
Bab 23 DPT
Ketukan di pintu jati itu terdengar, membuat Ana terjaga. Seorang wanita yang mengemban tugas menjadi abdi dalam itu meminta Ana untuk segera ke ruang makan.
"Paduka Raja sudah menunggu Anda, Putri Ana," ucap Widi.
"Di mana Risa, Mbak?" tanya Ana.
"Mbak Risa ditugaskan untuk menjadi pelayan Anda, bukan? Jadi, posisinya hanya sebagai pelayan di kerajaan ini. Mbak Risa sedang sarapan di ruang makan untuk kami para pelayan," tukas Widi.
"Tapi dia kan temanku. Posisinya sama dong sama aku," tegas Ana.
"Beda, Tuan Putri… Anda istri dari Pangeran Jaya. Sedangkan Mbak Risa cuma pelayan Anda," ucap Widi lalu pamit mengakhiri percakapan Ana yang selalu tak pernah mau mengalah.
Ana lalu mengikuti langkah wanita bertubuh mungil yang wajahnya selalu tertunduk tak berani menatap ke arahnya jika berbicara itu. Sepertinya Widi buru-buru untuk menghindari Ana.
Sebuah ruangan megah besar dengan pilar dan lima anak tangga terlihat. Tampak Raja Sumardjo dan Ratu Melati sudah duduk di meja makan besar bersama Patih Gundul dan keluarganya. Wanita dan anak perempuan itu masih Ana ingat. Mereka semalam berdebat di taman belakang dekat pohon mangga. Rupanya mereka keluarga dari Patih Gundul.
Ana menaiki pilar anak tangga satu per satu. Wajah-wajah mereka mulai terlihat jelas. Meskipun busana yang mereka kenakan tak jauh berbeda dengan yang Ana pakai kini, tetapi perempuan itu masih merasa tak berani memantaskan diri bila dibandingkan dengan mereka.
Ratu Melati yang pertama menyambut kedatangan Ana. la mendekat, mengelus kepala perempuan itu, lalu memeluknya seraya berkata, "Ana, maaf kalau kami sempat meragukan keberadaanmu. Akhirnya keajaiban akan terjadi. Pangeran Jaya akan selamat jika bayi ini lahir."
__ADS_1
Ratu Melati mengusap perut Ana. Dia lantas membimbing Ana untuk sampai di kursi makannya. Sang ratu lantas memerintahkan Risa untuk menyiapkan sarapan bergizi bagi Ana. Rupanya Risa sudah hadir di ruang makan tersebut tanpa Ana sadari.
"Sa, maaf kalau kamu diperlakukan seperti pelayan begini," bisik Ana saat Risa menuangkan susu ibu hamil untuknya.
"Nggak apa, Na. Aku seneng kok asal deket sama kamu. Udah untuk aku nggak diputusin tangannya," bisik Risa.
"Makasih ya, Sa. Nanti kita susun rencana lagi buat kabur dari sini," bisik Ana.
"Iya." Risa mengangguk seraya melayangkan senyum.
Ana tak tahu harus berbuat apa kini. Dia hanya terdiam dan berusaha memahami situasi yang dia alami kala semua mata di ruang makan itu menatap ke arahnya. Ada dua pemuda yang ternyata anak dari Patih Gundul juga. Namanya Buwana, pria berkepala plontos sama seperti ayahnya yang berusia tiga puluh tahun. Di sampingnya ada pemuda lima belas tahun bertubuh kurus, rambut cepak, kulit gelap bernama Tris. Buwana bahkan menatap Ana lekat dengan tatapan seperti pria bukan baik-baik alias badboy menurut Ana. Sementara Tris terlihat lugu sama dengan Laras. Ama mencoba tersenyum pada Laras yang juga melayangkan senyum balik pada Ana.
"Semalam aku bermimpi bertemu dengan Jaya. Dia bilang kalau dia mengirimkanmu ke sini untuk membantunya pulih," ucap Raja Sumarjo.
Raja Sumardjo menatap bola mata cokelat milik Ana yang selalu mengingatkannya dengan bola mata mendiang istrinya dulu. Bola mata yang sama seperti milik Jaya. Seolah Tuhan memang mengirim Ana yang memiliki wajah hampir mirip dengan putranya dan yakin kalau mereka memang berjodoh.
Ratu Melati lantas mengenalkan Ana pada keluarga Patih Gundul. Istrinya yang bernama Dewi tampak cantik dan tampak lebih muda dari usianya itu. Namun, Ana yakin wajah awet mudanya bukanlah wajah asli melainkan hasil operasi karena terlihat aneh di tulang pipi, bibir, dan dagu.
Ana lalu menoleh pada orang-orang yang duduk di dekat Ibu Dewi.
"Ini ketiga anaknya Patih Gundul dan Ibu Dewi. Mereka sekarang akan jadi saudaramu, sama seperti mereka menganggap Jaya seperti saudara mereka sendiri," tutur sang Ratu.
__ADS_1
Ana bangkit lalu mengulurkan tangan ke arah mereka, tetapi tak ada yang menyambut, bahkan Ibu Dewi sekalipun. Mereka melihat Ana dengan tatapan jijik. Mereka semua, kecuali Laras. Perempuan kecil berusia dua belas tahun ini menyambut tangan Ana dengan hangat.
"Halo, Tuan Putri Ana! Perkenalkan nama aku Laras," tuturnya seraya mengulas senyum yang menenangkan.
Sementara itu, Tris dan Buwana tampak tersenyum mengejek. Mereka lantas melanjutkan sarapan mereka dengan diam serta mengacuhkan kehadiran Ana di sana.
Setelah makan pagi itu selesai, Ana mengekor di belakang Ratu Melati dan Raja Sumardjo. Mereka menemui Mbah Karso. Ia sungguh tak tahu harus berkata apa. Mereka lalu melewati ruang-ruang di bawah langit-langit tinggi di samping taman menuju ke ruang tempat Jaya dirawat.
"Mandikan Pangeran Jaya dengan kembang ini ya, Tuan Putri," pinta Mbah Karso seraya menjulurkan baskom berisi aneka bunga tujuh rupa.
"Hah? Man-mandikan Jaya?! Saya mandiin dia gitu?" tanya Ana menatap tak percaya.
"Iya, nanti kembang ini kamu beri air lalu usap-usap sambil membersihkan tubuh Pangeran Jaya," jelas Mbah Karso.
"Ta-tapi, masa saya sendiri yang mandiin Jaya?" Ana mendelik.
Namun, Ana tak jadi melanjutkan protesnya. Raja dan Ratu Kerajaan Garuda sudah menatapnya tajam dan membuatnya tak bisa berkutik atau berdalih lagi.
"Baiklah, akan daya lakukan," lirih Ana.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya...