulat bulu, ya?" tanya si kuntilanak.
"Mana saya tahu," sahut Jaya.
"Nah, tadi yang liat versi lengkapnya dia," tukas si pocong menunjuk si kuntilanak.
"Eh, sini aku kasih tau. Tadi Iblisnya serem banget loh. Badannya gede kayak raksasa. Terus dia cekek itu manusia sampai kehabisan napas. Tapi yang aku heran sepertinya iblis itu dikendalikan manusia soalnya aku lihat manusianya di ujung sana," ucap kuntilanak menjelaskan.
"Lalu, apa kamu lihat wajah manusianya?" tanya Jaya.
"Ummmm, sayangnya tidak. Soalnya dia pakai tudung," sahutnya.
"Siapa ya kira-kita yang mengendalikan Iblis tersebut," gumam Jaya.
Mbah Karso melihat ke arah para hantu saat Jaya masih berbincang dengan mereka. Namun, sosok pocong dan kuntilanak tadi sudah menghilang dan kabur.
“Sial!" sungut Jaya lalu kembali masuk ke dalam mobil.
"Se,sepertinya, Iblis Rahwana akan datang," ucap Bayu.
Mbah Karso berseru pada Wahyu.
“Jika kita mau mendapatkan keinginan yang besar dan akan berhasil, maka pastinya harus ada pengorbanan! Kau harus mau melakukannya!" serunya.
"Tapi, Mbah, bukankah itu hanya mitos?" tanya Panji.
"Bagaimana jika mitos itu benar? Makanya kita harus mencobanya," ucap Mbah Karso.
“Kenapa mitos itu bisa dianggap benar? Bagaimana jika nanti salah, Mbah?” tanya Wahyu tak habis pikir dengan paksaan Mbah Karso.
“Apa kau tahu kalau iblis itu sedang menuntut balas dendam? Oleh karena itu, untuk menghindari pembalasan dendam Iblis Rahwana tersebut, jadi menurut mitos yang beredar, aku harus membiarkan satu orang sebagai percobaan untuk masuk ke dalam sana. Lagipula kalau kau memang darah daging Raja Sumardjo, maka kau pasti mampu mengatasinya dan menyegel Iblis Rahwana,” tukas Mbah Karso.
Raut wajah Wahyu sangat tidak mengerti. Lalu, Mbah Karso kembali menambahkan penjelasan ke pada Wahyu lagi.
“Nah, sebenarnya mitos ini merupakan hal yang berhubungan dengan ilmu hitam yang menyebar sejak lama. Namun, pada saat ini sudah sangat sedikit orang yang memakainya. Mereka menganggap hal tersebut dengan ilmu hitam belaka. Sama seperti mitos pada saat ada tubuh bayi yang digunakan untuk pesugihan. Sama juga dengan manusia yang dijadikan tumbal. Pasti tak akan ada yang percaya dengan hal tersebut. Padahal itu terjadi," ucap Mbah Karso menjelaskan.
“Saya juga pernah mendengar mengenai ahli bangunan yang mengemis demi mendapatkan pakaian, lalu si pemberi pakaian itu akan ditumbalkan. Apa itu benar, Mbah?” Panji menimpali.
“Ya, itu salah satunya. Ada beberapa ahli bangunan yang saya dengar pernah melakukannya,” kata Mbah Karso.
__ADS_1
“Bagaimana mereka melakukannya, Mbah?” tanya Wahyu penasaran dan coba mengulur waktu.
“Para ahli bangunan yang berpengalaman itu jika sudah buntu dalam hal merenovasi suatu banguan, mereka akan melakukan hal ganjil ini. Mereka akan menyamar menjadi pengemis. Mereka akan pergi mengemis baju-baju lama dengan alasan mereka sangat miskin dan tidak punya baju untuk dipakai. Lalu, setelah mereka mengemis, mereka akan memaku baju-baju itu ke tiang jembatan tersebut. Sehingga jembatan dapat diperbaiki dengan lancar,” kata Mbah Karso menjelaskan.
"Lalu, Mbah?"
“Hal mengerikan akan terjadi. Para pemilik pakaian tersebut akan mati dalam waktu yang dekat,” kata Mbah Karso.
“Itu, itu sangat kejam," tukas Wahyu.
“Ada juga mitos yang pernah saya dengar kalau kita harus menaruh amplop berisi uang di atas jembatan yang sedang diperbaiki. Nanti, siapa yang mengambil amplop itu dan menggunakan uang di dalamnya akan segera mati," ucap Panji.
"Betul itu salah satunya," sahut Mbah Karso.
Jaya yang sedang menyimak pembicaraan mereka jadi teringat pesan ayahnya kala ia berusia sepuluh tahun. Raja Sumardjo memang baik hati, tetapi ia meminta Jaya agar tidak bersimpati jika ada pengemis yang meminta barang lama milik kita. Dikhawatirkan jika orang tersebut hanya menyamar dan berharap kita bersimpati dengan memberikan barang pribadi kepada orang tersebut. Lalu, si pengemis itu ternyata sedang melakukan penyamaran dan menumbalkan kita.
Ayahnya juga memintanya untuk tidak mudah menerima atau menyetujui perkataan orang yang tidak dikenal. Intinya hal - hal yang terlihat aneh dan janggal sebaiknya jangan dipedulikan. Rupanya hal tersebut yang selalu diwaspadai sang raja dan juga diajarkan ke semua warganya dulu.
Lalu, mendadak kemudian, Mbah Karso mendorong Wahyu masuk ke dalam sungai. Pria itu awalnya gelagapan lalu tenggelam. Panji tampak panik begitu juga Jaya.
Tak lama kemudian, muncul kepulan asap tebal. Cuaca malam hari itu cerah, tetapi kemudian angin puyuh hitam tiba-tiba datang. Angin puyuh tersebut mencapai tinggi sepuluh meter, dan lebarnya sekitar empat atau lima meter, sangat besar. Lalu, permukaan air yang tenang juga ikut beriak dan membumbung pecah.
Mendadak air sungai melonjak tinggi, dan tetesan air berjatuhan seperti hujan.
Suara tawa yang menggema dan menggelegar dari sosok raksasa, terdengar seiring dengan kumpulan awan hitam yang menghilang itu.
"Ini saatnya," ucap Mbah Karso.
"Bagaimana ini, Mbah?" tanya Panji.
"Jika memang dia keturunan Mangkulangit yang murni, sebentar lagi dia muncul dari sungai."
Benar saja kata Mbah Karso, Wahyu berhasil selamat dan muncul dari permukaan sungai. Kini, pria itu berhadapan dengan sang iblis. Meskipun tubuhnya bergetar dan gemetaran hebat, Wahyu mencoba melakukan apa yang pernah dia pelajari dari Mbah Karso.
Kini saatnya pembuktian menurut Jaya. Ia akan menjadi saksi bagaimana Iblis Rahwana bisa disegel. Sekaligus Jaya harus mengakui kalau Wahyu adalah adik kandungnya meskipun berbeda ibu.
...*****...
...To be continued ...
...Bersambung dulu ya....
__ADS_1