
Bab 93 DPT
Malam itu ritual pembersihan dimulai. Namun, teluh yang dikirimkan keluarga Mimin lebih kuat dan akan berhenti jika sasarannya telah tiada. Dan malam itu Mbah Ijah dan anak genderuwo itu lenyap. Genderuwo besar membawa mereka pergi untuk selamanya ke alam lain. Siti dan Toto menangis pilu. Nyatanya, benar kata Eyang Setyo, tanggung jawab.
Eyang Setyo meminta Toto membersihkan ruangan tersebut. Juna membantunya. Sementara Siti harus membakar smeua pakaian Mbah Ijah. Risa dan Bayu membantu mereka. Sementara itu, Ana dan Jaya diminta menghadap Eyang Setyo.
"Siapa kamu sebenarnya? Saya merasa bau kamu itu bukan bau mayat yang arwahnya gentayanga. Sepertinya kamu masih hidup, ya?" tanya Eyang Setyo.
"Iya, Eyang." Jaya mengangguk.
"Apa hubungan kamu dengan Sumardjo? Kamu mirip sekali dengannya?" tanya pria paruh baya itu pada Jaya.
"Saya Jaya, Eyang. Saya putra satu-satunya Raja Sumardjo. Namun, ayahanda ku telah meninggal dunia karena diracun. Dan kini, aku terkena santet ambil sukmo," sahut pemuda itu.
Ana mengangguk menanggapi dan membenarkan ucapan Jaya. Suaminya lantas menceritakan keberadaannya dan kedatangannya ke Bukit Emas untuk mencari Eyang Setyo. Akan tetapi, sungguh suatu kebetulan yang diharapkan ketika mendapati pria berusia hampir seratus tahun itu, berdiri di hadapannya. Usia Eyang Setyo memang cukup sepuh. Tetapi, secara fisiknya terlihat sama dengan Mbah Karso.
"Santet ambil sukmo? Itu ilmu yang dimiliki Rano Karno, teman seperguruanku dulu," ucap Eyang Setyo.
"Tapi, setau saya Eyang Rano sudah meninggal setelah dibantai warga. Padepokan miliknya juga dibakar," ucap Ana menimpali setelah tadi Jaya memperkenalkan semuanya.
"Apa kalian pernah mendengar salah satu muridnya berhasil kabur dari padepokan?" tanya Eyang Setyo.
"Saya pernah mendengarnya dari hantu penunggu hotel.
"Dialah Karso," ucapnya.
"Karso? Apa dia Mbah Karso yang menjadi sesepuh dan selalu dihormati ayahku?" tanya Jaya.
"Risa ada fotonya. Dia foto semua anggota keluarga kamu saat pernikahan kita," ucap Ana.
Ana lalu memanggil Risa dan meminta sahabatnya itu untuk menyerahkan foto Mbah Karso yang tertangkap kamera di layar ponselnya.
"Iya, ini Karso." Eyang Setyo menunjuk wajah Mbah Karso dan membenarkannya.
"Sialan! Kampret banget nih orang! Jangan-jangan dia yang udah bikin kamu begini, Sayang," ucap Ana.
Eyang Setyo menatap Ana tajam.
__ADS_1
"Maaf Eyang, keceplosan. Habisnya aku kesel banget sama ini orang. Dia itu orang kepercayaan kerajaan. Bahkan ayahnya Jaya tunduk sama semua ucapan Mbah Karso," ucap Ana bersungut-sungut.
"Tubuh aku, Na!" pekik Jaya.
"Betul, kita harus kembali! Paling nggak kita bawa tubuh kamu, bawa Rama, dan juga Ibu Melati supaya selamat dari mereka," ucap Ana.
"Kita harus ke Bukit Emas dulu. Aku bisa mengembalikan arwah Jaya ke tubuhnya lagi dan menghilangkan santet itu dari tubuhnya," ucap Eyang Setyo.
...***...
Keesokan harinya, Toto memanggil teman-temannya untuk menyewa motor. Ana dibonceng pakai motor bebeknya Toto. Ana juga bertanya tentang rombongan pria. Toto bilang, para rombongan pria juga akan diantar menggunakan motor.
"Mbak Ana, Siti mau minta maaf atas kejadian semalam." Gadis kecil itu mendekat.
"Nggak apa. Itu kan kesalahan Mbah kamu, yang penting jangan sampai kamu ulang lagi, ya. Doakan mbah kamu supaya dosa-dosanya diampuni sama Tuhan," ucap Ana mengusap bahu gadis itu.
"Aku udah siapkan bekal buat semuanya. Nasi dibungkus daun jati, tapi lauknya cuma telur rebus sama sambel tempe," ucap Siti.
"Ya ampun, Ti … itu udah enak banget tau. Aku yang harusnya minta maaf karena nggak bawa apa-apa buat kamu," ucap Ana.
"Nggak, Mbak. Aku malah makasih Mbak Ana udah repot-repot balikin emas emasnya ibu. Dan sepertinya Mas Toto sudah kembali menjadi lebih baik, semoga dia nggak belok lagi," ucap Siti.
"Tapi apa kalian nggak apa-apa naik motor? Kalian lagi hamil, loh," ucap Bayu khawatir saat mendekat.
Jaya juga terlihat sama khawatirnya.
"Kandungan aku kuat, kok. Kelamaan kalau sampai nunggu mobil temennya Juna buat jemput," ucap Ana.
"Kandungan aku juga kuat, tenang aja." Risa menepuk bahu Bayu meyakinkannya.
Jaya duduk di depan Ana sehingga si pengendara motor yang bernama Udin merasa terkejut.
"Kok, berat ya padahal cuma ibu hamil?" gumamnya.
"Kenapa, Pak?" tanya Ana karena motor itu tak juga melaju.
"Ndak apa-apa, Mbak." Udin lantas melajukan motornya meskipun masih merasa janggal. Jaya hanya menahan tawa karena ulahnya.
__ADS_1
Akhirnya rombongan mereka melaju menuju ke Bukit Emas. Jarak yang ditempuh akan sangat lumayan jauh. Namun, menggunakan motor merupakan alternatif lebih cepat dibandingkan lainnya.
"Kenapa jalanan di kampung ini rusak semua ya, Pak?" tanya Ana pada si pengendara motor.
"Ya beginilah, Mbak. Para pembangun juga jadi males ke sini karena jalanan rusak. Dulu pernah ada pembangunan jalan, tapi sekalinya dibangun aspalnya tipis banget dan gampang rusak. Ya palingan bertahan satu atau dua tahun udah rusak lagi," tukasnya.
"Oh... begitu ya, Pak? Tapi, sayang banget, ya," sahut Ana.
"Iya, Mbak. Paling parah kalau musim hujan banyak orang yang jatuh dari motor karena jalannya licin, Mbak. Semoga Bu Kades yang baru ini bisa membuat desa ini lebih maju lagi dengan mendatangkan Mbak Mbak, sama Mas Mas buat datang berkunjung di sini," ujarnya.
"Bu Kades itu orang asli sini, Pak?" tanya Ana.
"Saya juga kurang paham, Mbak. Tapi kata sesepuh sini, kakeknya Bu Kades orang sini asli," ucapnya.
Dalam hati Ana sesungguhnya berkata jangan sampai ia datang ke desa itu lagi.
Ana melintasi sebuah bangunan usang yang bertuliskan "Puskesmas Seranggan " seraya mengamati dinding puskesmas yang mulai berlumut serta retak. Catnya juga sudah pudar. Ada pohon beringin besar di depan gedung puskesmas itu yang semakin menambah keangkeran tempat tersebut.
"Puskesmasnya serem banget, Pak," ucap Ana.
"Ya, namanya juga jarang dipake, Mbak. Nggak ada yang mau jadi bidan di sana katanya serem," ucapnya seraya fokus berkendara.
Tiba-tiba, motor yang ditumpangi Ana mendadak mati.
"Jaya, itu di belakang puskesmas ada siapa, ya?" tanya Ana sambil menunjuk ke arah wanita yang berdiri di halaman belakang bangunan puskesmas.
Wanita itu menatap ke arah Ana. Ia mengenakan daster dan tampak seperti sedang hamil tua. Dari tempat perempuan itu berdiri saat ini, Ana masih bisa melihat wujud wanita itu dengan jelas.
"Pak, itu siapa ya? Ada perempuan di situ?" tanya Ana pada Udin yang masih berusaha menghidupkan motornya.
"Perempuan yang mana ya, Mbak?" tanya Udin.
Jaya langsung memberi kode pada Ana agar tak meneruskan lagi. Pasalnya, jika Udin tidak melihat sosok itu, dapat dipastikan kalau wanita hamil itu bukanlah manusia.
Motor yang ditumpangi Eyang Setyo melintas. Pria paruh baya itu lantas mengusir hantu wanita penunggu puskesmas tersebut. Tak lama kemudian, motor milik Udin hidup kembali. Mereka melanjutkan perjalanan kemudian.
...*******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...