Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 46 - Petunjuk Baru


__ADS_3

Bab 46 DPT


"Hahaha, kalian memang abdi-abdiku yang terbaik. Nyawa yang kalian bawa sangat lezat. Bayi itu sangat pantas untuk menggantikan putra kalian," ucap sosok iblis wanita bernama Nyai Wit.


Sosok anak laki-laki muncul tak jauh di belakang Nyai Wit. Pak Broto dan istrinya langsung tersenyum senang.


"Betul, Nyai. Kami selalu membawakan yang terbaik untuk Nyai." Pak Broto menghaturkan sembahnya.


Ana tampak linglung dan memperhatikan sekitarnya.


"Kalian bilang bayi? Mana bayinya?" tanya Ana dengan bodohnya.


Bu Broto menoleh ke pada Ana dengan senyum menyeringai.


"Kamu atau aku yang kerjakan, Pak?" bisik Bu Broto.


"Mari bersama mengerjakannya," sahut suaminya.


Kedua suami istri itu bangkit. Entah dari mana datangnya yang jelas Ana melihat Pak Broto memegang senjata tajam berupa pisau. Sepasang suami istri itu menyeringai ketika langkahnya semakin dekat menuju Ana.


"Sial! Kalian pasti ingin anakku, ya? Padahal dia belum lahir kenapa kalian tega menumbalkannya?" pekik Ana seraya melangkah mundur.


"Putraku memilihmu, Neng. Dia yang ingin digantikan oleh putramu itu. Jadi, putra diganti putra, bukan begitu, Pak?" Bu Broto tampak senang saat menoleh ke arah suaminya yang mengangguk.


"Sialan! Aku tak akan biarkan hal itu terjadi." Ana menjulurkan obor di tangannya ke arah suami istri tersebut.


Dalam hati ia memikirkan Jaya. Ia ingin Jaya datang dan menolongnya. Tapi, bagaimana bisa karena hal ini terjadi di alam mimpinya.


"Minggir kalian! Atau kalian aku bakar!" ancam Ana.


"Hahaha, kau tak akan bisa berbuat apa-apa di alam sini, Neng. Kau dalam pengaruh Nyai Wit, karena dia yang membawamu masuk ke sini mengikuti kami," ucapnya.


"Hentikan, Broto! Hentikan ketamakanmu ini!" Suara Pak Kades terdengar dari kejauhan.


Ana menoleh dan melihat Kepala Desa yang mendadak muncul bersama Jaya. Ya, sang suami yang dia nantikan muncul di alam mimpinya. Tapi, bagaimana bisa? Ana langsung memeluk Jaya menjatuhkan obornya.

__ADS_1


"Bagaimana dia bisa ke alam sini, Pak?" tanya Bu Broto tak mengerti.


"Ilmu kanuragan yang dia miliki pastinya cukup mumpuni, Bu," sahut Pak Broto.


"Hmmmm, kalian urus mereka dulu! Jika sudah selesai, baru kau kembali mencariku," ucap Nyai Wit yang memilih mundur seraya menyembunyikan putra Pak Broto.


"Tidak, Nyai! Tunggu dulu! Berikan putraku dulu, aku yakin akan mengalahkan mereka dan menyerahkan anak itu ke padamu," ucap Pak Broto bersikeras.


Namun, Nyai Wit sudah menghilang di dalam kepulan asap tebal.


Pak Broto semakin meradang dan menantang kepala desa untuk berduel.


"Kau yang seharusnya minggir, Kasno! Aku sudah sangat menghormatimu sebagai kepala desa. Eh, calon mantan kepala desa. Tapi, jika kau terus mencampuri urusanku ini, maka aku tak segan-segan menghabisimu di alam sini," ucapnya penuh ancaman.


"Jika kalian memaksa, maka kalian yang rugi. Mbah Sarni sudah bersiap membakar tubuh kalian jika aku tak kembali dalam waktu setengah jam," ucap Pak Kades.


Kini, kepala desa itu balik mengancam. Raut wajah Bu Broto tampak pias. Ia mulai ketakutan. Jaya menjelaskan pada Ana ketika Pak Kades menyusul mobil Bayu. Dia bilang Ana dalam bahaya karena Mbah Sarni melihat Pak Broto dan istrinya melakukan persiapan ritual.


Benar saja ketika Mbah Sarni membawa Pak Kades masuk ke rumah Pak Broto, sepasang suami istri itu sedang terbaring tetapi hanya raganya saja. Sementara arwah mereka terlepas menuju ke alam gaib. Di sebuah kemenyan tampak foto Ana yang diambil secara diam-diam oleh Pak Broto. Untuk itulah mereka tahu kalau Ana sedang diincar.


Pertarungan sengit terjadi, Jaya meminta Ana mundur sementara ia akan melawan Bu Broto. Sementara Pak Kades melawan Pak Broto. Untungnya Bu Broto tampak ketakutan juga ketika dirinya dikejar-kejar oleh sosok pocong.


Jaya yang penuh amarah tak lagi menampilkan wajah tampannya, melainkan ia menampilkan wajah merah saat mengejar Bu Broto. Ana yang tadinya cemas malah tertawa melihat adegan suaminya mengejar wanita paruh baya itu seraya mengaum.


"Wuaaaa, akan aku makan kau!" seru Jaya seraya mengejar Bu Broto.


"Jangan! Jangan makan aku! Pergi! Pergi!" Bu Broyo berteriak-teriak menghindar.


Ana sampai menahan sakit perut karena tertawa dengan serunya. Akhirnya, Pak Kades berhasil mengalahkan Pak Broto. Mereka kembali ke alam nyata, tepatnya di dalam rumah Pak Broto.


"Ana!" Risa langsung memeluk Ana yang siuman.


"Sa, aku haus," ucap Ana.


Mbah Sarni untungnya sudah menyiapkan teh herbal untuk Ana. Dia juga sudah menyiapkan untuk Pak Broto dan istrinya agar segera pulih. Meskipun suami istri itu kini sudah dibenci warga, tetapi Mbah Sarni masih ingin berbuat baik kepada mereka.

__ADS_1


Pak Kades yang siuman langsung menghela napas dalam dan menatap lekat pada suami istri tamak itu. Lalu, dia pun buka suara.


“Maafkan saya, Pak Broto, Bu Broto. Sekali lagi maafkan saya karena tidak bisa menyelamatkan putra kalian,” kata Pak Broto dengan berat hati.


“Tidak, itu tidak benar! Kau sudah membawa kami pergi sejauh ini. Kau yang membuat putraku tidak selamat. Dasar bedebah!" Pak Broto ingin memukul si kepala desa tetapi Bayu segera mendorong pria itu sampai tersungkur.


"Eling, Pak. Mohon ampun sama Gusti Allah!" seru Bayu.


Pak Broto bangkit dan malah mencengkeram kerah pakaian milik Bayu. Kepala desa langsung meraih tangan Pak Broto dan sekali lagi meminta maaf. Ia hanya bisa menunduk dan terlihat sangat menyesal.


"Sudah, Pak… aku capek begini terus, " ucap Bu Broto.


Kedua suami istri itu lalu berpelukan dengan suara isak tangis mulai terdengar dan bersahutan.


“Sebaiknya kalian menyiapkan upacara pemakaman putra kalian. Besok pasti jasadnya sudah ditemukan," lirih Pak Kades.


Meskipun pada akhirnya Bu Broto masih tak percaya dengan menjerit dan menangis sampai tak sadarkan diri di pelukan suaminya, toh akhirnya dia sadar kalau anaknya tak mungkin kembali. Keharuan itu membuat Ana dan Risa meneteskan air mata. Mereka melihat kesedihan yang mendalam di diri Bu Broto. Kasih sayang yang teramat sayang terhadap putranya dari sepasang suami istrinya tersebut.


Pak Kepala Desa lantas mengantar Ana, Risa, dan Bayu menuju ke mobilnya. Ana sangat berterima kasih atas pertolongan beliau dan juga bantuan Mbah Sarni.


"Kalian ada perlu apa ya ke Kerajaan Merak kalau saya boleh tahu?" tanyanya.


Ana terpaksa berbohong dan mengaku kalau dia akan membuka usaha menjadi penjahit di sana bersama Risa dan Bayu.


"Saya dengar kalau Ratu Melati dari Kerajaan Garuda sering pergi ke Merak untuk membeli pakaian di sana. Jadi, saya ingin melihat selera pakaian seperti apa yang Ratu Melati sukai. Karena beliau merupakan Ratu favorit saya di pulau ini," ucap Ana memberi alasan palsu.


"Ratu Melati membeli pakaian? Setahu saya dia itu bekas murid Datuk Misan, dukun sakti yang terkenal dari Kerajaan Merak," ucap Pak Kades.


"Dukun Sakti? Berarti dia bisa ilmu santet atau membuat ramuan ramuan, begitu?" tanya Ana lagi.


"Tentu saja, Mbak Ana." Kepala Desa itu tersenyum.


Ana melihat ke arah Risa. Hanya dengan bertatapan saja, keduanya pasti tahu sama lain apa yang mereka pikirkan kala itu. Jaya tampak duduk termenung di dalam mobil memikirkan perkataan kepala desa. Dia duduk di samping Bayu yang terus bergeser. Bayu merasa agak takut karena wajah Jaya masih berwarna merah.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya…...


__ADS_2