Dua Cinta Untuk Abian

Dua Cinta Untuk Abian
Bab. 130


__ADS_3

"Bawa dia!!" perintah pak Hendra pada kedua orang bodyguard nya sambil menunjuk ke arah Abian.


Lalu kedua orang itu pun menarik dengan paksa Abian dan membawanya pergi meninggalkan Bu Dewi dan Reyna yang masih terpaku melihat kejadian itu.


Kemudian pak Hendra juga mengikuti bodyguard yang membawa Abian itu keluar dari rumah.


Bu Dewi menangis sejadinya melihat pak Hendra membawa Abian dengan paksa.


Sementara Reyna juga tak mampu menahan air matanya untuk tidak jatuh.


Ibu mertua dan menantu itupun saling menangis melihat kepergian orang yang sangat mereka cintai.


"Ya Tuhan... Berikanlah perlindungan untuk suamiku dan tunjukkan lah jalan yang terang untuk kami menghadapi masalah ini," doa Reyna dalam hatinya.


"Rey... bagaimana ini....Abi di bawa sama Hendra...!!" pekik Bu Dewi menubruk tubuh Reyna sambil terus menangis.


Sebenarnya Reyna juga ingin menangis sekeras-kerasnya melihat peristiwa itu tapi dia tidak ingin terlihat rapuh di mata Bu Dewi.


Dan jika Reyna menangis nanti mama mertuanya itu akan bertambah sedih jadi sekuat mungkin Reyna untuk bisa tegar.


"Ma...mama yang sabar ya, mudah-mudahan Reyna bisa menemukan jalan untuk menghadapi masalah ini," ucap Reyna menenangkan Bu Dewi sambil memeluknya.


"Bagaimana mama bisa tenang Rey....papa dan Abian di jadikan jaminan sama Hendra!!"


"Ma, sebentar lagi papa akan di kembalikan ke sini setelah Abi menuruti permintaan om Hendra, papa akan bebas ma."


"Tapi mama tidak mau Abi yang jadi korbannya Rey....," Bu Dewi masih tetap menangis.


"Reyna tahu ma, dan Reyna yakin Abi juga pasti sedang memikirkan suatu cara agar dia bisa terlepas dari masalah ini," Reyna membesarkan dirinya sendiri dan mama mertuanya.


Bu Dewi masih menangis dalam pelukan Reyna.


"Mama, Reyna mau berangkat ke kantor dulu ya ma dan Reyna akan mencoba untuk mencari pertolongan pada teman Reyna ma," ujar Reyna sekenanya sekedar membuat hati Bu Dewi sedikit lega.


Bu Dewi melepaskan pelukannya dari Reyna dan menatap Reyna sesaat sambil bertanya " Kamu mau cari pertolongan pada siapa Rey...?"


"Pak Dewa ma," ucap Reyna menjawab sekenanya saja.


Dan benar saja Bu Dewi sedikit mereda tangisnya lalu ia berkata lagi pada Reyna " Mama doakan semoga pak Dewa bisa menolong Abi."


Reyna tersenyum tapi dalam hatinya menangis karena ia hanya berbohong saja bicara seperti supaya Bu Dewi tidak bersedih terus.


"Kalau begitu, Reyna berangkat ke kantor ya ma, mama baik-baik di rumah ya," ucap Reyna pada mama mertua nya itu.


Bu Dewi menganggukkan kepalanya, lalu Reyna bergegas keluar dari ruang tengah itu dan berjalan menuju ke teras rumah.


Reyna berjalan terus keluar dari rumah Abi menuju ke jalan besar untuk mencari taksi.


Reyna berjalan sambil melamun dan dia tidak menyadari ada sebuah mobil yang hampir saja menabraknya.


"Din....din.....!!!"keras sekali bunyi klakson mobil itu yang membuat Reyna terkejut dan mendadak menghentikan langkahnya.


Tak lama kemudian keluar seorang laki-laki dari mobil tersebut menghampiri Reyna yang masih berdiri di tempatnya.


Laki-laki itu tampak sangat marah sekali dan sepertinya dia akan menghardik Reyna karena kelalaiannya tadi.


Reyna yang tadi menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya tiba-tiba membuka matanya ketika mendengar laki-laki itu menghardiknya.


"Hey!! kamu jalan yang bener dong....!!" ucapnya.


Reyna mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu dan terlihat laki-laki itu sangat amat kaget sekali ketika tahu yang hendak ia tabrak tadi adalah Reyna.


Tiba-tiba saja wajah laki-laki itu berubah jadi sabar dan mendadak berubah jadi lembut bicara pada Reyna.


"Rey....aku tidak tahu kalau tadi itu kamu, ada apa Rey...kenapa kamu tadi berjalan sambil melamun begitu...??" ujar laki-laki itu yang ternyata dia adalah Beno.


"Maaf aku tadi sedikit pusing jadi tidak bisa melihat ke sekeliling," ucap Reyna berbohong.

__ADS_1


Beno menatap Reyna dengan rasa kasihan dia melihat mata Reyna yang sembab seperti habis menangis.


"Mmm ... Kalau begitu kamu ikut aku aja Rey, kamu mau ke kantor kan?" tanya Beno.


"Iya," jawab Reyna.


"Ayo Rey bareng aku saja," ajak Beno pada Reyna.


"Iya makasih," kemudian dengan langkah lemas Reyna masuk ke dalam mobil Beno dan duduk di kursi belakang.


Kemudian Beno masuk juga ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kemudi.


Dan tak lama kemudian Beno mulai menjalankan mobilnya menuju ke kantor tempat mereka bekerja.


Sesekali Beno melihat ke arah kaca spion dan melihat Reyna yang tampak gelisah sekali.


"Kenapa dengan Reyna apa yang sedang terjadi padanya dan kenapa dia tidak bareng sama Abian tadi??" selama ini Beno tahu kalau Reyna adalah pacarnya Abi dan dia tahu juga kalau selama ini Mala mengelabui nya dengan menjadi pacar Abi.


Beno kembali melihat ke arah kaca spion mobilnya dan kali ini dia melihat Reyna menangis.


Beno mengerutkan keningnya sambil terus memperhatikan Reyna lewat kaca spion mobilnya.


Reyna tidak menyadari kalau sedari tadi Beno memperhatikan dirinya.


"Apa sebenarnya yang terjadi??" Beno sangat penasaran sekali.


Beno tidak tega melihat Reyna yang masih menangis itu lalu dengan hati-hati Beno bertanya pada Reyna.


"Rey," panggil Beno.


Dan Reyna buru-buru mengusap air matanya takut Beno tahu kalau dirinya sedang menangis.


"Kamu kenapa menangis Rey?" tanya Beno.


Reyna terkesiap dia tidak menyangka kalau Beno tahu dirinya menangis tadi.


"Jangan bohong Rey, aku tahu kamu sedang memikirkan sesuatu kan?" tebak Beno.


"Enggak aku gak apa-apa kok, aku cuma merasakan kepalaku yang pusing sekali," Reyna berbohong.


Beno mengerutkan keningnya dia tahu Reyna tidak mau berbagi cerita dengan nya.


"Oh ya, ngomong-ngomong Abi kemana? kok kamu gak berangkat bareng Abi?" tanya Beno mengejutkan Reyna.


"Abi di bawa pergi," ujar Reyna tanpa sadar.


Lagi-lagi Beno mengerutkan kedua alisnya mendengar jawaban Reyna.


"Benar, berarti ada sesuatu yang gak beres ini dan pasti ini ada hubungannya dengan Mala," batin Beno.


Beno terus mengejar Reyna dengan beberapa pertanyaan " Abi di bawa kemana Rey !?" tanya Beno lagi.


Reyna seperti baru tersadar dengan ucapannya barusan "Mmm ... enggak maksudku Abi lagi menjemput Mala kan tiap hari mereka berangkat ke kantor mesti barengan," ucap Reyna mengalihkan rasa penasaran Beno.


Tapi Beno sudah terlanjur tahu semuanya "Jangan bohong Rey.... sebenarnya Mala pacaran sama Abi hanya untuk mengelabui aku kan? dan kamu adalah pacar Abi yang sesungguhnya kan?"kata Beno.


Reyna membolakan matanya dengan sangat sempurna dia tidak menyangka kalau Beno tahu akan kebohongan yang Mala lakukan.


"Sudahlah Rey...jangan bohong lagi aku sudah tahu semuanya dan sekarang tolong ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Abian?" tanya Beno lagi.


Reyna merasa kalau Tuhan sedang mengirimkan bantuannya lewat Beno dan dengan gamblang Reyna menceritakan semua yang terjadi pada Beno.


Beno menghela nafasnya dalam-dalam setelah mendengar cerita dari Reyna.


"Benar-benar keterlaluan tindakan om Hendra itu, dia merasa dirinya orang yang paling berkuasa karena hartanya sehingga dia bertindak semaunya pada orang lain," ucap Beno pada Reyna.


Reyna diam saja mendengarkan Beno menggerutu.

__ADS_1


"Kita harus segera hentikan ini semua sebelum semuanya terlambat!!" pekik Beno sambil mengerem mobilnya dengan mendadak membuat Reyna hampir tersungkur.


"Maksudmu apa Beno?" tanya Reyna pada Beno.


"Kita harus segera ke sana sebelum om Hendra berhasil menikahkan Mala dengan Abian!!" kata Beno.


"Iya, tapi bagaimana caranya...??" tanya Reyna dengan wajah cemas.


"Kamu tenang saja, aku nanti yang akan menghadapi om Hendra," ujar Beno sambil mengemudikan mobilnya lagi dengan kecepatan yang sangat tinggi yang membuat Reyna sedikit ngeri.


Sebelum nya Beno mampir dulu ke rumahnya dan kembali ke mobil dengan membawa seorang bocah laki-laki kecil yang masih berumur tiga tahun itu.


Reyna bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Beno mengajak anak kecil itu ikut dengan nya.


Tapi Reyna masa bodoh dengan rasa penasaran nya, yang ia pikirkan saat ini adalah segera menolong Abian suaminya.


Dan tak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah pak Hendra.


Di depan pintu rumah itu sengaja di jaga ketat oleh orang-orang pak Hendra, mungkin alasannya takut ada orang yang akan menganggu acara pernikahan paksa itu.


Tapi Beno yang memang berjiwa preman itu tidak takut dengan penampilan bodyguard Hendra yang tampangnya sangar-sangar itu.


Beno dan Reyna berjalan menuju ke rumah pak Hendra tetapi kedua bodyguard itu menghardik mereka dengan berteriak dengan keras.


"Berhenti!!! kalian mau kemana hah!!??" teriak bodyguard itu sambil mendelik pada Beno dan Reyna.


"Bukan urusan kamu!!!" teriak Beno sambil melayangkan bogem ke arah salah satu bodyguard tersebut.


Dan tak ayal lagi terjadilah perkelahian antara Beno melawan kedua bodyguard itu.


Reyna menggandeng anak laki-laki kecil itu menjauh dari tempat mereka berkelahi.


Reyna menggendong anak itu dan menyembunyikan kepalanya kebelakang supaya dia tidak melihat perkelahian tersebut.


Duel yang terjadi antara Beno dan dua bodyguard itu sudah usai, Beno berhasil membuat kedua bodyguard itu bertekuk lutut padanya.


Lalu Beno mengajak Reyna yang masih menggendong anak laki-laki kecil itu untuk masuk ke dalam rumah pak Hendra.


Dan benar saja kalau mereka datang terlambat sedetik saja, akad nikah itu sudah pasti telah selesai.


Tapi untungnya mereka datang tepat waktu ketika Abi hendak mengucapkan akad nikah itu tiba-tiba Beno berteriak dengan sekencang-kencangnya.


"Hentikan......!!!!!!" teriak Beno dengan lantang dan wajah penuh amarah.


sontak saja semua orang yang ada di dalam ruangan itu menoleh pada Beno yang berdiri dengan tegak sambil mengangkat tangan kanannya ke atas.


"Apa-apaan ini," pekik pak Hendra yang melihat kericuhan ini.


"Hentikan pernikahan ini...!!! asal kalian tahu laki-laki yang akan di nikahkan itu adalah teman saya dan dia sudah punya istri yang sah yang di paksa untuk menikahi anak perempuan dari pak Hendra itu karena alasan jaminan hutang-hutang papanya dan.....!!! dan asal kalian tahu juga perempuan yang akan di nikahkan itu adalah ibu dari anak saya ini( Beno menunjuk pada anak laki-laki kecil yang berada di sampingnya) yang telah tega membuang anaknya sendiri dan untungnya ada orang baik yang mau merawat anak ini sampai ia saya temukan kembali," tutur Beno dan membuat pak penghulu tidak respect lagi dengan pernikahan ini.


Pak penghulu itu pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu, lalu Abi pun menghambur ke arah Reyna yang masih berdiri di samping Beno.


Reyna menghambur dalam pelukan Abian sambil menangis bahagia begitu juga pak Yuda dia pun bahagia sekali akhirnya pernikahan Abi dan Mala ini gagal dan Abi bisa bersama-sama Reyna lagi selamanya.


Sementara itu datanglah dua orang polisi untuk menangkap Mala atas tuduhan membuang anak kandungnya sendiri.


Pak Hendra terduduk dengan lemas dan lunglai melihat Mala di bawa polisi sementara Bu Vita pingsan melihat kejadian ini.


Note


Harta dan kekuasaan bukanlah ukuran dari segalanya dan sebaiknya gunakanlah hartamu di jalan yang benar.


Kisah ini berakhir sampai di sini semoga kalian semua terhibur, salam sehat selalu dari author.


Terimaksih.


__ADS_1


__ADS_2