Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 92 - Rahasia Siti, Toto, dan Mbah Ijah


__ADS_3

Bab 92 DPT


"Eh, aku lihat ada yang intip kita dari balik pohon," ucap Bayu.


Juna sontak saja bergegas ingin mengejar seseorang yang mengintip itu. Toto tiba-tiba ingin ikut mengejar juga.


"Bay, ayo kejar!" ajak Jaya.


"Takutnya setan, Pang Jay," sahut Bayu.


"Asem!" Jaya bergegas ikut mengejar dengan melompat cepat.


"Sayang, hati-hati!" seru Ana.


"Sayang? Mbak itu panggil pocong tadi Sayang?" tanya Eyang Setyo.


"Pocong itu suaminya, Mbah. Eh, Eyang," sahut Risa.


Tak ada siapa pun yang mereka dapati. Para pria itu terus kembali. Juna dan Toto tampak mulai melangkah maju, menapaki lantai berjalan menuju pintu rumah. Semua yang di dalam rumah menatap mereka dengan pandangan ingin tahu. Kedua pria itu sejenak terdiam berdiri di ambang pintu. Mereka saling memandang satu sama lain sebelum akhirnya berkata tak ada apa-apa.


"Bayu salah lihat kali," cibir Ana.


"Udah nggak usah kejar lagi! Ayo, semuanya masuk!" pinta Eyang Setyo.


Pria paruh baya itu lantas menuju ke pintu yang digantungi daun kelor tersebut.


Sang kakek tua itu mulai menyentuh gagang pintu dan memutarnya.


"Dingin sekali," kata Eyang Setyo.


"Tak ada yang membukanya lagi, Eyang," sahut Siti.


"Ada apa sih di dalam sana?" Ana bertanya di dalam hati.


Pintu perlahan terbuka, suara krieeett terdengar menggema, membuat semua orang yang ada di dalam rumah terdiam. Ana pun termangu. Hanya suara rintik-rintik hujan yang terdengar di telinga. Risa mendekat ke Ana. Ia tak pernah merasa sengeri ini.


Pintu sudah terbuka, semuanya mulai melangkah masuk ke ruangan yang terlihat ganjil dari luar. Mereka menyusul langkah Eyang Setyo dan Mbah Ijah. Bau pesing seketika tercium, merasuk ke dalam hidung diikuti suasana pengap yang membuat badan mereka merasa tidak nyaman.

__ADS_1


"Ini kandang apa gimana, sih?" tanya Bayu sembari menutup hidung.


Semuanya juga merasakan hal yang sama, tetapi yang lain berusaha masih bisa menahan diri. Tak hanya berbau menyengat, di dalam ruangan ini juga tak ada setitik cahaya pun yang menyinari ruangan. Benar-benar suasana dengan kegelapan total yang bisa mereka lihat di dalam ruangan tersebut.


"Aku tak suka ada di sini," bisik Ana yang memilih ingin keluar tetapi Eyang Setyo menahannya.


"Siti saja yang ambilkan senter," ucap Eyang Setyo.


Suasana makin tak mengenakkan saat berada di dalam ruangan tersebut. Lantas pandangan Ana menyapu ruangan. Ia bisa mendengar suara langkah Siti yang baru saja keluar dari dalam ruangan.


Perlahan-lahan, di dalam kegelapan total ruangan ganjil itu, Ana bisa merasakan sesuatu yang sedang mengawasi dirinya, bersembunyi di sudut-sudut ruangan yang lebih gelap. Semakin lama Ana bisa merasakan gejolak energinya. Kemarahan, kebencian, dan rasa dengki yang dibalut menjadi satu di dalam sebuah dendam. Jaya mendekat menghalangi Ana dari tatapan yang mencengkam itu.


Juna lalu mendekat ke arah si kakek. Dia berjalan semakin jauh ke dalam ruangan. Berbekal penglihatan seadanya, ia bisa melihat sedikit pemandangan apa yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Kita mau apa di sini, Eyang?" tanya Juna.


Tak ada jawaban dari Eyang Setyo. Bau pesing tercium semakin menyengat, seperti air kencing yang sudah lama tak pernah dibersihkan.


"Ti, masa bisa kayak gini, sih?" bisik Toto.


"Aku nggak berani masuk ke sini buat bersih-bersih, Mas," sahutnya.


"Astagfirullah! Tempat apa ini?" Risa lantas menjauh begitu juga dengan Bayu.


Jaya juga meminta Ana menjauh. Juna sejenak terdiam, memandang dipan dengan sorot mata penasaran. la mulai mendekat ke dipan. Pria itu kembali tertegun lalu diam.


Di sana pria itu baru saja menyadari bahwa di atas dipan tersebut terdapat sesuatu, sesuatu yang membawa mereka sampai ke tempat ini. Pandangan Juna terus menerus tertuju ke arah dipan, tempat seorang pria besar sedang tertidur di atasnya.


Dari belakang tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Semuanya berbalik menatap Siti yang baru saja tiba dengan membawa lampu minyak di tangan. Saat itulah lampu minyak yang Siti bawa menyorot seluruh isi ruangan, membuat mereka terkejut satu sama lain.


"Dia anaknya Mbah Ijah, anak genderuwo peliharaannya," ungkap Eyang Setyo.


"Apa? Anak genderuwo?" Juna memekik tak percaya.


Begitu juga dengan Ana. Sembari menahan napas, wanita itu menelisik sosok yang terbaring tersebut.


"Usianya mungkin berkisar antara enam belas sampai tujuh belas tahun. Namun, dia tumbuh sangat besar. Kalian kenapa tega mengurungnya?" tanya Eyang Setyo.

__ADS_1


Tujuannya bicara adalah Siti dan Toto.


"Mbah yang suruh kami, Eyang. Saya tidak berani membantah," ucap Siti.


Kedua tangan dan kaki anak genderuwo itu diikat menggunakan tali tampar yang dililit ke tiang-tiang dipan yang terbuat dari besi. Sosok itu terbaring tak bisa bergerak dengan mata tertutup rapat, seperti orang yang sedang tidur.


Juna termangu cukup lama, memperhatikan dengan sorot mata kasihan. Pria itu tak bisa melihat seorang manusia diperlakukan seperti ini. Tunggu, apa karena dia bukan manusia dan membahayakan? Begitu batin Juna bergejolak.


"Pasti ada alasan di balik ini semua, bukan?" tanya Ana.


"Mereka merasa jadi korban, tapi justru mereka lah penyebab masalahnya," ucap Eyang Setyo.


Ana mendekat untuk memperhatikan sosok di atas dipan itu. Sejenak ia memperhatikan dengan saksama keseluruhan tubuh anak genderuwo itu.


Dengan wajah bingung Jaya bertanya, "Ada apa, Na?"


"Kasihan sekali dia," ucap Ana.


Ia menatap jari-jari makhluk itu. Di sana Ana menemukan apa yang dia cari. Rupanya benar, coretan serta guratan garis yang ada di dinding kayu ruangan tempat ia disekap ini ditulis oleh sosok itu sendiri menggunakan darah di ujung kukunya yang terluka. Sosok itu tiba-tiba membuka mata kemudian menyeringai ke arah Ana dan lainnya. Mbah Ijah memeluk anak genderuwo itu dengan erat dan bersenandung kemudian.


"Ana mundur!" pinta Jaya.


Ana sontak berlari mengikuti apa kata Jaya. Eyang Setyo meminta semuanya untuk keluar. Hanya Mbah Ijah dan anak genderuwo itu di dalam ruangan. Pria paruh baya itu kemudian menutup pintu dari luar. Tak lama kemudian, dari dalam ruangan tersebut terdengar dengan jelas jeritan suara melengking dari perempuan tua itu.


"Eyang, bagaimana ini?" Siti terlihat panik.


"Iya, Eyang? Bagaimana Mbah ku bisa sembuh nantinya?" tanya Toto lagi.


"Tanggung jawab, To! Aku tak pernah mengira kalau sampai di sini keburukan kalian semuanya terbongkar!" Eyang Setyo menatap penuh kesal. Bahkan mulai muncul amarah.


"Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?" bisik Ana pada Jaya.


Risa dan Bayu serta Juna juga terlihat tak mengerti tetapi tetap menyimak.


...******...


...To be continued ...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


__ADS_2