Dinikahi Pocong Tampan

Dinikahi Pocong Tampan
Bab 106 - Ana Ditusuk


__ADS_3

Bab 106 DPT


Parto luput dari pengawasan Bayu, pria itu hendak menolong istrinya. Dia membawa sebilah pisau dia hendak menusuk Jaya, tetapi Ana bergegas menyelamatkan suaminya. Sayangnya, Ana terkena tusukan di perutnya. Dia limbung dan jatuh kemudian.


Sontak saja Jaya dan Bayu yang emosi menghajar Parto habis-habisan. Risa tampak panik memegangi tubuh Ana. Ratu Melati menekan luka di perut Ana agar darahnya tidak terlalu banyak.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" titah Jaya.


Bayu segera menyiapkan mobil.


"Jangan khawatirkan Anjaya, nanti biar ibu yang urus," ucap Ratu Melati.


"Bagaimana dengan susu Anja, Bu?" tanya Jaya.


"Aku nanti minta antar Mas Agus buat beli susu formula buat Anja. Yang penting cepat bawa Ana ke rumah sakit!" pinta Risa.


Tiba-tiba, Parto mencoba kabur. Namun, pria itu malah membakar tubuhnya sendiri tepat di samping Jaya membakar palasik istrinya.


"Sudah biarkan saja! Kalau memang dia memilih mati menyusul istrinya, ya sudah biarkan saja. Dia siap menanggung dosa besar rupanya," kata Bu Yayah.


"Pang Jay, mobil udah siap!" seru Bayu.


Jaya lantas meminta Bayu untuk menggotong Ana ke rumah sakit.


...***...


Di rumah sakit tempat Ana dirawat. Jaya meminta Bayu kembali ke rumah Bu Yayah untuk istirahat. Dia akan menjaga Ana di rumah sakit tersebut. Bahkan Jaya harus memakai topi dan jaket berhodie untuk menutupi identitasnya. Dia juga berharap semoga tak ada yang mengenalnya.


Sinar mentari yang mengintip dari celah tirai pukul dua siang membuat Ana terjaga. Wanita itu memicing. Ana melenguh lalu berkata lirih kalau ia kehausan. Jaya segera memberikan Air pada Ana.


"Kau sudah sadar, Sayang?" Suara itu mengalun merdu, sangat perlahan dan terdengar menenangkan hati ini yang sempat berpikir kalau dia akan mati.


Ana lalu mengerjap perlahan. Iris cokelat nya telah sempurna menatap ke atas. Wanita itu mendapati langit-langit berwarna putih cerah dengan gorden yang separuh menutupi bilik kecil tempat dia berada.


Suara samar-samar yang didengarnya mulai terdengar lebih jelas, dengan aroma obat yang tercium menyengat. Ana menolehkan kepala, lantas mendapati seorang laki-laki yang sangat ia cintai, sedang menatapnya melalui sepasang iris kecokelatan tersebut.


"Sayang…." Ana tersenyum.


"Ya Allah, syukurlah kamu udah sadar. Aku pikir kau tak akan selamat kali ini. Aku akan sangat sedih dan menyalahkan diri aku sendiri," ucap Jaya bernada rendah, tetapi jelas tersirat rasa senang dan syukur.


Kedua mata Jaya juga tampak mengkilap berkaca-kaca. Bibirnya tak henti-hentinya mengecup punggung tangan Ana seraya menggenggamnya.


"Aku pikir aku akan mati, tapi ternyata aku tak selemah itu," sahut Ana. Menatap Jaya seraya tersenyum dan penuh syukur.


Ana masih berusaha untuk mencerna keadaan, tetapi satu hal yang jelas dia rasakan ketika tubuhnya tidak sesakit tadi. Sebuah infus tertancap di punggung tangan dan mungkin saja dokter telah memberinya obat penghilang rasa sakit sehingga rasanya tak sesakit tadi.


"Bagaimana dengan Anjaya? Nanti kalau dia lapar, gimana?" Ana mulai panik.


"Barusan Risa kasih kabar kalau dia sangat anteng. Anjaya anak yang tenang dan sepertinya mengerti tentang keadaan kita. Dia nggak rewel dan gampang minum susu formula sementara kamu di sini," ucap Jaya mencoba membuat Ana tenang.

__ADS_1


"Ah, syukurlah… aku takut dia rewel. Apalagi kita masih dalam persembunyian," tutur Ana.


Jaya menatap Ana lekat-lekat.


"Dia anak yang pintar dan hebat, Sayang. Aku yakin itu," ucapnya.


Seorang suster datang seraya membuka tirai pemisah antar ranjang Ana dan pasien di sebelahnya.


"Rupanya pasien sudah sadar. Kenapa Anda tidak melaporkan ke suster?" tanyanya terlihat ketus.


"Maaf, Suster, saya terlalu bahagianya pas liat istri saya sadar, sampai lupa lapor ke Suster." Jaya melayangkan senyum yang sukses membuat suster tersebut terpana.


"Ehem ehem!" sungut Ana sengaja menyentak sang suster


"Eh, sebentar ya kalau gitu saya lapor dokter dulu. Tunggu sebentar lagi," katanya ramah.


"Baik, Suster," ucap Jaya.


"Nanti saya akan segera kembali bersama dokter yang akan segera datang dan memeriksa pasien," tukasnya. Lalu dia pergi.


"Aku nggak suka kamu tebar pesona, ya!" ancam Ana.


"Senyum itu kan ibadah, Na," sahut Jaya.


Sedetik kemudian, suster tadi kembali karena terlupakan sesuatu.


"Ada polisi yang mau menemui Anda terkait penusukan ini," ucapnya.


"Maaf, tapi pihak IGD sudah terlanjur melaporkannya," katanya seraya menunduk minta maaf.


"Udah nggak apa. Nanti kita minta bantuan sama Juna. Nanti kita jelasin sama Juna," ucap Ana.


"Justru itu, Na! Aku nggak mau kamu ketemu Juna lagi! Aku cemburu tau sama pebinor itu!" sahut Jaya.


Ana menatap tak percaya. Bahkan dia memeriksa lubang telinganya takut ada kotoran yang menyumbat untuk memastikan.


"Kamu bilang apa? Cemburu? Terus apa itu Pebinor?" tanya Ana meyakinkan pendengarannya.


"Risa yang bilang kalau Juna kayak calon pebinor. Perebut bini orang, bini itu kan istri. Jadi dia mau merebut kamu dari aku," ucap Jaya dengan ketusnya.


Ana langsung menertawai Jaya. Rasa sakit terasa di perutnya kala ia tertawa. Jaya langsung mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Jaya masih menancapkan netranya pada wajah cantik sang istri. Jauh di dalam hatinya, lagi-lagi dia bersyukur bahwa semesta mengirim seseorang yang cantik dan baik hati seperti Ana. Dan tentu saja, Jaya tak akan pernah malu untuk mengakuinya.


"Lucu banget sih kamu kalau lagi cemburu gitu," ucap Ana.


"Sudahlah kamu nggak usah banyak bicara dulu," tukas Jaya cepat seraya kedua tangan memegang kedua pipi Ana. Lalu, dia memberi kecupan di benda kenyal itu.


"Sayang, aku malu tahu!" lirih Ana.

__ADS_1


"Biarin, kamu kan istri aku!" sahut Jaya.


Ana dan Jaya menoleh tiba-tiba ketika gorden berwarna hijau muda itu tersingkap pelan. Di baliknya lantas menampilkan seorang pria paruh baya yang mendekat dengan kalung stetoskop di lehernya.


Jaya membantu Ana untuk bangun dan duduk saat menyambut dokter itu. Pria paruh baya tersebut langsung mengambil posisi tepat di samping ranjang Ana.


"Halo Nyonya! Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya sang dokter itu yang mendekat dengan pelafalan yang cukup jelas.


Ana menganggukkan kepalanya mengiyakan, "rasa sakitnya sudah berkurang."


"Itu karena pengaruh obat biusnya bekerja dengan baik. Nanti kalau sudah hilang rasa nyerinya akan datang lagi. Tapi, tenang saja. Saya sudah memberikan obat pereda nyeri," tuturnya menjelaskan. Dokter berkacamata itu tersenyum ramah.


"Oh begitu," kata Ana.


"Jadi, bagaimana dengan kondisi istri saya sekarang, Dok? Bagaimana dengan luka tusuk istri saya?" tanya Jaya.


"Istri Anda mengalami luka tusuk di perut yang cukup dalam dan luka dalam yang lebih banyak dari kelihatannya." Sang dokter mulai menjelaskan.


Jaya dan Ana mendengarkan penjelasan sang dokter dengan saksama.


"Namun, kami tetap harus mengobservasi istri Anda lebih lama. Istri Anda akan kami rawat hingga lukanya membaik, ya," ujar dokter tersebut.


"Tapi, kami punya bayi," sahut Jaya.


"Ummm, selama dalam pengobatan sebaiknya jangan menyusui dulu," titahnya.


Ana dan Jaya tidak punya pilihan, selain kembali mengangguk.


"Sebaiknya sekarang Anda harus banyak istirahat. Perawat akan memindahkan istri Anda ke ruang rawat segera," sambung dokter itu lagi.


Jaya menangkap semua dengan jelas, sebelum kemudian dokter itu melukiskan senyum di wajahnya untuk pamit undur diri. Dia meninggalkan Jaya dan Ana di bilik kecil itu. Keduanya saling mengatupkan bibir satu sama lain seraya memikirkan kondisi Anjaya saat Aja dirawat nanti. Namun, manik keduanya saling bertautan.


Dua orang suster tak lama kemudian datang untuk memindahkan Ana ke ruang perawatan kelas satu nomor 305 di lantai tiga.


"Tuan, Anda suaminya, kan?" tanya salah satu suster pada Jaya.


Jaya langsung menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Ini pakaian ganti untuk istri Anda. Tolong bantu istri Anda untuk berganti pakaian," ucap suster itu.


"Wah, itu sih nggak perlu disuruh juga saya paling suka buka baju istri saya," sahut Jaya.


Jaya sontak saja membuat Ana bersemu. Para suster itu juga saling memukul bahu dan tertawa kecil karena gemas mendengarkan penuturan Jaya.


"Tapi kalau udah bantu buka pakaiannya, jangan lama-lama dibuka ya, langsung tutup!" imbuh sang suster seraya tertawa.


"Siap, tenang saja Suster!" sahut Jaya.


...*****...

__ADS_1


...Bersambung dulu, ya....


...See you next chapter!...


__ADS_2