Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bah 28 - Misteri Tumbal Klinik


__ADS_3

Bab 28 DPT


"Malam itu, aku ingin melahirkan," ucap Jumirah menceritakan kisah pilunya.


Jumirah bertemu dengan istri dari Patih Gundul, ibu tirinya Laras. Dia bilang ada dokter baru yang bagus menangani persalinan di klinik tersebut. Suaminya yang bernama Parto akhirnya mengiyakan untuk mengikuti tawaran Ibu Dewi. Apalagi perempuan itu memberikan penawaran persalinan gratis pada dirinya.


Layaknya seorang suami yang siaga, Parto akhirnya membawa istrinya ke klinik Ibu dan Anak Bahagia itu untuk menjalani persalinan pada malam hari. Kondisi Jumirah juga sudah payah. Air ketuban telah mengalir seiring dengan rasa sakit yang wanita itu rasakan.


Sesampainya di rumah sakit, sang suami tak mencurigai apapun karena mereka disambut oleh suster-suster yang saat itu sedang bertugas. Dua orang suster itu sangat ramah dan langsung membawa Jumirah ke ruang bersalin. Parto diminta untuk menunggu di ruang tunggu pasien.


Saat itu, Jumirah dibawa ke salah satu ruangan untuk menjalani persalinan. Dokter Tommy datang bersama para suster tadi. Jumirah sempat mengamati pada peristiwa persalinannya ada seorang dokter yang didampingi oleh dua orang suster.


Parto tampak mondar-mandir karena gelisah menunggu persalinan istrinya. Selang satu jam kemudian setelah lama berselang, akhirnya persalinan itu pun berjalan sukses dan lancar. Terdengar suara tangisan bayi yang langsung disambut ucapan syukur oleh Parto.


Pria itu langsung memeluk istrinya. Namun, Parto terlupa membawa tas berisi perlengkapan untuk bayi. Sehingga malam itu ia akan pulang mengambil perlengkapan juga baju ganti untuknya.


Setelah berpamitan dengan Jumirah saat hendak pulang untuk membawa sejumlah perlengkapan, sang suami pun langsung menuju halaman parkir klinik. Ia memarkirkan sepeda motornya di sana. Tak ada lagi mobil Ibu Dewi yang tadi sempat mengantarkan istrinya ke klinik.


Namun anehnya, selama berjalan di lorong klinik tepatnya di gedung baru yang akan dijadikan rumah sakit, Parto merasa keanehan yang ia rasakan. Setiap orang yang dia lintasi hanya berdiam diri tanpa adanya sepatah kata apapun dari orang-orang tersebut.


Melihat kejadian itu, Parto mencoba untuk tak merasa curiga terhadap orang-orang yang dilihatnya selama berjalan dilorong bangunan baru rumah sakit tersebut. Bahkan ia sempat mengamati sekeliling bangunan karena terlihat pembangunan yang cepat untuk pembuatan rumah sakit tersebut.


Parto mencoba menyapa salah satu pengunjung yang duduk menunduk. Namun, tak ada respon dan jawaban dari sapaannya. Mungkin pria itu tengah tertidur dengan menunduk. Jam juga menunjukkan pukul dua dini hari. Parto lantas bergegas pulang menuju parkiran.


Akan tetapi, keanehan yang benar-benar ia rasakan terjadi. Saat menaiki parkir motor menuju pos satpam, tak ada siapa pun di sana. Bahkan pengunjung yang tadi ia sapa juga tak ada. Parto malah dibuat kaget kala pria yang ia lihat tadi tiba-tiba muncul mengejutkannya.


"Pergi dari sini! Pergi dari sini!" Pria itu berseru ke arah Parto.


Bahkan ia memperlihatkan luka sayatan di lehernya yang mengucurkan darah segar. Parto sontak saja berteriak ketakutan. Ia meninggalkan sepeda motornya di parkiran. Anehnya pula, tidak ada satu pun kendaraan yang terparkir di halaman rumah sakit padahal saat dia datang sempat ia lihat beberapa kendaraan terparkir di sana.

__ADS_1


Parto mulai kalut dan takut. Dirinya mulai merasakan keanehan dan langsung saja dia menuju ke dalam klinik langsung ke ruangan istrinya yang sudah melahirkan tadi. Parto bergegas dengan berlari. Akan tetapi, lagi-lagi ia dibuat terkejut setengah mati. Setelah sampai di ruangan istrinya yang melahirkan tadi, Parto dibuat kaget karena sang istri tidak ada dan situasi sekitar terlihat sepi.


Sontak saja Parto berteriak memanggil nama Jumirah. Dia juga mencari para suster atau siapa pun yang bisa ia temui di klinik tersebut. Dan lagi-lagi tak ada jawaban sampai seseorang memukul punggung Parto sampai membuatnya tak sadarkan diri kemudian.


Sementara itu, Jumirah tengah sekarang setelah mengalami perdarahan hebat dan dibiarkan begitu saja. Jumirah tahu kalau bayinya diculik untuk dijual ke orang lain. Ada suami istri yang kaya raya menunggu sang bayi di luar klinik.


Jumirah berusaha mengejar untuk merebut bayinya kembali. Namun, dua suster tadi memegangnya dengan kencang lalu dibenturkan wajah Jumirah ke dinding. Selepas persalinan, tidak ada jahitan yang dilakukan pada Jumirah sehingga ia mengalami pendarahan dengan hebat. Tubuh Jumirah dibiarkan begitu saja meregang nyawa lalu dikubur di halaman belakang.


"Jadi, begitu cara kamu meninggal. Lalu, bagaimana keadaan suami kamu sekarang?" tanya Ana.


"Saya pernah lihat dia membawa warga untuk membakar klinik ini," ucap Jumirah.


Wanita itu benar, karena Parto memang ditemukan masih hidup. Dia menuntut balas untuk mencari istrinya dan juga bayinya. Namun, tak pernah ia temukan. Sampai ia mengumpulkan beberapa warga yang mengalami hal serupa atau keluarganya meninggal karena malpraktik. Mereka menuntut balas. Sayangnya Parto dan yang lainnya gelap mata sehingga membakar klinik tersebut. Mereka akhirnya diamankan oleh pihak berwajib karena ditemukan korban kebakaran yang tewas saat peristiwa itu terjadi.


"Lalu? Apa dia tau Mbak Jum ada di sini?" tanya Ana lagi.


Jumirah kembali mengeluarkan air mata darah sampai Ana dan Jaya bergegas menghindar.


"Hmmm, ini artinya klinik ini beroperasi ilegal dengan menjual bayi. Dan Ibu Dewi yang bertanggungjawab melakukan tindakan tersebut," ucap Jaya.


"Apa ini yang dimaksud Laras? Dia mau memberitahukan sama aku soal kelakuan ibu tirinya?" gumam Ana.


"Lalu, sekarang kita harus bagaimana? Kita harus keluar dari sini sebelum kamu kenapa-kenapa, Na," ucap Jaya.


"Tapi, kandungan aku masih muda. Masa bayi aku mau dijual?" Ana menoleh pada Jaya.


"Mereka juga jual anak bayi hasil aborsi. Memangnya kamu nggak tahu, ya? Bayi muda itu dibuat sup tau," ucap Jumirah.


"Hah? Sup bayi?! Ini gila!" pekik Ana.

__ADS_1


Risa mengeluarkan kepalanya menengok Ana.


"Kamu bilang sup bayi, Na?" tanya Risa.


Ana lantas menceritakan pembicaraannya dengan Jumirah barusan.


"Oh iya, aku pernah dengar sekitar beberapa tahun lalu. Dunia digemparkan dengan sebuah fakta mengerikan, ada restoran di suatu daerah yang secara terang-terangan menjual sup janin," ucap Risa.


"Ya ampun, astaga! Mereka buat sup dengan bahan baku dari janin manusia, begitu? Mereka sesat apa, ya?" tanya Jaya.


"Mereka sesat ya, Sa? Masa makan bayi?" Ana mengulang pertanyaan Jaya pada Risa.


"Aku pernah baca beritanya. Katanya sup itu sup herbal janin manusia yang disajikan dan menyebutkan khasiat sup itu disinyalir dapar meningkatkan kesehatan dan kemampuan seksual seorang pria," tukas Risa menjelaskan masih dengan posisi telungkup di kolong ranjang.


Jumirah mengangguk mengiyakan.


"Ini gila! Ini benar-benar gila! Jadi, dokter dan suster itu bersama Ibu Dewi masih melakukan praktek ilegal yang sesat ini?" tanya Ana.


"Tempat ini sudah tidak digunakan lagi. Tapi setiap tahun ada saja korban seperti kamu yang tersesat sampai ke sini lalu mati. Dokter dan suster itu bukan manusia lagi," ucap Jumirah.


"Hah? Aku pikir mereka masih manusia dan masih melakukan praktek ilegal," ucap Ana.


Jumirah menggeleng lalu berkata, "ada manusia yang mengendalikan para arwah mereka untuk tetap mencari tumbal. Setiap tahun sekali akan ada yang mati dan darah harus ditumpahkan di sini."


Ana dan Jaya saling bertatapan menyiratkan kengerian mendengarkan penuturan Jumirah barusan.


...*****...


...Bersambung dulu, ya....

__ADS_1


__ADS_2