Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 20


__ADS_3

Pulang kantor sore ini, Abian berniat mengajak Reyna jalan.


Mata Abian langsung tertuju pada gawai yang berbentuk persegi panjang miliknya itu dan dengan cekatan jemari Abian mengutak-utik gawai tersebut.


Jemarinya terhenti ketika terpampang nama kontak Reyna di gawainya dan dengan segera Abian mengetuk gawainya yang bertuliskan nama Reyna di sana.


Terdengar bunyi panggilan masuk yang memanjang tanda Reyna belum menerima panggilan darinya.


Dengan sabar Abian menunggu sampai Reyna mengangkat telpon darinya.


Sebuah suara yang sangat lembut yang selalu menyejukkan hatinya itu sudah menerima panggilan telepon darinya.


"Iya Bi, ada apa?" tanya Reyna dengan lembutnya.


"Sayang, aku mau ngajak kamu jalan-jalan nanti sepulang kerja, kamu mau kan?"


"Mmm ... mau banget Bi," terdengar suara Reyna yang renyah di telinga Abian.


"Oke sayang," Abian mengakhiri telepon nya dan meletakkan kembali gawai yang berwarna berwarna hitam itu di meja kerjanya.


Abian menyandarkan kepalanya pada punggung kursi yang saat ini di duduki nya dan membiarkan matanya terpejam untuk sesaat melepaskan penat efek beradu pandang dengan lap top sedari tadi.

__ADS_1


Dari arah luar ruang kantornya samar-samar terdengar suara langkah sepatu wanita yang beradu dengan lantai berjalan menuju ke arah ruangannya.


"Bi..., Abi....!!" tiba-tiba Mala membuka pintu kantor Abian dan terus masuk ke dalam tanpa menunggu persetujuan dari sang pemilik kantor.


Dengan malas Abian membuka matanya mendengar teriakan Mala barusan yang memanggil namanya.


"Ada apa Mala?" tanya Abian yang melihat Mala sudah berdiri di depannya sembari menampakkan wajah paniknya.


"Bi, tolong aku," ucap Mala dengan wajah amat sangat ketakutan meminta perlindungan pada orang yang menurutnya sangat bisa melindungi dirinya dari ancaman seorang laki-laki.


Abian mengerutkan keningnya menatap Mala penuh tanda tanya.


"Bi, aku butuh kamu saat ini," ujar Mala menatap Abian penuh harap.


"Tenang Mala, bicara yang jelas sebenarnya ada apa?" nada suara Abian membuat ketegangan Mala agak mereda.


Lalu Mala menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya lagi secara perlahan dan setelah itu dia mulai bercerita pada Abian.


"Begini Bi, tadi Beno menelpon aku dan dia mau ketemu aku nanti pulang kantor dan sekarang Beno ada di depan pelataran kantor ini, aku takut sekali makanya aku meminta kamu untuk melindungi aku dari Beno Bi....," ujar Mala setengah memaksa.


"Oke, terus aku harus berbuat apa?"

__ADS_1


"Nanti pulang kantor, aku ikut kamu saja ya biar Beno gak bisa macam-macam lagi sama aku, gimana Bi boleh kan aku ikut kamu?"


"Mmm sebentar aku bilang dulu sama Reyna soalnya nanti aku dan Reyna ada acara," ujar Abian.


"Kamu dan Reyna dekat banget, kalian pacaran?" tanya Mala penuh selidik.


"Ya," jawab Abian.


"Hmm," Reyna mengerucutkan bibirnya merasa sedikit tidak nyaman.


Terdengar suara pintu kantor di ketuk dari luar dan terdengar suara yang sangat familiar di telinga seorang Abian.


"Bi, boleh aku masuk," ucap Reyna dari luar pintu kantor Abian.


"Masuk saja Rey," sambut Abian.


Kemudian Reyna masuk ke dalam kantor Abian dan sedikit kaget Reyna melihat di dalam kantor Abian ada Mala.


"Hai Mala, ada kamu rupanya," sapa Reyna dengan mimik muka di buat seceria mungkin menutupi rasa herannya tadi.


"Oh, hai Rey," balas Mala agak salah tingkah.

__ADS_1


__ADS_2