Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 118 - Pertarungan


__ADS_3

Bab 118 DPT


Saat malam menjelang, pesta mulai dipersiapkan. Sesuai arahan dari Jaya, Nenek Darah mulai membubuhi makanan untuk para pejabat dengan racun. Mereka akan merasa kesakitan dengan tenggorokan terasa tercekat lalu mulai kehabisan napas dan akhirnya mati.


Jaya dan Ana sudah bertekad menghabisi para pejabat yang memboikot dan ikut serta membela Mbah Karso. Mereka juga semena-mena pada kehidupan rakyat nantinya. Sementara itu, para prajurit yang baik dan terpaksa menurut dengan Panji dan Karso karena hanya menjalankan tugas, mereka akan diberi racun yang hanya bisa membuat mereka tertidur. Semua racun itu diracik oleh Nenek Darah pastinya.


Iringan pengantin pria mulai datang memasuki aula pernikahan. Mbah Karso tengah duduk di singgasana milik Raja Sumardjo di sebuah panggung yang lebih tinggi dari tempat para pejabat duduk. Dia akan menyaksikan pesta pernikahan Panji dan Ana malam itu. Di belakang para pejabat ada para prajurit yang siap untuk menjaga Mbah Karso.


Sementara itu di ruangan tempat Ana berada, wanita itu sudah merias semuanya agar tampak beda. Ia menggunakan alat make up yang dia kumpulkan saat berada di Kerajaan Garuda. Ratu Melati dan putranya masih bersembunyi menunggu aba-aba untuk kkeluar. Perasaannya sangat cemas dan hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Ana dan Jaya.


"Ana, apa kau siap?" bisik Jaya.


"Aku siap, Sayang. Lalu, apa kau siap?" Ana balik bertanya.


"Aku siap! Ingat ya, aku juga siap menjagamu. Aku akan selalu ada di sisimu." Jaya mengecup dahi Ana lalu memeluk sang istri sejenak sebelum mereka ke luar dari ruangan menuju tempat pesta.


"Kalian hati-hati, ya," ucap Risa penuh ketulusan.


Dia akan membantu jika sudah waktunya tiba.


"Terima kasih, Risa. Kau tunggu aba-aba kami di sini ya," ucap Ana.


Risa menjawab dengan anggukan. Di aula kerajaan Garuda yang berada di pusat wilayah kerajaan, para pengawal Mbak Karso tengah menyambut kedatangan rombongan para tamu undangan yang hadir.


Ana melangkah masuk, lalu duduk di panggung samping kursi Panji. Mereka berada di seberang panggung Mbah Karso. Jaya mencoba untuk berpura-pura menjadi pengawal dari Ana. Sementara itu para prajurit lainnya berjaga di belakang panggung.


"Salam hormat saya pada tamu undangan Kerajaan Garuda!" Panji menyapa para tamu sambil mengangkat gelas perak di tangannya lalu meminumnya di hadapan Ana.


"Salam hormat Raja dan Ratu Garuda!" ucap semua pejabat bersamaan.


Tak lama kemudian, sebuah pertunjukkan tarian digelar oleh pihak Jaya dengan menunjukkan tarian dari para gadis remaja. Beberapa di antaranya bahkan diperlakukan tidak senonoh oleh para pejabat genit.

__ADS_1


Ana yang melihat adegan tersebut sampai gemas dan kesak. Rasanya ia ingin meraih pedang di samping pinggang Panji lalu menariknya dan menebas kepala para pejabat genit tersebut.


Sementara Panji menatap tajam ke arah Ana lalu ia tersenyum menyeringai bagaikan hewan buas yang mendapatkan buruannya. Pria itu lalu buka suara.


"Ratu Ana, bukankah ini sangat seru?"


"Ini sangat biadab! Kau memang pria yang keji!" sungut Ana.


Panji semakin tertawa lalu bertanya penuh ancaman, "mau kah kau menjadi permaisuriku? Jika tak mau aku akan bunuh putramu dan neneknya itu,bagaimana?" tanya Panji seraya mengangkat gelas perak berisi anggur.


Ana semakin tak bisa menyembunyikan rasa kesal dan muaknya pada pria itu.


"Apa yang akan aku dapatkan jika menikah denganmu?" tanya Ana.


"Tentu saja kau akan mendapat kuasa penuh atas Kerajaan Garuda," sahut pria itu.


"Kuasa penuh? Bukankah suamiku sudah menguasai penuh atas Kerajaan Garuda? Maka, jandanya berhak atas permaisuri Garuda, kan?" tanya Ana.


"Hahaha... tidak seperti itu permaisuri cantikku. Aku akan membahagiakanmu dan semua yang kau mau akan aku penuhi." Panji mencoba meraih tangan Ana untuk memberi kecupan di sana. Namun, Ana menepisnya.


"Tentu saja, asal kita menikah," ucap pria itu.


Tak berapa lama kemudian setelah hidangan makanan disajikan sesuai rencana Jaya, para pejabat dan prajurit mulai berjatuhan. Namun, hal itu tak tejadi pada Panji dan juga Mbah Karso. Anggur yang disuguhkan untuk pria itu sudah diberi racun, tetapi ia tahu dan tak meminumnya sehingga tak terjadi apapun kepada Mbah Karso atau juga pada Panji.


"Apa yang terjadi?"


Panji bangkit lalu menatap tajam ke arah pengawal kepercayaannya. Pria itu juga bingung dengan apa yang terjadi kemudian.


Setelah dirasa pihak Panji mulai menyusut dan mulai merasa akan kalah, akhirnya sang raja sejati mulai menunjukkan taringnya. Jaya menunjukkan wajah asli miliknya. Begitu juga dengan Ana dan Nenek Darah serta Risa. Ana mengarahkan tangan untuk meraih pedang di pinggang Panji.


"Kau tak pantas mendapatkan pedang pusaka Mangkulangit ini!" Pekik Ana.

__ADS_1


"Akulah raja di sini, kau hanyalah rakyat biasa sekarang," ucap Panji penuh percaya diri.


Sementara itu, Mbah Karso tengah bersiap.


"Hai, pria tua bangka busuk! Sekarang kau kembalikan tahta kerajaanku!" seru Jaya mengancam Mbah Karso.


"Wow, rupanya anak kucing ini sudah berubah menjadi anak singa, ya? Kau sekarang mulai berani melawan rupanya. Ummm, tapi sayangnya kau tetaplah anak kecil yang bodoh. Aku pastikan kalau kau tak akan bisa menandingi aku," ucap Mbah Karso.


"Kau hadapi mereka!" titah Mbah Karso pada Panji seraya turun dari singgasana raja dan menuju ke dalam istana.


Pria itu akan mengucap ritual yang bisa membantunya melawanan Jaya dan lainnya.


Jaya lalu menoleh ke Ana yang berhasil menghunuskan mata pedang di hadapannya ke dada Panji.


"Ana kau harus berjaga di sini dan kau harus berusaha semaksimal mungkin di sini. Nah, aku akan mengejar Karso,"ucap Jaya.


"Iya, baiklah. Kau juga harus hati-hati ya, sebentar lagi aku akan menyusulmu juga."


Ana memeluk Jaya kemudian.


***


Para prajurit yang tersisa kembali menyerang semua pasukan kecil milik Jaya. Ana, Risa, dan Nenek Darah mencoba untuk bertahan dengan melawan balik para pasukan tersebut.


Jaya mengejar Karso yang mulai menjauh pergi. Pria itu mulai terdesak dengan kekuatan yang Jaya miliki. Mbah Karso lantas mengubah diri menjadi makhluk besar menyeramkan.


Mbah Karso menyerang Jaya dengan cara bertubi-tubi. Takut Jaya kalah perang, di tengah perjalanan, Jaya dan Karso dihadang oleh Nenek Darah. Pria paruh baya itu sontak saja membunuh wanita paruh baya itu seketika.


Jaya yang melihat hal itu sangat marah. Ia langsung menyerang Mbah Karso penuh kemarahan. Pemuda itu melayangkan sabetan pedangnya bertubi-tubi pada Mbah Karso. Pertarungan keduanya sangat seru jika dilewatkan.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2