
Bab 98 DPT
Jaya mengangguk menjawab pertanyaan Ana. Para makhluk kecil itu berlari-lari riang seperti sedang bermain. Bahkan, dua di antaranya menuju ke arah warung. Jaya mengintip makhluk kecil yang lainnya yang sedang tertawa-tertawa di ikuti oleh teman-temannya. Lalu, mereka pergi menghilang.
Semakin lama, ibu pemilik warung tak kunjung datang. Ana dan yang lainnya juga tak bisa meninggalkan warung begitu saja karena sudah diberi amanah oleh si pemilik.
Namun, warung yang mereka jaga itu semakin aneh dan bertambah aneh. Sosok tinggi besar yang disebut genderuwo bahkan mulai muncul. Jaya langsung meminta Ana dan lainnya untuk jongkok kembali agar bisa bersembunyi di belakang lemari etalase.
"Waduh, si genderuwo dateng lagi. Pada ngumpet, deh!" seru Jaya dengan nada berbisik.
Ana menjawab dengan anggukan kepala. Dia juga gemetar ketakutan seraya memegangi perutnya. Bukan hanya satu genderuwo, tetapi ada dua juga datang. Mereka bahkan berkencan seraya memakani cemilan yang ada di warung.
"Mereka pada nyolong, ya?" tanya Risa.
"Mereka beli, Sa. Tuh, mereka ninggalin duit di meja," bisik Ana.
"Para makhluk itu?" Ria balik bertanya.
"Ya, mereka nggak nyolong."
Ana mengangguk.
"Udah pergi genderuwo nya," bisik Jaya.
Ana muncul diikuti Risa tetapi tidak dengan Bayu.
"Bayu ke mana?" tanya Jaya seraya membereskan kembali semua kekacauan yang ada di warung. Uang yang tercecer pun juga dia kumpulkan kembali dan meletakkannya di tempat samping kotak uang.
Risa melongok ke tempat persembunyian Bayu. Pria itu sedang duduk meringkuk di dekat toilet. Wajahnya menatap ke arah sosok yang muncul dari dalam bilik kamar mandi kecil yang hanya terdapat ember dan keran air. Sosok wanita itu merangkak dengan kedua tangannya. Wajahnya tertutup rambut panjang yang menyapu lantai.
"Na, ada mbak mbak yang mau beli kayaknya dari situ," lirih Risa seraya menunjuk dengan tangan gemetar.
Sosok hantu wanita itu rambutnya sudah menyentuh lutut Bayu. Kemudian, sosok itu membuka rambut yang menutupi wajahnya dan berkata, "Mas, mau mie rebus satu, ya," pintanya.
Bayu hanya diam menatap wajah pucat yang terdapat luka melintang dan terbuka memperlihatkan daging merah penuh belatung itu.
"Sut… sut… Bay…." Risa berusaha untuk memanggil Bayu.
Pria itu benar-benar ketakutan, lidahnya kelu dan mencoba menengok dengan perlahan-lahan ke arah Risa.
"Maaaaas, mie rebusnya satu, ya," pinta sosok hantu wanita itu lagi.
__ADS_1
"Gi-gimana ini, Sa?" tanya Bayu terbata-bata.
"Mbak, gasnya habis. Besok lagi aja beli mie rebusnya," ucap Risa.
Sosok hantu itu menoleh pada Risa, lalu menunjuk ke arah kompor gas milik ibu pemilik warung yang tiba-tiba menyala.
"Wow, sulap dia," gumam Jaya.
Ana sampai menyikunya memberi kode agar Jaya diam.
"Tuh, nyala!" ucap hantu wanita itu.
"Bay, bikin mie nya sana!" pinta Risa.
"Nggak bisa, Sa. Kaki aku nggak bisa gerak," ucap Bayu.
"Kamu aja yang buat, Sa!" titah Ana.
"Huuuu, aku juga yang buat." Pada akhirnya Risa membuatkan mie rebus untuk hantu wanita itu.
Setelah hantu wanita itu menyantapnya, ia kembali ke dalam kamar mandi kecil tadi lalu menghilang.
Brak!
"Gila, masa harga mie rebus aja seratus ribu, ckckckc. Cepet kaya aku buka usaha kayak gini," kata Risa seraya meraih uang tersebut dan meletakkannya di dekat kotak uang.
"Masalahnya duit itu laku apa, nggak?" Kata Ana menimpali.
"Uang asli, Na. Kayaknya laku, mungkin cara pesugihan ibu pemilik warung ini ya begini. Jualan sama setan, hehehe," tukas Risa.
"Boleh tuh, Sa, kamu buka usaha aja sama Bayu," ucap Jaya terkekeh geli.
"Kamu aja sana!" sungut Risa.
"Sorry, masa Raja Garuda kayak aku jualan mie rebus, nggak level!" Jaya berkacak pinggang setelah menyombongkan diri.
"Jangan sombong, nanti kalau dijatuhin kayak aku langsung bangkrut, baru deh nyesel. Mana masalah bertubi-tubi nggak habis habis," ucap Ana menimpali.
"Jadi, aku masalah juga buat kamu?" Jaya mendadak terbawa perasaan.
"Ya emang sumber masalah di awal awal itu kamu! Kalau aja nggak ada video itu, nggak mungkin aku kayak gini," sungut Ana.
__ADS_1
Pertengkaran Ana dan Jaya terjadi saat Risa berusaha menarik Bayu agar bangkit. Sampai tiba-tiba suara berisik terdengar. Ana dan Jaya menoleh ke sumber suara itu. Ada segerombol tuyul yang datang lagi. Mereka bahkan sudah berada di depan etalase mencoba mengambil barang di atas etalase.
Para tuyul itu berusaha meraih barang dengan tubuh kecilnya. Jaya dan Ana juga melihat tubuh tuyul itu berwarna putih kusam dengan pusar yang menonjol. Wajah mereka juga buruk rupa serta taring mengerikan di mulutnya.
"Amit amit jabang bayi," bisik Ana seraya mengusap perutnya.
Entah para tuyul itu sengaja tak mau melihat Ana dan lainnya atau memang mereka tak menyadari kehadiran manusia. Setelah puas dengan jajanan mereka, para tuyul itu mendadak hilang. Hening seperti sebelumnya.
"Ada duit ilang juga, nggak?" tanya Ana pada Risa yang berada di dekat kotak uang.
Risa menggeleng seraya mengangkat ibu jarinya.
"Alhamdulillah, sukurlah nggak ada uang hilang," gumam Ana, menarik napas panjang dan bersyukur kalau tak ada uang hilang.
Jaya lantas meminta maaf pada Ana dengan memeluknya seraya mengatakan cinta. Ana tak kuasa jika tak memaafkan Jaya. Mereka lantas berpelukan mesra. Keduanya lalu duduk di pojok dengan rasa kantuk mulau menyerang Ana. Risa dan Bayu juga menguap dan mengeluh kenapa ibu pemilik warung tak jua sampai.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi makhluk aneh yang datang lagi, ya? Tapi, kenapa si ibu belum muncul juga?!" sungut Jaya dengan kesal.
"Tau nih! Awas aja kalau nanti dua dateng," keluh Ana.
Risa yang merasa mengantuk saat itu, malah memejamkan mata di bahu Bayu. Pikirannya hanya ingin tidur dan berharap bangun pada pagi hari, karena sudah cukup malam ini dengan banyak kejadian aneh yang menimpa dirinya. Dia bahkan berharap hal-hal mengerikan ini hanyalah mimpi.
Ketika Ana juga memejamkan mata di samping Jaya, sosok wanita tiba-tiba muncul. Dia berdiri di luar warung. Jaya membangunkan Ana, lalu keduanya menatap ke arah wanita itu. Sosok yang sudah pasti adalah hantu itu menghadap ke arah jalan sehingga Jaya dan Ana hanya melihat punggungnya. Rambut wanita itu panjang dan hampir menyentuh lantai.
Wanita itu mengenakan baju panjang warna merah yang lusuh. Dia memiliki rambut panjang yang kusut dan terlihat beberapa daun kering yang menempel di rambutnya, yang semakin membuat siapa pun semakin yakin bahwa wanita itu bukan manusia.
"Sayang, ini makhluk apa lagi?" bisik Ana.
"Sayang, siapkan mental kamu. Ini kayaknya kuntilanak merah, deh," sahut Jaya dengan nada yang berbisik juga.
Wanita yang diduga kuntilanak merah itu berdiri terdiam tanpa menggerakan tangannya. Sesekali wanita itu memainkan rambutnya yang panjang dengan menyisir rambutnya menggunakan jari-jari tangannya.
Bulu kuduk Bayu dan Risa merinding kembali, keduanya terjaga dan saling menatap. Rasa ketakutan yang tadi hilang, kembali muncul. Namun, kali ini keduanya mencoba memberanikan diri. Ana juga mulai berani dan mempersiapkan diri untuk menjawab apa yang akan dipesan oleh makhluk yang berdiri di depan warung itu jika dia adalah pembeli gaib lainnya.
Kali ini wanita itu mulai tertawa, tertawa yang khas, membuat suasana semakin menakutkan. Semua bulu di tubuh kembali meremang. Ana melingkarkan tangannya di lengan Jaya kala sosok itu mulai menghampiri.
Tampak wajahnya pucat dengan kedua mata menghitam bak seekor panda. Bibirnya merah dengan gusi menghitam saat tertawa. Sosok kuntilanak merah itu bersenandung kala mendekat pada Ana dan Jaya. Tawanya terhenti ketika mengatakan sesuatu
"Minta kopi satu, Mbak," ucap sosok kuntilanak merah itu.
...******...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....
...See you next chapter!...