
Bab 74 DPT
"Diminum dulu kopinya, Nak Juna." Bu Sri datang seraya membawakan dua cangkir kopi.
"Terima kasih, Bu," sahut Juna.
"Loh, temennya mana? Biasanya berdua?" tanya Bu Sri.
"Lagi benerin mobil di depan sana, Bu. Saya minum ya kopinya," ucap Juna.
Dengan usilnya, Jaya mendorong kepala belakang Juna sampai bibirnya kepanasan saat sedang ingin menyeruput kopi panas tersebut. Juna lantas mengaduh. Ana segera mengambilkan tisu. Ana juga memelototi Jaya.
"Hati-hati Nak Juna, maaf masih panas kopinya!" ucap Bu Sri.
"Iya, Bu. Tadi saya ngerasa ada yang–" Juna menoleh ke arah Ana seolah ia ingin bertanya apakah ada hantu yang iseng dengannya barusan.
Ana hanya tersenyum kikuk dan menggeleng. Ia tahu maksud tatapan Juna barusan.
"Nak Juna, kapan anak saya bisa pulang? Saya mau hubungi tukang gali kubur buat siapin makam Lela. Jadi, kapan ya di pulang?" tanya Bu Sri.
"Kemungkinan hari ini, Bu. Ya, paling lambat sepertinya sore ini, Bu, " jawab Juna.
"Syukurlah, kalau begitu saya hubungi pihak pemakaman kampung dulu, ya." Bu Sri lantas pamit ke dalam dan meminta Leli untuk menghubungi para penggalian kubur.
Lela, Risa, dan Bayu tampak mengintip dari balik jendela. Mereka bertumpu pada kedua lutut di atas sofa saat menguping pembicaraan Ana dan Juna.
"Oh iya, aku boleh minta tolong sesuatu sama kamu?" tanya Juna.
"Minta tolong apa?" Ana terlihat lebih fokus menatap Juna meski Jaya sibuk menghalangi.
"Aku punya kasus yang tidak bisa terselesaikan. Di kampung sebelah, sudah ada tiga orang pemuda hilang, lalu seminggu kemudian ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di dekat hutan. Tapi, tubuhnya kurus dan kering. Ini sebenarnya sedang didalami sebagai pembunuhan berantai, tetapi banyak yang bilang kematian para pemuda ini nggak wajar," ucap Juna menjelaskan.
"Lalu? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Ana.
"Ummmm, ada yang bilang kalau kasus ini berhubungan dengan makhluk gaib. Kamu kan bisa lihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib. Jadi, apa kamu mau bantu aku?" tanya Juna seraya menunjukkan foto para korban dari layar ponselnya.
"Wah, bisa gawat ini, bisa nggak sampe sampe kita ke Bukit Emas," keluh Risa dan mencoba protes dengan keluar dari tempat persembunyiannya.
Bayu juga menyusul Risa dan mencoba melakukan hal yang sama.
"Na, ayo buruan ke Bukit Emas! Capek tau ngurusin perhantuan terus," keluh Risa.
"Tapi ini menarik, loh." Ana tersenyum seraya menunjukkan ponsel Juna.
"Na, kamu lagi hamil. Aku nggak mau kamu nanti kecapean," ucap Jaya.
"Juna cuma mau tahu ini perbuatan manusia apa makhluk gaib. Kali aja kita ketemu sama hantunya para korban terus kita bisa tanyain kenapa mereka bisa meninggal dan bagaimana mereka meninggal. Selanjutnya jadi kerjaan si Juna," ucap Ana.
Juna tampak menggangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Kalau ternyata ini kerjaan makhluk gaib kayak Iblis Rahwana, gimana?" tanya Risa.
"Yah, Juna harus cari orang pintar semacam dukun sakti atau ulama gitu buat usir makhluk gaibnya," ucap Ana.
Latar ponsel Juna mati. Saat Ana ingin melihat kembali foto korban, ia terperanjat karena background layar ponsel Juna saat terkunci adalah foto dirinya yang dijadikan profil sosial media. Padahal akun tersebut sudah anak non aktifkan.
"Kok, ini ada foto aku?" tanya Ana.
Jaya mendekat untuk memastikan foto tersebut. Ana tampak cantik berbalik dress tanpa lengan dengan panjang selutut warna merah muda. Rambut panjang bergelombang Ana sebagian menutup area dadanya yang menyembul terbelah dengan seksinya.
"Heheh, maaf ya. Aku suka banget foto kamu yang itu di sosial media kamu jadi aku screen shoot buat dijadiin wallpaper," Aku Juna.
Jaya sudah bersiap hendak mengambil ponsel Juna dan melemparnya ke dinding, tetapi Ana sudah mempertahankannya dan buru-buru menyerahkannya pada Juna.
Di kejauhan tampak rekannya Juna yang bernama Moko berlari. Wajahnya terlihat panik.
"Kamu kenapa, Ko?" tanya Juna.
"Anu, itu, Jun …."
"Anu itu kenapa?!" Juna bangkit seraya berkacak pinggang.
"Ada pocong, Jun! Aku takut …." Moko menunjuk dengan tangan gemetar.
"Pagi-pagi begini ada pocong? Terus kalau kamu di sini, mobil kita siapa yang jaga?" tanya Juna.
"Nggak tau ah, Jun! Aku takut tau. Di sini itu denger denger banyak hantu. Banyak juga penampakan di sini. Nah, itu pocong tadi genit banget!" Moko menunjuk pocong wanita yang mulai terlihat di kejauhan. Dia masih meliuk-liukan tubuhnya menggoda Moko.
"Penjahat masih bisa aku pukul, lah kalau pocong, hiiiiiii." Moko bergidik ngeri.
"Mas Moko bisa lihat si Ani rupanya. Heh, Mbak Ani nggak boleh gitu! Jangan ganjen jadi pocong! Masih pagi gini udah kelayapan," ucap Ana.
"Habisnya seru sih godain dia," ucap Ani.
"Jangan, Mbak. Nanti kalau dia shock ketakutan lebih repot lagi nanti. Aku mohon ya," pinta Ana.
"Hmmm… ya udah deh. Oh iya, apa polisi ini punya teman lainnya yang datang dengan mobil?" tanya pocong wanita itu.
"Maksud, Mbak Ani?" Ana sampai mengernyitkan dahi karena tak paham dengan arah pembicaraan pocong tersebut.
"Tadi ada sedan hitam berhenti di depan sana. Lalu, dia parkir di balik semak-semak itu. Aku pikir dia teman si polisi ini karena sempat jalan ke arah mobil polisi ini. Tapi dua orang itu lalu kembali ke mobilnya dan pergi," tukas si pocong.
"Dua orangnya cewek apa cowok?" tanya Jaya menimpali.
"Entahlah, mereka semua pakai jaket dan bertudung. Aku pergi dulu ya dahhh."
Ana lantas menceritakan perkataan Ani pada Juna dan Moko.
Sontak saja, kedua polisi itu langsung berlari untuk memeriksakan siapa para penguntit itu.
__ADS_1
"Hmmm … apa ada yang sedang mengikuti kita?" gumam Juna sesampainya di sekitar mobil.
"Entahlah, kita harus lebih waspada lagi, Jun," ucap Moko.
...***...
Setelah jenazah Lela dimakamkan, Ana dan yang lainnya pamit pada Bu Sri. Tangis haru dan kesedihan tercipta ketika Lela pamit pada keluarganya dan juga pada rombongan Ana.
Bahkan Bu Sri ingin sekali menemani dan membantu Ana saat melahirkan nanti. Namun, Ana harus pergi demi menjalankan misinya mencari Eyang Setyo.
Ana dan yang lainnya sampai di kampung sebelah, Desa Gabut. Risa dan Bayu sempat tertawa mendengarnya. Pandangan Ana tertuju pada seorang ibu dan anaknya yang terlihat kebingunga
"Ada apa, Sayang," ucap seorang ibu seraya menghampiri putrinya.
Suara wanita berusia tiga puluh lima tahun anak perempuan berusia tujuh tahun itu sedang melihat ke arah rumput. Ana sempat menyapa seraya berkeliling bersama Juna. Jaya mengikutinya dari belakang.
"Mama, lihat itu, Ma!"
Jari kecil anak perempuan tadi menunjuk ke rumput di sekitaran pagar.
"Ada apa sih, Nak?" tanyanya seraya mencari sesuatu yang dia maksud.
"Itu, Mah, ada ayam. Tapi, ayamnya mati," ujarnya lagi seraya menunjuk.
"Astagfirullah, kok ada ayam mati di situ. Pasti belum lama. Soalnya baunya belum kecium. Kalau udah lama pasti bau bangkai. Ayo Sayang, kita ke bapak dulu. Biar bapakmu yang menguburkannya. Mungkin tadi ketabrak mobil," ucap wanita itu seraya melirik mobil Ana.
"Bukan kita yang nabrak, Bu. Saya baru sampai loh di sini," ucap Ana.
"Kamu masuk dulu ya, Nak!" Ibu itu terlihat waspada ketika melihat Ana dan yang lainnya.
"Kita kubur ayam dulu, Ma. Kasihan kalau ayamnya nggak cepat-cepat dikubur. Ayamnya nanti nangis minta dikubur gimana, hayo?" tanya anak itu.
"Iya, nanti dikubur ayamnya."
Juna mendekat dan memperkenalkan diri sebagai polisi. Terlihat raut wajah ibu tadi lebih lega dibanding sebelumnya.
"Bapak polisi, kan? Bisa kubur ayam mati dulu, yuk!" pintanya.
"Kok, jadi saya yang ngubur?" tanya Juna.
"Nanti saya buatin kopi sama singkong goreng buat semuanya," ucap Ibu itu.
Jaya sampai tertawa puas mendengar permintaan wanita tadi.
Juna akhirnya memanggil Moko untuk membantunya mengubur ayam hitam tersebut.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...