
Bab 48 DPT
"Mbok Darmi, apa tahu mengenai kondisi Raja Merakin?" tanya Ana.
"Ummm, anu Non. Dilarang membicarakan perihal raja di sini. Kami hanya tahu kalau baginda raja sedang sakit. Denger denger dia hanya bisa tiduran. Ya, mati segan hidup tak mau. Eh, kok saya jadi ngomongin." Mbok Darmi buru-buru menyumpal mulutnya sendiri.
"Nggak apa kok, saya bisa jaga rahasia, Mbok." Ana mencoba merayu Mbok Darmi.
"Anu, Non… Mbok mau nyiapin makan untuk kalian, ya." Mbok Darmi langsung buru-buru pergi.
"Hmmmm, ada yang aneh. Sepertinya mereka menyembunyikan tentang Raja Merak yang lagi sakit," gumam Ana.
"Aku rasa juga gitu," sahut Risa seraya merebahkan diri di atas kasur empuk itu.
"Aku juga mau tidur, Sa. Capek banget aku ini, mana perut aku juga kenceng," ucap Ana.
"Ya udah sini tidur samping aku. Nanti pas kita bangun terus makan, terus nonton wayang," ucap Risa.
"Hmmm, boleh juga. Ya udah geseran!" Ana merebahkan diri di samping Risa. Keduanya lantas terlelap kemudian.
...***...
Malam itu tepat pukul tujuh, pertunjukan wayang kulit akan dihelat di depan rumah Pak Kades. Halaman rumah Pak Kades memang luas. Di sana kerap digunakan untuk kegiatan macam-macam. Bahkan kerap jug dipakai untuk pertandingan olahraga seperti main badminton atau bola voli oleh para pemuda desa.
Setelah makan malam, Ana, Risa, Bayu, dan Jaya berjalan menuju rumah Pak Kades karena jarak rumahnya hanya satu kilometer. Lagipula jika menggunakan mobil malah repot nanti mencari parkirannya, begitu menurut Bayu.
Saat sedang menyusuri jalan menuju ke tempat pertunjukkan wayang, Ana melihat sesuatu di kebun pisang sebelah kiri jalan yang mereka lintasi.
"Itu apa, ya?" tanya Ana.
"Jangan-jangan hantu. Udahlah jangan di deketin!" ucap Risa.
"Tapi kok, aku ngerasa liat Mbak Retno, ya?" gumam Ana.
Selalu saja rasa penasaran membuat Ana kehilangan akal sehat dan selalu ceroboh untuk memuaskan rasa penasarannya itu. Risa langsung mengikuti sementara Bayu masih bingung mau masuk ke dalam kebun atau tidak. Namun, Jaya menarik lengan Bayu.
__ADS_1
Rupanya saat Ana mendekat, ia sangat tersentak ketika sosok yang dia lihat seperti Mbak Retno tadi wujudnya berubah. Risa juga merasakan hal yang sama. Mereka lantas bersembunyi di balik pohon pisang.
Sosok wanita paruh baya yang seluruh kulitnya keriput itu bertubuh jangkung. Wanita tua renta itu kurus dan berkuku panjang yang kotor. Rambut putihnya kusut meski tak semua. Setengah rambut itu menutupi kulit kepala.
Sosok nenek menyeramkan itu juga berhidung panjang, bermata merah, dan memiliki gigi kehijauan yang terlihat jelas saat dia menyeringai. Sosok itu juga memiliki kulit berwarna hijau dan gigi tajam.
Ternyata yang lebih membuat Ana dan Risa tercengang kala dia sedang menyantap sosok bayi. Sosok itu terlihat menjijikkan bagai makhluk sadis yang menikmati jerit kesakitan para korbannya.
“Astagfirullah! I- itu, itu hantu apa, Na?” bisik Risa.
“Aku juga nggak tau, Sa. Tapi kalau dilihat-lihat, nenek lampir bukan. Nenek gayung juga bukan. Apalagi nenek kebayan juga bukan. Yang jelas dia itu hantu nenek peyot,” jawab Ana.
“Jangankan kita, Na, emak-emak barbar juga tau kalau nenek-nenek itu peyot!” sahut Risa mulai bersungut-sungut.
“Tapi, Sa, dia makan bayi gitu. Hidih amit-amit jabang babu," ucap Ana.
“Jabang bayi!” sahut Risa.
Seseorang wanita mendekati nenek tua itu. Sialnya, Ana dan Risa juga mengenali wanita yang menghampiri itu.
"Iya, Na. Aku yakin itu Mbok Darmi." Risa lantas meminta Bayu dan Jaya bersembunyi.
“Ndoro, maafkan keteledoran saya. Sebaiknya sekarang Anda berhati-hati. Ada wartawan yang datang ke sini dan mencari tahu tentang peristiwa bayi bayi yang menghilang. Tapi, Ndoro tenang saja, wartawan itu sudah dihabisi," ucap Mbok Darmi.
Sosok nenek mengerikan tadi melempar tulang belulang bayi itu ke sembarang arah. Dia lalu menatap Mbok Darmi lekat dan tersenyum menyeringai.
“Apa ada berita yang sudah dia dapatkan?” tanya sosok nenek itu yang perlahan-lahan telah berubah menjadi wanita cantik dengan paras yang mengejutkan Ana dan Risa.
Tentu saja paras cantik nan ayu milik Mbak Retno.
“Dia belum dapat apa-apa, Ndoro.” Mbok Darmi menunduk.
“Bodoh! Kau memang bodoh! Dia pasti sudah mendapatkan sesuatu!" Retno mulai marah.
“Tapi, Ndoro –”
__ADS_1
“Cari tahu lebih teliti. Dan cari tahu mengenai para mahasiswa yang baru menginap di rumahku itu," ucap Retno.
“Ba-ba-baik, Ndoro. Mari kita kembali!" ajak Mbok Darmi.
“Apa yang terjadi?” tanya Jaya masih tak mengerti.
Ana dan Risa lantas menceritakan kalau ada wartawan yang menguak dan hampir berhasil mengungkap kebenaran tentang hilangnya para bayi. Hanya saja ia tertangkap dan tewas oleh Mbok Darmi.
“Jadi, Mbak Retno merupakan iblis pemakan bayi?" tanya Jaya.
“Betul, jadi jangan sampai dia tahu kalau Ana sedang mengandung," ucap Risa.
Jaya mengangguk. Bayu tampak berseru ketika ada rombongan bapak yang menegurnya dan mengajaknya bergegas menonton wayang. Akhirnya Ana dan Risa menurut.
Selain bapak-bapak yang menonton, rupanya para ibu juga ada yang menonton. Anak-anak kecil tidak ketinggalan juga. Bahkan remaja-remaja ikut serta juga. Lampu neon menerangi halaman rumah Pak Kades yang dipadati banyak orang.
Ana duduk bersama Risa dan Bayu sementara Jaya berdiri mengamati para penonton. Mereka melihat Datuk Misan dan Mbak Retno duduk di kursi utama untuk pejabat. Tak ada istri yang lain karena sebenarnya sejak sang datuk menikahi Retno, satu persatu istrinya sakit misterius lalu meninggal. Kini hanya tinggal tiga yang tersisa dan masih berjuang. Bayu mendengar hal itu dari gosip penonton di sampingnya lalu dia ceritakan pada Ana dan Risa kembali.
Saat pertunjukan wayang telah mulai, tak semua fokus menyaksikan adegan. Beberapa malah sibuk sendiri-sendiri.
Ada yang mengobrol dengan teman sebelahnya. Ada yang terlihat berduan dengan kekasihnya. Toh memang setiap orang bebas melakukan apa pun.
Bagi mereka, yang penting berkumpul untuk menonton wayang merupakan hal yang seru. Sudah menjadi kebiasaan atau mungkin malu jika mereka tidak menampakkan wajah di rumah Pak Kades. Warga desa saling paham kalau ada hajatan harus datang. Jadi, seperti ada absensi bagi para warga jika acara hajatan seperti wayang kulit berlangsung.
Meskipun ada penerang lampu neon, cahayanya hanya mencakup halaman depan rumah Pak Kades. Sisi sebelah selatan rumah tersebut yang terpisah dari jalan desa tetap terlihat temaram minim pencahayaan. Di situ ada pohon durian yang dikelilingi pagar dedaunan.
Malam itu, Ana mengalami suasana berbeda. Bukan suara dalang yang dia dengar, tetapi ada suara lain. Dia juga menoleh ke arah Jaya dan merasakan hal yang sama. Suara yang seolah-olah menembang.
Begitu juga dengan Bayu. Ia merasa suara wayang di depannya dengan yang dia dengar berbeda. Hanya Risa yang masih tertawa puas melihat pertunjukkan di hadapannya.
...******...
Bersambung dulu, ya.
See you next!
__ADS_1