
Bab 108 DPT
"Nak Bayu, apa kamu siap? Apa kamu siap mempersembahkan nyawamu demi membela Kerajaan Garuda?" Pak Idris berseru.
"Saya bersedia, Pak! Ayo, kita hajar mereka!" tantang Bayu penuh semangat.
Ketiganya berhadapan dengan makhluk mengerikan tersebut yang merupakan pecahan dari kekuatan Iblis Rahwana. Pak Idris dicekik lalu makhluk itu membuat sayatan di perut pria tersebut. Ususnya sampai menyeruak dan hampir terburai. Bu Yayah berteriak saat suaminya tewas di hadapannya.
Darah segar Bu Yayah lantas dikucurkan ke atas permukaan tanah ketika melawan. Dan akhirnya wanita itu pun tewas. Namun, sisa kekuatannya berhasil memusnahkan para mahluk tersebut. Yang tersisa hanya Iblis Rahwana yang mulai melemah kekuatannya.
Tangan besar itu terulur untuk mencekik Bayu. Pria itu memberontak dan berusaha menikam Iblis Rahwana dengan belati di tangannya. Sang iblis tampak beringas lalu menusuk perut Bayu dengan kuku tajamnya. Dia meminum darah segar milik Bayu tersebut dengan lahap.
Dinding gaib yang tadi dibuat untuk menghalangi kamar persembunyian bayi Anjaya dan semuanya lalu terbuka. Sosok Iblis Rahwan lantas mengubah wujudnya menjadi Bayu. Ia mendekati pintu kamar dan memutar kenopnya. Lalu, terbukalah pintu tersebut.
"Bayu?" pekik Risa yang langsung memeluk sosok menyerupai Bayu.
"Ayo, kita pergi dari sini!" ajaknya.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Risa.
Sosok itu menggeleng, "semuanya mati."
"Lalu, kita mau ke mana? Bukankah kita harus menghubungi Jaya dan Ana?" tanya Risa.
"Nanti kita hubungi. Sekarang Ayo bergegas pergi kabur dari sini!" ajaknya.
Risa menoleh pada Ratu Melati yang mengangguk setuju. Mereka bergegas mengikuti sosok Bayu. Tak ada bekas jasad Bu Yayah, Pak Idris, dan juga Agus di halaman depan. Apalagi jasad Bayu, sehingga Risa sempat menanyakan ke mana mereka.
"Semuanya tewas ditelan bumi," ucap sosok Bayu tersebut.
Iblis tersebut mendekati Ratu Melati. Ia menyentuh dahi Anjaya dan membuatnya berhenti menangis, dia membuat Anjaya tak bisa mengeluarkan suara. Namun, Ratu Melati dan Risa masih belum mengerti akan hal tersebut.
Sang iblis lantas meminta Risa, Ratu Melati yang menggendong Anjaya, dan juga Rama untuk masuk ke mobil Kijang tersebut. Namun, Rama tampak ragu dan menelisik sosok Bayu tersebut dengan saksama. Namun, ketika kedua mata Rama bertemu dengan iblis tersebut, mendadak lidahnya kelu. Rama terhipnotis dan akhirnya menurut.
__ADS_1
Saat mobil kijang itu melaju, Rama melihat tubuh Bayu yang tergeletak tak bernyawa berada di belakang pohon mangga. Mayatnya ditumpuk bersama tubuh Bu Yayah, Pak Idris, dan juga Agus. Rama sampai melotot dan ingin berteriak mengatakan kalau sosok Bayu yang sedang mereka ikuti bukan Bayu yang sebenarnya. Namun, fisik Rama menolak perintah otaknya. Anak itu akhirnya hanya bisa menitikkan air mata.
"Rama tenang ya jangan nangis. Ada Tante Risa di sini," ucap Risa merangkul Rama dan menenangkannya tanpa tahu kalau Rama ingin mengatakan kebenaran yang tengah terjadi.
Iblis Rahwana yang tengah menyamar menjadi Bayu, membawa Risa dan yang lainnya memasuki sebuah hutan.
"Kita mau ke mana, Bay?" tanya Risa.
Sosok itu tak menjawab. Dia hanya tersenyum. Risa mulai menyadari kalau ada yang ganjil saat itu.
"Bayu, apa kamu masih ingat tentang Raja Harun yang keselek wayang kulit pas kita nonton wayang dulu?" tanya Risa.
Sang iblis tertawa dan mengangguk lalu bertanya, "dia sudah mati, kan?"
"Kok, kamu tahu?" Risa mulai waspada.
"Kan, aku yang membunuhnya." Sosok yang menyerupai Bayu itu lantas tersenyum menyeringai.
Kijang tersebut akhirnya berhenti. Ada dua pria muncul dari balik kabut di tengah kegelapan hutan. Dua pria tersebut rupanya Mbah Karso dan Panji. Kedua pria jahat itu, lantas menyambut kedatangan Iblis Rahwana. Dia turun dari mobil kijang saat Ratu Melati tersentak dan meminta Rama untuk bersembunyi di belakangnya, "Rama, pindah ke belakang sini!"
"Selamat malam, Kanjeng Ratu!" sapa Mbah Karso mendekati mobil tersebut.
"Mau apa kalian?! Tega kamu Bayu berkhianat seperti ini!" pekik Ratu Melati.
Sosok Bayu itu langsung mengubah wujudnya kembali menjadi Iblis Rahwana. Kedua mata sang ratu sampai terbelalak menatap tak percaya.
"Sepertinya Mas Bayu sudah sampai di akhirat. Nah, mari ikut kami jika masih ingin selamat!" kata Mbah Karso.
"Kurang ajar kamu, Karso! Aku pikir kamu orang yang paling setia dan akan membela Kerajaan Garuda mati-matian. Rupanya kamu sampah!" seru Ratu Melati.
Mbah Karso hanya tersenyum menyeringai.
"Saya hanya meminta ini sekali, jika ingin anak itu selamat, ikuti aku!" titahnya dengan suara tenang dan datar.
__ADS_1
Ratu Melati akhirnya menurut seraya menggendong Anjaya. Mbah Karso menoleh pada Panji, "urus sisanya!"
Panji mengangguk. Ratu Melati menatapnya tajam. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri karena pernah sangat mencintai Panji. Bahkan ia menyerahkan segalanya untuk pria sialan itu. Panji hanya melayangkan wajah smirk kala Ratu Melati melintasinya. Mbah Karso membawa Ratu Melati mengikuti Iblis Rahwana lalu menghilang.
Sementara itu, Panji mendekati Rama dan Risa. Dia tertawa seraya mencibir Risa. Wanita itu hampir tak berdaya. Namun, ia berusaha melindungi Rama.
"Rama, pergi yang jauh selamatkan diri kamu!" pinta Risa.
Rama menggeleng. Pengaruh sihir Iblis Rahwana masih membuatnya tak dapat berbicara.
"Rama, dengerin Tante Risa. Tante Risa yakin kalau Rama bisa cari bantuan. Rama cari Ayah Jaya dan Mama Ana. Bilang sama mereka kalau Anjaya diculik. Tante Risa akan coba tahan pria keparat itu, oke?" Risa mengusap air mata Rama meskipun dirinya sendiri sudah terisak.
Rama menggeleng seraya mengusap air mata Risa juga.
"Rama janji kan mau jagain keluarga Rama. Mama Ana, Ayah Jaya, Dedek Anjaya itu keluarga Rama!"
Rama menggeleng sambil menunjuk dada Risa. Dia mengatakan kalau Risa juga keluarganya.
"Rama harus pergi! Rama harus jaga mereka! Bilang sama Mama Ana kalau Tante Risa minta maaf. Maaf karena Tante Risa nggak bisa memenuhi janji untuk tinggal di panti jompo yang sama, hehehe." Risa masih berusaha tertawa mengingat kebersamaannya dengan Ana.
"Dramatis sekali kalian! Aku sampai ngantuk melihatnya," ucap Panji seraya memberi gestur menguap untuk mencibir.
Risa menoleh dan menatap pria itu tajam.
"PERGI DARI SINI, RAMA! SEKARANG!"
Risa lantas menyeruduk Panji. Menghantam perut pria itu dengan kepalanya. Keduanya terjatuh dan berguling-guling menuruni permukaan tanah menurun di hutan tersebut. Rama hanya bisa menangis tak bersuara. Namun, ia harus bertekad menyelamatkan keluarganya. Rama berlari sekuat tenaga dan berharap bisa keluar hutan dan menemukan pengendara yang melintas.
...*****...
...Bersambung dulu, ya…...
...See you next chapter!...
__ADS_1