
Bab 104 DPT
Jarum jam merapat di angka tiga dini hari, tetapi belum ada yang bergeming untuk memejamkan mata. Di alas tidur tikar pandan itu, Jaya melirik ke arah Agus dan Bayu yang terpejam seolah sudah hanyut mengarungi mimpi, tetapi mereka belum jua terlelap.
Dari kamar sebelah tiba- tiba terdengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring. Putranya Jaya yang baru dilahirkan menangis dengan kencang. Sempat terlintas kalau sang bayi terbangun karena lapar. Namun, tangisannya semakin kencang. Jaya bangkit dan melangkah masuk ke kamar Ana.
"Ada apa, Sayang?" tanya Jaya ketika Ana berusaha menggapai sang bayi.
Jaya langsung menggendong bayi itu dan memberikannya pada Ana. Sang istri langsung menyusui si bayi. Namun, Anjaya tetap menangis semakin kencang sampai seisi rumah terbangun.
"Anja kenapa, ya? Kamu udah susuin kan, Na?" tanya Ratu Melati.
Ana mengangguk, "sudah, Bu."
Ratu Melati sedikit heran, biasanya kalau sekadar lapar juga tangisan sang bayi tidak akan seperti ini tangisannya. Bu Yayah lantas mengamati genteng rumahnya. Ia lalu menatap pada sang suami yang terlihat menganggukkan kepala.
"Periksa sekeliling rumah. Ada yang sedang mengincar bayi kalian," ucap Bu Yayah.
"Mengincar Anja? Siapa?" tanya Ana.
"Semua bayi mempunyai indra keenam yang peka. Jadi, setiap bayi bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang dewasa," ucap Bu Yayah.
"Siapa yang Anja lihat? Hantu? Tapi, aku kok nggak lihat?" sahut Risa.
"Iya, kami yang biasa lihat hantu juga nggak lihat hantu apa pun. Jadi, siapa yang mengincar bayiku, Bu?" tanya Ana lagi.
Ana merasakan kecemasan yang diam,
-diam merayap di dalam raganya. Rumah Bu Yayah ini adalah tempat asing, apakah mungkin bayi nya melihat sesuatu yang tidak tampak dan menakutkan? Ratu Melati sampai merasa merinding.
"Ada palasik di sini," ucap Bu Yayah.
"Palasik?" Ana, Risa, Bayu, dan Jaya mengucap bersamaan.
"Palasik adalah manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Bahkan, menurut ceritanya, ilmu palasik dipercaya bisa diwariskan secara turun-temurun hingga tujuh turunan. Dia hanyalah kepala tanpa badan yang melayang. Palasik akan melepas kepalanya untuk mencari makan. Makanannya adalah bayi atau balita, baik yang masih dalam kandungan, yang baru lahir, bahkan yang telah meninggal dan dikubur. Makanya kemungkinan dia mengincar bayimu ini," ucap Bu Yayah.
Suaminya Bu Yayah meminta Jaya dan Bayu serta Agus untuk berkeliling rumah mencari keberadaan palasik, lalu mengusirnya. Kalau bisa mereka harus menghabisinya dengan segera sebelum Ana dan bayinya jadi korban.
Hawa dingin sangat terasa. Bahkan lebih dingin dari sebelumnya. Diliputi rasa cemas, Ana melirik jam dinding. Sudah pukul tiga lewat sepuluh dini hari. Hampir sepuluh menit sudah rombongan para pria belum kembali. Suasana senyap dan sepi di luar rumah.
Tangisan bayi Anjaya sesekali terdengar, walau tidak seperti sebelumnya. Tentu saja tak ada yang bisa tidur lelah lagi, ditambah dengan perasaan yang menjadi tak enak.
__ADS_1
Rama meminta Risa untuk menemaninya ke kamar mandi karena ia merasa takut. Awalnya Risa meminta Rama untuk menunggu Bayu saja, tetapi anak itu sudah sangat tak tahan. Ana akhirnya memaksa Risa untuk mengantarkan Rama ke kamar mandi belakang.
Sambil mengucek mata, Risa mengiringi Rama yang ingin buang air kecil. Rasanya sudah meledak-ledak tak tertahankan menurut anak itu. Keduanya memutuskan berjingkat perlahan menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah karena takut bertemu dengan palasik.
"Kak, palasik itu perempuan apa laki-laki?" bisik Rama yang secara tiba-tiba menanyakan hal tersebut.
"Ya ampun ini bocah sempet-sempetnya nanya gitu! Mana Tante Risa tahu! Tante kan belum kenalan sama dia!" bisik Risa.
"Soalnya namanya palasik, pake Pa. Kalau perempuan kan harusnya malasik," ucap Rama menahan tawanya.
Ia sengaja membicarakan hal tersebut agar tak begitu takut.
"Terus kalau hantunya bencong jadi apa? Seslasik? Apa conglasik?" kata Risa seraya melirik Rama dengan kesal.
Rama sontak saja tertawa terbahak-bahak. Risa langsung membekap mulut anak itu.
"Buruan pipis, nanti kalau kita ketemu sama conglasik lebih serem lagi," titah Risa seraya berbisik.
Rama mengangguk. Anak itu lantas masuk ke dalam kamar mandi demi menuntaskan hajatnya.
Saat menunggu Rama yang tengah buang air kecil, secara tiba-tiba Risa mendengar suara tangisan bayi lagi dari kamar Ana. Tangisan itu tidak begitu kencang, tetapi lebih mirip suara rengekan.
"Tuh, kenapa lagi si Anjay tuh? Eh, nggak enak banget manggilnya. Takut udah gede dipanggil Anjaaaaayyy, hehehe. Ada-ada aja pake gabungan nama segala si Ana sama Jaya namainnya," kata Risa bermonolog dengan dirinya sendiri mengusir rasa yang semakin tidak enak.
Rama membuka pintu kamar mandi, tetapi tiba-tiba terdengar suara mendesis dari atap kamar mandi tersebut.
"Tante, itu suara apa?" bisik Rama.
"Nggak ada suara apa-apa. Perasaan kamu aja!" tukas Risa.
Suara mendesis itu datang lagi.
"Tuh, kan…." Rama mendongak ke arah atap.
Risa yang akhirnya mendengar suara desis tersebut jadi ketakutan. Bukan cuma makhluk gaib yang ia takutkan, tetapi bisa saja suara tersebut datang dari sosok ular besar yang bisa menelannya hidup-hidup.
"Kita masuk aja, Rama!" ajak Risa.
"Aku mau lihat dulu, Tante. Aku penasaran," rengeknya.
"Tante Risa nggak mau ya ngeladenin rasa penasaran kamu yang berujung mati konyol nantinya. Lihat tuh belakang sana! Ada sungai ada hutan juga. Nanti kalau ada ular besar yang makan manusia, gimana hayo?" ketus Risa.
__ADS_1
"Ya udah deh aku nurut."
Rama dan Risa akhirnya bergegas masuk ke dalam rumah. Namun kemudian, langkah keduanya terhenti. Kedua pasang mata itu tertumbuk pada sesuatu di atas pintu masuk ke rumah Bu Yayah. Kedua kaki Risa dan Rama tampak tak bisa digerakkan seolah terpaku ke dalam bumi.
Ada wajah seorang wanita berambut panjang yang tersenyum menyeringai. Wanita yang Risa masih ingat wajahnya. Wanita yang tadi ditabrak oleh Bayu. Namun, Risa dan Rama hanya melihat kepalanya saja. Di bagian leher ke bawah terdapat beberapa organ dalam tubuh yang melayang, sama persis dengan cerita Bu Yayah sebelumnya. Ya, sebentuk kepala perempuan menyeringai, dengan isi perut bergelatungan.
"Ta-tante, Tante Risa … ini conglasik bukan?" bisik Rama akhirnya.
Sungguh, rasanya Risa ingin sekali berteriak, tetapi apa daya lidah perempuan itu terasa kelu. Bahkan untuk beranjak dari tempat berdiri pun dia merasa tak sanggup.
"Tan-tante Risa!" pekik Rama akhirnya.
Risa hanya bisa meneteskan air mata. Ia ingin sekali berteriak memanggil Bayu dan yang lainnya, tetapi suaranyahanya sampai di ujung tenggorokan. Dalam kondisi seperti ini, Risa akhirnya berusaha merapal doa apa pun yang terlintas di kepala. Namun, mulut ini terkunci. Risa benar-benar tak berdaya melihat makhluk mengerikan itu.
Rama akhirnya bisa membuka suara lebih kencang. Ia berteriak memanggil Jaya meskipun dada anak itu terasa berdegup kencang dengan napas yang tersengal. Palasik itu mendekat. Bahkan ia berputar mengelilingi Risa dan Rama. Lidahnya terulur ke pipi mulus Risa. Tangisan Risa makin deras seiring rasa takutnya yang sudah menyeruak sedari tadi.
"Ba-ba-baca doa, Rama!" Akhirnya Risa dapat buka suara juga setelah menguatkan dirinya agar terbebas dari sihir palasik tersebut.
Namun, kaki mereka berdua belum dapat digerakkan.
"Allahuma bariklana–"
Risa menoyor kepala Rama.
"Itu kan doa, Tante!" sungut Rama.
"Ya, jangan doa makan juga! Duh, buruan kek Jaya sama Bayu ke sini!" Risa makin gemetar ketika sepasang mata merah itu sudah menatap ke arah matanya.
Pandangan Risa mulai kabur. Dia mulai pasrah, mungkin sebentar lagi dia akan mati, pikirnya.
Tiba-tiba, beberapa batu menghujam organ tubuh makhluk tersebut.
"Pergi kamu!" Suaminya Bu Yayah terdengar berteriak.
Pria paruh baya itu datang diikuti Jaya, Bayu, dan Agus.
Sosok palasik itu menoleh, dan akhirnya ia kabur menuju ladang. Sontak saja para pria itu mengejarnya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya. ...
__ADS_1
...See you next chapter!...