Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 103


__ADS_3

"Nanti sepulang kerja kita menghadap papa dan mama dan aku akan bicarakan soal pernikahan kita," kata Abi memantapkan keinginannya.


"Bi....," Reyna menatap Abian dengan kekhawatiran yang menggelayut di benaknya.


"Hanya cara ini yang bisa aku lakukan sekarang Rey," wajah Abi terlihat sayu menatap Reyna.


Sebenarnya hati Reyna bahagia mendengar berita pernikahan ini tapi di sisi lain dia juga tidak mau melihat keluarga Abian nanti menderita akibat dari pernikahan ini.


"Bi, aku sangat bahagia sekali kamu akan menikahi aku tapi....di sisi lain aku tidak mau keluargamu terutama om Yuda nantinya akan menderita akibat pernikahan kita ini Bi...," ucap Reyna sayu menatap mata Abian.


Abian pun menatap mata Reyna dan mata kedua insan itu pun saling beradu dengan pikiran yang berkecamuk di hati mereka masing-masing.


Dan sampai akhirnya Abian memutus tatapan matanya pada Reyna sambil berkata dengan nada perlahan " Kamu yang tenang ya Rey, semua akan kita hadapi bersama dan aku pastikan semua akan baik-baik saja," tutur Abian.


Reyna menghela nafas dalam-dalam dan pandangannya tertuju lurus ke depan menembus kaca mobil yang mereka tumpangi saat ini.


Tak lama kemudian Abian dan Reyna pun keluar dari dalam mobil Abian.


Lalu keduanya berjalan bersama menuju ke dalam ruangan masing-masing.

__ADS_1


Dengan langkah lunglai Reyna masuk ke dalam ruang kantornya dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi kerjanya sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya.


Pandangan Reyna terlihat sangat kosong menatap ke satu sudut ruang kantornya, pikirannya sangat kalut sekali saat ini.


Sementara di dalam ruang kantor Abian sana terlihat Abi juga sedang duduk di kursi kerjanya sambil menyandarkan kepalanya di punggung kursi kerjanya.


Abian menengadahkan wajahnya ke atas dengan memejamkan matanya seolah ingin membuang beban berat yang sedang Bergelayut di benaknya saat ini.


Di luar ruang kantor Abian dan Reyna terlihat Beno sedang berjalan sepertinya dia menuju ke ruangannya Mala.


"Mala!!" teriak Beno setelah masuk ke dalam ruangan Mala.


"Mau apa kamu ke sini Beno!!?" pekik Mala.


Beno berjalan lebih mendekat ke arah tempat Mala duduk, lalu Beno lebih mendekatkan wajahnya pada Mala.


"Jawab jujur pertanyaan ku ini Mala, di mana kamu sembunyikan anak kita!!?" tanya Beno sambil mencekal lengan Mala .


Mala sampai meringis kesakitan karena Beno sangat erat sekali mencekal lengan kanannya.

__ADS_1


"Aduh, sakit Beno!!" teriak Mala sambil berusaha melepaskan tangan Beno.


"Jawab!!! dimana anak kita!!?" nada suara Beno mulai meninggi dengan wajah yang penuh amarah.


"A- aku gak tahu!!" Mala berusaha lagi melepaskan cekalan tangan Beno dari tangannya.


"Jangan bohong kamu Mala!!" Beno mendelik menatap Mala sambil mempererat cekalan tangannya pada lengan Mala.


Mala mengaduh kesakitan "Sakit Beno!!" teriak Mala tapi Beno tetap mencekal lengan Mala dengan kuat.


"Sakit!!? kalau kamu tidak mau jujur soal anak kita, aku pastikan tanganmu akan lebih sakit lagi dari ini," ujar Beno sambil mendekatkan wajahnya lagi pada


Muka Mala.


"Jawab Mala!! di mana anak kita!!?" Beno semakin marah karena Mala tidak segera menjawab pertanyaan yang di lontarkan Beno padanya.


"I-iya aku akan jawab, tapi lepaskan dulu tanganku sakit ini.....!!" rintih Mala kesakitan.


Kemudian Beno sedikit melonggarkan cengkeraman tangannya pada lengan Mala.

__ADS_1


__ADS_2