Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 60 - Kebenaran yang Lain


__ADS_3

Bab 60 DPT


Ana dan Risa mulai gusar mendapati Jaya yang tertidur sudah dua hari lamanya. Setelah ditolong Panji dan Mbah Karso, tubuh Jaya dibaringkan di kamar utama. Ana terus menemaninya.


Selalu tersirat di pikiran Ana kalau hanya keturunan murni Mangkulangit yang dapat menyegel iblis tersebut, dan itu hanyalah Jaya. Maka dia harus menjaga Jaya dengan baik dan berdoa agar Jaya lekas sadar demi bisa menyegel iblis jahat tersebut.


Ratu Melati mengetuk kamar Ana. Dia datang bersama Widi. Sang ratu membawakan minuman kesehatan ibu hamil untuk Ana, tetapi Ana malah menepisnya dengan kasar.


"Jika kau ingin menghabisi nyawaku dan Jaya secara perlahan-lahan seperti kau menghabisi suamimu, maka kau salah. Itu tak akan pernah terjadi dan aku biarkan!" seru Ana.


Plak!


Ratu Melati menampar pipi Ana.


"Jaga mulutmu, Ana! Tak pernah terpikir sedikit pun kalau aku ingin menghabisi suamiku sendiri dan juga Jaya," ucapnya.


Ana menyeringai, menatap sang ratu dengan tajam. Ratu Melati yang sakit hati lantas segera angkat kaki meninggalkan kamar Ana dan Jaya. Widi mengikuti sang ratu dengan kepala menunduk. Dia juga takut pada amarah sang ratu.


Muak dengan terus menyelidiki Ratu Melati, Ana berniat dengan Risa untuk menyerang Ratu Melati saat malam tiba. Rencana Ana dan Risa berhasil. Dia membekap sang ratu. Ana mengancam dengan pisau belati dan memaksa sang ratu untuk mengaku. Ana juga mengikat tangan dan kaki sang ratu.


Risa mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk di semua laci dan lemari di kamar Ratu Melati. Akan tetapi, kebenaran lainnya mulai terkuak. Risa menemukan foto bersama Ratu Melati dan Panji yang sangat mesra.


"Na, kamu harus lihat ini!" Risa menunjukkannya pada Ana.


"Gila!" Ana lantas terperanjat dan melempar lembaran foto itu ke wajah Ratu Melati.

__ADS_1


Sang ratu ternyata sebenarnya berselingkuh dengan Panji dan sang raja tahu akan hal itu. Risa sempat memergoki seorang pria keluar dari kamar sang ratu. Risa pikir itu Patih Gundul, ternyata pria itu adalah Panji.


"Jadi, kau berselingkuh dengan Mas Panji lalu membunuh ayahnya Jaya, begitu? Kau mau menguasai hartanya?" tuding Ana.


Ratu Melati menggeleng seraya menangis.


"Raja Sumardjo tahu tentang hubungan kami. Dia tahu kalau aku tak pernah mencintainya. Dia malah merestui dan meminta Panji untuk menjaga aku dengan penuh kasih sayang karena semenjak menikah, dia sudah tak bisa melayaniku, memberi nafkah batin sebagai suami. Aku bertahan demi menjaga nama baik istana dan untuk merawat Jaya, karena Ibu Ratu memberi amanat padaku untuk merawat Jaya. Lalu, Mas Panji datang dan membuatku jatuh cinta. Raja tahu akan hal itu sehingga merestui hubungan kami asal aku tetap bertahan di istana." Ratu Melati menjelaskan panjang lebar pada Ana dan Risa.


Terserah mau Ana dan Risa percaya atau tidak, yang jelas dia sudah berkata sejujurnya. Ratu Melati sebenarnya sangat baik hati dan sangat mencintai Raja Sumardjo seperti memcintai seorang ayah. Dia juga menyayangi Jaya, bahkan menjaga harta warisan untuk Jaya sebaik mungkin. Ratu Melati menunjukkan berkas-berkas itu semua pada Ana dan Risa.


...***...


Di alam mimpi Jaya.


"Dul, bangunlah!" Jaya menghampiri si kerdil dan mengguncang tubuh makhluk kerdil itu. Namun, tak ada lagi embusan napas dan denyut kehidupan. Makhluk kerdil itu tewas seketika.


Suaranya parau dan berat. Jaya tak bisa melihat wajahnya yang tertutup tudung itu. Dia berusaha membuat sosok misterius itu membuka tudungnya. Namun, Jaya tetap tak bisa melihat wajah itu.


Tiba-tiba, sosok itu berubah dan terjadi keanehan pada sosok tersebut. Ia membuka tudungnya. Kepalanya seperti kambing sedangkan kakinya mirip kuda. Dia juga memiliki sayap sayap seperti burung elang lalu di bagian belakangnya ada ekor-ekor yang ujungnya meruncing seperti kalajengking.


Jaya segera saja langsung bersiap siaga melihat ekor yang tajam dari sosok tersebut dia bukanlah manusia begitu. Mungkin saja yang Jaya temui adalah Iblis Rahwana. Sosok iblis jahat itu yang sesungguhnya.


"Siapa kau?" tanya Jaya.


"Cepat kau berikan mustika itu ke padaku! Atau akan aku binasakan dirimu di alam mimpi mu sendiri!" ucapnya lagi penuh ancaman.

__ADS_1


Jaya menggelengkan kepalanya tetapi makhluk itu lalu menyeringai. Dia memperlihatkan dua gigi taring dan sebagian giginya terlihat tajam benar-benar mengerikan. Sosok itu perlahan maju dan dia bersiap untuk menyerang.


Jaya berusaha meraih pedang miliknya yang baru saja dipercayakan ibunya untuk ia miliki. Ia keluarkan pedang tersebut dari sarungnya yang tergeletak di atas batu bertuah. Jaya perlahan mundur dengan waspada. Hatinya mulai kalut. Sempat terbersit pemikiran, mungkinkah ia akan berakhir di dalam mimpinya sendiri dan terbangun sudah dalam keadaan tewas?


"Duh, bagaimana ini," lirih Jaya yang makin mundur perlahan sementara sang musuh makin maju mendekatinya.


Namun, tiba-tiba saja cahaya kehijauan muncul dari kejauhan. Seperti awan hijau yang di sekitarnya ada cahaya. Gumpalan kabut asap itu dengan cepat mendekat ke arah Jaya dan makhluk jadi-jadian tadi. Asap itu tepat berada di depan Jaya, berdiri di antara dia dan makhluk menjijikkan tadi.


"Kau tidak akan bisa mendapatkannya!"


Gumpalan asap itu mengeluarkan suara. Jaya mencoba menelisik lebih saksama siapa sebenarnya yang mengeluarkan suara itu.


"Aku tak akan berhenti sampai mustika bertuah itu aku dapatkan! Minggir kau dari hadapan ku!" Suara sosok yang menyeramkan itu terdengar penuh ancaman dan menakutkan.


"Sebaiknya kau hentikan sekarang juga! Kau tidak akan bisa memiliki mustika bertuah itu!" seru seorang wanita cantik yang mulai keluar dari gumpalan asap dan menghilang itu.


Dia memiliki warna mata cokelat yang indah. Warna mata yang terlihat mirip dengan mata milik Jaya. Wanita itu sempat menoleh pada Jaya dan tersenyum.


"Kau sudah mati! Mana mungkin kau bisa melawanku, hah?!" pekik makhluk itu.


Jaya melihat sosok wanita yang selama ini ia kenal, tetapi wanita itu bahkan telah meninggal.


...*****...


...Bersambung dulu, ya......

__ADS_1


...See you next chapter!...


__ADS_2