
Bab 63 DPT
Saat di perjalanan keluar dari wilayah Istana Kerajaan Garuda, tiba-tiba Ana melihat sesuatu di dekat danau. Danau tempat Ibu Dewi tewas dan beberapa hantu ditemukan di sana.
"Bayu, berhenti!" pinta Ana.
"Ada apa, Na?" tanya Risa.
"Aku lihat sesuatu," ucap Ana lalu turun dari mobil.
"Kamu lihat apa?" tanya Risa lagi.
"Aku lihat pocong," sahut Risa seraya tersenyum lalu melangkah menuju danau.
"Ana, kamu mau ke mana?" tanya Risa.
Ana tak menggubris seruan Risa.
"Gimana nih, Ris?" tanya Bayu.
"Ayolah kita susul dia!" ajak Risa lalu meminta Bayu mematikan mesin mobil, menguncinya, lalu mengikuti Ana.
Ana melihat seorang pria tengah berdiri menatap sungai. Ana menepuk bahunya.
"Jaya?!" pekik Ana.
"Ana!" Jaya langsung memeluk Ana.
Keduanya kegirangan sampai berputar-putar.
"Duh, bentar perut aku sakit!" ucap Ana.
"Oh iya maaf maaf." Jaya melepas Ana.
Bayu menahan Risa.
"Sa, itu Raja Jaya, kan?" tanya Bayu.
"Wah, iya itu Jaya!" Risa lantas berlari menghampiri Jaya.
"Jaya, kok bisa ada di sini?" tanya Risa.
"Aku juga nggak tau. Aku cuma muter-muter di sungai ini aja. Setiap aku mau ke dalam istana, aku kelempar lagi ke sini." Jaya menjelaskan.
"Pantesan kamu nggak bisa balik temuin aku," ucap Ana seraya memeluk Jaya lagi.
"Terus kamu bisa ikut kita, nggak?" tanya Risa.
"Ikut ke mana?" Jaya balik bertanya.
"Ke Desa Abang. Sesuai buku catatan ayah kamu, kayaknya kita dapat petunjuk. Aku mau cari yang namanya Eyang Setyo di kaki Bukit Emas," tutur Ana.
"Terus gimana caranya Jaya bisa ikut kita, Na, kalau dia cuma bisa muter muter sini?" tanya Risa.
__ADS_1
"Sebentar aku ingat ingat dulu waktu itu kita terhubung karena apa, ya?" Jaya terlihat berpikir keras di balik balutan pocong itu.
"Hmmmm … apa ya?" Ana juga ikut berpikir.
"Cincin kawin!"
Ana dan Jaya berucap bersamaan. Namun, Ana teringat kalau cincin kawin itu ada di kotak dalam laci lemari yang ada di kamar. Dia menyimpan cincin kawin Jaya saat tubuhnya kembali dibalut kain kafan seperti pocong dan disembunyikan di kamar tersembunyi di dalam istana.
"Bayu, antar aku kembali ke istana buat ambil cincin kawinnya Jaya," ucap Ana.
"Siap, Kanjeng Ratu!" sahut Bayu.
Ana meminta Jaya untuk menunggu sebentar lagi sementara dia kembali ke istana. Jaya mengangguk setuju menunggu di tepi danau.
...***...
Tiga puluh menit berlalu, Ana kembali membawa cincin kawin Jaya yang diberi tali dan dijadikan kalung. Ia meletakkannya di leher Jaya. Ana sempat terperanjat kala melihat mustika merah terpancar di dada pocong itu.
"Ini hadiah dari ibuku. Dia bilang suatu saat akan ada kekuatan dari mustika bertuah ini untuk memusnahkan Iblis Rahwana," ucap Jaya.
"Hu um, aku percaya suatu saat kamu akan memiliki kekuatan itu. Ayo, kita pergi mencari Eyang Setyo!" ajak Ana.
Dua jam perjalanan telah berlalu. Apalagi Desa Abang berada di luar Pulau Garuda sehingga mereka harus meninggalkan mobil tersebut lalu menggunakan kapal fery untuk menyebrang. Lantas, mereka menyewa mobil menuju Desa Abang.
Untungnya, Risa berhasil mencari penyewaan mobil rental menggunakan aplikasi pencarian internet di ponselnya. Namun sayangnya, mobil yang dikendarai Bayu mengalami pecah ban. Hari mulai magrib saat Bayu mencoba mengganti ban mobil tersebut.
"Kayaknya daripada kemalaman di jalan terus nanti nyasar mending cari penginapan dulu, ya?" Ana menawarkan ide saat berada tepi jalan tersebut.
"Ide bagus, Na. Aku juga udah capek," sahut Risa.
"Panggil mobil derek. Atau tinggalkan saja di sini biar diambil sama rental, terus kita naik taksi," ucap Jaya.
"Ide bagus! Tapi, emangnya ada mobil taksi?" tanya Ana.
"Coba aja, Na," sahut Risa.
"Ya udah kalau begitu cari taksi terus cari penginapan, kasian Risa udah capek," sahut Ana.
"Apalagi kamu, Na," sahut Risa yang langsung memeluk Ana penuh cinta.
"Jangan mulai deh adegan lebainya," ucap Bayu.
Jaya hanya tertawa memandang Risa dan Ana.
Entah bagaimana caranya atau memang kebetulan, tiba-tiba mobil taksi warna biru melintas. Ana dan yang lainnya tanpa ragu menaiki mobil taksi tersebut.
"Kok, saya jadi merinding, ya?" tanya sopir taksi tersebut kala merasakan kehadiran Jaya.
"Harusnya kita yang merinding, Pak," sahut Risa.
Ana menyikut lengan Risa dan memintanya diam.
"Mau ke mana, Mas?" tanya si sopir pada Bayu yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Cari penginapan terdekat, Pak," sahut Bayu.
"Oke." Sopir taksi tersebut lalu melajukan kendaraannya.
Tak berapa lama kemudian, mereka menemukan sebuah penginapan bernama Hotel Mawar Merah. Kebetulan di samping hotel itu ada mini market. Ana memutuskan untuk mampir ke sana membeli minuman dan roti serta cemilan lainnya.
"Bay, kamu duluan aja ya buat check in, nanti kita nyusul!" pinta Ana.
"Tolong beliin saya kopi ya, Kanjeng Ratu," ucap Bayu.
Ana langsung memberi kode agar Bayu jangan memanggilnya Kanjeng Ratu jika berada di luar Garuda. Untung saja si sopir taksi tak begitu menggubris perbincangan Bayu dan Ana. Setelah ongkos taksi dibayar, mobil taksi tersebut lantas melaju pergi.
Di dalam mini market, Risa sudah mengambil sekaleng soda tetapi Ana melarangnya lalu berkata, "ganti sama susu!"
Risa akhirnya mengangguk. Ana membeli lima roti kasur, beberapa makanan ringan, wafer rasa cokelat, dan beberapa air mineral. Ia menyerahkan pada kasir dan meminta Risa untuk membayar menggunakan kartu kreditnya yang sudah diaktifkan kembali setelah semua hutang di kotanya dulu telah lunas.
Sambil meneguk air mineral dalam kemasan botol, Ana memperhatikan bangunan yang belum rampung di seberang jalan. Pikiran Ana lantas terpusat pada makam kuno di samping bangunan tersebut. Makam itu berada di tepi jalan. Namun, ada pagar dan tembok di sekitarnya. Di depan gerbang makam juga terdapat dua pohon besar yang seolah sebagai gapura di pintu masuknya.
"Jangan diliatin!" bisik Jaya.
"Serem, ya?"
"Iyalah serem, itu kan kuburan!" tukas Jaya.
Selesai memuaskan rasa hausnya, tiba-tiba Ana dan Jaya melihat sekelebat bayangan putih di lantai tiga bangunan yang dindingnya belum selesai sepenuhnya itu. Bulu kuduk wanita itu langsung meremang. Ana merasa jantungnya berdebar tetapi bukan debaran cinta karena ada Jaya di sampingnya.
"Sayang, tadi itu apaan, ya?" tanya Ana seraya mengucek kedua matanya untuk mengamati dengan saksama.
Jaya lantas menyapukan pandangan ke arah bangunan kuno yang ada di seberangnya itu. Perhatiannya kini bertumpu pada bayangan di lantai tiga paling atas tadi. Bayangan putih itu lantas menghentikan gerakannya kala sadar sedang diperhatikan oleh Jaya.
Jaya masih belum yakin dengan apa yang dia lihat. Dia merasa sedang saling bertatapan dengan bayangan putih tersebut. Dia langsung merasa ketakutan dan ciut juga nyalinya.
"Mending si Risa suruh buruan deh bayarnya!" ucap Jaya.
"Risa, buruan!" seru Ana.
Tak lama kemudian, Risa keluar seraya menenteng dua kantung plastik berisi makanan.
"Sini aku aja yang bawa!" pinta Jaya.
"Jangan, dong! Nanti orang-orang pada heran liat plastik ini melayang!" larang Risa.
"Oh iya aku lupa," sahut Jaya lalu meminta Ana dan Risa untuk bergegas.
Dengan sigap kedua wanita itu melangkah, tetapi tetap saja Ana merasa ingin menoleh dan memastikan. Makhluk yang tadi Jaya lihat ternyata sudah merentangkan tangannya yang terlihat seperti sayap bermain putih lusuh.
Kain lusuh yang membentang itu mendadak menutup dengan cepat sehingga terlihat jelas membentuk badan manusia. Ya, badan manusia yang ternyata memakai daster putih yang lusuh.
"Buruan!" seru Jaya.
...******...
...Bersambung dulu ya....
__ADS_1
...See you next chapter!...