
Bab 75 DPT
Namanya Bu Susi, ia sedang dimintai keterangan oleh Juna. Risa dan Bayu tampak mengambil gambar sekitar karena pemandangannya begitu asri dan sejuk. Jaya juga mengamati dengan saksama daerah sekitarnya. Entah mengapa, Jaya merasa pernah mengunjungi tempat tersebut saat ia masih kecil.
"Ada apa ini? Kok, banyak tamu?" Suami dari Bu Susi yang bernama Pak Roni datang memarkirkan motornya lalu menyapa.
Juna lantas memperkenalkan diri begitu juga dengan Ana. Bu Susi membuatkan minum untuk suaminya.
"Pak, tadi ada ayam hitam mati di depan rumah," ucap anak perempuannya yang bernama Mia yang langsung menabrak tubuh ayahnya.
"Mia, nggak boleh gitu. Kamu harusnya salim dulu sama bapak. Apalagi jika sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Lebih baik menghampiri orangnya lebih dulu, baru mengatakan keperluan yang dimaksud," tukas ibunya mengajari.
"Oh gitu, iya maaf ya, Ma," ucapnya seraya kembali masuk rumah lalu menemui ayahnya.
"Pelan-pelan, Sayang. Jangan lari!" seru sang ibu lalu perlahan menghampiri suami dan putrinya.
"Ada apa ini, Mia?" tanya Pak Roni.
"Ada ayam mati, Pak!" ucap Mia lagi.
"Ayam mati? Di mana?" tanya sang ayah setelah putrinya memberitahukannya.
"Ada ayam mati di depan sana!" ucap Mia.
"Ayamnya siapa, Bu?" Pria itu terlihat kebingungan karena merasa tak memelihara ayam di pekarangan rumah.
"Ibu juga nggak tau, Pak," sahut Susi.
"Ayo, Pak! Di sana kita lihat ayamnya. Ayo, aku tunjukin! Aku mau lihat ayam mati itu dikubur," rengek putri kecilnya yang tampak antusias terhadap sesuatu itu.
"Iya sebentar, Nak. Bapak ambil cangkul dulu di gudang belakang."
Pak Roni lantas pergi mengambilnya. Sang putri pun ikut membuntutinya. Sangat terlihat kalau anak itu selalu tertarik terhadap sesuatu apalagi ini mengubur ayam. Dia pasti ingin melihat prosesi menguburkan ayam mati itu. Anak perempuan pintar mungkin wajar jika seperti itu.
Tak lama kemudian, ayah dan anak itu sudah kembali terlihat di mata ibunya yang sedari tadi hanya menyimak.
"Ayo, Ma! Ayo, kita mulai mengubur ayam mati tadi," ucap gadis kecil itu bersemangat.
Mereka lalu pergi ke tempat ayam mati yang tergeletak di rumput dekat pagar.
"Ayo, ayo, ayo!" Mia terlihat begitu bersemangat sambil berlari.
"Loh, ayam matinya ada di mana, Mia?" tanya Pak Roni saat sudah berada di pekarangan rumah tadi.
"Tadi di sini, Pak. Lho kok nggak ada, ya?" ujar putri kecil itu.
Ibu Susi pun ikut melihatnya untuk memastikan.
"Kok, sudah tidak ada lagi, ya?" Bu Susi sampai menggaruk kepalanya lalu menoleh pada Ana dan Juna.
"Tadi, pada lihat ada ayam mati kan?" tanyanya.
Ana dan Juna mengangguk.
"Kamu yakin lihat ayam mati di sini?" Pak Roni memastikan.
__ADS_1
"Iya, Pak, tapi kok nggak ada. Padahal tadi ke dalam kita nggak lama manggil kamu. Apa mungkin sudah dikubur sama tetangga, ya?" Bu Susi sampai heran dengan kejadian yang baru saja terjadi.
"Yah... kok malah dikubur sama tetangga sih, Ma. Aku 'kan mau lihat bapak yang nguburin," ketus Nia.
Anak itu benar-benar penasaran dan sekarang kesal karena bangkai ayamnya hilang.
"Bagus dong kalau sudah ada yang nguburin. Bapak jadi nggak capek," sahut Pam Roni.
"Tapi, kita nggak liat ada yang datang buat kuburin ayam itu," sahut Risa menimpali setelah akhirnya penasaran. Dia menghampiri juga setelah sedari tadi mengamati sambil menangkap gambar-gambar cantik sekitar dengan ponselnya.
"Ke mana ya ayamnya?" gumam Bu Sri..
"Ayam mati? Kok bisa ada di situ terus hilang, ya?" Ana juga berpikir keras.
Tiba-tiba semua dikejutkan oleh Pak Anto yang berseru secara mendadak.
"Astagfirullah, Bu! Si Anto ke mana sekarang?" Pak Roni terdengar panik ketika teringat sesuatu tentang cerita ayam hitam mati depan rumah lalu menghilang.
"Nginep di rumah temannya kan, Pak. Memangnya kenapa … Astagfirullah Pak… aku baru inget sekarang!" Bu Susi juga langsung panik dan bergegas mencari ponselnya untuk menghubungi putranya.
"Ada apa ini, Bu?" Juna mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Ini perkara ayam hitam depan rumah, Pak. Apa Bapak lupa dengan kasus pemuda yang hilang? Sebelum dia hilang, keluarganya menemukan bangkai ayam hitam di depan rumahnya." Pak Roni menjelaskan dengan panik saat mengatakannya pada Juna.
Tak lama kemudian, Bu Susi kembali dengan panik dan menangis. Ia langsung memohon pada Juna.
"Tolong cari anak saya, Pak. Tolong cari dia!" pinta Bu Susi.
"Ada apa, Bu?" tanya Juna.
"Temen anak saya bilang kalau si Anto sudah izin pulang dari semalam. Tapi sampai sekarang belum sampe rumah. Saya takut dia hilang kayak pemuda sebelumnya," ucap Bu Susi seraya menangis dan panik.
"Nggak salah lagi ini pertanda namanya. Ayam hitam itu pertanda kalau anak laki-laki kita mau diambil," ucap Pak Roni ikut gusar dan cemas.
"Apa ada sesuatu yang mencurigakan, Yang? Kayak hawa-hawa gaib gitu di sekitar sini," bisik Ana pada Jaya.
"Aku coba cari dulu, ya," ucap Jaya.
Juna berusaha menenangkan Bu Susi. Dia lalu menghubungi kantor polisi tempat dia bekerja untuk melaporkan kejadian baru tersebut. Ini sudah kali ke empat tentang laporan hilang para pemuda yang seminggu kemudian kembali dalam keadaan sudah menjadi mayat. Bu Susi semakin menangis di pelukan suaminya.
Moko terlihat berlari dari kejauhan menghampiri Juna. Ia terlihat panik.
"Jun, mobil kita ada yang rusak!" ucapnya.
"Apa?!" pekik Juna lalu berlari bersama Moko menuju mobil mereka.
"Mobil kita gimana?" tanya Bayu ikut panik juga lalu berlari memeriksa kondisi mobil.
Mobil milik Jaya rupanya ikut menjadi sasaran. Mereka merobek ban dan menghancurkan kaca. Kalau saja akses masuk ke desa bisa dilalui mobil sehingga tak usah repot parkir dekat gapura masuk, mungkin mereka bisa melihat si pelaku pengrusakan.
Kejadian pengrusakan mobil milik Juna dan Jaya oleh orang tak dikenal membuat mereka tertahan untuk pulang. Juna dan Moko menunggu sampai rekan mereka tiba. Namun sayangnya, mobil polisi lainnya sedang dipakai untuk bertugas.
Sedangkan Ana dan lainnya terpaksa harus menginap lagi karena mobil mereka harus diperbaiki dulu supaya bisa pergi ke Bukit Emas. Untungnya Pak Roni punya kenalan yang bisa memperbaiki mobil dan membawa alat-alat bengkel. Hanya saja, kepalanya tersebut baru bisa datang esok hari.
"Maaf, Jun. Maaf banget aku nggak jagain mobilnya dengan baik," ucap Moko seraya tertunduk di depan Juna.
__ADS_1
"Udah terlanjur, Ko. Aku makin penasaran sama siapa yang suka ngerusak mobil kita akhir-akhir ini. Semenjak kasus hilangnya para pemuda ini," ucap Juna.
"Maafin aku juga ya, Mbak Ana," ucap Moko pada Ana.
Ana hanya menjawab dengan menarik napas dalam dan mengeluarkan embusan napas penuh kelegaan itu.
"Nasi udah jadi bubur, Mas Moko. Emang mungkin udah jalannya kita tinggal di sini. Jadi, butuh berapa lama lagi Pak Roni buat benerin mobil kita?" tanya Ana.
"Dua apa tiga hari paling cepat, Mbak," sahutnya.
"Ya ampun makin lama aja kita ini pergi," sungut Risa.
"Duh, aku jadi kangen sama Rama. Tau gitu aku bawa dia biar nggak khawatir gini," gumam Ana.
"Mbak Ana sama Mbak Risa bisa nginep di dalam rumah saya," ucap Bu Susi menawarkan.
Kedua mata wanita itu terlihat sembab dan masih sedih karena putra sulungnya belum kembali.
"Makasih, Bu. Saya bantu doa ya supaya anaknya cepat ketemu," ucap Ana.
"Terus, saya tidur di mana, Mbak?" tanya Bayu.
"Kamu tidur sama kita depan rumah. Kita buat tenda di sini!" ajak Juna seraya merangkul Bayu.
"Jangan-jangan si pengrusak mobil itu dua orang yang dilihat pocong si Ani," gumam Bayu tiba-tiba.
"Bisa jadi, tuh," ucap Risa menimpali.
"Ya udah, berhubung kita terjebak di sini, ayo kita jalan-jalan keliling desa. Siapa tahu bisa dapat petunjuk juga," ajak Ana.
"Boleh, tuh. Saya juga mau cari petunjuk dan tanya-tanya orang sekitar. Siapa tahu ada saksi mata," sahut Juna.
"Aku sama Pak Roni cek mobil lagi ya, aku nggak ikutan jalan ama kalian," ucap Moko.
Juna memberi acungan ibu jari tanda mengiyakan.
"Emang modus aja buat deketin istri aku, tuh!" Jaya bersungut-sungut mendampingi langkah Ana.
Dia berusaha menjauhkan Juna dari istri tercintanya.
"Mau liat pocong cemburu, nggak?" bisik Risa pada Bayu.
"Udah liat, tuh. Serem juga ya Raja Garuda kita. Nggak ada wibawanya jadi pocong gitu," bisik Bayu yang mengikuti Risa berjalan di belakang Ana dan yang lainnya.
Jaya menoleh seraya melotot pada Bayu.
"Aku denger, Yu!" serunya.
Bayu langsung menunduk pura-pura tak mengindahkan seruan Jaya.
...******...
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...
__ADS_1