
Bab 22 DPT
"Ana, sabar dan tenang dulu. Jangan sampai bayi itu celaka!" seru Ratu Melati.
"Jadi, lepaskan temanku!" Ana balas berseru.
Ratu Melati menatap ke arah Raja Sumardjo seolah dari tatapan kedua mata mereka saling berkomunikasi. Tak lama kemudian, sang raja mengangguk dan meminta pengawal melepaskan Risa.
"Jika hal ini terjadi lagi di wilayahku, maka aku tak segan-segan menghukum pancung kalian!" ancam Raja Sumardjo.
Ana dan Risa saling bertatapan. Cairan saliva yang mengalir di tenggorokannya serasa berat untuk mengalir dan mencekat. Widi akhirnya membawa Risa kembali ke kamarnya, sementara Ana dipersilakan kembali ke kamarnya. Pocong Jaya masih setia mengikuti Ana sampai masuk ke kamar.
Namun, Jaya kehilangan kendali sampai hampir terjatuh dan menarik tangan Ana. Jaya sampai jatuh ke atas tubuh Ana dan hal yang tak terduga terjadi. Ketika mendarat, pria itu malah jatuh ke atas tubuh Ana dan tak sengaja membuat bibir keduanya menempel satu sama lain. Cukup lama sampai membuat keduanya saling tatap. Waktu seolah berhenti di sekitar mereka.
"Heh, apa-apaan ini?" Ana tersadar baru saja dicium oleh sosok pocong tampan yang membuatnya kesal kala itu. Ia mendorong tubuh Jaya sampai menjauhinya.
"Aduh! Aku kan tak sengaja, Nona Ana!" pekik Jaya.
"Halah! Tak sengaja katamu?! Kalau tak sengaja kenapa nggak buru-buru pindah?!" Suara Ana sampai menyentak Jaya.
Kecupan di antara keduanya sukses membuat mereka saling tatap cukup lama tanpa suara tadi. Meskipun begitu degup jantung Ana benar-benar tak beraturan. Pada akhirnya setelah tersentak, Jaya bangkit dan membersihkan kain kafannya dari debu begitu juga Ana.
"Nona Ana saja tadi diam cukup lama, kan? Berarti Nona Ana juga menikmati," gumam Jaya.
"Heh, jaga ucapanmu, ya! Jangan panggil nona lagi! Panggil aja Ana! Lagian aku juga udah nggak gadis lagi," sungut Ana.
__ADS_1
Wajah keduanya tampak merona. Ana sebenarnya masih tak percaya kala sang pangeran baru saja memberinya sebuah kecupan. Perempuan itu sampai menyentuh bibirnya dengan rasa tak percaya. Begitu juga dengan Jaya, ia juga menyentuh bibirnya. Meskipun bukan ciuman yang pertama untuk mereka, tetapi hal itu sukses membuat jantung Ana seolah keluar dari rongga dada.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Ana memicingkan kedua matanya kala melirik tajam ke arah sang pangeran yang langsung salah tingkah.
"Aku hanya … aku hanya merindukanmu saja, kok," jawab Jaya.
"Huh, gombal banget jadi pocong! Udah ah sana! Aku mau cari angin!" sungut Ana langsung keluar kamarnya.
"Loh, angin kok dicari? Nanti kalau anginnya masuk ke badan malah repot, loh. Ayo, tidur aja sini udah malam. Nggak baik ibu hamil keluyuran malam malam gini," ucap Jaya.
"Bodo amat!" sahut Ana.
"Ana! Nanti kamu ketemu setan loh!" panggil Jaya lagi.
"Kamu setannya!" sungut Ana.
Ana tak peduli. Dua mangga berjenis harum manis itu sudah dia habiskan. Rasa ngantuk mulai menggelayut dan menarik kelopak matanya untuk terpejam. Namun, samar-samar pembicaraan anak perempuan dan seorang wanita terdengar. Ana memilih untuk bersembunyi di atas pohon mangga. Jaya juga terlihat panik dan bersembunyi di belakang pohon mangga.
"Dasar pocong bego! Jelas-jelas dia nggak keliatan malah pakai sembunyi segala," keluh Ana melihat Jaya sekilas lalu fokus pada ibu dan anak tadi
"Bu, hentikan perbuatan ayah, Bu! Laras mohon jangan teruskan lagi! Apa sebaiknya aku mengadu saja pada Paduka Raja?" gadis bernama Larasati yang berusia dua belas tahun itu terlihat merengek seraya menarik ujung kain yang ibunya kenakan.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi gadis belia itu. Membuatnya langsung terisak.
__ADS_1
"Lancang kamu, ya! Dasar anak tak tau diri!" maki sang ibu.
"Justru Laras tahu diri, Bu. Laras ingin berterima kasih dan menyelamatkan Ibu dari hukuman kerajaan," sahut Laras.
"Hentikan ocehanmu itu! Awas, ya, kalau sampai kamu berani mengadu sama paduka raja, ingat balasan yang akan kamu dapat dari Ibu dan ayahmu." Perempuan berusia empat puluh tahun bernama Dewi itu menunjuk Laras.
"Tapi, Bu–" Laras yang hendak meraih tangan sang ibu lantas didorong oleh sang ratu sampai jatuh terjerembab.
Tadinya Ana hendak menolong, tetapi ia teringat sedang berada di tempat persembunyian jauh di atas pohon. Dengan sangat menyesal, Ana akhirnya memilih bertahan agar tahu pembicaraan apa yang dibicarakan oleh mereka.
"Lagi pula ingat ya Laras, aku bukan ibumu!" tegas Dewi berucap.
"Aku tahu. Bu. Aku hanya anak simpanan dari ayah. Tapi aku sudah menganggapmu sebagai ibu," ucap Laras.
"Cih, aku tak akan sudi!" ucap Dewi, lalu pergi meninggalkan Laras.
Anak itu masih tersungkur seraya terisak. Perlahan ia mencoba bangkit, lalu pergi kembali ke kamarnya. Ana turun dari pohon mangga dan hendak menyusul Laras. Namun, dia teringat dengan Jaya yang masih bersembunyi.
Rupanya pocong itu kesulitan karena kain kafannya digerayangi dengan semut merah yang keluar dari sarang yang ada di dekat akar pohon mangga.
"Tolong aku, Na, gatal banget ini!" seru Jaya.
"Hadeh… nggak jadi manusia nggak jadi pocong, tetep aja nyusahin," sungut Ana.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....