Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 49 - Misteri Tewasnya Pak Kades


__ADS_3

Bab 49 DPT


Indera pendengaran Bayu mendengar sesuatu yang sepertinya diucapkan oleh seorang perempuan. Di sela-sela menembang itu, namanya dipanggil-panggil. Bayu mengamati sekeliling, menengok ke kanan, menengok ke kiri. Dia dibuat penasaran siapa yang memanggilnya.


“Bayu, Bayu, Bayu,” suara itu menyapa.


Saat kepalanya digerakkan ke arah selatan, Bayu langsung terperanjat. Ada perempuan yang mengenakan selendang merah tengah berdiri di sampingnya. Wajahnya pucat dan kaku. Memakai daster lusuh dan terdapat bercak-bercak darah. Rambutnya panjang berantakan dan kusut.


"Kun-kun-kuntilanak!"


Mata Bayu mengerjap. Suara itu semakin jelas memanggil namanya. Suara perempuan itu. Bayu sempat mengucek-ngucek kedua matanya. Benar saja tak dapat dipungkiri, terlihat kuntilanak berselendang merah itu melayang-layang.


“Bayu, Bayu,” ucap si kuntilanak masih menyapa.


Apa yang dilihat Bayu terlalu menyeramkan. Wajah perempuan itu tak seperti wajah manusia biasanya. Bayu seketika menjadi kejang-kejang. Antara takut, gemetar, menahan pipis, atau apa pun. Kejang-kejangnya semakin tidak karuan. Orang-orang di dekatnya mulai berteriak-teriak ada yang kesurupan.


Ana menarik tangan Risa agar memerhatikan si kuntilanak yang melayang itu. Orang-orang pun berdatangan, mendekat. Akhirnya, Bayu menjadi pusat perhatian di perhelatan wayang itu.


Tak ada satu jam, Bayu bisa ditenangkan, lalu dibawa pulang. Entah ada hubungan dengan kejadian melihat kuntilanak pada malam itu atau tidak, tubuh Bayu mendadak demam dan meriang. Acara pertunjukkan wayang pun dibubarkan. Para penduduk diminta untuk pulang.


"Sa, kamu lihat Ana?" tanya Jaya yang muncul tiba-tiba di samping Risa yang tengah mengompres Bayu.


"Ya ampun ini pocong ngagetin aja!" pekik Risa.


"Kamu lihat Ana?" tanya Jaya lagi.


"Waduh, aku sampai lupa saking paniknya bawa Bayu pulang. Waduh, aku baru ingat. Jangan jangan si Ana ngikutin kuntilanak yang godain Bayu tadi, bisa jadi kan?"


"Hmmm, berarti Ana masih di rumah Pak Kades. Aku ke sana dulu, ya, mau cari Ana," ucap Jaya.


"Hati-hati, Jay," ucap Risa.


"Sa, aku udah mendingan. Ayo kita susul Putri Ana. Dia sendirian loh, Pangeran Jaya kan makhluk halus nggak ada manusia bisa lihat dia kecuali kita," ucap Bayu seraya mencoba bangkit.


"Kamu benar juga. Tapi, beneran kamu udah nggak apa-apa?"


"Beneran, Sa. Ayo, kita susul Putri Ana!" ajak Bayu.


Risa mengangguk.


...***...


Ana memang masih berada di halaman belakang rumah Pak Kades. Ia mengikuti sosok hantu kuntilanak yang melayang tadi. Jaya sampai mencarinya ke belakang rumah Pak Kades.


"Tunggu, kenapa kamu mengganggu temanku?" tanya Ana.


"Aku hanya heran saja kenapa dia bisa melihatku sama sepertimu. Hanya Misan dan istri muda terkutuknya itu yang bisa melihat makhluk seperti ku. Tapi aku dan lainnya terlalu takut untuk menghadapi mereka," ucap kuntilanak itu.

__ADS_1


"Apa Mbah Misan tahu kalau istri mudanya merupakan iblis pemakan bayi?" tanya Ana.


"Kau rupanya tahu, ya? Mereka berdua itu sama saja. Retno itu melakukan pesugihan untuk membunuhku dan para istri si Misan. Tapi, Misan juga sama buruknya. Dia berambisi sebagai raja," ucapnya.


"Tunggu … berambisi sebagai raja? Apa dia yang membuat Raja terkena santet?" tanya Ana.


"Tentu saja, siapa lagi?" Kuntilanak itu menyeringai seraya mendekat pada Ana.


Sementara itu di rumah Pak Kades, pria berusia lima puluh tahun itu terpeleset sampai dahinya membentur tepi meja. Di dahinya langsung mengeluarkan darah. Berkali-kali pria itu tampak mencoba kabur. Namun, saat dia berusaha kabur, kaki kanannya malah menabrak kaki meja di ruang tamu dan membuatnya jatuh tersungkur di lantai kembali. Ada sosok berjubah hitam yang tengah mengejarnya.


"Pergi kamu! Pergi! Aku akan adukan kamu pada paduka raja!" seru Pak Kades.


Pak Kades lalu jatuh ke lantai saat sosok berjubah hitam itu mendorongnya. Gelas beling yang berisi air putih yang ada di atas meja itu tumpah dan membasahi sebagian lantai. Kabel sambungan listrik atau kabel roll juga ikut jatuh berserakan saat kuntilanak itu menghempas tubuh pria tersebut.


Sambungan roll itu memiliki kabel listrik yang sobek ternyata. Lalu, seketika itu juga kabel listrik yang tak sengaja tersiram air itu mendadak mengalami konslet dan mengaliri arus listrik yang menyengat tubuh Pak Kades. Pria itu tampak menggelepar dan mengalami kejang-kejang sampai sebagian tubuhnya gosong. Mendadak kemudian, tegangan listrik di rumahnya turun dan membuat keadaan rumah itu menjadi gelap gulita.


Ana yang sedang di belakang rumah mendadak menoleh kala melihat rumah Pak Kades padam.


"Apa sekarang mati lampu?" gumam Ana.


"Dia mati," lirih si kuntilanak.


"Dia? Dia siapa?" Ana mengernyit.


Hantu kuntilanak itu hanya menunjukkan ke rumah Pak Kades. Beberapa menit kemudian, Ana segera berlari ke depan rumah Pak Kades. Tampak Bu Kades tampak tak sadarkan diri di halaman rumahnya bersama dua anaknya.


"Apa yang Mbak lakukan di sini?" tuduh pria berkumis itu.


"Sa-saya juga nggak tau, Pak. Saya lihat rumah Pak Kades mati lampu terus saya ke sini taunya mereka udah pingsan," sahut Ana.


Jaya sampai bersama Risa dan Bayu. Ana langsung menghamburkan diri memeluk Jaya dan sempat membuat warga itu kebingungan.


"Minta dia panggil warga yang lain! Aku akan mencoba ke dalam rumah ini!" titah Jaya pada Ana.


Ana meminta warga tadi untuk memanggil warga yang lain. Dia dan Risa lalu membantu Bu Kades dan keluarganya untuk sadar.


Bayu memberanikan diri untuk mencari kotak MCB. Pria itu berjalan mendekati kotak listrik yang ada di samping rumah Pak Kades. Lalu, lampu di sekitar rumah dan dalam rumah Pak Kades lantas menyala kemudian. Jaya tersentak ketika mendapati Pak Kades sudah tak bernyawa.


"Sudah hidup lampunya, mungkin listriknya turun makanya mati semua,” kata Bayu yang memandang wajah Ibu Mar, istrinya Pak Kades yang sudah siuman.


"Ada apa ini, Bu?" tanya Ana.


"Kami juga nggak tahu yang jelas kami pusing terus mau susul bapak yang ada di dalam. Tapi, kami malah pingsan," jawabnya.


Bayu berusaha membuka pintu tetapi terkunci. Jaya berseru dari dalam kalau pintu itu terkunci karena ilmu sihir dan pak kades telah tewas mengenaskan di dalam. Ana, Bayu, dan Risa hanta saling menatap satu sama lain setelah mendengar seruan Jaya.


Akhirnya, Bayu mencoba melafalkan doa-doa yang bisa dia ucapkan. Terutama ayat kursi, agar dengan bantuan Allah, pintu rumah itu dapat terbuka lagi dan mudah untuk dimasuki.

__ADS_1


Bu Kades lantas bangkit meski Ana sempat menahannya. Namun, ia terlambat. Bu kades telah melihat kondisi suaminya yang tewas mengenaskan. Ia berteriak histeris seraya menangis saat beberapa warga lainnya datang ke rumah tersebut.


“Apa ini semua kerjaan kuntilanak itu?" bisik Risa.


"Bukan, Sa. Tapi dia tahu sesuatu tentang kejahatan Mbak Retno dan Mbah Misan," sahut Ana.


Ana lantas melangkah menuju ke halaman belakang rumah Pak Kades kembali.


"Na, mau ke mana?" tanya Risa.


"Ada sesuatu yang harus aku tanyakan pada kuntilanak itu," ucap Ana.


Suara Bu Kades terdengar masih menjerit dan menangisi jasad suaminya. Wanita itu terperanjat melihat tubuh suaminya sudah tergeletak di lantai dengan kondisi yang setengah badannya gosong sampai memperlihatkan kulit yang mengelupas itu.


“Jangan sentuh, Bu!” seru Bayu memperingatkan karena takut aliran listrik itu masih menyala dan bisa menyengat Bu Kades dan anak-anaknya.


Tangisan meraung-raung dari Bu Kades langsung menyadarkannya dari lamunan. Batu segera mencabut listrik kabel roll. Dia juga membersihkan air di lantai tersebut bersama salah satu warga yang lain.


"Nak, tolong bawa suami saya ke dokter, selamatkan nyawanya!” pinta Bu Kades sambal menangis tak terkendali dengan berderai air mata pada Bayu.


"Tapi, Bu, Pak Kades sudah meninggal dunia," ucap Bayu dengan nada bersimpati.


"Tidak! Suami saya belum meninggal!" Bu Kades masih saja tidak terima dengan kematian suaminya.


Tetangga mulai makin banyak yang berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


"Dia sudah meninggal, Bu!" ucap wanita berkerudung tetangganya Bu Kades seraya memegangi.


Terlihat semua orang terkejut melihat kondisi Pak Kades yang tergeletak di lantai dengan badan yang setengah gosong itu.


"Pak … bangun Pak!" pekik Bu Kades yang menangis histeris menatap tubuh suaminya yang sudah tidak bernyawa.


Salah satu warga juga menanyakan keadaan Pak Kades dan langsung terkejut saat melihat ke arah tubuh si pemilik rumah yang sudah terbaring tidak bernyawa di lantai ruang tamu itu.


Semua warga yang ada di sana yang melihat jasad Pak Kades langsung terkejut dengan mata membulat kala menatap tubuh gosong itu. Mereka tidak menyangka dengan apa yang terjadi saat itu. Bayu sampai tertegun untuk beberapa saat.


Mbak Retno datang bersama Mbok Darmi. Ia menghampiri Bu Kades dengan masuk ke dalam rumah untuk menenangkan wanita yang masih menangisi kematian suaminya itu.


"Sudah, Bu. Semua ini sudah takdir dari Yang Maha Agung," ucapnya seraya memeluk Bu Kades yang sudah hampir pingsan.


Jaya menarik Bayu keluar kemudian karena ia merasa Mbak Retno melirik ke arahnya.


"Mana Ana dan Risa?" bisik Jaya.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


...See you next chapter ya....


__ADS_2