Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 72 - Preman Suruhan


__ADS_3

Bab 72 DPT


"Jadi kata bos, gimana?" tanya pria berambut gondrong itu dengan perawakan tinggi dan banyak tato di kedua tangannya.


"Kita kasih pelajaran biar mereka pergi terus nggak jadi nuntut anaknya si bos," sahut pria botak, berbadan besar agak gendut, dan berkumis tebal itu.


"Kita bakar rumah mereka aja, gimana?" tanya si gondrong.


"Nah, dia pasti paham kalau kita bakar rumahnya terus mereka pindah tempat. Ya udah kamu siapin bensinnya!" tukas si botak.


"Aku beli dulu, ya. Kamu tunggu sini!" ucap si gondrong.


"Jangan lama-lama, ya! Aku takut juga di sini," ucap si botak.


"Badan gede doang kayak genderuwo tapi cemen juga, huh!" Si gondrong lantas menyalakan motor lalu pergi membeli bensin.


Jaya dan Ani mengamati dengan saksama sosok preman botak itu.


"Wah, ini nggak bisa dibiarkan. Mereka mau ngancam keluarga si Lela, aku harus bilang ke Ana supaya pergi dari rumah itu sebelum dibakar," ucap Jaya.


Namun, sosok kuntilanak yang suka mengganggu ibu hamil menarik ikatan kepala pocong Jaya. Ani hanya bisa tersenyum meringis.


"Ini, Ibu Kuntinya. Hehehe, maaf ya aku takut sama dia mau pergi dulu," ucap Ani.


"Heh, apa semua pocong itu bodoh?!" seru Ibu Kunti.


"Ma-maksudnya?" tanya Jaya.


"Dari pada kamu nyuruh penghuni rumah itu pada pergi dan membiarkan rumah itu terbakar, kenapa bukan para preman itu aja yang kamu suruh pergi," tukas si kuntilanak itu.


"Terus gimana?" tanya Ani.


"Ya kita takuti mereka, dong!" serunya.


"Oh iya benar juga. Kita memunculkan diri buat nakutin mereka," ucap Ani.


"Caranya gimana, aku nggak bisa," sahut Jaya.


"Dasar bodoh! Kamu pikirin gimana kamu sebel banget sama seseorang dan munculkan kemarahan dalam diri kamu. Nanti kamu bisa terlihat sama orang itu," ucap Ibu Kunti.


"Hmmmm, oke kalau gitu. Aku benci banget sama Rahwana," tukas Jaya lalu memunculkan rasa kebencian dan amarahnya dari dalam diri.


Si botak tadi sempat tertidur di beranda depan rumah kosong tersebut. Tiba-tiba, ia mendengar suara ketukan dari dalam jendela. Si botak tadi menoleh ke arah jendela. Tak ada siapa pun di sana. Ia lalu meraih ponsel dalam saku lalu menekan icon senter untuk mengarahkannya ke jendela.


"Heh, siapa kamu?" Si preman botak itu berseru.

__ADS_1


Dia sangat terperanjat ketika ibu kunti muncul dengan wajah menyeringai. Ja meringis dan melotot.


"Waaaaaa, kun-kuntilanaaaaaaaak!" Si botak tersebut hendak kabur.


Akan tetapi, ia tak sengaja menabrak Jaya dan Ani.


"Hai!" sapa Jaya.


"Waaaaaaaaa, pocooooooooong!" Si botak itu lantas berlari terbirit-birit sampai ngompol di celana.


"Syukurin, luh! Badan gede doang tapi takut setan," ucap Jaya.


"Ya udah sekarang kamu bilang sama penghuni rumah itu agar bersiap-siap memasang jebakan ketika si gondrong datang. Siapa tahu dia datang dengan preman lainnya buat membakar rumah itu!" ucap si kuntilanak memberi perintah.


"Ummmm, Bu Kunti, apa aku boleh tanya?" Ani mencolek si kuntilanak dengan ujung ikatan tali pocongnya.


"Tanya apa?" Bu Kuntilanak langsung menunjukkan raut wajah ketus.


"Kenapa jadi baik mau nolongin rumah di seberang itu? Di sana ada yang lagi hamil loh, biasanya Bu Kunti sebel banget sama ibu hamil?" tanya Ani.


"Heh, Ibu hamil itu istri saya! Jangan macam-macam sama dia atau kalian saya ajak ribut," ancam Jaya.


"Hihihihi… aku tahu tentang ibu hamil itu. Bahkan ada dua yang sedang hamil, kan?" tanya Bu Kunti.


"Yang perut buncit itu istriku. Kalau perempuan hamil satu lagi si Risa. Baru dua bulan jadi belum kelihatan. Dia hamil anaknya Raja Harun, raja jin di Pulau Garuda," ucap Jaya.


"Apa? Hamil anak jin?!" Ani dan Bu Kunti mengucap bersamaan memberi respon.


"Kalau begitu kita harus melindungi dia karena anak itu anak spesial," ucap Ani.


"Kalau saya mau melindungi si pria yang perutnya rada gendut itu. Soalnya dia mirip suami saya, hihihi." Bu kuntilanak itu terlihat senang.


"Oh, kalau cowok itu mah si Bayu," sahut Jaya.


"Ya sudah sana! Beri peringatan pada mereka kalau ada yang mau membakar rumah itu. Nanti aku dan Ani akan berjaga menakuti di sini," titah Bu Kunti memberi perintah pada Jaya.


Jaya mengangguk lalu menuju rumah Lela. Dia baru sadar kalau seorang Raja Garuda seperti dia dengan gampangnya diberi perintah oleh sosok kuntilanak. Mana dia langsung menurut lagi. Hilang sudah kewibawaan Raja Garuda di mata para hantu, begitu batin Jaya bergejolak.


...***...


Di kamar yang ditempati Ana dan Risa, hawa panas sangat terasa. Wanita hamil itu sampai terbangun. Saat Ana melihat ke bagian atap kamar yang tanpa sekat apa pun sehingga terlihat bagian susunan gentingnya itu, ia melihat sesuatu yang aneh sedang bergerak.


Di sudut atas, ada sesosok makhluk kecil yang terlihat sedang bermain bola yang diikat ke tiang genteng. Rupanya sejak dulu, ibunya Lela memasang benda tersebut untuk menghalau tuyul dari sisi atas. Ia ingin saat ada tuyul yang datang nanti, malah sibuk bermain bola menggantung ketimbang mencuri uang.


Ana berusaha mengamati sosok yang ada di sana. Bentuknya kecil, seperti manusia yang baru lahir. Tubuhnya pucat dan hanya memakai popok kain kafan yang lusuh. Sepasang mata itu melotot seperti dua bola mata yang hendak lepas dari sarangnya ketika menoleh pada Ana. Sepertinya, mata itu terlalu besar untuk ukuran mata normal.

__ADS_1


"Heh, anak kecil! Mau ngapain di situ? Nanti jatoh loh, sini turun!" seru Ana.


Tuyul itu hanya mengamati Ana dengan raut kebingungan. Bagaimana bisa ada manusia yang tidak takut ke padanya? Begitu batin makhluk kerdil itu. Padahal Ana pernah melihat tuyul sebelumnya saat di hotel, sehingga ia tidak begitu takut.


"Sini turun!" seru Ana.


"Kamu panggil siapa?" Jaya datang mengejutkan Ana.


"Itu ada tuyul lagi asik main bola di genteng. Aku takut dia jatuh loh, Yang," sahut Ana.


"Biarin aja sih, Na. Makhluk nyeremin gitu malah kamu panggil ke sini. Ada hal penting yang aku mau omongin," ucap Jaya.


"Waaaaa! Waaaaaah!"


Makhluk kerdil itu turun dan ingin menakuti Ana. Tetapi dia baru tahu kalau Ana sedang berbicara dengan sosok pocong Jaya. Risa yang baru saja terbangun, langsung menjerit ketakutan ketika melihat sosok tuyul di hadapannya. Risa bahkan menendang tuyul tersebut sampai membentur tembok.


"Itu tuyul datang dari mana?" pekik Risa.


"Tau nih main muncul di genteng. Mana lagi asik main bola," sahut Ana.


Jaya mendekat bahkan menjitak makhluk kerdil tersebut.


"Masih kecil udah mau nakutin orang. Mana belajar nyuri lagi," tukas Jaya.


Tuyul itu awalnya akan menakuti malah jadi ketakutan karena teraniaya oleh Jaya.


"Aku bilangin mama bapak aku loh, awas loh!" Tuyul itu menangis lalu kemudian sosok gaib itu lalu menghilang.


"Idih, beraninya bawa mama sama bapak. Mentang-mentang aku anak yatim piatu kali nggak bisa ngadu ke ayah sama ibu aku," sungut Jaya.


"Kok, bercandaan kamu jadi gelap, Yang. Aku juga kan yatim piatu, huaaaaa!" Ana dan Jaya saling berpelukan.


"Kenapa sih di rumahnya si Lela banyak setan aneh-aneh kayak gini?" sungut Risa seraya merelai pelukan Ana dan Jaya.


"Si Risa, ih! Nyebelin banget! Mungkin karena ada kebun pisang kali jadi para setan betah ke sini," sahut Ana.


Ana lantas menoleh pada Jaya.


"Tadi kamu mau cerita apa, Yang?" tanya Ana.


...*****...


...Bersambung dulu ya. ...


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2