
Bab 51 DPT
“Ma-maaf, Pak Kades … Bapak kan barusan mati, ya?" tanya Bayu dengan bibir bergetar.
Hantu Pak Kades mengangguk.
"Duh, pake ngangguk lagi." Kedua kaki Bayu mendadak lemas seolah tak bisa menopang lagi bobot 75 kg miliknya.
Pak Kades menunjuk senter di sela ventilasi belakang rumahnya.
“Oh, itu senternya ya, Pak. Ta-tapi, dengkul saya lemes, Pak." Bayu tak berani lagi menatap wajah Pak Kades.
“Bay, kamu cari perkara aja, sih! Ngapain itu hantu kamu ikutin?" Jaya mendekat pada Bayu tetapi tak jua berani melihat ke arah Pak Kades.
Bayu langsung menelan berat saliva di tenggorokannya lalu berkata, "Kan, tadi mau pinjem senter.".
Sosok hantu Pak Kades sudah menatapnya dengan datar. Wajah sosok itu berubah menjadi agak gosong, bahkan kulit pipinya mengelupas dan hampir jatuh.
“Duh, maafin saya, Pak. Saya emang kurang ajar sampai lupa kalau bapak udah nggak ada. Jangan ngeliatin kayak gitu, Pak, sereeeem!" Bayu menempelkan lagi kulit pipi Pak Kades yang hampir lepas.
"Duh, mbok ya jangan gerak-gerak, Pak!" tukas Bayu.
Bayu masih berusaha menekan kulit pipi Pak Kades yang hampir jatuh tetapi dia tetap tak berhasil.
“Nggak berhasil, Pak, gimana dong Pangeran?" Bayu menoleh pada Jaya.
"Coba tanya dia mau ditempel pakai lem, nggak?” tanya Jaya seraya menahan takutnya.
Sosok hantu Pak Kades menganggukkan kepala.
“Whuaaa, dia pake ngangguk lagi, Pangeran! Duh, mau lem apa, Pak? Lem karbol apa lem UHU, Pak?”
Sosok Pak Kades malah tertawa sampai kulit pipinya terlepas semua.
"Huuuuuuuuaaaaaaa!" Bayu dan Jaya berteriak seraya berpelukan.
"Tolong saya…." Suara Pak Kades terdengar parau.
“Iya, pak, nanti saya tolongin cari lemnya, tapi jangan gangguin saya ya, Pak,” pinta Bayu yang hampis menangis ketakutan.
“Tolong selamatkan para bayi di wilayah ini. Dan cegah kejahatan Mbah Misan yang hendak menduduki tahta kerajaan. Dia akan membunuh raja," ucap Pak Kades.
Rupanya saat pertunjukkan wayang akan digelar, Pak Kades mendengar rencana Mbah Misan dan Retno untuk menghabisi raja lebih cepat. Namun, saat Pak Kades hendak kabur, Retno melihatnya. Pantas saja Pak Kades tak terlihat saat pertunjukkan wayang. Ia bersembunyi dari Mbah Misan. Dan barusan sebelum kematiannya, ia hendak kabur menyusup ke istana untuk mengadu pada sang raja
Jaya mengambil senter yang ditunjuk Pak Kades tadi. Kemampuannya sudah lebih baik untuk menyentuh benda manusia. Tiba-tiba, Ana menepuk bahu Jaya. Sebenarnya wanita itu tak bermaksud mengejutkan, tetapi Jaya sudah keburu kaget dan mengarahkan senter pada wajah Ana. Keduanya lantas saling berteriak.
"Pocoooooong!" pekik Ana.
"Kuntilanaaaaaaaak!" seru Jaya.
“Heh, ini pada kenapa, sih?” Risa menepuk kedua telapak tangannya agar Jaya dan Ana menghentikan teriakannya.
__ADS_1
"Ya ampun, aku lupa kalau punya suami pocong! Lagian kamu ngapain di sini, Sayang?" tanya Ana yang akhirnya sadar kalau pocong itu suaminya.
"Aku nemenin Bayu mau minjem senter terus cari kalian. Taunya ketemu hantunya Pak Kades," sahut Jaya menunjuk ke arah Bayu dan Pak Kades yang saling berhadapan. Sesekali Bayu menganggukkan kepala seolah mengerti.
Setelah itu, sosok hantu Pak Kades menghilang setelah memeluk Bayu yang tubuhnya masih gemetaran.
"Bay, kamu nggak apa-apa?" Risa menepuk bahu Bayu.
"Wuaaaaaaaa!" Bayu berteriak seraya mengeluarkan air seninya yang mengalir sampai ke Risa.
"Apaan nih, kok anget?" gumam Risa.
Jaya mengarahkan senter ke arah kaki Bayu. Sontak saja mereka mengatakan "iyuuuuhhh, Bayu jorok!"
Terdengar suara hantu kuntilanak tertawa cekikikan dengan puasnya.
“Na, itu kunti ngapain ikut Kamu ke sini?” bisik Jaya.
“Oh, justru dia saksi kunci kita. Dia itu istri pertama Mbah Misan. Dia tahu semua seluk beluk kekuatan Mbah Misan. Jadi, kita bisa minta tolong dia buat cari kelemahan suaminya itu," ucap Ana.
"Dia mati dibunuh suaminya?" tanya Jaya.
"Bukan, dia mati karena Mbak Retno," sahut Ana.
“Tadi aku denger hantu kuntinya ada banyak yang ketawa, kok sekarang cuma satu?” tanya Bayu.
“Lah emang cuma satu dia ini kuntilanaknya. Tapi, tadi dia nyangkut terus kebalik, terus cerita macam-macam. Ya udah deh aku sama Ana langsung ngakak,” sahut Risa.
“Sembarangan!” Risa menepuk bahu Bayu sampai terasa perih dan panas. Pemuda itu lantas mengusapnya.
“Ayo, kita pulang dulu terus memantau Mbak Retno," ucap Ana.
"Sebaiknya kalian segera pergi dari penginapan itu. Aku sarankan agar kalian segera ke istana karena nyawa raja dalam bahaya," ucap Ratmi.
"Dia benar, tadi Pak Kades juga bilang kalau Mbah Misan akan segera menghabisi nyawa paduka raja," sahut Bayu.
"Ya udah kalau gitu tunggu apa lagi? Ayo!" ajak Ana.
***
Di penginapan setelah merapikan semua barang dan bersiap pergi, Retno tampak datang menghadang bersama Mbok Darmi.
"Kalian yakin mau pergi sekarang? Memangnya penelitiannya sudah selesai?" tanyanya.
"Sudah, Mbak. Mau cari referensi yang lain lagi," sahut Ana.
"Malam-malam begini perginya?" tanyanya lagi.
"Iya, kita mau ke wilayah kerajaan yang lain," ucap Ana.
Risa dan Bayu hanya mengangguk dan tersenyum. Sementara itu, Jaya dan Ratmi bersembunyi di dalam mobil.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, saya tidak bisa memaksa. Terima kasih atas kunjungan kalian, ya." Mbak Retno lantas meminta Mbok Darmi untuk mengantar Ana dan yang lainnya ke dalam mobil.
"Hmmm, mana mungkin aku melepas bayi seharum ini. Meskipun kandunganmu belum terlihat, tapi aku yakin ada bayi yang lezat yang terkandung di dalam sana," lirih Retno seraya tersenyum menyeringai menatap kepergian Ana.
...***...
Setelah memilih berkemah, Ana melanjutkan perjalanannya ke istana Merak di pagi hari. Saat itu pukul setengah enam, Bayu hampir saja menabrak seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun. Ia tengah berlari ketakutan.
"Hai, kamu kenapa?" tanya Ana hati-hati.
"Paman, Paman Roso, dia mati!" tunjuknya ke arah hutan.
"Paman Roso?" Ana mengernyit.
"Dia pengasuhku. Kami mau melihat matahari terbit, tetapi Paman Roso dipanah," akunya.
"Namamu siapa? Dan dari mana asalmu, Nak?" tanya Ana.
"Namaku Pangeran Rama, anak dari Raja Merakin," ucapnya.
Ana menoleh pada Risa.
"Dia benar anaknya Raja Merak. Aku rasa nyawanya dalam bahaya," ucap Ratmi dari dalam mobil.
"Kita kembalikan dia ke istana sekalian kita mau ketemu Raja Merakin," ucap Risa.
Ana mengangguk. Mereka bergegas menuju ke istana dengan dalih mengantar Rama pulang.
Seorang wanita paras ayu menyambut kedatangan Ana. Dialah Ratu Seroja, ibu dari Rama. Setelah mendengar penuturan Rama, dia mengirimkan beberapa pengawal untuk menyusuri hutan mencari Roso, pengaruhnya Rama.
"Aku harus hubungi Mbah Misan," ucap Ratu Seroja.
Ana menahan tangan wanita itu.
"Sebaiknya jangan hubungi dia!" pinta Ana.
"Dia adalah kaki tangan sang raja, dia yang akan mengatur jalannya pemerintahan saat suamiku sakit," ucap sang ratu.
"Bagaimana jika dia musuh dalam selimut di kerajaan Anda?"
Ucapan Ana membuat Ratu Seroja menatap tak percaya.
"Yang Mulia Ratu, ini keajaiban. Paduka Raja tersadar dan memaksa untuk bangun," ucap salah satu abdi dalam menemui sang ratu.
"Yeaayy, ayahandaku sembuh!" Rama langsung berlari menemui ayahnya.
Begitu juga dengan Ratu Seroja yang masuk ke dalam kamar sang raja.
...*******...
Bersambung dulu, ya.
__ADS_1
See you next chapter.