Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 132 - Persekutuan Kerajaan Nusantara


__ADS_3

Bab 132 DPT


Setelah membebaskan Ana, Jaya diminta Eyang Setyo menemui Ratu Asih di Pulau Boa. Ditemani oleh Burhan, Jaya akhirnya menemui Ratu Asih.


Wanita itu sedang duduk di kursi kayu di sebuah kebun bunga belakang istananya saat Jaya tiba di sana. Di hadapannya ada seorang pria yang sudah lama dirinya kenal sedang dalam posisi besimpuh di hadapannya.


Wajah pria itu memelas, memohon ampun kepadanya. Apalagi dia kalah ilmu. Namun Ratu Asih bergeming tak menunjukkan belas kasihan sama sekali.


Tak lama kemudian, datang dari arah belakang sang penasehat kerajaan bernam Mbah Samin. Ia memberitahukab kedatangan Jaya tetapi sang ratu memintanya untuk memberitahukan pada Jaya agar menunggu.


Di tangan pria itu juga membawa kain putih bernodakan warna merah kusam. Dari dalam kain putih itu menetes cairan merah anyir, yang membasahi atas rerumputan ketika pria itu membukanya dan memberikannya pada Ratu Asih.


Jaya memperhatikan dari jauh bersama Burhan dan bertanya, "Bukankah itu Raja Gagak?"


"Saya rasa itu memang dia," jawab Burhan.


"Mau apa dia ke sini?"


"Kita akan tahu dengan segera, Paduka Raja." Burhan meminta Jaya untuk memperhatikan dengan saksama.


Raja Jagak tampak gusar kala melihat kain putih yang baru saja diterima oleh Ratu Asih. Pria itu berdiri, lantas mengutuk keras bahwa apa yang dilakukan Mbah Karso serta merta tak melibatkan dirinya sama sekali.


Jagak masih bersumpah kalau ia masih menghormati keluarga Mangkulangit. Ia menurut kepada seorang pemimpin lima kerajaan. Tidak pernah terlintas di dalam kepalanya untuk mengkhianati pemimpin keluarga nusantara hanya dikarenakan materi saja. Kekuasaan pun tak menggoyangkan keyakinannya untuk tetap berpihak kepada keluarga nusantara.


Ratu Asih lalu berdiri. Ia menarik tusuk konde di kepalanya, berjalan selangkah demi selangkah seraya melewati tubuh pria itu sembari berkata dalam nada suara yang lirih, "kita akan buktikan ucapanmu segera, Raja Jagak."


Pria itu masih berdiri, wajahnya menunjukkan sedikit ketakutan. Namun ia berusaha untuk tidak tergoda oleh kata-kata dari seorang Ratu Asih.


Raja Jagak masih berusaha menunjukkan wajah seyakin mungkin. Dia bahkan mengatakan bila sumpah yang pernah dia ucapkan tak pernah berubah. Keluarga Jagak masih memegang kuat keyakinannya pada keluarga nusantara.

__ADS_1


Namun ada sesuatu yang juga pria itu tagih, bahwa bila ternyata dugaan Ratu Asih salah tentang Kerajaan Gagak, maka sebagai gantinya, Ratu Asih akan merasakan siksa yang teramat menyakitkan sebagai balasan perlakuan kepada dirinya.


Ratu Asih menoleh pada penasihat kerajaan, orang yang paling dia percaya di Kerajaan Boa. Wanita yang memakai kebaya putih dengan balutan kain dari bahan kulit ular saudaranya yang telah tiada itu tersenyum.


Ia mengambil kain putih itu, meletakkannya di atas kursi kayu, lalu mengeluarkan isi di dalamnya. Saat itulah Raja Jagak tertuju melihat apa yang ada di atas kursi tersebut. Janin seukuran kepalan manusia yang masih berwarna merah darah dengan ari-ari panjang tergeletak berlumuran darah.


"Sialan! Kau mengambil anakku!" pekik Raja Jagak tak dapat menahan kemarahannya lagi.


Pria itu berniat menyerang Ratu Asih, tetapi sejenak terhenti ketika melihat wanita itu sudah melepaskan tusuk kondenya.


"Kau masih mau menyangkal bukan kalau kau menculik cucuku setelah kau membunuh putriku dan suaminya?!" Ratu Asih balas membentak.


Raja Jagak hanya terdiam. Menatap tak percaya.


"Kita lihat siapa yang bersalah di antara kita, Jagak! Apakah benar kabar dari burung-burung kecil yang aku dengar bahwa Kerajaan Jagak sedang mengumpulkan bala pasukan untuk membelot? Apakah benar bahwa pasukan dari Kerajaan Jagak yang membunuh keluargaku? Bila benar, maka kau akan memuntahkan darah sebelum tubuhmu bercerai berai di bawah kakiku," ucapnya.


"Hmmm, baiklah jika kau menantang aku. Dengarkan, Jagak … bila aku salah, maka aku akan mengorbankan kepalaku untuk keluargamu. Aku akan pastikan dengan mulutku sendiri, bahwa kau akan menjadi pemimpin yang baru menggantikan pemimpin nusantara!" serunya.


Setelah mengatakan hal itu, petir terdengar menggelegar di tengah cuaca panas yang terik. Jaya sampai terkejut dan menunduk bersamaan dengan Burhan. Angin berembus kencang sampai menerpa dan membuat Jaya dan Burhan sampai memicing kelilipan debu.


Lalu, hal tak terduga terjadi. Tiba-tiba saja, Ratu Asih memuntahkan darah dari dalam mulutnya. Ia terduduk di atas lantai dengan rambut tergerai. Napasnya kembang kempis dan mulai sesak.


Melihat hal itu, Raja Jagak lantas tertawa. la menunjukkan kesombongan seperti biasa. Ia yakin kalau dirinya memang tak bersalah dalam tuduhan yang Ratu Asih tunjukkan kepada kerajaannya.


Raja Jagak tentu saja sangat yakin kalau ia tak bersalah. Sesungguhnya yang menghabisi nyawa putri dan menantunya adalah Panji atas suruhan Mbah Karso. Namun, cucu perempuan dari Ratu Asih memang berada di dalam sebuah cermin di sebuah rumah yang berada di atas bukit Pulau Gagak.


"Aku benar, dan kau salah. Aku tak pernah menghabisi nyawa kekuargamu, Ratu Asih. Oh tidak tidak, apa perlu aku cukup memanggil mu Nyi Asih saja mulai sekarang?" Raja Jagak yang sombong terdengar menantang seraya berkacak pinggang.


"Hmmm, ini belum berakhir. Ada kebohongan yang masih kau sembunyikan dariku, Jagak!" seru Ratu Asih.

__ADS_1


Mendadak kemudian, Raja Jagak melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Ratu Asih tadi justru ia alami. Ratu Asih tampak menyeringai menatap dirinya. Tak lama kemudian, Jagak merasakan gejolak yang sama sebelum akhirnya la menyemburkan darah berwana merah pekat, lebih kental dari darah yang keluar dari dalam mulut sang ratu tadi.


Tak lama kemudian, tubuhnya kesakitan dan merasa kepanasan. Tepat di hadapan Ratu Asih dan pengawalnya, mereka melihat semua bagian tubuh Raja Jagak mulai hancur. Dan kemudian ia tewas seketika.


Mbah Samin segera membantu Ratu Asih berdiri.


"Aku memang bersalah karena merebut paksa janin putrinya. Tapi, aku tak pernah berbohong," ucap Ratu Asih ketika Jaya dan Burhan mendekat dengan tatapan ngeri melihat kondisi tubuh Raja Jagak.


Apa yang dikatakan Eyang Setyo rupanya benar. Kerajaan Boa memiliki ilmu hitam yang sangat kuat dan jangan pernah berani main-main menantang keluarga kerajaan tersebut.


Sang ratu lantas berujar pada Jaya, bahwa alasan kenapa dia memuntahkan darah yang sama adalah penebusan dosa atas hilangnya nyawa janin dari keturunan Raja Jagak. Namun, sang ratu juga memuntahkan darah persekutuan Kerajaan Jagak dan Kerajaan Boa dari dalam tubuhnya.


"Aku rasa, aku tak perlu memberi peringatan lagi pada Raja Meraki, Raja Garuda, dan juga Raja Merak. Apalagi Raja Gagak selanjutnya. Pembantaian akan segera terjadi untuk semua yang menantang dan menginginkan perpecahan nusantara," ucapnya.


"Aku mengerti dan aku sangat berterima kasih atas aturan yang kau buat itu demi persatuan kerajaan di nusantara," kata Jaya menanggapi.


"Tapi, ada satu permintaan yang ingin aku minta sebagai awal mula persekutuan kerajaan kita," ucap Ratu Asih.


"Jika aku bisa membantu, maka aku akan memberikan bantuannya," sahut Jaya.


"Maukah kau mengizinkan aku meminta bantuan pada istrimu?" tanyanya.


Jaya terbelalak tak percaya menatap wajah wanita paruh baya di hadapannya itu.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2