Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 97 - Tempat Jajan Para Hantu


__ADS_3

Bab 97 DPT


"Kenapa pemandangan di depan kita mendadak jadi hutan?" Jaya memicingkan iris matanya.


"Kok, aneh banget, ya? Duh, mana kita belum bayar lagi kalau mau kabur," gumam Ana.


Tiba-tiba, angin berembus sangat kencang. Seperti ada badai yang menerpa warung berukuran tiga kali tiga meter tersebut. Ana dan Jaya saling berpegangan. Begitu juga dengan Risa dan Bayu. Mereka sampai menutup kedua mata karena debu yang berterbangan itu membuat kedua mata mereka perih.


Setelah semuanya reda dan tak ada lagi ada angin kencang, mereka lantas membuka kedua mata. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kondisi warung tampak tidak karuan. Beberapa dagangan yang ada di atas etalase yang awalnya tertata rapi terlihat berantakan.


Lebih mengejutkan lagi, mendadak saja semua jajanan telah hilang dan berhamburan hingga keluar warung. Anehnya lagi, Ana merasakan seperti ada sesuatu yang datang dan memakan makanan yang ada di warung tersebut lalu dibawa keluar.


"Waduh, masa iya ini kena angin kencang sampai begini?!" pekik Risa.


"Aneh, ya. Kayak ada yang pada ngambil makanannya tapi berantakan gini," sahut Bayu.


"Kalian lihat itu!" Jaya menunjuk ke arah lantai.


Di lantai semen warung berserakan uang pecahan lima puluh ribu dan seratus ribuan. Uang kertas tersebut berserakan di sekitaran warung.


"Uang dari mana ini?" Ana mengambil salah satu uang yang tercecer di lantai tersebut.


"Ini asli," ucap Ana setelah memastikan kalau uang itu merupakan uang asli bukan palsu.


"Jangan-jangan, tadi pas angin kencang ada pencuri yang obrak-abrik warung si ibu ini, Na?" Risa bergegas berlari ke dalam warung dan mengecek rak uang.


Gadis itu membuka perlahan rak tersebut untuk melihat ke dalamnya. Dia takut juga jika uang yang berserakan adalah uang si pemilik warung yang ada di dalam rak.


Namun, ketika Risa membuka laci uang di rak, terlihat uang milik si ibu penjual yang ada di dalam rak masih utuh. Semua tertata rapi dengan beberapa di antaranya sudah digulung dan diikat dengan karet.


"Uangnya masih ada, Sa?" tanya Ana.


"Masih ini, mana rapi lagi."


"Terus itu uang siapa, ya?" Bayu ikut mengumpulkan uang kertas yang berserakan tersebut.


Bayu dan Ana lalu meletakkannya di samping laci rak yang digunakan untuk menyimpan uang.

__ADS_1


"Aneh, ya? Terus kayaknya kita masuk ke dimensi gaib deh," ucap Risa.


Warung yang mereka jaga itu semakin aneh dan bertambah aneh. Tiba-tiba, sosok tinggi besar yang disebut genderuwo mulai muncul. Jaya langsung meminta Ana dan yang lainnya untuk bersembunyi di belakang lemari etalase.


"Ada genderuwo, ya?" bisik Risa dengan bibir gemetar saat berbisik.


Ana menjawab dengan anggukan kepala. Dia juga mendadak ketakutan karena takut yang muncul Iblis Rahwana yang mau mengambil bayinya. Bukan hanya satu genderuwo, tetapi beberapa makhluk lain juga datang. Mereka mengambil semua dagangan pemilik warung.


Hiruk pikuk itu tak lama kemudian menghilang. Jaya memberanikan diri untuk muncul. Mereka melihat keadaan warung yang kacau yang disertai uang yang berserakan di lantai kembali.


"Jangan-jangan mereka barusan beli jajan terus ninggalin uang di lantai," ujar Jaya.


"Para setan tadi?" Ana balik bertanya.


"Ya, buktinya mereka ninggalin uang gini," ucap Jaya.


Ana dan lainnya akhirnya membereskan kembali semua kekacauan yang ada di warung. Uang yang tercecer juga dia kumpulkan kembali dan meletakkannya di tempat yang tadi.


Tak lama kemudian, angin berembus kencang kembali dan memporak-porandakan warung seperti tadi. Jaya meminta semuanya kembali bersembunyi. Ana berpegangan tangan dengan Jaya. Setelah dirasa reda, mereka kembali muncul.


Ana meminta Risa untuk membantunya mengambil barang-barang yang berserakan di lantai. Mereka mengembalikan barang-barang


"Si ibu tadi rumahnya di luar kota kali ya? Duh, masa pulang buat pup aja lama banget baliknya," keluh Risa.


"Hahaha, bisa aja kamu ngelawaknya. Kita beresin aja, yuk! Kasian ibunya udah tua nanti capek bersihin warung berantakan gini," ucap Ana.


"Lah, kalau dia lagi numbalin kita gimana?" tanya Bayu seketika.


"Ngaco kamu! Udah jangan berprasangka negatif. Mikir yang positif aja," sahut Ana.


Risa mengangguk setuju, lalu mengambil sapu yang disimpan di pojokan warung. Risa meminta Bayu juga untuk membersihkan sisa sisa bekas makanan yang tercecer di sekitar warung.


Ana yang merasa lelah lalu duduk di kursi depan warung setelah membersihkan dagangan yang tercecer di lantai. Jaya juga ikut duduk di sampingnya setelah lelah membuang dus dus kosong yang isinya habis dimakan.


"Nanti kalau kita ditinggal bis, gimana?" tanya Ana.


"Ya udah kita naik bis yang lain," sahut Jaya.

__ADS_1


"Tapi barang-barang kita ada di bis." Ana menghela napas dalam.


"Tapi, uang ada di tas kamu itu, kan?" Jaya menunjuk tas selempang yang Ana kenakan.


"Iya juga, sih." Ana mengangguk lalu pandangannya teralihkan pada sesuatu dan menunjukknya, "Sayang, lihat itu!"


Ana dan Jaya melihat bungkus-bungkus makanan jajanan yang sudah dibuang berserakan di jalan. Sepertinya mereka datang ke warung mengambil makanan, lalu memakannya, dan membuang bungkusnya sepanjang jalan.


Keduanya melihat bungkus kosong itu mengarah ke jalan kecil di pinggir warung. Awalnya Jaya ingin menyusuri jalan setapak untuk mengetahui siapa yang membuat warung berantakan, tetapi Ana melarang. Ana takut ada hal yang aneh akan terjadi lagi. Akhirnya, Jaya memilih menemani Ana untuk menunggu si pemilik warung datang.


Beberapa meter dari warung harusnya sudah terlihat jalan menuju ke bus di rest area. Anehnya, tak ada kendaraan yang melintas dan terlihat sepi. Jaya kembali ke dalam warung dan duduk di sana menemaninya Ana.


Sesekali melihat ke arah luar warung yang kembali hening seperti tidak terjadi apa-apa. Tubuh pria itu bersandar ke dinding saat rasa kantuk Anabmulai menyerang. Sesekali Ana juga terlihat menguap


Tiba-tiba, terdengar suara banyak anak kecil sedang tertawa.


"Hahaha hahahaha hahaha!"


Suara beberapa anak-anak lantas terdengar dari kejauhan. Jaya dan Ana lantas saling menatap satu sama lain. Risa dan Bayu juga mendekat untuk mendengarkan saksama suara tawa itu. Jaya akhirnya meminta mereka semua untuk kembali bersembunyi karena takut ada makhluk mengerikan yang nantinya muncul.


Suara yang Jaya dan lainnya dengar seperti suara anak-anak yang sedang berlarian ke sana ke mari dan bermain dengan teman teman mereka. Anak-anak itu terdengar berlari sambil tertawa riang dan sesekali mengobrol.


Suaranya sangat berisik itu sebenarnya sangat mengganggu. Anak-anak itu masih berlarian ke sana ke mari dengan tertawa riangnya di sekitar warung. Salah satu dari mereka mencoba mendekat ke dalam warung untum melihat lihat dari jalan ke arah warung.


"Yah, jajanannya kok udah habis," ucap salah satu anak.


"Masih ada, tuh! Ayo, ikut aku cepat!" ajak salah satunya.


Seketika itu juga, Jaya mencoba berdiri dan mengintip untuk melihat ke arah luar warung. Betapa terkejutnya Jaya kala melihat yang membuat warung berantakan adalah sosok makhluk kecil. Mereka berjumlah sepuluh yang berlarian di sekitar warung. Ana juga penasaran dan mengintip


Anak-anak itu memiliki setengah dari tubuh bagian atas seperti orang dewasa berwarna putih pucat, berkepala botak dan memiliki taring. Mereka juga memakai ****** ***** atau seperti popok bayi warna putih yang sudah kotor dan lusuh. Tubuh bagian bawah seperti anak-anak pada umum nya dengan tinggi yang menyerupai anak anak pula.


"I-itu, itu tuyul, kan?" bisik Ana.


Risa dan Bayu yang sempat mendengar bisikan Ana langsung terbelalak.


...******...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2