
"Mmm ... Bi, begini aku tidak bermaksud menyakiti hati kamu tapi....aku tidak bisa meminjamkan uang sebesar itu pada kamu," kata Dewa sedikit tak enak hati mengatakannya pada Abi.
Abi menatap Dewa seperti ada sesuatu yang aneh lalu Abi bertanya lagi pada Dewa "Kenapa Dewa?" tanya nya.
Dewa terdiam lagi dan dia bingung harus jujur apa tidak soal Tante Vita yang melarang dia membantu Abi.
"Bi, maafkan aku sebelumnya aku...tidak bisa membantu mu dengan memberikan pinjaman seperti yang kamu minta semalam," ujar Dewa hati-hati takut menyinggung perasaan Abi.
"Ya....tapi kenapa Dewa?" tanya Abi masih penasaran.
Dewa menatap Abi sesaat, Abi masih menunggu jawaban dari Dewa.
Lalu Dewa berkata pada Abian " Sebenarnya aku di larang Tante Vita untuk memberikan pinjaman uang pada kamu Bi, tapi aku menolak dan tetap akan meminjamkan uangku padamu tapi Tante Vita jadi sangat marah dan mengancam akan menarik semua sahamnya yang ada di perusahaan ini kalau aku tetap memberikan pinjaman pada kamu," tutur Dewa.
Abi menghela nafas dalam-dalam sambil berkata pada Dewa"Ya aku paham, aku lupa kalau kamu masih keponakannya Bu Vita mamanya Mala,"
"Sorry ya Bi, bukannya aku gak mau bantu kamu, tapi aku memikirkan perusahaan kalau semua saham Tante Vita di tarik," ujar Dewa.
__ADS_1
"Ya, aku ngerti," jawab Abi sambil terduduk dengan lemas.
Dewa mendekati Abi dan duduk di hadapannya " Sebenarnya ada apa sama kamu sampai Tante Vita sebegitu marahnya."
Lagi-lagi Abi menghela nafas dalam-dalam lalu ia berkata pada Dewa "Panjang ceritanya," ucap Abi.
Dewa menganggukkan-anggukkan kepalanya sambil berkata pada Abi " Tak apa Bi kalau kamu tidak ingin bercerita soal itu," ucapnya sambil menatap Abi kasihan.
Abi menipiskan bibirnya dan berusaha untuk tetap tegar " Makasih ya Dewa, aku kembali ke ruangan aku dulu," ujar Abi sambil berdiri dari duduknya.
Dewa pun berdiri dan mengikuti Abi mengantarkan nya berjalan keluar ruang kantornya.
Abi memasuki ruang kantornya dengan lemas dan lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi sofa yang ada di ruang kantornya itu.
Abi menopangkan tangan kanannya pada kepalanya dengan pikiran yang menerawang kemana-mana.
"Aku harus bagaimana ini....???" gumam Abi serasa ingin menangis.
__ADS_1
Di ruang kantor Reyna sana terlihat Reyna gelisah sekali dan sepertinya tahu apa yang sedang dirasakan Abi saat ini.
"Kenapa aku jadi kepikiran sama Abi ya, atau...aku ke ruangan Abi saja?" gumam Reyna.
Lalu Reyna menghentikan pekerjaan nya dan berjalan keluar dari ruang kantornya menuju ke ruangan Abian.
Setelah tiba di depan ruang kantor Abi, perlahan Reyna mengetuk daun pintu ruang kantor itu.
Beberapa saat tidak ada jawab dari dalam kantor Abi, lalu Reyna mengetuk kembali dan tetap tidak ada jawaban.
"Abi kemana ya, kok tidak ada jawaban sedari tadi? Apa dia ke ruangannya pak Dewa menanyakan perihal pinjaman itu?" Reyna menerka-nerka.
Reyna terdiam sesaat di depan ruang kantor Abi.
"Sebaiknya aku cek dulu ke dalam," ucap Reyna.
Dengan perlahan Reyna membuka pintu kantor Abi dan masuk ke dalam.
__ADS_1
Reyna tidak melihat Abi duduk di kursi kerjanya lalu pandangnya menyapu ke seluruh ruang kantor Abi.