
"Gimana caranya ya biar Abian bisa jatuh cinta sama aku? sepertinya sangat sulit mendekati Abian karena dia sangat mencintai dan menyayangi Reyna, hufghhh.....," ujar Mala sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerja yang sedang di duduki nya saat ini.
Mala mengerutkan keningnya sambil menatap ke salah satu sudut ruangan nya dan sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang begitu pelik.
"Aku gak boleh menyerah, aku harus terus berusaha untuk mendekati Abian karena hanya dia lah satu-satunya laki-laki yang bisa membuat Beno takut."
Sementara di ruang kerja Abian, tampak Abian sedang memainkan jari jemari tangannya di atas tuts keyboardnya.
"Aghhh ... kenapa tiba-tiba kepalaku jadi pusing begini," tiba-tiba Abian menghentikan jari jemarinya yang sedang mengetik.
Kemudian Abian memegangi kepalanya dengan kedua tangannya sambil meringis.
"Tok tok tok...," Mala mengetuk pintu ruang kantor Abian dan tanpa menunggu jawaban dari dalam, Mala langsung masuk ke dalam ruang kantor Abian.
Abian tak menghiraukan siapa yang datang, dia masih memegangi kepalanya dengan kedua tangan nya sambil merasakan sakit di kepalanya.
Mala terus berjalan menghampiri Abian yang tak menghiraukan kehadiran nya.
"Bi, Abi, kamu kenapa?" tanya Mala sambil terus mendekat ke tempat Abian duduk.
__ADS_1
Abian tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan Mala barusan, Mala masih penasaran dan bertanya lagi pada Abian.
"Bi, kamu sakit kepala?" Mala makin mendekat pada Abian.
Abian menganggukkan kepalanya tanpa melihat pada Mala.
"Mmm ... aku pijitin ya Bi biar agak mereda rasa sakitnya," ucap Mala lagi.
Abian sedikit mendongakkan kepalanya dan sambil menahan rasa sakit dia berkata pada Mala.
"Enggak gak usah, sebentar lagi juga sudah sembuh," Abian menolak tawaran Mala.
"Enggak aku gak apa-apa," ucap Abian pada Mala meski sebenarnya kepalanya masih sakit rasanya.
"Mmm ... kamu mau aku buatin apa Bi, atau mau aku ambilkan sesuatu gitu?" Mala bersikeras.
"Enggak Mala, aku gak butuh apa-apa, makasih kamu sudah peduli."
"Kamu kan pernah nolongin aku, jadi kalau kamu kayak gini aku gak bisa tinggal diam begitu saja dong," Mala menimpali.
__ADS_1
"Iya tapi aku gak apa-apa, aku hanya butuh istirahat saja," ucap Abian.
Mala mencebikkan bibirnya agak kecewa karena usahanya untuk membantu Abian tidak berhasil. " Oke lah kalau begitu, aku keluar dulu dan kamu istirahat saja Bi," kata Mala sambil berjalan keluar ruangan Abian.
Sepeninggal Mala, Abian langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya sambil menahan rasa sakit kepalanya.
Berkali-kali terdengar suara nada panggilan masuk di gawai pipih Abian yang di letakkan di atas meja kerjanya namun Abian sudah tidak memperdulikan nya lagi padahal yang sedang menelponnya itu adalah Reyna.
Sementara di ruang kantor Reyna, terlihat Reyna sedang sibuk dengan gawai pipih nya yang berwarna cappucino itu.
"Abian kemana ya? kok gak di angkat2 sedari tadi," ucap Reyna bermonolog.
Reyna mengamati gawai pipih miliknya itu sambil berkata lagi.
"Apa Abian keluar terus lupa gak bawa ponselnya ya?" Reyna bertanya-tanya sendiri.
Kemudian Reyna bangkit dari duduknya dan hendak berjalan keluar dari ruang kantornya.
"Apa aku samperin ke ruangannya Abi ya," Reyna bingung berdiri di depan pintu ruang kantornya.
__ADS_1
"Sebaiknya aku samperin saja ke ruangan Abi," kata Reyna sambil bergegas berjalan menuju ke ruang kerja Abian.