Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 126 - Bertemu Datuk Misan dan Gidog


__ADS_3

Bab 126 DPT


...******...


"Sepertinya adikku memang sudah mati. Aku tak bisa merasakan aura kehidupannya lagi," gumam Putri Ice sebelum benar-benar terlelap.


Dia berbalik badan dan sebenarnya bulir bening mulai jatuh dari kedua mata lentiknya kala itu. Ana lantas kembali mendekat pada Jaya. Sementara Risa duduk bersandingan dengan Burhan yang masih berpikir keras untuk esok. Pada akhirnya mereka semua terlelap kemudian.


Senja mulai tiba, semuanya keluar dari tempat persembunyian. Ana mulai gelisah. Burhan mengamati sekitar yang masih musim tropis. Pepohonan terlalu jarang untuk bisa jadi tempat persembunyian. Daun-daun pinus yang membuat suara langkah teredam juga membuat siapapun akan makin sulit mencari jejak binatang. Padahal mereka butuh jejak para binatang untuk menemukan air.


"Apa kalian siap menuju danau darah itu?" tanya Burhan pada semuanya.


"Baiklah, ayo kita temui monster anjing itu!" ajak Jaya.


Jaya dan yang lainnya berhasil masuk ke dalam gua tempat pitbull berkepala tiga bersarang. Untungnya sang pitbull sedang tidur dengan leher yang terikat rantai. Di hadapannya mengalir aliran darah segar dari air terjun di atasnya. Benar-benar bau anyir menjijikkan yang harus membuat Ana dan lainnya menekan rongga hidung mereka.


"Lihat, anjing itu menutupi sesuatu!" bisik Jaya.


"Ya, kau benar. Sepertinya ada yang dia sembunyikan. Mungkinkah pedang yang kita cari ada di situ?" tanya Ana.


Burhan mengangguk, "aku akan mencoba membuka tempat itu. Jika dia bangun, kalian langsung alihkan perhatiannya!"


"Oke," sahut Jaya.


Namun, suara seseorang yang sedang bercakap-cakap membuat mereka segera bersembunyi.


"Cepat sembunyi!" bisik Jaya.


Ada dua orang bertudung hitam membawa Banyu dan Rama. Tangan mereka terikat ke belakang. Dua orang misterius itu mendorong tubuh Rama dan Banyu agar berjalan lebih cepat. Risa menatap tak percaya kala melihat wajah Banyu mirip dengan Bayu. Ia ingin mendekat, tetapi Ana menahan tangannya. Ana menggelengkan kepala seolah meminta Risa untuk tidak melakukan tindakan apa pun.


"Aargghh!" Banyu mencoba menahan rasa sakit yang berada di kepalanya yang memiliki luka terkena hantaman benda tumpul.


"Astaga! Di mana aku? Apa yang sebenarnya terjadi?" tukas Banyu.


"Bagaimana ini, Kak?" Rama terlihat panik juga.


Banyu lantas mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Dia terjatuh tak sadarkan diri karena kepalanya yang terasa sangat sakit saat sedang pergi bersama Rama untuk berburu paus. Akan tetapi, kenapa sekarang ia justru berada di sini? Tempat yang tidak dia kenal sama sekali. Ia bahkan kini tidak bisa bergerak karena tangannya yang terikat ke belakang. Sepasang kakinya juga terikat rantai besi yang tersambung dengan ikatan rantai besi di kaki Rama.

__ADS_1


"Selamat datang, Pangeran Banyu!" sapa seorang pria berjubah hitam yang melepaskan penutup kepalanya.


Ia tersenyum menyeringai di bibirnya.


"Datuk Misan? Apa yang kau lakukan di sini? Apa maumu?" teriak Banyu dengan marah.


Sementara itu, Rama sangat takut melihat pria tua itu dan mencoba menggeser tubuhnya mendekat pada Banyu.


"Tenanglah, Pangeran. Aku hanya ingin berbuat satu kebaikan untuk ibumu, hanya itu saja," ucapnya sembari terkekeh pelan.


"Apa maksudmu?" Banyu mengernyit.


Ana dan Jaya saling menatap dan kemudian menatap Datuk Misan dengan geram. Mereka tak percaya kenapa mereka bisa lupa kalau setelah Mbah Karso, mereka masih punya musuh serupa yaitu Datuk Misan.


"Aku hanya ingin para penerus darah murni yang di dalamnya mengalir darah para pendahulu kerajaan nusantara, harus menjadi persembahan untuk Gidog ini," ucapnya sembari menyeringai licik.


Jaya dan Ana sudah mengepalkan tangannya menahan rasa emosi dan geram.


"Jadi rumor itu benar. Akan ada salah satu pengkhianat di lima kerajaan nusantara. Dan aku pikir Raja Garuda yang akan berkhianat karena dikuasai oleh Mbah Karso. Tapi rupanya aku melewatkan sesuatu. Aku lupa kalau Meraki sedang dikuasi orang licik sepertimu. Kau pasti si pengkhianatnya, dan aku yakin kau yang membuat ibuku menyerah pada keadaan, iya kan?" tebak Banyu seraya menatap tajam pada lelaki tua di hadapannya itu.


Prok prok prok!


"Tepat sekali, Pangeran Banyu! Hmmmm, bahkan aku telah memiliki Gidog yang buas ini. Dia siap melumatmu sampai halus sekali di dalam mulutnya itu." Lelaki itu tertawa puas atas perbuatannya yang akan dia lakukan terhadap Banyu dan Rama nanti.


"Bagaimana ini, Kak, aku takut…." Rama terlihat menangis.


"Ha-ha-ha." Suara gelak tawa Datuk Misan benar-benar membuat Banyu geram, "Ibumu itu terlalu mudah untuk ditipu padahal sudah ada yang memperingatkanmu tentang rumor tersebut, kan? Sayang sekali dia tidak mau mendengar, ya?"


Datuk Misan berdecak. Lalu, ia tersenyum sinis. Ia menoleh ke arah Rama yang masih terdiam dan menunduk ketakutan. Dia menatap tak percaya pada anak Raja Meraki yang kabur itu.


"Rama! Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak kangen pada Datuk?" tanyanya.


"Najis!" lirih Rama penuh emosi.


"Hahahaha, apa kau mau bernasib sama seperti Putri Icy? Tubuhnya pasti sedang dicerna di dalam perut Gidog," ucap Datuk Misan menunjuk ke perut anjing raksasa itu.


Putri Ice tertegun sesaat dengan apa yang ia dengar. Dia selalu berusaha menyangkal pikiran-pikiran buruk di kepalanya yang pada akhirnya itu adalah kebenarannya. Adiknya benar-benar telah tewas. Bulir bening mulai berjatuhan membasahi pipinya. Ana menggenggam erat tangan Putri Ice. Ia ingin menguatkan gadis muda itu.

__ADS_1


"Kau tenang saja, Rama. Gidog pasti akan ******* tubuh kecilmu dengan cepat, jadi kau tidak akan merasakan sakit dan menderita terlalu lama, ya." Datuk Misan mengelus rambut hitam milik Rama.


"Kau membohongi ayahku! Dasar pria tua jahat! Datuk sangat busuk!" pekik Rama menghina Datuk Misan. Dia terlihat murka dan penuh amarah.


"Ckckck, ayahmu saja yang terlalu bodoh karena mudah mempercayai aku, anak kecil! Dia menuruti perintahku tanpa mencari tahu terlebih dahulu tentang akibat dari apa yang aku lakukan padanya!" Datuk Misan kembali tersenyum sinis kepada Rama yang malah berani menatap bengis.


"Aku harap kau yang mati dimakan Gidog!" seru Rama.


Datuk Misan hanya tertawa. Lalu, ia meminta anak buahnya untuk melepaskan ikatan pada Rama. Namun, dengan segera Rama mengepalkan tangannya penuh amarah. Pria muda kecil itu lalu menyerang Datuk Misan secara tak terduga.


Melihat keadaan akan sulit untuk Rama, Jaya dan Burhan memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyian mereka.


"Ayah Jaya! Mama Ana!" Rama kegirangan melihat orang tua angkatnya.


Ana langsung memeluk Rama. Sementara Jaya dan Burhan akhirnya bertarung satu dengan Datuk Misan dan anak buahnya. Putri Ice mencoba menahan Gidog yang sedari tadi menggongong keras agar tak mendekat. Putri Ice memiliki kekuatan yang mumpuni dan tetap berusaha melawan monster besar itu.


Namun, Datuk Misan mengucapkan mantra di bibirnya. Pria tua itu berusaha membuka segel kekuatan di rantai yang mengikat Gidog dengan energi yang ia punya. Datuk Misan terus memejamkan matanya mencoba untuk fokus dengan mantra yang ia ucapkan. Meskipun Jaya dan Burhan menyerangnya.


Sementara itu, Risa berusaha membuka ikatan di tangan dan kaki Banyu.


Ikatan Gidog itu berhasil terbuka. Rupanya Datuk Misan terlalu gegabah. Ia belum sepenuhnya bisa menggunakan kekuatan dan mengendalikan Gidog.


Makhluk itu malah melahap siapa pun yang berada di dekatnya termasuk para pengawal Datuk Misan. Energi pria tua itu sebenernya juga mulai terkuras habis. la kembali memejamkan mata untuk mengumpulkan sedikit energinya.


"Ana, hewan itu sedang lengah! Cepat masuk dan ambil pedang perak itu!" seru Jaya.


"A-aku? Kenapa harus aku?" tanya Ana tak mengerti dan mulai takut.


"Aku dan Pak Burhan akan berusaha menahannya. Kau masuklah ke dalam lubang itu. Buka penutupnya dan cari Pedang Peraknya!" titah Jaya.


"Ana pergilah! Aku akan jaga Rama di sini!" ucap Risa yang lantas menarik tangan Rama dan Banyu untuk bersembunyi.


Ana melihat Putri Ice, Pak Burhan, dan Jaya yang masih berkutat dengan pertarungan. Pada akhirnya Ana menurut, ia membuka penutup lubang yang tadi dijaga oleh Gidog. Ana lantas menuruni anak tangga dalam lubang tersebut.


...*******...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2