Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 128 - Kembali Memimpin Garuda


__ADS_3

Bab 128 DPT


"Itu kapal Putri Ice!" tunjuk Burhan yang mencoba mempertahankan tubuh Banyu yang sedang dia papah agar tidak limbung.


"Paman, itu Mama Ana dan Ayah Jaya!" Rama berseru dengan wajah sumringah.


Dilihatnya sosok Ana yang tengah digendong oleh Jaya. Di sampingnya ada Risa yang juga menyusul.


"Ah, syukurlah. Ayo, kita semua naik kapal itu!" ajak Burhan.


Setelah sampai di atas kapal, Burha membaringkan tubuh Banyu yang belum sadar sepenuhnya. Lalu, pria itu melakukan penanganan pada luka tusuk dan la bakar yang ada di tubuh Banyu.


Tak lama kemudian, Jaya juga sampai. Rama membantunya menyiapkan tempat yang nyaman untuk meletakkan tubuh Ana. Dentuman dan gemuruh terdengar seiring dengan letupan gunung es yang berubah menjadi gunung berapi dan tiba-tiba mencuat ke permukaan.


Burhan langsung bergegas mengemudikan kapal layar itu mengarungi samudra luas yang terdapat beberapa salju dan bongkahan es. Dia berusaha menghindari seiring dengan kejaran asap tebal yang panas juga cairan lava.


"Terima kasih, Ice, tanpa pengorbanan mu dan keluargamu, mungkin Gidog dan Raja Haram tak akan musnah," lirih Jaya menatap ke arah pulau tempat bersemayamnya Raja Jin Utara yang mulai hancur. Mereka akan kembali pulang ke Pulau Garuda.


Rama menyiapkan air hangat yang diberi cairan madu yang sayangnya mereka temukan sebelumnya. Lalu, anak itu memberikan air madu itu pada Ana dan juga pada Banyu. Risa juga membantunya.


Sementara Jaya masih berada di sisi Ana, "aku tak akan kehilanganmu. Tak akan pernah kehilanganmu."


Jaya mengecup lembut dahi sang istri. Ia memeluknya sampai terlelap. Perjalanan masih jauh sehingga lebih baik dia istirahat dulu, baru Jaya nanti akan menggantikan Burhan menjalankan kapal tersebut.


Risa masih menatap Banyu dengan lekat. Paras pria itu jelas mengingatkannya pada Bayu. Ia membantu Rama mengobati luka yang ada di tubuh pria itu atas arahan Pak Burhan.


"Aku ingat pernah menguburkanmu. Lalu, kenapa kau masih gentayangan begini?" tanya Banyu yang sesekali mendesis.


"Masih ada yang mengganjal dan tidak membiarkan aku pergi dengan tenang. Aku ingin melihat Ana bahagia, mendapatkan kebahagiaan paling membahagiakan di hidupnya," ucap Risa.


"Lalu, kenapa saudara ku tidak kembali?" tanya Banyu.


"Hanya satu di antara kami yang bisa kembali. Lagi pula aku yakin jika Bayu kembali, pasti sudah bertengkar hebat dengan mu dari awal bertemu," ucap Risa terkekeh.


Tak lama kemudian, Risa menangis. Teringat jelas kenangan-kenangan suka, duka, tawa, dan tangis yang dia lalui bersama sosok Bayu. Bahkan Risa hampir berjanji kalau ia ingin menikah dengan Bayu kala itu. Namun, takdir berkata lain. Risa mengusap kepala Rama yang sudah terlelap berbaring di sampingnya. Sementara Banyu yang ada di hadapanya, hanya menatap nye lekat sedari tadi.


***

__ADS_1


Jaya dan semuanya tiba di Pulau Garuda. Mereka tiba di pinggiran desa dalam sebuah hutan tak jauh dari istana. Ratu Melati bergegas mengirim para pengawal untuk menjemput kedatangan mereka.


Ratu Melati juga membawa seorang tabib bernama Tabib Husni, teman dari Eyang Setyo. Beberapa warga juga begitu terperanjat kala melihat kedatangan Haya yang mereka pikir akan mati dan tak bisa bertahan hidup. Nyatanya, mereka semua itu ternyata masih hidup.


Jaya menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Bertemu dengan Putri Ice, lalu melawan Raja Haram dan juga Gidog. Bahkan musuh lama yang muncul kembali yaitu Datuk Misan. Bahkan ia membahayakan nyawa Rama.


Eyang Setyo datang mendekat untuk menguatkan Jaya kala itu. Dia akan selalu setia membantu Jaya mempertahankan Pulau Garuda. Bahkan mengumpulkan lima Raja nusantara dan berharap mereka akan bersatu tanpa ada yang mencoba membelot lagi setelah kematian Datuk Misan.


Sementara itu, ada yang membuat Rama bahagia kala dia bertemu dengan Eyang Setyo dan Lastri. Rupanya Lastri merupakan sahabat ibunya. Hal yang lebih membuatnya senang lagi saat melihat sahabat ibunya itu bersama seorang pria yang sudah menjadi suaminya.


Rama masih ingat saat kecil dulu, Lastri yang kerap mengunjunginya saat musim panen tiba dan memberinya hadiah waktu kecil dulu. Lastri kini tengah berbadan dua dan bersiap menimang buah hatinya. Wanita itu tersenyum ke Rama. Sontak saja Rama langsung berlari menghampiri wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri saat kecil dulu.


"Tante Lastri! Aku merindukanmu!" seru Rama ia bahkan berteriak seraya memeluk wanita itu dan juga perut buncit Lastri.


"Aku juga merindukanmu, Rama. Aku pikir kau sudah tiada saat mendengar kabar kematian ayah dan ibumu tempo hari. Oh iya, perkenalkan ini suamiku namanya Rahmat," ucap Lastri.


"Wah ... dia pria yang gagah sekali."


Rama langsung mengulurkan tangan untuk menjabat Rahmat. Begitu juga dengan Rahmat yang sangat senang bertemu Rama. Sesekali dua mengacak-acak rambut Rama dengan pelan dan lembut.


Lastri tak dapat menahan air mata yang sudah tak bisa ia bendung itu. Ia sangat bersyukur dapat melihat Rama kembali setelah keluarga Rama dan beberapa warga serta kerabatnya terbunuh.


...***...


Malam itu, Jaya menceritakan semua kekejaman pembelot kerajaan nusantara yang dipimpin Datuk Misan. Bahkan pria itu bersekutu dengan Raja Haram, penguasa Raja Jin Utara. Sehingga banyak makhluk dan kerajaan laut sekitar yang menderita dan mati sia-sia.


"Kita tak boleh menyerah untuk mengembalikan kedamaian di nusantara ini. Kita harus mengumpulkan para pemimpin kerajaan dan memberi pengertian ke pada mereka!" ucap Eyang Setyo.


"Kita juga harus membuat pasukan baru. Semua yang merasa tadinya hanya berjumlah sedikit, jika makin menyatu maka akan menjadi banyak dan kuat. Aku merasa akan ada ancaman lain yang datang bahkan dari negara lain atau negeri antah berantah sana," ucap Jaya.


Semua yang ada di meja makan besar dalam rangka makan malam bersama menyambut kedatangan Jaya itu menyimak penuturan Raja Garuda tersebut.


"Aku akan selalu membantumu. Kita akan bertempur melawan siapa pun musuh yang menghadang," sahut Burhan.


"Aku juga akan membantu! Aku akan mendukung Raja Jaya," sahut Banyu yang mulai pulih.


Meskipun ia baru mendengar kabar kalau ibunya telah tewas secara misterius yang ia yakini karena ulah Datuk Misan. Hatinya masih sedih dengan berita kematian ibunya. Tapi hidup harus berlanjut. Orang tuanya juga pasti mau dia bangkit dan memimpin Kerajaan Merak. Namun, Eyang Setyo memintanya memulihkan diri dulu di Garuda, karena ia yakin ada pembelot lain yang menunggu kedatangan Banyu dan siap menghabisinya demi menguasai Pulau Merak.

__ADS_1


"Banyak yang sudah kelaparan dan tertindas karena ulah Datuk Misan. Mungkin masih ada pengikutnya yang masih ingin menghancurkan nusantara," ucap Eyang Setyo.


"Kita akan musnahkan siapa pun yang ingin menghancurkan nusantara!" seru Burhan sampai menggebrak meja.


"Wow, simpan semangat mu Pak Burhan. Kita isi tenaga dulu," ucap Jaya


"Sabar, Pak Burhan, tenang dulu." Eyang Setyo menarik tangan pria itu untuk duduk. Ia lalu menoleh ke arah Jaya dengan malu-malu.


"Jadi, apa kau siap memimpin kami untuk memusnahkan para pembelot itu?" Burhan kini menunjuk Jaya penuh semangat.


Semua mata tertuju pada pemuda itu kini. Mereka mengharap jawaban dari bibir Jaya yang masih mengatup diam.


"Bukankah kau sudah memiliki kekuatan Iblis Rahwana yang bahkan mampu menandingi Raja Haram. Apa kau masih ragu, Nak?" tanya Eyang Setyo.


"Tapi bukan itu maksud ku meragukan diri ini Eyang, aku hanya...," ucap Jaya sampai menggaruk kepalanya kikuk.


"Baiklah, aku tahu maksudmu. Kau takut pasukan mu akan banyak korban yang nantinya berjatuhan, kan?" terka Eyang Setyo.


"Iya, Eyang."


"Itulah perang, Nak. Maka jangan kau kecewakan yang sudah berkorban diri itu menjadi korban yang sia-sia. Bulatkan tekadmu menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana," ujar Eyang Setyo.


Jaya akhirnya bangkit dan meminta persetujuan semua yang ada di meja makan besar tersebut. Mereka lantas menyerukan kata perdamaian untuk nusantara. Mereka menyambut kepemimpinan Raja Jaya.


Namun, tak lama kemudian, Risa datang dengan wajah panik.


"Ada apa, Sa?" tanya Jaya.


"Ana dan Anjay hilang!" serunya.


"Apa?!"


...******...


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...

__ADS_1


__ADS_2