
Bab 66 DPT
Note : Bijak dalam membaca ya. Mengandung adegan menjijikkan.
*****
Tantri kembali ke jalan cerita nya tentang kisah Eyang Reno. Janin hasil aborsi itu akan dijadikan tumbal bagi para jin yang mengikuti dukun sakti itu. Kadang lebih parah lagi untuk disajikan ke pada para pemakai jasanya.
Para janin yang terlahir tak cukup bulan itu bahkan masih berusia kandungan muda akan dimakan mentah-mentah oleh para pemakai jasanya. Mereka menganggap sedang menyantap kambing guling, padahal sosok janin yang mereka kunyah mentah-mentah.
Eyang Reni juga menyiapkan janin tersebut untuk memberi makan para jin yang ia miliki. Kadang juga dia gunakan sebagai sarana praktik ilmu hitamnya.
Ana dan Risa sampai tak bisa menahan rasa mual dan langsung muntah-muntah di kamar mandi hotel. Jaya meminta Bayu mengambil air putih hangat dari dispenser air yang disiapkan di masing-masing kamar hotel.
Ada juga praktik ritual lainnya yaitu pengasihan. Pengasihan adalah salah satu ritual yang sangat digemari oleh Eyang Reno semenjak bersekutu dengan Sekarpati. Dalam praktiknya ini, ia dapat melampiaskan hasrat nafsu bejatnya.
Tantri merupakan korban dari praktik tersebut. Eyang Rano menjadi pria yang cabut. Ia merupakan pria yang maniak akan penyaluran nafsu terlarangnya. Berlatar dari masa lalunya yang sangat kelam dan kerap dijadikan budak oleh ibu tirinya dan juga diperdagangkan pada pria pedofil penyuka sesama jenis, membuat Eyang Reno menjadi trauma dan ingin membalas dendam.
Ritual pengasihan ini bertujuan untuk membuka aura di tubuh seorang agar enteng jodoh, tampak lebih menarik di hadapan lawan jenis, maupun tambah disayangi pasangan. Ada juga para selebriti atau artis pendatang baru melakukan praktik ini agar lebih terkenal di kalangan dunia industri entertainment.
Untuk membuka aura dalam diri seseorang terutama kaum perempuan, maka diperlukan transfer ilmu atau energi. Kebanyakan pasien dari ritual ini adalah perempuan yang akhirnya dimanfaatkan oleh Eyang Reno.
Proses transfer energi tersebut dituntut mandi bersama bahkan berhubungan badan untuk mengaktifkan auranya, sungguh sangat miris. Itulah modus yang sering dilakukan pria bejat itu untuk menyalurkan nafsu bejatnya.
Ternyata wanita muda yang berada di dalam kamar adalah Tantri. Ia terjebak karena pelet Eyang Reno. Padahal Tantri tadinya ingin melakukan ritual pelet pada ayahnya Jaya. Tantri yang kemudian diguna-guna agar menyukai pria tua itu lantas menurut saja.
Eyang Rano tidak bisa menjauhkan pikiran bejatnya kepada Tantri. Alih-alih wanita itu meminta dipasangi susuk pengasihan, dia malah dipelet Eyang Reno terlebih dulu.
Alhasil, Tantri kerap menjadi objek nafsu terlarang Eyang Rano. Apalagi Raja Sumardjo telah pergi setelah banyak mengetahui kalau Eyang Rano hanya tak lebih sebagai dukun cabul bukan dukun sakti yang ia inginkan ilmunya. Untuk itulah, Raja Sumardjo pergi dan bertemu dengan Eyang Setyo.
Keinginan Eyang Rano untuk membalaskan dendam masa lalunya terlampiaskan melalui para pasien yang kebanyakan ingin balas dendam juga. Pria tua bangka yang bejat itu tumbuh bersama dendam dan amarah.
Eyang Rano juga melakukan praktek jasa mengerikan yaitu santet atau teluh. Santet maupun teluh yang dikirim Eyang Rano selalu berhasil menembus pagar gaib yang dimiliki target pasiennya. Dia mendapat kenikmatan tersendiri ketika ia berhasil membunuh target santet pasiennya.
Hal itu membuat dirinya sebagai sosok dukun yang tak terkalahkan. Namun, di penghujung hidupnya, kesaktian Eyang Rano akhirnya mampu ditandingi oleh seorang dukun ilmu putih, yaitu Eyang Setyo. Ia satu satunya orang yang mampu melumpuhkan kesaktian si dukun hitam.
__ADS_1
Ketika santet yang Eyang Rano dikirimkan ke rumah keluarga salah satu murid Eyang Setyo, ilmu santet itu memental begitu saja dan malah berbalik lagi menuju Eyang Rano.
Hal itu membuat Eyang Rano sangat kewalahan melawan dukun ilmu putih itu. Menurut kepercayaan para orang sakti dalam hal santet, santet yang dikirimkan mental lagi ke pengirimnya, malah akan bertambah dua kali lipat. Biasanya kekuatan santet tersebut langsung menyerang organ dalam pengirimnya.
Eyang Rano merasa kekuatannya terhisap, energinya terkuras. Ia tak mampu melawan. Akhirnya dia mati kemudian secara mengenaskan.
"Tempat perguruan Eyang Rano lantas dihancurkan dan dibakar. Aku juga ikut menjadi korban. Aku mati dalam kebakaran itu dan sedang hamil. Jadilah aku kuntilanak seperti ini. Tapi, ada salah satu murid yang berhasil kabur, tapi aku lupa siapa dia," ucap Tantri menjelaskan.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Aku lega karena ayahku tidak jadi berguru pada si dukun bejat itu," ucap Jaya.
"Iya, aku juga lega dengernya kalau Raja Sumardjo belajar ilmu putih sama Eyang Setyo. Jadi, kita nggak sia-sia mau cari Eyang Setyo. Aku pikir dia target yang benar yang kita bisa minta pertolongan," ucap Ana.
"Tapi, Na, siapa murid Eyang Rano yang kabur itu, ya? Apa dia yang membuatku seperti ini, yang membuat Widi melakukan pembunuhan pada ayahku? Dia pasti mau balas dendam," ucap Jaya.
"Entahlah aku juga tak mengerti. Eh, tapi sadar nggak sih, kenapa kita nggak ketemu sama hantunya Mbak Widi? Dia kan dihukum mati sebelum berhasil melakukan rencananya menghabisi keluarga kamu, Jay. Apa dia benar-benar sudah tenang dan kembali ke alam sana, ya?" gumam Ana.
"Atau dia belum mati," sahut Risa.
Bayu yang sedang meneguk air itu langsung terperanjat dan menyemburkan airnya.
"Aku cuma kaget, kok. Kalau Mbak Widi belum mati, berarti Mas Panji yang nolong dia, dong? Kan, Mas Panji yang dipercayakan buat menghukum mati Widi," ucap Bayu.
"Nggak mungkin Mas Panji berkhianat begitu. Dia cinta banget loh sama Ratu Melati. Dia bakal ngejagain Ratu Melati dengan baik. Ratu Melati juga baik kan, Na?" tanya Risa pada Ana.
"Ya, dia baik kok," sahut Ana lalu menguap.
"Sebaiknya kalian istirahat dulu. Besok kita lanjutkan kembali perjalanan," ucap Jaya.
Ana setuju. Berhubung rasanya tak mungkin membiarkan Risa tidur satu ranjang bersama Bayu, Ana lantas menarik Risa tidur bersamanya. Sementara Bayu di kamar sebelah bersama Jaya.
"Kamu kenapa, Bay?" tanya Jaya saat merenung menatap langit-langit kamar hotel.
"Kayaknya nggak enak banget tidur sama pocong begini, rada rasa serem," ucap Bayu lalu berbalik badan tak mau menatap Jaya.
"Sialan kamu!" sungut Jaya.
__ADS_1
...***...
Jam di dinding kamar hotel menunjukkan pukul dua dini hari. Risa terbangun karena tenggorokan yang tercekat saking hausnya. Ia meraih botol mineral di atas meja dan meminumnya. Tiba-tiba, saat ia menoleh wajah Tantri sudah ada di hadapannya.
"Aduh, si Mbak Tantri jangan ngagetin gitu, dong!" keluh Risa.
"Duh, maaf aku nggak niat ganggu. Tapi, temen aku mau minta tolong," ucapnya.
Sosok hantu perempuan lainnya muncul dari balik jendela. Risa langsung menundukkan kepalanya. Hantu itu semakin mendekat.
"Mbak Tantri, aku takut sama temennya," ucap Risa.
"Dia mau minta tolong sama kalian," pinta Tantri.
"To-tolong, tolong siapa?" tanya Risa mencoba menahan bau busuk hantu wanita temannya Tantri itu.
Hantu wanita itu menunjuk ke arah jendela. Risa jadi tak fokus dan memberanikan diri menoleh ke arah jendela. Ternyata dia melihat kerumunan petugas hotel dan pengunjung.
"Kok, rame sih? Ada apa, ya?" gumam Risa.
"Sa, lihat apa?" Ana yang terbangun lalu menepuk bahu Risa sampai menyentak sahabatnya itu.
"Aaaaaaa!" pekik Risa.
"Heh, ini aku!" sahut Ana.
"Duh, Ana ngagetin aja! Tuh, di bawah sana ada rame-rame," ucap Risa menunjuk ke arah bawah.
"Ada apa, ya? Kok, aku kepo mau lihat ah!" Ana lantas membangunkan Jaya.
Dia juga meminta Risa untuk mengikutinya menuju lantai bawah dekat kolam renang yang tengah dikerumuni beberapa orang itu.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...